
...MY DEAREST WIFE...
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Berlin, Jerman pukul 11:00 am.
"Apa maksud mu jika barang-barang kita di sita oleh polisi? " tanya Rian pada seseorang melalui ponselnya.
"Iya tuan! Sore tadi polisi datang menggerebek gudang kita. Mereka menyita semua kayu yang kita simpan."
"Apa!!! Semuanya? Bagaimana mereka bisa mengetahui lokasi gudang kita?" tanyanya kesal.
"Kami juga tidak tahu, tuan! "
"Lalu siapa yang bertanggung jawab? Mereka tidak menyebut namaku, kan? "
"Tidak, tuan! Mereka menangkap Wisnu dan beberapa pekerja kita . Mungkin status Wisnu akan ditetapkan sebagai tersangka utama. Anda tidak perlu cemaskan itu, tuan! Saya sudah mengatur semuanya dengan baik."
"Kau yakin dia tak akan buka mulut? "
"Saya yakin, tuan. Karena saya menggunakan istri dan anaknya sebagai ancaman."
"Bagus! Aku tidak salah memperkerjakan mu? Sekarang pergilah sejauh mungkin. Bila perlu pergilah ke luar negeri. Aku akan mengirimkan uang padamu. Apa kau mengerti?"
"Iya, tuan! "
Rian mengakhiri pembicaraan.
"Sial! Bagaimana bisa polisi mengetahui tempat itu. Apa ada orang dalam yang mengkhianati ku?" ia sungguh penasaran.
****************
Matahari terlihat sudah meninggi. Cuaca juga semakin terasa panas hingga seluruh tubuh basah akan peluh yang membanjir.
Di kantor, Adrian tampak membahas sesuatu dengan Romi.
"Jadi pemiliknya bukan, paman? Tetapi orang lain. Kenapa aku merasa jika paman sedang mengkambinghitamkan orang tersebut. Aku yakin jika paman terlibat dalam usaha ilegal ini." ucap Adrian pada Romi.
"Saya juga merasa seperti itu, tuan! Karena orang suruhan kita melaporkan jika tuan Rian tidak masuk ke bandara setelah supir mengantarnya. Beberapa menit setelah supir tersebut pergi, ada mobil lain yang datang menjemputnya.Orang suruhan kita mengikutinya hingga ke sebuah gudang. Mungkin sekitar tiga hari dia berada di sana. Setelah itu tuan Rian baru kembali ke Jerman." jelas Romi.
"Kau yakin! Apa paman tidak pergi ke tempat lain pada hari keberangkatannya? Apa.... dia tidak kembali ke rumah ku?" tanyanya begitu teringat perkataan Anindya tentang pamannya yang pada saat itu ada di saat Anindya terjatuh.
"Tidak, tuan! Dia hanya berada di gudang selama tiga hari."jelas Romi memastikan.
" Apa kau benar-benar, yakin! Apa orang suruhan mu tidak tertidur atau buang air kecil? Ia tidak mungkin mengawasi selama dua puluh empat jam nonstop, kan?" tanyanya tidak yakin.
"Ehm... Itu tidak mungkin, tuan. Saya menempatkan dua orang untuk mengawasi tuan Rian."
"Begitu!" Adrian tampak berpikir. Lalu bagaimana caranya ia berada di rumah waktu itu. Apa Anne hanya salah lihat?
"Baiklah!Bagaimana keadaannya di Jerman saat ini?" tanyanya lagi.
"Masih normal, tuan. Tidak ada kegiatan aneh yang dilakukan tuan Rian. Ia bekerja seperti biasa. Dan selalu pulang tepat waktu." jelas Romi.
"Baiklah! Tetap awasi dia. Jangan sampai lengah. Aku rasa ia akan mulai berhati-hati setelah kejadian ini. "
"Baik, tuan!" ucap Romi.
Lalu pria itu pergi. Sementara Adrian masih tidak yakin jika bukan Rian yang menyebabkan Anindya terjatuh dari tangga.
Tetapi bagaimana caranya ia bisa luput dari pengawasan orang suruhan ku waktu itu?
****************
Anindya baru saja selesai mengantarkan makan siang untuk Adrian. Ia minta izin untuk pergi ke mall bersama Anne. Ia ingin membeli beberapa buku untuk di bacanya.
__ADS_1
Anne juga kebetulan ingin mencari buku untuk tugas kuliahnya. Pekan depan ia sudah mulai ujian akhir semester. Anindya dan Anne janjian bertemu di mall siang ini karena mereka tidak pergi bersama tadi. Anne harus menyelesaikan pekerjaannya terlebih dahulu.
Anindya menunggu di sebuah cafe yang berada di kawasan mall tersebut.
"Anindya!" sapa seorang pria padanya.
