
Arkan yang baru saja tiba di sana, langsung menemui kakeknya. Kakeknya sedang terlihat duduk bersama teman-teman seperjuangannya dulu ketika masih menjadi polisi. Mereka tampak mengobrol dan bercanda. Arkan menghampirinya. Ia mencium pipinya dan memeluknya.
"Selamat ulang tahun kakekku sayang!" ucapnya.
"Terima kasih! Kau baru datang?" tanyanya.
"Iya kakek. Maaf! Tadi ada pasien darurat yang harus segera ditangani." jelasnya.
"Tidak apa-apa. Itu kan sudah kewajiban mu. Lagipula acara juga belum di mulai." ucap Zein.
"Cucu kedua mu sangat tampan. Rasanya baru kemarin dia lulus sekolah dasar. Sekarang sudah menjadi seorang dokter jantung yang hebat. Kedua cucu mu benar-benar luar biasa." puji seorang pria baya yang duduk bersama Zein.
"Mereka berdua memang selalu membuatku bangga." timpal Zein.
"Arkan! Apa kau sudah punya kekasih? Aku punya seorang cucu perempuan yang belum menikah! Mungkin saja kalian bisa berjodoh! Dia seorang pengacara yang hebat. " tanya seorang pria baya lainnya.
Arkan mulai merasa risih dengan pertanyaan itu. Teman kakeknya yang lain juga sepertinya tak mau kalah ikut menawarkan cucu perempuan mereka padanya. Zein sepertinya memahami situasi yang terasa canggung pada cucunya itu.
"Hei! Berhentilah menyombongkan cucu perempuan kalian. Arkan pasti sudah punya pilihannya sendiri. Lagipula cucu ku ini sangat tampan. Pasti sudah banyak wanita yang antri untuk menjadi kekasihnya. Benarkan Arkan?" ucapnya.
"Kakek ada-ada saja!" ucap Arkan.
"Baiklah! Aku tidak akan mengganggu waktu kakek lagi. Aku akan menemui kakak." pamitnya kemudian sambil tak lupa mencium pipi kakeknya lagi.
Zein tersenyum padanya.
"Kalian sepertinya membuat cucu ku ketakutan." ucapnya yang disambut tawa teman-temannya.
****
Arkan yang berhasil kabur, mulai mencari kakaknya. Namun ia secara tak sengaja menyenggol seorang wanita.
"Maaf! Aku tidak sengaja!" pintanya. Namun setelah melihat wanita itu, ia sepertinya mengenalnya. "Anne! Apa itu kau?" tanyanya ragu.
"Iya tuan! Ini aku. Memangnya siapa lagi." jawab wanita itu.
Arkan tampak tak bergeming memandangnya. Anne terlihat cantik hari itu. Ia memakai gaun berwarna hitam panjang pemberiannya. Rambut pendeknya ia sanggul kebelakang. Pun dengan wajahnya yang dirias sederhana tampak membuatnya semakin cantik.
Namun ia seketika mengalihkan pandangannya. Tak mungkin ia membiarkan wanita itu melihat ekspresi bodohnya.
"Kau baik-baik saja?" tanya Arkan.
"Aku baik-baik saja, tuan!" jawabnya.
Arkan lalu pergi dari hadapannya. Ia tak ingin berada lebih lama lagi bersama wanita itu. Takutnya dirinya akan terlihat semakin bodoh.
Sementara Anne menghampiri Anindya yang terlihat duduk seorang diri sambil menikmati makanannya.
"Hei! Kenapa kau duduk sendirian di sini? Kenapa tidak duduk bersama kakek atau suamimu?" tanyanya setelah duduk di sampingnya.
"Aku hanya ingin duduk sendirian saja. Aku lebih merasa bebas untuk menikmati makananku. Berada di sekitar mereka membuatku sedikit merasa canggung. Lagipula sepertinya mereka sedang asyik mengobrol bersama teman-teman mereka. Aku tidak ingin mengganggu." jelasnya sembari memperhatikan meja Adrian dan Zein yang berada di depan.
Mungkin Adrian juga tak menyadari keberadaannya saat ini. Ia terlihat begitu fokus pada teman-temannya. Mungkin karena sudah lama tak bertemu.
"Kau masih belum terbiasa ya dengan status barumu?" tanyanya lagi.
__ADS_1
"Iya, begitulah! Terkadang aku ingin kembali menjalani kehidupan ku yang dulu. Aku bisa jadi diriku sendiri tanpa harus memikirkan orang lain." jawabnya.
"Tapi kau tetap bisa jadi dirimu sendiri jika kau mau. Itu adalah hak mu." ucap Anne.
"Aku tahu. Aku selalu berusaha untuk jadi diriku sendiri di manapun aku berada." sahutnya.
"Sudahlah! Kita bahas yang lain saja. Apa kau tidak makan?" tanya Anindya kemudian sambil melanjutkan makannya.
"Aku sudah makan bersama yang lainnya tadi." jawab Anne.
