
Adrian merasa putus asa ketika tidak menemukan Anindya dirumah bibinya itu. Kemana ia harus mencarinya. Ia lalu teringat dengan satu tempat. Makam ibunya. Apa wanita itu semalaman berada disana?
Saat ia hendak pergi ke sana, Anindya tiba-tiba muncul dihadapannya. Wanita itu tampak muram. Matanya terlihat sembab dan lingkaran matanya sedikit menghitan Ia pasti juga tidak tidur semalaman Ia masih menggunakan dress selutut yang dipakainya kemarin malam.
Ia melewati Adrian begitu saja tanpa mengatakan sepatah katapun. Ia tak marah atau memaki pria itu. Ia masuk kedalam rumahnya begitu saja meninggalkan Adrian yang sedari tadi Memperhatikannya.
Adrian semakin merasa bersalah padanya. Ia mengikutinya masuk kedalam rumah.
Wanita itu kini berada didalam kamarnya. Sementara Adrian menunggu di ruang tamu.
Tak lama kemudian Anindya keluar dari kamar dengan membawa pakaian ganti dan handuk ditangannya. Wanita itu masuk kedalam kamar mandi. Sepertinya ia tak menganggap Adrian ada disana. Ia benar-benar marah.
*
Anindya hampir satu jam berada di kamar mandi. Tidak seperti biasanya. Ia merasa butuh waktu lebih untuk membersihkan dirinya.
Ketika pulang ke rumah dan melihat Adrian, ia kembali teringat dengan kejadian kemarin malam. Bagaimana pria itu dengan paksa menciumnya. Ia benar-benar merasa tidak nyaman dengan tubuhnya.
Ia bahkan menggosok seluruh tubuhnya berkali-kali dan menyikat giginya berulang kali agar dapat menghilang bekas sentuhan pria itu.
Ia tak tahu bagaimana menghadapi pria itu setelah ini. Mungkin ia harus menjaga jarak kembali dengannya seperti sebelumnya.
Setelah merasa bersih, Anindya keluar dari kamar mandi setelah memakai pakaiannya. Ia membungkus rambutnya yang basah dengan handuk kecil.
Di luar, ia kembali melihat pria itu. Adrian sedang duduk di kursi yang ada diruang tamu. Sepertinya ia baru saja selesai menelpon karena ia tampak mematikan ponselnya.
Ia lalu menatap Anindya. Tatapan mereka saling bertemu kembali.
Adrian merasa bingung bagaimana harus menyampaikan permintaan maafnya pada Anindya.
"Ehm... bersiaplah! Kita akan kembali hari ini." Adrian malah mengatakan hal lain pada Anindya.
Anindya tidak menjawab. Ia masuk kedalam kamarnya begitu saja. Adrian semakin merasa frustasi.
Menjadi seseorang yang egois memang tidak ada bagusnya. Selama ini, ia tak pernah sekalipun meminta maaf pada seseorang ataupun mengucapkan terimakasih kasih pada siapapun yang membantunya. Ia terlalu percaya diri jika dirinya tak pernah salah ataupun butuh untuk dibantu.
Sehingga ia butuh keberanian yang besar untuk mengakui kesalahannya.
Dipaksa menjadi dewasa sebelum waktunya, membuatnya tumbuh menjadi seorang pria egois seperti itu. Ia harus belajar bertanggung jawab sedari kecil dengan banyak orang yang bekerja untuknya.
__ADS_1
****************
Anindya tampak berpamitan dengan Sari dan keluarganya. Ia bahkan sampai meneteskan air matanya. Rasanya berat jika harus meninggalkan desa ini kembali. Banyak kenangan yang tersimpan disini. Begitupun dengan makam ibu dan neneknya.
"Sudah! Jangan menangis. Kau kan bisa kemari lagi jika ada waktu." ucap Sari sambil menghapus air matanya.
"Iya." sahut Anindya.
Ia lalu memeluk adik kecilnya, Ayu. Dan juga pamannya. Adrian juga berpamitan pada mereka. Ia bahkan memeluk Wisnu. Pria itu sudah mengajarkan banyak hal padanya selama berada disini.
"Paman titip Anindya. Tolong jaga dia baik-baik. Selama ini dia sudah menderita walaupun ia tak pernah menunjukkannya pada siapapun. Dia tak akan meminta apapun padamu. Dia hanya mengharapkan kebahagiaan. Hanya itu. Jadi jangan pernah menyakitinya. Berjanjilah!" ucap Wisnu.
