
"Aku!" Anne tak bisa berkata apa-apa.
Ia terdiam sejenak membuat suasana malam terasa semakin sunyi. Arkan juga ikut terdiam. Ia sepertinya memberi ruang bagi Anne untuk menenangkan hatinya.
"Aku... tak bisa menerima perasaan mu. Maafkan aku!"
Arkan tampak kecewa. Tetapi ia tak menunjukkan hal itu pada Anne. Ia tetap tersenyum.
"Itu hak mu untuk menerima ataupun menolaknya. Aku hanya ingin mengutarakan perasaanku padamu." jelas Arkan.
"Apa kau tak kecewa atau marah padaku?" tanya Anne.
"Sejujurnya aku kecewa padamu. Aku pikir, aku akan mendapatkan balasan atas perasaanku. Nyatanya tidak. Tetapi cinta tidak bisa dipaksakan bukan? " tanya pria itu.
Anne hanya diam. Ia terlalu takut jika Arkan tahu bahwa dirinya sedang berbohong. Anne mulai mencintai Arkan. Tetapi impiannya juga sangat penting baginya. Mungkin ia harus merelakan cintanya sebelum sempat memilikinya.
"Maafkan aku, Arkan!" pinta Anne.
"Jangan terus menerus meminta maaf padaku. Kau tidak punya salah apa-apa padaku."
"Arkan! Kau pantas mendapatkan seseorang yang lebih baik daripada aku. Kita baru mengenal beberapa bulan. Aku mungkin bukan seorang wanita seperti yang kau pikirkan selama ini." jelasnya.
Arkan lalu tersenyum lirih. "Maksudmu kau merasa tidak pantas untukku?" tanya Arkan.
"Iya! Aku... " Anne tak sanggup melanjutkan perkataannya.
Ia tampak bingung dengan ucapannya sendiri.
"Atas dasar apa kau beranggapan jika dirimu tak pantas untukku? Karena status sosial mu? Karena aku terlalu tampan? Atau karena rasa rendah dirimu sehingga kau merasa malu jika berdampingan denganku? Katakan Anne!Apa kau benar-benar tidak punya perasaan sedikitpun padaku?" ia mulai mendesaknya.
Anne terdiam. Ia tak tahu harus berkata apa pada Arkan.
"Katakan sejujurnya padaku, Anne?" Arkan tampak tak sabaran.
"Aku... Aku benar-benar tidak punya perasaan padamu. Aku hanya merasa jika kita tidak pantas berhubungan. Itu saja. Kau sama sekali tidak mengenal ku. Jadi jangan terlalu cepat berpikir jika kau mencintaiku." jelasnya.
"Apanya yang terlalu cepat. Apa cinta mengenal waktu? Berapa lama? Berapa lama seseorang baru bisa dikatakan jatuh cinta? Setahun, dua tahun, sepuluh tahun? Berapa lama? Jawab?" desak Arkan.
Anne lagi-lagi terdiam. Ia tak bisa menjawab. Ia menundukkan wajahnya karena tak sanggup menatap Arkan.
Arkan malah terlihat sebaliknya. Ia terus menatap Anne dengan tajam.
Lama ia memandanginya. Hingga akhirnya ia menyadari satu hal. Arkan mendekati Anne. Mengangkat dagunya hingga mata wanita itu kini menatapnya.
"Pandang aku dan katakan jika kau tidak mencintaiku!" perintahnya.
Arkan mungkin berpikir jika mulut mungkin bisa berbohong. Tapi tidak dengan mata. Selamanya mata tidak akan bisa berbohong.
"A-aku.. aku.. jangan memaksaku Arkan! Ku mohon!" tanpa ia sadari buliran air mata mulai menetes dari sudut matanya.
Arkan tersenyum simpul. Ia sepertinya tahu apa yang dirasakan wanita muda di hadapannya itu.
Tetapi ia tak sanggup untuk memaksanya. Ia tampak memeluknya dengan lembut. Untuk menenangkan hati wanitanya.
"Kau boleh menolak ku saat ini. Akan ku biarkan kau berpikir sejenak. Tetapi... selamanya aku tidak akan melepaskan mu. Dan jangan berpikir untuk lari atau menjauh dari ku. Aku pasti akan menemukan mu dimana pun kau bersembunyi. Apa kau dengar? " ancamnya.
__ADS_1
Anne hanya diam. Ia merasa takut sekaligus senang karena pria yang dicintainya ternyata sangat mencintainya.
Untuk beberapa saat, suasana tampak tenang. Di sebelah barat, terlihat matahari yang perlahan tenggelam.
****************
Malam hari di dalam kamar Anindya.
Suasana kamar terasa sunyi. Anindya duduk bersandar di atas ranjang sambil memeluk kemeja Adrian yang diambilnya dari lemari.
"Aku sangat merindukanmu. Kapan kau akan pulang? Kenapa lama sekali." gumamnya sambil menatap kemeja tersebut.
Seolah itu adalah Adrian.
Anindya lalu berbaring sambil memeluk kemeja tersebut.
"Aku benar-benar merindukanmu." ia mencoba untuk menutup matanya.
