My Dearest Wife

My Dearest Wife
Semakin menambah masalah


__ADS_3

Namun tiba-tiba kemunculan seseorang dihadapannya, memberinya sebuah harapan baru. Bisakah ia membantuku? Bukankah ia tidak menyukai kehadirannya di rumah ini? Dia pasti dengan senang hati membantuku, bukan? Tanpa ia sadari dirinya tersenyum menatap pria dingin itu. Dan memberanikan diri untuk memanggil namanya.


"Tu... tuan Adrian!" panggilnya.


Pria itu berhenti ditempatnya setelah ia mendengar namanya dipanggil. Namun ia tidak menoleh.


"Aku ingin bicara denganmu." lanjutnya.


Adrian menoleh kearahnya. Menatap wanita itu dengan tatapan dinginnya.Ia berjalan kearah wanita itu.


"Apa yang ingin kau bicarakan?" Tanyanya ketus.


"Ehm.... apa kita bisa bicara di tempat lain?" tanyanya ragu.


"Ikuti aku." perintahnya,


Adrian membawanya menuju ruangan kerjanya. Ia sebenarnya malas jika harus berurusan dengan wanita itu. Namun sepertinya jika dilihat dari tatapan matanya, ia sedang membutuhkan bantuan. Entah dorongan apa yang membuatnya melakukan itu. Karena itu diluar kebiasaannya/


"Katakan apa yang kau inginkan?" tanyanya setelah duduk di kursi kerjanya.


Anindya tampak ragu. Ia merasa cemas jika pria yang ada di hadapannya itu tak bersedia membantunya.


"Cepat katakan! Aku tidak punya waktu untuk menunggu." ia tampak tak sabar melihat Anindya yang tidak segera bicara.


"Ehm... aku perlu bantuan dari tuan. Aku sebenarnya punya rencana. Tapi aku cemas jika kakek tidak akan memberikan aku izin untuk melakukannya."


"Rencana apa yang kau maksud?" tanyanya.


"Tuan... bisakah kau membantuku bicara pada kakek tentang... tentang keinginanku untuk pergi dari rumah ini?" tanyanya ragu tanpa berani menatap Adrian.


Adrian tampak tak percaya dengan apa yang didengarnya. Apakah gadis itu serius dengan perkataannya ataukah sebaliknya. Jika hal itu hanya untuk menarik simpati kakeknya saja. Ia tampak sedang berpikir. Sementara Anindya tak henti meremas telapak tangannya.


************


Zein tampak sedang menikmati makan malamnya bersama Adrian. Anindya juga berada di sana. Sesekali wanita itu tampak melihat kearah Adrian yang sedang fokus menyantap hidangan yang tersedia dihadapannya. Sejak pembicaraan mereka sore tadi, Anindya menjadi tidak tenang. Apalagi setelah mendengar jika pria itu bersedia membantunya asalkan ia menuruti apa yang akan dikatakannya nanti. Tapi justru hal itulah yang a semakin cemas. Karena ia benar-benar tak bisa menebak pria yang ada dihadapannya itu sedikitpun.


"Ehm... kakek! Ada hal yang ingin aku bicarakan dengan kakek." ucap Adrian tanpa menoleh.


"Kau ingin bicara apa? Katakan saja."

__ADS_1


"Mulai besok wanita ini akan bekerja di kantor. apa kakek keberatan?" tanyanya pada Zein.


Anindya tampak tersedak. Ia kaget mendengar apa yang dikatakan pria itu. Karena bukan itu yang diinginkannya. JIka ia bekerja di kantornya, itu akan semakin mempersulitnya untuk keluar dari rumah ini.


"Kenapa kau mendadak berbicara begitu?" tanya Zein tak percaya.


"Itu kemauannya." jawabnya santai sambil menunjuk Anindya.


"Benarkah?" tanya Zein pada Anindya.


Anindya tampak gelagapan. Ia bingung harus menjawab apa. Akhirnya ia mengangguk sambil tersenyum pada pria baya itu.


"Itu bagus. Jika kau ingin bekerja di kantor, kakek tidak akan keberatan. Kakek akan merasa tenang jika kau bekerja bersama Adrian." ucapnya.


"Iya kakek." sahut Anindya.


Masalahnya bertambah rumit. Sementara Adrian bersikap seolah-olah tidak mengerti apapun. Setelah makan malam, Zein terlebih dahulu masuk ke kamarnya. Sementara Adrian dan Anindya masih berada dimeja makan.


"Tuan. Apa maksudmu memberiku pekerjaan di kantormu?" tanyanya bingung.


"Aku sudah bilang turuti saja perkataan ku. Jangan banyak bertanya. Mengerti!" ucapnya datar.


Adrian membersihkan mulutnya dengan serbet dan segera berlalu dari sana. Meninggalkan Anindya yang bingung dengan keputusan Adrian yang tiba-tiba.


