My Dearest Wife

My Dearest Wife
Serangan jantung


__ADS_3

Ayah!


Anindya seketika kembali teringat akan masa kecilnya yang suram. Dimana ia sedang bersembunyi di dalam lemari pakaian karena ketakutan melihat ayahnya yang sedang marah pada ibunya.


Anindya kecil tampak gemetar dan hanya mampu menangis kala itu. Ia tak tahu apa yang membuat ayahnya begitu marah . Ia merasa ketakutan hingga tak berani bersuara.


Ia menutup kedua telinganya berharap tak mendengar suara apapun diluar sana. Ia begitu ketakutan hingga tubuh kecilnya gemetar. Airmata tak hentinya mengalir dari kedua sudut matanya.


Tak lama kemudian tiba-tiba saja pintu itu terbuka. Anindya seketika menengadahkan kepalanya untuk melihat wajah orang yang membuka pintu tersebut.


Ia mendapati ayahnya yang tengah berdiri di hadapannya dengan raut wajah marah. Hal itu membuat Anindya semakin takut.


"Ayah! Maafkan Anin! Anin janji tidak akan nakal lagi! Anin janji tidak akan minta mainan lagi! Anin minta maaf ayah! Jangan marah pada ibu lagi!" ia memohon sambil mengatupkan kedua tangannya diiringi dengan suara isakan yang coba ia tahan.


Pria itu hanya diam. Lalu menggendong tubuh kecilnya dengan kasar dan membawanya keluar dari kamar itu.


"Rian! Apa yang kau lakukan? Kau mau membawanya kemana? Turunkan dia?" tanya Arini sambil mengikuti pria itu dan berusaha mengambil anaknya dari pria itu.


Pria itu tampaknya semakin emosi dan menarik tangan Arini. Menyeretnya untuk ikut bersamanya. Lalu ia mengeluarkan mereka berdua dengan paksa dari rumah itu. Bahkan Anindya hampir terjatuh jika Arini tidak menangkapnya.


Pintu rumah itu kemudian ditutup. Rian mengurung mereka berdua diluar. Mengusirnya tanpa membekali apapun. Bahkan mereka tak di beri kesempatan untuk mengemasi barang-barang mereka sedikitpun. Mengapa ia begitu kejam padanya dan pada ibunya? Apa kesalahan mereka sebenarnya?


Ia tak pernah mengerti hingga saat ini. Bahkan ia berharap jika suatu hari ia bisa menemukan ayahnya dengan harapan ia bisa menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi waktu itu. Karena ibu bahkan neneknya tak pernah berniat untuk menjelaskan hal itu padanya.


Tapi kini...


Pria itu berada tepat di hadapannya. Ia sebelumnya pernah menduga jika kemungkinan pria itu menikah kembali pasti ada. Namun ia tak pernah berpikir akan seperti ini keadaannya. Mengapa Tuhan memberinya cobaan seperti ini?


Bahkan sepertinya pria yang ada di hadapannya itu tak lagi mengenalinya. Entah sikap seperti apa yang harus ia ambil? Apa ia harus mengungkap hal ini? Atau terus menyembunyikannya dan bersikap seperti tidak terjadi apa-apa? Namun apakah ia sanggup? Apa ia mampu bersandiwara? Jika ia mengungkapkan hal ini tentu ada banyak hati yang terluka.


Ia bahkan tak sanggup membendung air mata yang perlahan mulai menganak di kedua matanya. Namun ia tak bisa menangis di hadapan mereka semua. Ia berusaha sekuat tenaga untuk menahannya.


"Siapa namamu tadi?" tanya pria itu kepadanya membuyarkan segala pikirannya.


"Namaku Anin... Anindya, paman!" ia sengaja menekankan pengucapan namanya, berharap mungkin pria itu mengingat sesuatu.


Namun pria itu sepertinya tidak mengenalinya. Karena ia masih bersikap biasa saja. Ia tersenyum dengan ramah padanya. Lalu pergi begitu saja setelah kakek menyuruhnya dan istrinya untuk beristirahat.


Anindya lagi-lagi berpikir apakah pria itu benar-benar sudah tak mengingatnya atau memang sengaja tidak mengingatnya.


****************

__ADS_1


Malam harinya di ruang makan.