Tak butuh waktu lama bagi Anindya untuk tidur. Ia bahkan terlihat pulas.
Tak lama kemudian, seseorang masuk ke dalam kamar dengan hati-hati. Ia berbaring di samping Anindya. Memeluknya dari belakang dengan lembut. Hingga membuat Anindya semakin lelap.
****************
Matahari terlihat mulai mengintip di balik awan. Pertanda bahwa pagi akan menyapa. Anindya terbangun dari tidurnya. Ia perlahan membuka matanya dan melihat seseorang sedang menatapnya sambil tersenyum manis.
"Ehm... Aku pasti sudah tidak waras. Aku bahkan bermimpi ia ada dihadapan ku. Aku benar-benar sangat merindukannya." gumamnya setengah sadar.
"Mungkin jika aku kembali tidur, ia akan segera menghilang." lanjutnya.
Anindya kembali memejamkan matanya beberapa saat dan membukanya kembali.
"Menurutmu?" Akhirnya pria tersebut berbicara.
"Eh! Kau bahkan bisa berbicara? Apa ini nyata? Apa ini sungguh dirimu?" tanyanya.
"Bukankah kau harus menyentuh ku jika ingin tahu ini mimpi atau nyata? " tanya Adrian.
"Ah, iya! Kau benar!" Bukannya menyentuh, ia malah mencubit pipinya beberapa kali dengan gemas.
"Sudah puas mencubitnya? Apa masih ingin lagi? " tanya Adrian mulai kesal.
Anindya seketika terkekeh. Ia sepertinya sudah menyadari jika ia tidak bermimpi. Ia lalu mencium Adrian dengan lembut.
"Setelah puas mencubit ku, kau mencium ku seenaknya. Tampaknya kau sudah mulai semakin berani padaku. Kau perlu di hukum. " gerutunya lalu mulai memberi Anindya hukuman.
***
"Kapan kau pulang? Kenapa tidak membangunkan aku jika aku tertidur?" tanya Anindya setelah selesai dengan hukumannya.
"Kemarin malam. Kau tampak pulas. Aku tak tega membangunkan mu. " jelasnya.
"Kau tidak akan pergi lagi, kan? "
"Aku mungkin akan sering ke luar kota. Tetapi, nanti ketika kau sudah melahirkan, aku janji akan membawamu serta anak kita pergi bersama ku. oke?"
"Baiklah! Aku mengerti kesibukan suamiku." Anindya tersenyum.
__ADS_1
Adrian memeluknya kembali dan mencium dahinya. Ia juga tak lupa mencium perutnya sambil menyapa anaknya.
****************
Hari-hari berlalu dengan penuh kedamaian. Tanpa terasa waktu berjalan begitu cepat. Usia kehamilan Anindya sudah menginjak usia sembilan bulan. Hanya tinggal menunggu hari, maka bayi pertama akan lahir di keluarga ini.
Adrian tampak sangat antusias menyambut kelahiran calon anaknya. Ia mungkin hampir membeli satu toko pakaian bayi untuk calon anaknya tersebut. Padahal belum jelas diketahui apa jenis kelamin bayinya.
Iya, mereka berdua sepakat untuk tidak mengetahui jenis kelamin bayi mereka. Namun, Adrian membeli warna netral agar tetap bisa digunakan oleh bayi lelaki maupun perempuan.
Beberapa minggu belakangan ini, Adrian rutin menemani istrinya jalan pagi untuk memperlancar persalinannya nanti. Anindya tampak menikmatinya walaupun terkadang ia merasa cepat lelah ketika banyak berjalan.
Adrian juga selalu berada di sampingnya. Ia tak pernah sekalipun mengeluh tentang perubahan yang terjadi pada istrinya tersebut.
"Apa kau merasa lelah?" tanya Adrian setelah melihat Anindya tampak kepayahan berjalan.
"Sedikit."
"Kita istirahat dulu, ya!"
Anindya mengangguk setuju. Adrian membantunya duduk di kursi taman rumahnya. Ia juga memberikan minum kepada istrinya tersebut.
"Aduh! " keluh Anindya sambil memegang perutnya yang terasa mengencang.
"Kenapa? Perutmu terasa mengencang?" tanya Adrian cemas.
"Iya. Seperti biasa. Tapi sekarang sudah membaik. " jelas Anindya.
"Apa dia menendang lagi pagi ini? " tanyanya.
"Belum. Sepertinya dia masih tidur."
Anindya tampak sangat bahagia karena memiliki suami yang begitu mencintainya dan sangat perduli padanya. Entah kebaikan apa yang dilakukannya dulu sehingga mendapatkan semua ini. Tuhan begitu baik padanya. Seandainya ibu dan neneknya ada bersama dengannya saat ini, tentu akan terasa lebih sempurna lagi.
****************
*
*
*
*
*
Jangan lupa setiap baca selalu tinggalkan jejak ya. 😊😊
Jika suka dengan cerita ini, jangan lupa selalu sertakan:
like 👍
komentar 💬
vote
dan rate ⭐ ya.
__ADS_1
Serta jadikan salah satu list favorit ❤ kamu agar kamu nggak ketinggalan setiap update terbarunya ya.
Terima kasih😘💕