"Kak Reyhan!" sapanya balik.
"Kau sedang apa sendirian di sini? " tanyanya ketika melihat ia hanya seorang diri duduk di sana.
"Aku sedang menunggu temanku. Kakak sendiri sedang apa di sini? "tanya Anindya.
" Aku baru saja selesai bertemu klien. Apa kau mau ku temani? " tanyanya.
"Ehm... boleh saja. Ayo duduk! "
"Terima kasih. " Menarik kursi lalu duduk di samping Anindya.
"Kau mau pesan minum? " tanya Anindya.
"Ehm.. tidak usah. Aku baru saja minum. "
Mereka berdua tampak berbicara dengan akrab.
"Jadi, bagaimana kau akhirnya bisa tinggal di keluarga itu dan menikah dengan tuan Adrian?" tanyanya.
"Ehm... itu.. nenek ku dan kakeknya Adrian bersahabat sewaktu muda. Sebelum nenek ku meninggal, ia meminta kakek Adrian untuk merawat ku." Anindya mulai menceritakan segalanya pada Rayhan. Termasuk tentang pernikahannya.
"Aku turut berduka cita tentang nenek mu. Seharusnya aku menemani mu saat itu. Kau pasti sangat sedih." ucap Rayhan.
"Tidak apa-apa. Aku sudah jauh lebih baik saat ini. Aku sudah mengikhlaskan kepergian nenek."
"Lalu... bagaimana tentang pernikahan mu? Apa... kau bahagia dengan pernikahan mu? Maaf jika pertanyaan ku menyinggung mu? " tanya Rayhan penasaran.
"Tidak apa-apa. Pernikahan ku sangat bahagia. Adrian dan keluarganya sangat menyayangiku. Mereka menerima kehadiran ku dengan baik." jelasnya.
Tetapi Anindya sepertinya tidak menyadari hal itu.
"Lalu... bagaimana perasaan mu terhadap suami mu? Apa kau mencintainya? "
Anindya tersenyum. "Iya.Aku sangat mencintainya." Ia tampak tersipu malu.
"Bagaimana dengannya? Apa dia juga mencintaimu? " tanyanya lagi.
Ekspresi wajah Anindya tampak berubah seketika. Rayhan sepertinya menyadari hal itu.
"Ehm... tentu saja." Anindya tersenyum lebar.
"Bagaimana denganmu, kak? Apa kau punya seorang kekasih atau jangan-jangan kau sudah menikah? " tanya Anindya mengalihkan pembicaraan.
"Aku belum menikah. Aku.. juga tidak memiliki kekasih."
"Benarkah? Tapi pasti ada seseorang yang kau suka, kan?"
Rayhan menatap Anindya. "Iya.Ada.Aku menyukai seorang wanita. Tetapi sepertinya wanita itu tidak punya perasaan padaku?"
"Benarkah? Wanita itu pasti sangat bodoh karena tidak menyukai pria seperti kakak."
Rayhan tertawa kecil. 'Iya! Mungkin ia memang bodoh." sambil menatapnya.
"Kenapa kakak tidak mengejarnya? Kenapa hanya pasrah?" tanyanya penasaran.
"Menurutmu apa aku harus mengejarnya?" Rayhan tampak serius.
"Iya! Kejar dia dan katakan tentang perasaan kakak padanya. Bagaimana ia bisa tahu perasaan kakak jika kakak sendiri tidak pernah mengungkapkannya."
__ADS_1
Rayhan terdiam. "Menurutmu begitu?
" Iya! Ayolah! Beranikah diri kakak." ucapnya menyemangati
Rayhan menatap Anindya dengan serius.
"Jika begitu, aku akan menyatakan perasaan ku pada wanita itu sekarang."
"Iya! Semakin cepat akan semakin baik."
"Anindya!" seru Rayhan.
"Hmm!" tampak menunggu.
"Aku menyukaimu." ucapnya dengan serius.
Anindya terdiam seketika mendengar hal itu.
Ia kemudian tertawa. "Ah! Kau sedang bercanda denganku, kan?"
Tetapi Rayhan tetap terlihat serius.
"Aku tidak pernah bercanda tentang perasaan ku. "
Anindya kembali diam. Ia tak tahu harus berkata apa saat ini. Ia terlihat bingung.
"Aku menyukaimu, Anindya!"
****************
*
*
*
*
*
*
*
*
*
*
Jangan lupa setiap baca selalu tinggalkan jejak ya. 😊😊
Jika suka dengan cerita ini, jangan lupa selalu sertakan:
like 👍
komentar 💬
vote
dan rate ⭐ ya.
Serta jadikan salah satu list favorit ❤ kamu agar kamu nggak ketinggalan setiap update terbarunya ya.
Terima kasih😘💕
__ADS_1