
Adrian sepertinya sangat kelelahan. Ia bahkan masih memakai jas dan tak melepaskan sepatunya. Ia bahkan tidur dengan kaki menggantung.
Apa dia mabuk lagi? batin Anindya bertanya-tanya.
Anindya lalu mencoba untuk mendekatinya. Ia memanggilnya terlebih dahulu.
"Tuan.! Tuan Adrian!" tak ada sahutan dari pria itu.
Ia lalu mengangkat kakinya perlahan keatas ranjang dan melepaskan sepatu serta kaus kakinya. Setelah meletakkannya di lantai, Anindya berniat ingin membuka jasnya. Namun sepertinya agak sulit. Mengingat saat terakhir kali ia membantu pria itu melepaskan jasnya, ia harus mengeluarkan tenaga ekstra untuk membalikkan tubuhnya.
Ia berpikir untuk meminta bantuan seorang pelayan pria. Saat hendak keluar kamar, ia merasa tangannya sedang ditarik. Ia lalu menoleh. Adrian sedang memegang tangannya. Namun, matanya masih terpejam.
"Tuan! Apa kau butuh sesuatu?" Lagi-lagi tidak ada jawaban dari pria itu.
Apa dia sakit?
Anindya seketika menyentuh dahinya dengan punggung telapak tangannya untuk memeriksa apakah pria itu demam atau tidak.
"Astaga! Dahinya panas sekali." gumamnya.
Ia lalu mengambil termometer yang ada di kotak P3K yang ada di laci untuk mengukur suhu tubuhnya. 39,6°C. Ia lalu memanggil Sofia untuk membantunya. Zein yang sedang bersama dengan Sofia saat itu segera menghubungi Samuel agar segera datang ke rumahnya.
"Anindya! Tolong bantu ibu untuk mengganti pakaiannya." pintanya pada Anindya.
"Aku? Sepertinya akan lebih baik jika kita meminta bantuan seorang pelayan pria untuk melakukannya." ia terlihat sungkan.
Sofia sepertinya mengerti dengan sikap Anindya tersebut. Ia lalu meminta wanita itu untuk memanggil pelayan pria.
*
Beberapa saat kemudian, Samuel datang dan segera memeriksa keadaan Adrian.
"Bagaimana kondisinya?" tanya Zein cemas pada Samuel setelah pria itu selesai memeriksanya.
"Diagnosa awal Adrian hanya terkena demam saja, kakek. Mungkin itu disebabkan karena ia kelelahan dan sepertinya dia juga kurang istirahat. Aku rasa dia juga tidak makan dengan teratur akhir-akhir ini. Jika hal itu dibiarkan, mungkin akan memicu asam lambungnya menjadi naik. Aku akan memeriksanya kembali setelah dia sadar nanti. Untuk saat ini aku akan meresepkan vitamin dan obat untuk menurunkan panasnya dulu. Pastikan ia meminumnya saat bangun nanti. Tapi berikan makanan yang lunak untuknya terlebih dahulu sebelum mengkonsumsi obat." jelas Samuel sambil memberikan obat pada Anindya.
"Baiklah! Terima kasih karena kau sudah datang kesini." ucap Zein.
"Tidak perlu sungkan kakek. Baiklah! Jika begitu aku permisi dulu. Jika ada masalah serius, hubungi saja aku kapanpun kakek butuhkan." ucap Samuel sebelum ia pamit pergi.
__ADS_1
Anindya mengantarkannya hingga ke depan pintu rumah. Saat mereka hanya berdua, Anindya menanyakan kondisi Adrian sekali lagi pada Samuel untuk memastikannya.
"Apa dokter tahu apa saja yang dilakukannya belakangan ini hingga ia menjadi sakit seperti itu?" tanyanya penasaran mengingat jika Samuel adalah sahabat baik Adrian.
"Aku juga tidak tahu pasti. Mungkin Romi yang paling tahu keadaannya karena mereka selalu bersama. Tapi yang aku tau, mungkin itu karena pernikahannya. Maaf Anindya, aku tidak bermaksud untuk menyinggung mu. Kau mungkin tahu pasti akan hal itu."
"Iya. Aku tahu. Sejak pernikahan kami, dia selalu menjaga jarak dariku. Aku juga tidak keberatan dengan hal itu. Tapi kenapa ia harus menyiksa dirinya seperti itu. Ia tidak harus seperti itu, kan?" keluh Anindya.
"Aku juga tidak mengerti. Karena ini diluar dari kebiasaannya. Biasanya ia tak pernah seperti ini sekalipun ia sedang menghadapi masalah yang besar. Tapi, aku rasa dia butuh waktu untuk menyesuaikan diri dengan status barunya. Jika bisa bantulah dia, Anindya. Dia memang kasar dan arogan. Tapi dibalik sikapnya itu, ia membutuhkan perhatian dan kasih sayang dari seseorang yang dapat mengerti dengan dirinya dan keadaannya. Aku rasa kau yang paling mengerti akan hal itu."