"Iya paman. Aku berjanji." ucapnya pada pria baya itu.
Namun sepertinya Anindya tidak mendengarnya karena ia sedang menjaga jarak dari Adrian.
Setelah selesai berpamitan, mereka berdua pergi dari sana.
****************
Di sepanjang perjalanan pulang, Anindya dan Adrian saling diam. Mereka tidak saling bicara satu sama lain. Seperti biasanya. Romi yang ikut menjemput mereka, tampak bingung dengan kedua atasannya itu. Apa tidak ada juga perkembangan dalam hubungan mereka berdua selama beberapa hari belakangan ini? Yang ada hubungan mereka sepertinya bertambah semakin jauh.
Beberapa jam kemudian helikopter yang mereka tumpangi, mendarat di helipad yang berada di tengah lapangan yang luas.
Ternyata Anindya tertidur selama perjalanan tadi. Sepertinya ia sangat kelelahan akibat tidak tidur sama sekali kemarin malam.
Adrian menatapnya sejenak. Kemudian ia memutuskan untuk mengangkat tubuh wanita itu dan membawanya turun. Tak jauh dari sana, sebuah mobil sedang hitam telah menunggu mereka untuk membawa kedua orang itu pulang ke rumah.
*
Anindya terlihat nyaman ketika berada dipangkuan Adrian. Mungkin saat ini, ia sedang bermimpi tidur diatas ranjang yang hangat. Ia bahkan mencengkram kemeja yang dikenakan pria itu.
Adrian hanya diam saja menatap istrinya yang sedang tertidur pulas itu.
"Tadi kau mendiamkanku. Sekarang kau malah terlihat nyaman berada di pangkuanku." gumamnya.
Adrian menarik satu sudut bibirnya. Romi yang duduk didepan, sepertinya menyadari hal itu. Namun, ia hanya berani meliriknya saja.
Begitu tiba di rumah, Adrian mengangkat tubuh wanita itu hingga ke dalam kamarnya. Zein dan Lidya juga memperhatikan hal itu. Mereka tampak tersenyum senang. Terutama Zein, pria itu merasa jika cucunya itu sudah mulai membuka hatinya untuk Anindya.
Adrian meletakkan tubuh wanita itu diatas ranjang dengan hati-hati. Lalu menyelimuti tubuhnya. Ia memperhatikan wajah wanita itu sejenak sebelum meninggalkan kamar dan membiarkannya beristirahat.
__ADS_1
*
"Kapan kau akan pergi?" tanya Zein pada Adrian ketika mereka berada di kamar Zein.
"Pekan depan."
"Berapa lama?"
"Mungkin sekitar satu bulan. Ada hal lain juga yang harus aku urus kakek." jelasnya.
"Satu bulan? Apa kau yakin tidak akan membawa istrimu?" tanyanya lagi.
"Tidak, kakek. Aku tidak bisa membawanya. Biarkan dia disini saja menemani kakek. Lagipula jika dia ikut, aku juga tak bisa selalu bersamanya." jelasnya.
Zein tampak diam sejenak sambil memperhatikan cucunya itu.
"Adrian! Apa kau bahagia dengan pernikahan ini?" tanyanya.
Adrian tidak langsung menjawab. Ia lalu tersenyum. "Aku rasa kakek bisa menilainya sendiri, bukan. Aku butuh waktu untuk menerima pernikahan ini, kakek. Jadi aku harap kakek bisa bersabar. Aku tidak ingin mengecewakan kakek. Jadi aku harap kakek tidak mencampuri urusan rumah tanggaku. Kakek hanya perlu melihat saja. Biarkan aku dan Anindya yang menjalaninya. Aku harap kakek bisa mengerti." jelas pria itu.
"Baiklah! Kakek tak akan mencampuri urusan kalian. Kakek hanya minta satu hal padamu. Sekalipun nantinya kau tidak bisa membuka hatimu untuk Anindya, jangan pernah menyakitinya. Kau bisa berjanji pada kakek, kan? Hanya itu saja yang kakek inginkan darimu." pinta Zein sambil memegang tangan cucunya itu.
"Baiklah kakek. Aku berjanji padamu." sahut Adrian ragu.
****************
*
*
*
*
*
*
*
*
__ADS_1
*