My Dearest Wife

My Dearest Wife
Merasa cemas


__ADS_3

...MY DEAREST WIFE...


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


"Apa kita tidak perlu kembali ke rumah sakit?Luka mj sepertinya terbuka. " tanya Anne ketika melihat plester luka di dahinya mengeluarkan darah.


Saat itu mereka sudah berada di dalam mobil yang di kirimkan oleh Adrian. Arkan menelpon kakaknya agar menyuruh seseorang untuk menjemputnya. Ia menggunakan ponsel Anne karena ponsel miliknya rusak akibat kecelakaan yang menimpanya.


"Tidak perlu.Aku ini seorang dokter. Aku tahu bagaimana kondisi ku." jawabnya angkuh.


"Dokter juga tidak akan bisa mengobati dirinya sendiri." gerutunya.


Arkan terkekeh. Lalu menatapnya.


"Kenapa kau menangis sekencang itu?" tanyanya penasaran.


"Siapa? Aku? Aku tidak menangis." bantahnya.


"Apanya yang tidak menangis. Apa kau cemas karena melihat kondisi ku ketika menjemputmu?"


"Tidak.Aku menangis karena takut tidak bisa pulang." bantahnya lagi berpura-pura.


Sejujurnya ia menangis karena merasa kesal terhadap Arkan yang ia pikir sedang mempermainkannya. Tapi ternyata ia malah menemukan Arkan dengan kondisi seperti itu. Dan melihat bagaimana usaha Arkan untuk tetap bisa menepati janjinya.


Melihat hal itu membuat Anne berpikir jika mungkin ia sangat berarti bagi Arkan. Tetapi apakah memang seperti itu?


"Berhentilah berpura-pura." Arkan tersenyum simpul.


Anne mengalihkan pandangannya ke luar jendela untuk menghindari bertatap muka dengan Arkan.


Tetapi, ia tiba-tiba saja ingin bertanya apa yang dipikirkannya pada Arkan.


"Kenapa kau memaksakan diri untuk menemui ku? Padahal kondisi mu sendiri seperti ini. Kau mungkin bisa menelpon ku dan memberi kabar padaku. Begitu jauh lebih baik, bukan?" tanyanya sangat penasaran.


Arkan terdiam. Hening. Tidak mungkin ia mengatakan jika ia sudah sangat jatuh hati pada wanita di sampingnya itu, bukan. Itu mungkin bisa mengagetkannya. Lalu memutuskan untuk menjauhinya. Tidak. Ini bukanlah waktu yang tepat.


"Ehm.. Aduh! Kepalaku terasa sakit!" keluhnya berusaha untuk mengalihkan pembicaraan.


"Apa sakit sekali? Apa sebaiknya kita kembali ke rumah sakit?" tanyanya panik.


"Ehm.. tidak perlu. Aku akan istirahat sebentar. Itu bisa mengurangi rasa sakit. Jawabnya lalu menyandarkan kepala di kursi.


Ia benar-benar tertidur. Mungkin obat pereda sakit yang ia minum sebelumnya sudah mulai bereaksi. Hal itu menimbulkan rasa kantuk berlebih padanya, hingga ia benar-benar tertidur.


" Kau sudah tidur?" tanya Anne.


Tidak ada jawaban. Pria itu sudah terlelap.


Anne menatapnya ragu. Lalu perlahan memindahkan kepalanya ke atas pangkuannya. Ia meletakkan tasnya sebagai alas kepalanya.


Ia mengelus kepalanya lembut agar tidurnya samakin pulas.


****************


Adrian tampak gelisah. Ia masih cemas ketika mendengar tentang kecelakaan yang di alami adiknya. Walaupun Arkan sudah berulang kali meyakinkan bahwa itu hanya kecelakaan kecil. Namun tetap saja ia merasa cemas.


Ia sedari tadi belum juga memejamkan matanya. Yang ia lakukan hanya duduk bersandar di atas ranjang. Sementara Anindya sudah tertidur lelap di sampingnya karena kelelahan.

__ADS_1


Adrian lalu memutuskan untuk menunggu Arkan di luar. Ia memakai pakaiannya kembali. Sebelum keluar, ia memastikan sekali lagi bahwa Anindya sudah tertidur pulas. Ia memang sengaja tidak memberitahukan pada siapapun mengenai kecelakaan tersebut. Karena tidak ingin membuat seisi rumah merasa cemas. Terutama kakeknya.


Adrian duduk di sofa depan pintu rumahnya. Tak lama terdengar suara mobil di depan teras rumah nya.