Semua orang tampak menikmati makan malam mereka dengan nikmat. Sesekali mereka tampak mengobrol santai. Zein menanyakan tentang bisnis furniture yang sedang di jalankan oleh Rian. Rian menjelaskan jika bisnisnya dalam beberapa tahun terakhir ini memang sedang berkembang pesat. Karena itu ia sangat sibuk dan tak bisa sering datang berkunjung seperti tahun-tahun sebelumnya.


Sementara Adrian tampak tak tertarik untuk ikut mengobrol bersama kedua orang itu. Arkan tak hadir di sana karena ia punya jadwal operasi malam ini.


Sementara Anindya tampak memperhatikan bibi Rossa, Clarissa dan juga ayahnya. Mereka terlihat sangat bahagia. Bahkan Clarissa dengan santainya bermanja-manja pada ayahnya. Anindya terlihat iri melihat kebahagiaan keluarga itu.


Seandainya yang ada di posisi Clarissa dan Rossa adalah dirinya dan ibunya, tentu ia akan sangat bahagia.


Mengapa pria itu begitu kejam padanya. Apa salahnya hingga di benci olehnya. Apakah pria itu tak pernah menyayanginya sedikitpun?


Anindya tidak menyadari jika sedari tadi Adrian yang duduk di sampingnya tengah memperhatikannya sedang menatap pamannya.


Kenapa sedari tadi ia tak berhenti memperhatikan paman? Apa yang sedang dipikirkannya?


Adrian menatapnya kembali. Ada sesuatu yang ditangkapnya dari ekspresi wajah istrinya yang.. sedih. Tapi kenapa?


Anindya tampak memakan kembali makanan yang sempat diacuhkannya. Ia seperti kehilangan selera makannya. Padahal biasanya ia selalu bersemangat memakan hidangan yang tersaji untuknya, apapun itu.


Adrian jadi ingin sedikit menggodanya. Ia memang tak pandai untuk berkata romantis, namun ia bisa melakukan hal lain untuk menghibur istrinya itu.


Ia meletakkan tangannya di atas pangkuan istrinya. Anindya tampak kaget. Matanya membulat seketika karena rasa keterkejutannya.


Apa yang sedang dilakukannya?


Pria itu mulai memainkan jemarinya menelusuri apa yang ada di balik rok istrinya itu. Anindya tampak tak berkutik. Ia mencoba menahan sesuatu yang kini mulai terasa panas di kulitnya. Semakin lama malah semakin panas.


Ia menoleh ke arah pria itu. Adrian bersikap seperti biasa seakan tidak ada apapun yang terjadi.


Sialan! Bisa-bisanya dia bersikap biasa seperti itu.


Anindya melihat ekspresi orang-orang di sekelilingnya. Sepertinya tak ada seorangpun yang menyadari perbuatan Adrian kepadanya.


Ia ingin menegurnya, namun itu tidak mungkin. Itu akan sangat memalukan baginya.


Adrian semakin leluasa berulah karena tidak mendapatkan penolakan dari Anindya. Ia hampir saja menyentuhkan jemarinya ke bagian sensitif wanita itu jika saja Anindya tidak tiba-tiba beranjak dari kursinya.


"Ada apa, Anindya?" tanya Zein melihatnya tiba-tiba berdiri.


"Kenapa wajah kakak memerah seperti itu? Apa kakak sakit?" timpal Clarissa ketika melihat wajahnya.

__ADS_1


"Ehm... aku.. aku permisi ke toilet sebentar!" ucapnya lalu segera naik keatas menuju kamar tidurnya.


Sementara Adrian tanpak samar-samar menipiskan bibirnya. Ia sepertinya senang melihat istrinya seperti itu.


Anindya menutup pintu kamarnya dan berdiri sambil menyandarkan tubuhnya di balik pintu. Ia benar-benar tak habis pikir dengan Adrian. Bagaimana ia bisa melakukan hal tersebut di depan umum seperti itu? Bagaimana jika ada seseorang yang melihat mereka?


"Aku bisa terkena serangan jantung mendadak jika seperti ini. " gumamnya sambil mengelus dadanya.


****************


*


*


*


*


*


Jangan lupa setiap baca selalu tinggalkan jejak ya. 😊😊


Jika suka dengan cerita ini, jangan lupa selalu sertakan:


like 👍


komentar 💬


vote


dan rate ⭐ ya.


Serta jadikan salah satu list favorit ❤ kamu agar kamu nggak ketinggalan setiap update terbarunya ya.


Terima kasih😘💕




__ADS_1


__ADS_2