
Adrian turun ke bawah untuk sarapan. Anindya sudah lebih dulu turun setelah membereskan kamar. Hari ini ia memutuskan tidak ke kantor. Pakaian yang sebelumnya sudah di siapkan Anindya, ia kembalikan lagi kedalam lemari dan menggantinya dengan kaus lengan panjang dan celana panjang rumahan. Ia akan menyuruh Romi untuk membawa pekerjaannya nanti kerumah.
"Kau tidak bekerja hari ini?" tanya Zein begitu melihat pria itu duduk bersamanya di ruang makan dengan menggunakan pakaian santainya.
Hal yang sangat jarang dilakukannya sekalipun pada akhir pekan.
"Iya. Aku merasa lelah kakek. Jadi aku akan bekerja dari rumah saja nanti." jelasnya.
"Ternyata kau bisa merasa lelah juga ya. Kakek pikir kau itu tidak bisa merasa apapun." ledeknya.
"Kakek pikir aku ini apa?" tanyanya kesal.
Zein tampak terkekeh. Mereka lalu memulai sarapan mereka. Disusul dengan Anindya dan Sofia yang ikut duduk disana. Anindya duduk di samping Adrian.
"Oh ya! Apa kalian tidak terpikir untuk berbulan madu dalam waktu dekat ini? Adrian, kau pasti sudah memikirkannya, kan?" tanya Zein pada pasangan suami istri itu secara mendadak.
Hal itu membuat Anindya tersedak saat mendengar kata "bulan madu" yang membuat pikirannya berlarian kemana-mana. Sementara Adrian hanya melirik sejenak ke arah pria baya itu lalu melanjutkan kembali menyantap makanannya seolah tidak terjadi apa-apa.
"Aku belum memikirkannya, kakek. Lagipula bulan depan aku harus menjemput Arkan. Belum lagi ada banyak pekerjaan di kantor. Mungkin nanti jika aku punya waktu senggang." jelasin datar.
Zein tampak menghela nafas. Ia tidak mengerti jalan pikiran cucunya itu. Sudah menikah, tapi seperti tidak menikah.
Ia lalu melirik ke arah Anindya. Wanita itu juga terlihat biasa. Mereka berdua tidak bisa dibiarkan begitu saja. Sepertinya ia harus turun tangan lagi untuk memaksa mereka agar mereka semakin mendekat.
"Kau ini selalu saja banyak alasan. Arkan sudah dewasa. Ia bisa pulang sendiri. Jangan mencari-cari alasan." seru Zein.
"Dia akan di wisuda kakek. Sudah sewajarnya jika aku menemaninya. Apa kakek tidak kasihan melihatnya sendirian di acara yang penting baginya itu. Kakek sudah pasti tidak bisa hadir. Hanya aku saja kan yang bisa diharapkannya untuk hadir." jelasnya mencari pembelaan.
"Jika begitu bawa Anindya bersamamu. Arkan pasti ingin sekali melihat kakak iparnya." Zein tak mau kalah.
Sofia dan Anindya hanya menjadi pendengar yang baik di antara perdebatan kakek dan cucunya tersebut.
"Aku tidak bisa membawanya kakek. Aku juga ada pekerjaan disana. Jadi mungkin aku tidak punya waktu untuknya jika membawanya kesana."
"Kau memang paling bisa mencari alasan untuk mendebat kakak! Baiklah! Tapi setelah Arkan kembali, kau harus membawa Anindya untuk pergi berbulan madu. Jika tidak maka kau akan berurusan dengan kakek." ancamnya.
__ADS_1
"Selalu saja mengancam." gerutunya.
Adrian sesekali melirik wanita yang duduk di sampingnya itu. Dan menggerutu dalam hatinya.
Yang dilirik hanya bisa berpura-pura tidak tahu.
****************
Hujan masih turun dengan lebat diluar sana. Sepertinya akan berlangsung seharian. Bahkan hari sudah menjelang sore. Zein sedang istirahat dikamarnya. Anindya dan Sofia sedang asyik membuat cupcake di dapur. Mereka tampak sesekali mengobrol di sela-sela kegiatan mereka.
Sementara Adrian sedang mengurung diri di ruang kerjanya. Hal yang selalu dilakukannya ketika berada di rumah. Apa pria itu tidak merasa bosan.
"Ehm... baunya sangat enak, bu!" seru Anindya begitu mengeluarkan cupcake itu dari oven.
Ia sudah tidak sabar untuk mencicipinya. Ia mengambil cupcake itu walaupun kue itu masih panas. Terlihat asap yang masih mengebul di atas kue itu.