Ia langsung keluar. Arkan turun bersama Anne.


"Kakak! Kenapa kau belum tidur. Aku sudah mengatakan jika aku baik-baik saja. Tetapi mobil ku yang rusak parah." ia masih bisa tersenyum pada kakaknya.


"Mobil tidak penting. Kau yang paling penting. Syukurlah jika kau hanya mendapat luka ringan. Ayo masuk! Setelah itu beristirahat." Ajaknya.


"Kau juga tidurlah!" ucap Adrian pada Anne.


"I-iya tuan!" sahut Anne.


Sebelum pergi, ia sempat bertatapan dengan Arkan. Entah kenapa ia merasa sesuatu yang aneh ketika menatapnya.


Namun dengan cepat ia memalingkan wajahnya kembali. Lalu pergi ke kamarnya.


****************


"Pergilah tidur, kak! Temani kakak ipar. Ini sudah pukul berapa? Aku sudah tidak apa-apa. Besok aku akan ke rumah sakit untuk memeriksa luka ku. Kakak tenang saja." jelas Arkan ketika berada di kamarnya.


Kakaknya terlihat sangat cemas. Ia memang selalu seperti itu. Mudah cemas ketika sesuatu menimpa orang yang ia sayangi.


"Aku ingin bertanya satu hal padamu." ucapnya.


"Tanya apa, kak?"


"Apa kau punya hubungan dengan wanita itu?" tanya Adrian penasaran.


"Iya!


" Aku menyukainya."


"Lalu bagaimana dengan dia?


" Ehm... sepertinya ia belum punya perasaan padaku."


"Lalu kenapa kau malah terus mendekatinya.Bukannya menghindar."


"Karena aku tidak bisa melupakannya, kak! Aku ingin menikahinya. Aku juga sudah berjanji pada ibunya. " jelasnya.


"Kau sudah melangkah sejauh itu dan tidak memberitahukan ku?" tanyanya kesal.


"Maaf, kak! Aku masih belum punya waktu untuk memberitahukannya padamu."


"Apa kau yakin terhadap wanita itu?" tanya Adrian memastikan.


"Iya, kak! Sangat yakin." jawab nya.


"Baiklah jika begitu. Kakak tidak akan ikut campur lagi. Tetapi ingat. Kau harus bertanggung jawab penuh pada wanita mu. Jangan pernah sekalipun mempermainkan perasaan wanita. Apa kau mengerti!." jelas Adrian.


"Iya, kak! Aku tahu apa yang akan aku lakukan."


"Baiklah! Sekarang tidurlah! Kakak tidak akan mengganggumu lagi." Adrian keluar dari kamar.


****************

__ADS_1


Adrian kembali ke kamar. Begitu masuk, ia langsung tersentak kaget melihat Anindya sudah terbangun dan duduk di tepi ranjang.


"Kenapa kau bangun? Ayo tidur lagi." Ajak Adrian.


"Kau darimana saja? "


"Aku hanya ingin mencari udara segar. Kenapa? Tidak bisa tidur tanpaku?" tanyanya dengan sedikit menggoda.


"Bukan begitu. Aku hanya takut jika aku bermimpi buruk kembali." jelas Anindya.


"Aku juga terbiasa tidur denganmu. " timpalnya.


Anindya tersipu malu. Adrian lalu tersenyum lalu memeluk istrinya tersebut.


"Tidak apa-apa. Ayo kita tidur kembali!" Ajak Adrian lalu membaringkan tubuh Anindya.


Wanita itu sudah memakai kembali pakaiannya. Adrian lalu merebahkan tubuhnya kembali di atas ranjang. Wanita itu tampak sangat kelelahan. Apalagi itu semua terjadi karena ulahnya.


Adrian ikut berbaring di sampingnya. Lalu memeluk tubuh Anindya.


"Tidurlah!" ucapnya sambil menepuk punggungnya dengan lembut.


"Iya! Tapi kau jangan pergi lagi, ya!" ucapnya mewanti-wanti.


Adrian tersenyum kembali. "Iya, sayang! Aku tidak akan kemana-mana."


****************


*


*


*


*


*


*


Jangan lupa setiap baca selalu tinggalkan jejak ya. 😊😊


Jika suka dengan cerita ini, jangan lupa selalu sertakan:


like 👍


komentar 💬


vote


dan rate ⭐ ya.


Serta jadikan salah satu list favorit ❤ kamu agar kamu nggak ketinggalan setiap update terbarunya ya.


Terima kasih😘💕


__ADS_1


__ADS_2