Anindya hanya diam. Samuel lalu pamit karena ia masih harus ke rumah sakit saat ini.
****************
Anindya masuk kedalam kamar. Ia melihat Sofia tengah mengompres wajah Adrian dengan handuk yang telah dibasahi dengan air hangat.
"Biar aku saja yang melakukannya, bu!" ucap Anindya.
"Baiklah! Ibu akan menyiapkan bubur untuknya."
Ia lalu pergi dan membiarkan Anindya berdua Adrian di kamar itu.
Ia tampak menghela nafas sambil menatap pria di hadapannya itu.
"Kenapa kau menyiksa dirimu sendiri seperti ini? Apa kau merasa tertekan karena pernikahan ini? Mungkin seharusnya aku yang terbaring bukannya kau, tuan. Kau seharusnya bersikap biasanya saja. Angkuh dan dingin. Kau memandang siapapun dengan tatapan tajam mu itu hingga tak ada yang berani membantah mu. Namun sekarang, kau terlihat menyedihkan. Apa setahun itu terlalu lama bagimu? Jika kau mau, kau bisa mempercepatnya. Aku juga ingin segera pergi dari rumah ini. Dan meraih kebebasan ku kembali. Jadi bersabarlah!" ucapnya dalam hati.
Ia mengusap kepala Adrian dengan lembut. Itu yang selalu dilakukan ibunya ketika ia sedang sakit.
****************
Hari menjelang siang. Adrian tampaknya masih betah tertidur di atas ranjangnya yang nyaman itu. Suhu tubuhnya sudah sedikit menurun. Keringatnya juga sudah mulai keluar. Terlihat dari pakaiannya yang basah.
Anindya masih setia menemaninya di sana. Zein juga berada di sana karena cemas dengan keadaan cucunya itu. Anindya perlu usaha ekstra untuk membujuk pria baya itu agar mau beristirahat dan tidak terlalu memikirkan kondisi cucunya tersebut. Jika ia terlalu cemas, hal itu juga bisa mempengaruhi kesehatannya.
Sofia mengantarkan Zein untuk beristirahat di kamarnya setelah berhasil di bujuk. Sementara Anindya mengganti air didalam wadah yang mulai dingin dengan air hangat kembali. Dia benar-benar berperan sebagai seorang istri yang sedang merawat suaminya yang sedang sakit.
Ia kembali membasahi handuk dan mengaplikasikannya ke wajah dan lehernya agar panasnya segera turun. Namun tiba-tiba, Adrian lagi-lagi memegang tangannya. Namun kali ini sepertinya pria itu sadar saat melakukanya. Karena mata pria itu terbuka dan langsung ditujukan pada Anindya.
Anindya tampak kaget ketika menyadari hal itu. Pandangan pria itu terlihat tajam. Seakan ingin membunuhnya dengan sekali tatap.
__ADS_1
"Kau sudah sadar, tuan?" tanyanya takut.
Adrian belum melepaskan genggaman tangannya dari tangan Anindya.
"Apa yang sedang kau lakukan? Aku tidak suka jika kau menyentuhku sembarangan seperti ini." ucapnya sinis sambil menghempaskan tangan Anindya dari tubuhnya.
"Aku tidak sedang menyentuhmu, tuan. Aku sedang membantu untuk mengompres mu. Kau sedang demam, tuan. " jelasnya.
"Aku tidak butuh bantuan mu." sahutnya sinis.
"Sejujurnya aku juga tidak berniat untuk membantumu. Tapi aku hanya ingin berperan sebagai istri yang baik di depan kakek. Itu saja." Anindya seketika kesal dengan perkataan Adrian.
"Aku tidak pernah meminta mu untuk berperan sebagai istri yang baik dihadapan siapapun. Jadi kau tidak perlu repot untuk berakting." ucapnya sinis.
Anindya tampak menghela nafasnya. Pria ini memang tidak tahu berterima kasih. Aku ingin sekali menarik matanya itu hingga terlepas dari tempatnya. Seharusnya aku biarkan saja dia mati karena demamnya. umpatnya dalam hati.
"Baiklah tuan. Jika kau sudah merasa baikan, maka aku akan meninggalkanmu disini. Kau pasti bisa mengurus dirimu sendiri, kan?" Anindya tersenyum padanya.
Adrian hanya diam sambil menatapnya tajam. Kau sudah berani menjawab ku sekarang.
Anindya keluar dari kamar itu. Ia bahkan sempat melambaikan tangannya pada Adrian. Pria itu tampak kesal. Lihat saja nanti.
****************
*
*
*
*
*
*
*
__ADS_1