"Oh ya! Aku lupa ingin menanyakan sesuatu padamu. Apa kau masih ingin mencari ayahmu?" tanyanya yang membuat Anindya menghentikan makannya.
Ia melirik ke arah Rian yang sedang bercengkrama dengan anak dan istrinya. Mejanya tak jauh dari mejanya.
"Tidak." Anindya melanjutkan makannya walaupun sebenarnya hatinya terasa sakit.
Ia rasanya ingin berteriak kepadanya dan memberitahukan bahwa ia juga putrinya. Ia juga ingin di sayang seperti Clarissa. Tapi sepertinya itu hanya akan menjadi harapan kosong untuknya. Menyerah mungkin adalah keputusan yang benar diambilnya saat ini..
"Kenapa?" tanya Anne penasaran.
"Aku hanya tak yakin jika dia masih mengingatku. Apalagi menginginkan aku. Aku hanya tak ingin terluka lebih dalam lagi ketika bertemu dengannya." jelasnya sambil tersenyum.
Walaupun hatinya sakit, namun ia berusaha untuk tetap tersenyum.
Anne memegang tangan sahabatnya itu untuk menguatkannya. Rasanya ia tahu seperti apa perasaan sahabatnya itu saat ini. Mungkin hal inilah yang dibutuhkan Anindya saat ini.
****************
Adrian tampak asyik mengobrol bersama teman-temannya. Namun matanya tak pernah lepas dari Anindya. Ia tampak memperhatikan wanita itu sejak tadi. Ia sebenarnya kesal melihat Anindya yang lebih memilih duduk seorang diri di sana daripada menemaninya di sini.
Kau lebih memilih menyendiri daripada menemaniku di sini. Lihat bagaimana aku menghukum mu malam ini. Aku tidak akan melepaskan mu walau kau memohon ampun padaku. Batinnya sambil menyeringai.
"Aku rasa tidak masalah!" jawabnya lalu melirik kearah Adrian untuk meminta persetujuan.
Adrian menganggukkan kepalanya.
"Memangnya kau punya teman di sini?" tanya Jonatan pada Tania.
"Dia teman kuliah ku dulu. Kebetulan dia juga berada di kota ini. Sudah lama kami tidak bertemu." jelas wanita cantik itu.
"Dimana dia? Apa dia cantik?" tanya Lim terlihat antusias.
"Dia sangat cantik. Nanti akan aku kenalkan padamu, Lim!" jawab Tania.
"Benarkah?" tanya Lim memastikan.
"Tidak usah mengenalkan padanya. Nanti teman mu itu bisa dipermainkan olehnya." sindir Samuel.
"Bilang saja kau iri padaku." Lim tak mau kalah.
"Apa yang bisa di banggakan darimu sehingga aku harus iri padamu." balas Samuel.
"Astaga! Kalian seperti anak kecil saja. Apa kalian berdua tak malu dengan umur kalian yang sudah hampir kepala empat." ucap Jonathan.
"Apanya yang kepala empat. Aku masih tiga puluh satu tahun." ralat Samuel.
Dan kedua pria itu terus saja adu mulut. Adrian memilih untuk pergi dari meja itu untuk menemui Anindya yang kini terlihat seorang diri.
__ADS_1
Wanita itu tampaknya sangat menikmati kesendiriannya beserta dengan kue-kue yang terlihat memenuhi piringnya.
"Tampaknya kau sangat menikmati pesta ini." ucapnya setelah duduk di samping Anindya yang tiba-tiba tersedak ketika mendengar suaranya.
Adrian segera memberikannya segelas air yang ada di atas meja.
"Adrian! Kau mengagetkan aku!" keluh Anindya.
"Aku hanya berbicara bukan mengagetkan mu!"
"Sama saja."
"Kenapa kau duduk sendirian di sini? Mau memperlihatkan pada orang-orang jika kau istri yang tak diinginkan?" tanyanya.
"Bukan begitu. Aku hanya tak ingin mengganggu mu." jawab Anindya sambil memakan sepotong cheesecake yang tersaji di hadapannya.
"Kenapa kau selalu menganggap dirimu pengganggu? Kau memang seorang pengganggu. Tapi hanya di atas ranjang saja." kalimat terakhir sengaja ia bisikkan di telinga Anindya.
Sehingga membuat wanita itu lagi-lagi tersedak ketika mengetahui maksud dari kalimat itu.
Ia meminum kembali minumannya. Rasanya pria ini memang sengaja kemari untuk menggodanya. Apa ia tak tahu jika kehadirannya membuat Anindya sesak nafas.
****************
*
*
*
*
*
*
*
*
*
Jangan lupa setiap baca selalu tinggalkan jejak ya. 😊😊
Jika suka dengan cerita ini, jangan lupa selalu sertakan:
like 👍
komentar 💬
vote
dan rate ⭐ ya.
Serta jadikan salah satu list favorit ❤ kamu agar kamu nggak ketinggalan setiap update terbarunya ya.
Terima kasih😘💕
__ADS_1