My Dearest Wife

My Dearest Wife
Mabuk lagi?


__ADS_3

Malam hari di sebuah bar khusus kaum kelas atas. Seorang wanita cantik tampak sedang minum bersama beberapa orang temannya. Sepertinya sedang ada pesta yang diadakan di sana. Wanita-wanita itu tampaknya sudah sering datang ke bar itu. Mereka menyewa satu ruangan untuk mengadakan pesta tersebut dan terlihat sekali mereka semua sangat menikmatinya.


"Pesan apapun yang kalian inginkan. Aku yang akan membayar semuanya." ucap wanita berambut panjang itu.


"Oke Nat! Kau akan menyesal karena membiarkan kami memesan." sahut wanita lainnya.


Wanita itu tak lain adalah Natasha. Hari ini adalah ulang tahunnya. Ia mengajak teman-temannya untuk merayakannya. Seharusnya jika ia masih bersama Adrian, mungkin pria itu akan menyiapkan makan malam romantis untuknya seperti yang selalu pria itu lakukan setiap tahun untuknya.


Tapi kini semua sudah berubah. Ia menyesal sudah menolaknya waktu itu. Seandainya saja dia tidak bodoh dan lebih memilih karirnya ketimbang Adrian, mungkin saat ini ia lah yang akan menjadi istrinya, bukan wanita yang entah siapa itu.


Yah, Natasha sudah mengetahui kabar tentang pernikahan Adrian dari salah satu temannya yang kebetulan menjadi tamu undangan di pesta pernikahan itu. Ia juga mendengar rumor tentang Adrian yang tiba-tiba menghilang di pertengahan acara dan meninggalkan istrinya itu seorang diri.


Natasha merasa senang saat mendengar tentang rumor tersebut. Karena hal itu membuktikan jika Adrian tidak menyukai istrinya. Tebakannya mungkin pernikahan itu terjadi karena perjodohan.


Natasha merasa masih punya kesempatan untuk merebut Adrian kembali dan menjadi Nyonya Wiguna yang sebenarnya. Ia akan melakukan apapun untuk mendapatkan pria itu kembali ke pelukannya.


"Ayo! Pesan minuman lagi. Kita akan minum sampai pagi." ucap Natasha pada teman-temannya itu.


Tak lama kemudian seorang pelayan wanita masuk ke ruangan itu membawa nampan berisi beberapa gelas Moctail dan juga wine untuk mereka. Ia menatanya di atas meja dan mengambil gelas yang sudah kosong.


"Oh ya Nat! Apa kau sudah mendengar tentang pernikahan Adrian?" tanya salah seorang wanita padanya.


"Tentu saja aku sudah mendengarnya. "


"Apa kau juga dengar jika dia meninggalkan istrinya di tengah acara?" tanyanya lagi.


Natasha tertawa sinis. "Tentu saja aku sudah mendengarnya. Kasihan sekali wanita itu." Ucapnya sinis.


"Iya. Apa kau tahu. Dari yang kudengar jika wanita itu di pungut dari kampung oleh kakeknya Adrian. Aku rasa wanita itu hanya mengincar harta mereka saja." ucap wanita lainnya


"Aku rasa juga begitu. Memangnya apalagi yang diharapkan wanita sepertinya jika bukan harta." timpal wanita satunya.


Merasa serentak menertawakan hal itu. Mereka tampak sangat senang saat membicarakan wanita itu.


"Maaf nona. Apa ada lagi yang ingin anda pesan?" tanya pelayan itu kepada Natasha begitu menyelesaikan pekerjaannya.

__ADS_1


"Tidak ada. Pergilah!" jawabnya.


Pelayan itu segera keluar dari ruangan itu. Ia tampak menahan amarah saat mendengar apa yang dibicarakan oleh para wanita itu.


Karena pelayan itu tahu siapa yang sedang mereka bicarakan. Ya, pelayan itu tak lain adalah Anne, sahabat Anindya.


"Bisa-bisanya mereka menghina orang seperti itu? Rasanya ingin sekali aku merobek mulut mereka satu persatu. Apa... wanita itu yang bernama Natasha?" gumamnya.


"Apa aku sebaiknya memberitahukannya hal ini pada Anindya? Tidak.. sebaiknya dia tidak tahu. Itu hanya akan membuatnya sedih." lanjutnya lalu segera pergi dari sana.