*********


Anindya terjaga sepanjang malam. Ia sama sekali tak bisa memejamkan matanya. Pikirannya masih dipenuhi dengan sejuta pertanyaan yang dia sendiri tak tahu jawabannya. Sepertinya keputusannya untuk meminta bantuan kepada lelaki itu salah besar. Bukannya menyelesaikan masalah namun justru malah menambah masalah baginya. Kini ia harus mengikuti perkataannya.


Pagi ini ia harus mulai dengan aktivitas barunya. Menjadi karyawan magang di perusahaan Adrian. Yah, setidaknya ia akan punya pengalaman kerja nantinya jika ia berhasil meninggalkan rumah ini. Ternyata kantor ini sangat besar. Sepertinya ada belasan lantai. Pasti bukanlah hal yang mudah bagi Adrian untuk memajukan perusahaan ini.


Sesuai arahan dari Romi, asisten pribadi Adrian, ia akan ditempatkan di bagian penyimpanan file. Ia akan bertugas untuk mensortir file-file yang terkait dengan perusahaan yang nantinya akan dibutuhkan.


Tapi sebenarnya ia sama sekali tak mengerti tentang manajemen pengerjaannya. Romi mengatakan jika akan ada seorang karyawan senior yang akan membantunya.


"Siapa namamu?" tanya seorang wanita yang kira-kira seumuran dengan ibu Sofia.


Wanita itu tampak berwibawa dengan setelan kemeja dan blazer berwarna senada. Namun kelihatannya ia bukan tipe wanita yang bersahabat.


"Nama saya Anindya, bu!" ucapnya dengan sopan.

__ADS_1


"Baiklah. Tugasmu adalah mengecek semua file-file yang sudah ditandai di daftar ini. Periksa dengan teliti. Lalu ambil dan letakkan didalam troli ini. Pastikan urutannya sesuai dengan yang ada didaftar ini. Lalu antar keruang meeting tepat pukul sepuluh nanti. Apa kau mengerti?" tanyanya pada Anindya yang tampaknya sedikit bingung melihat daftar yang sedang berada ditangannya.


Melihat Anindya yang hanya diam, Wanita paruh baya itu dengan lantang mengajukan pertanyaan yang sama padannya.


"Apa kau mengerti nona Anindya?"


Anindya seketika tersadar dari diamnya dan segera menjawab pertanyaannya. "I-iya saya mengerti, bu! Tapi saya belum  tahu dimana ruang meeting berada."


"Ruang meeting berada dilantai tiga belas. Nanti kau bisa bertanya pada sekertaris yang ada di sana. Kerjakan sekarang. Kau hanya punya waktu dua jam untuk menyelesaikan semuanya." ucapnya sebelum meninggalkan Anindya.


**********


Ternyata mencari file-file tersebut cukup sulit karena tempat penyimpanannya yang berbeda-beda. Tapi akhirnya Anindya bisa mendapatkan semua file itu. Kini ia sudah meletakkan semuanya dalam troli dan segera keluar dari ruangan agar ia bisa mengantarkannya ke ruang meeting. Di sana ada dua lift yang sepertinya berbeda. ia membaca kedua papan nama yang terpajang diatasnya. Ternyata salah satunya adalah lift khusus untuk presiden direktur yang sudah tentu diperuntukkan untuk pemilik perusahaan.


Itu artinya ia harus naik lift yang satunya yang diperuntukkan untuk karyawan umum. Untungnya ia sudah paham bagaimana cara menaiki lift karena ibu Sofia pernah mengajarkannya sewaktu mereka pergi ke mall.


Ia mendorong troli itu kedalam lift. Lalu menekan tombol untuk menutup pintu lift dan menekan tombol angka tiga belas sesuai ruangan yang akan ia tuju. Dalam sekejap, ia sudah sampai di sana. Ia mendorong troli itu keluar dari lift. Dan disitulah ia mulai merasa kebingungan. Ada banyak ruangan di sana. Dan tak ada seorangpun yang bisa ia tanya. Seingatnya akan ada seorang sekertaris yang bisa ia tanya. Tapi kemana dia. Ia tampak menghela nafas dan mulai menyusuri setiap ruangan. Pasti akan ada papan nama, kan? pikirnya.


"Ruangan asisten presiden direktur. Bahkan tuan Romi punya ruangan sendiri. Benar-benar hebat." ia membaca papan nama di ruangan pertama yang ia lalui.


Anindya semakin bingung. Mungkin ia bisa bertanya pada Romi dimana letak ruangan meeting. Tapi apakah itu diperbolehkan?


Disaat ia sedang kebingungan, ia dikagetkan saat seseorang menepuk bahunya.Ia langsung menoleh kearah orang yang menepuk pundaknya.


********


*


*


*


*


Akhirnya bisa lanjut nulis lagi setelah sekian lama hiatus. Maaf ya buat para pembaca yang masih setia nungguin kelanjutan karyaku ini. Semoga masih ingat dengan ceritanya. Kalo lupa diulang lagi aja dari awal. hehe...


Semoga bisa up tepat waktu ya


salam sayang dari ku.

__ADS_1


__ADS_2