"Auwww.. panas! panas!" seru Anindya sambil meletakkan kembali kue itu.
"Hati-hati! Sudah tahu kuenya baru saja dikeluarkan. Kau ini!" sahut Sofia.
Anindya hanya terkekeh. Ia mengambil kembali kue itu dan meniupnya terlebih dahulu sebelum memakannya. Rasanya benar-benar sangat enak. Sofia tersenyum melihat tingkah wanita itu yang terlihat sangat menikmati kue buatannya.
"Baik, bu!" serunya.
*
Anindya mengetuk pintu coklat di hadapannya itu. Ia membawa sebuah nampan di tangannya yang berisi secangkir kopi dan satu piring kecil berisi cupcake yang masih hangat.
"Masuk!" sahut Adrian dari arah dalam.
Anindya membuka pintu itu dan masuk kedalam. Ia melihat Adrian sedang mengetik sesuatu di laptopnya.
Anindya meletakkan kopi dan kue itu diatas meja. Pria itu hanya diam dan mengabaikannya. Anindya lalu berbalik dan pergi dari sana.
Dasar manusia sombong. Apa ia benar-benar menganggapku sebagai pelayan? Tidak. Ia bahkan bisa terlihat ramah pada pelayan dirumah ini. Sekalipun hanya nenganggukkan kepalanya. Tapi denganku, bahkan melirikku pun tidak. Ia tampak mendengus kesal.
__ADS_1
"Terima kasih!" seru Adrian saat Anindya hendak membuka pintu. Membuat Anindya terdiam sesaat di tempatnya.
Aku tidak salah dengar, kan? batinnya. Ia melihat ke belakang, pria itu masih terlihat fokus pada laptopnya.
"Aku rasa aku sedang berhalusinasi." gumamnya lalu keluar dari sana.
Padahal Adrian memang mengatakannya. Ia bahkan meliriknya sekilas. Walaupun wanita itu tak menyadarinya.
****************
Malam hari sudah menjelang. Anindya terlihat masuk lebih dulu ke dalam kamar. Entah kenapa ia merasa sangat mengantuk. Hawa dingin yang tercipta setelah hujan seharian menambah rasa kantuknya. Zein yang sedari tadi memperhatikannya terus menerus menguap, juga memaksanya untuk segera tidur.
Ia mengganti pakaiannya terlebih dahulu dengan piyama dress nya. Lalu setelah itu ia mencuci muka dan menggosok giginya. Setelah selesai dengan ritual malam sebelum tidurnya itu, ia naik ke atas sofa yang menjadi tempat tidurnya selama ini.
Ia merebahkan tubuhnya setelah mengambil figura dari atas meja. Ukuran sofa itu sesuai dengan ukuran tubuhnya yang tidak terlalu tinggi. Seperti memang dirancang khusus untuknya. Bahkan rasanya jauh lebih nyaman dari kasur tipisnya dulu.
Sebelum tidur, ia memandang sosok yang ada di dalam figura itu. Ibu dan neneknya serta dirinya yang masih berumur lima kecil. Ya.. hanya itu saja foto bertiga yang ia miliki. Ia masih ingat, foto itu diambil saat ulang tahunnya yang ke enam tahun. Saat itu ibunya punya sedikit rezeki untuk membelikan sebuah kue ulang tahun kecil untuknya. Walaupun tidak dirayakan, namun ia masih merasa bahagia karena masih bisa bersama dua wanita yang dicintainya itu.
Karena setelah ibunya meninggal. Anindya tak ingin ada kue lagi di saat ia berulang tahun. Itu mengingatkannya pada ibunya.
Sudah sepuluh tahun sejak kepergian ibunya. Dan ternyata sudah delapan bulan sejak kepergian neneknya. Dua wanita itu telah pergi meninggalkannya. Rasa sepi itu kembali muncul. Entah sampai kapan ia mampu bertahan? Apa yang akan dilakukannya nanti setelah keluar dari rumah ini. Pergi ke kota lain dan memulai kehidupan barunya. Setelah itu mungkin ia akan mulai berpikir untuk mencari ayahnya. Yah, mungkin ia akan mencari pria itu untuk meminta penjelasan. Penjelasan yang selama ini ia harapkan. Karena sejujurnya ia tak pernah tahu kenapa pria itu mengusir dirinya dan ibunya begitu saja.
Ibunya tak pernah mengatakan apa alasannya. Mungkin pria itu bisa menjelaskan padanya nanti saat mereka bertemu. Tapi... ia harus mencarinya dimana?
****************
*
*
*
*
*
__ADS_1
*