****************


Malam semakin larut, namun entah mengapa Anindya merasa gelisah sekali malam ini. Ia tidak bisa memejamkan matanya. Ia lalu bangun dan keluar dari kamar untuk mencari udara segar.


Ia pergi ke halaman belakang dan duduk di kursi yang ada di tepi kolam renang. Ia menatap langit malam ini yang tampak cerah. Banyak bintang-bintang yang bisa dilihatnya. Rasa gelisah dihatinya seketika hilang.


Hari-hari yang dilaluinya di rumah ini terasa semakin sulit semenjak pernikahannya dengan Adrian. Pria itu bahkan semakin jarang terlihat di rumah ini. Mungkin kehadirannya bisa dihitung dengan jari.


Seperti malam ini, ia tidak pulang ke rumah. Entah dimana keberadaannya saat ini.


Anindya tampak menghela nafasnya. Waktu terasa lambat berjalan.


****************


Sebenarnya hal ini cukup membosankan untuk Anindya. Ia terbiasa bekerja keras sebelum datang ke rumah ini. Namun, kini ia bahkan dilarang untuk mengerjakan pekerjaan rumah yang memakan banyak tenaga.


Yang ia lakukan hanya membantu Sofia memasak dan menyiram tanaman saja. Padahal dulu ia bahkan terkadang ikut mencari ikan dengan pamannya. Ia terbiasa main dan menyelam di pantai. Terkadang ia juga suka memancing ikan di sungai. Kegiatan yang tidak akan ia ditemui di kota besar seperti ini.


Kini ia harus duduk manis dengan pakaian-pakaian mahal yang bahkan dulu tak sanggup dibelinya jika mengandalkan uangnya sendiri.


Kehidupannya memang sudah berputar 180 derajat. Kini ia menjadi seorang Cinderella di kehidupan nyata. Tapi tidak sampai jam dua belas malam melainkan satu tahun. Setelah itu ia akan kembali ke kehidupannya semula. Anindya yang dulu. Yang hidup seadanya dengan uang hasil kerja kerasnya sendiri. Ia hanya perlu bersabar.


Makan pagi ini hanya di hadiri oleh Zein, Anindya dan Sofia. Seperti yang diduga, Adrian tidak pulang ke rumah kemarin malam. Zein tidak berkata apa-apa. Mungkin menurutnya, percuma jika ia berbicara pada Adrian. Pria itu tak akan mendengarkannya.


Namun, tak lama kemudian Adrian tiba-tiba datang di sela-sela makan pagi mereka. wajahnya tampak sedikit pucat. Pakaiannya juga masih pakaian yang sama dengan yang dipakainya kemarin.

__ADS_1


Ia tak berkata sepatah kata pun pada Zein. Ia langsung menaiki tangga tanpa memperdulikan siapapun.


"Anak itu selalu saja berbuat sesuka hatinya." Pria baya itu tampak menggerutu.


Anindya dan Sofia hanya saling bertukar pandang.


*


Setelah menyelesaikan makan pagi mereka, Anindya terlihat menaiki tangga. Ia ingin melihat apa yang dilakukan Adrian. Apa dia sedang berada di kamarnya saat ini. Sebenarnya ia juga ingin mengeluarkan keranjang laundry nya agar pelayan bisa segera mencucinya.


Mungkin hal itu bisa dijadikan alasan jika pria itu marah karena masuk ke kamarnya.


Ia mengetuk pintu kamarnya terlebih dahulu sebelum masuk. Tapi tidak ada jawaban. Dengan hati-hati ia mencoba untuk membuka pintu kamar itu agar tidak menimbulkan suara.


Ia membukanya sedikit untuk mengintip. Pria itu sedang berbaring di atas ranjang. Sepertinya pria itu sedang tertidur.


Anindya akhirnya memberanikan dirinya untuk masuk ke dalam. Ia berjalan dengan pelan agar tak membangunkan pria itu.


Namun sepertinya pria itu sangat kelelahan. Ia bahkan masih memakai sepatu dan tidak mengganti pakaiannya.


Apa dia mabuk lagi? batinnya.


****************


*


*


*


*


*


*

__ADS_1




__ADS_2