My Dearest Wife

My Dearest Wife
Arkan


__ADS_3


Ciuman itu berhenti ketika Adrian melepaskan pertautan bibir mereka. Nafas mereka masih terlihat naik turun dengan cepat. Adrian menempelkan dahinya ke dahi istrinya itu.


Adrian tak menyangka jika Anindya membiarkan ciuman itu terjadi begitu saja tanpa adanya perlawanan. Apa yang merubah pikirannya? Apakah pada akhirnya ia setuju untuk memulai kembali semuanya dari awal lagi?


"Maafkan aku karena sudah menyakitimu. Tapi setelah ini aku tidak akan pernah menyakitimu lagi. Kau hanya akan bahagia." ucap Adrian lalu mengecup keningnya agak lama.


Anindya hanya diam. Ia sendirian tak mengerti mengapa ia begitu pasif kali ini. Ia membiarkan suaminya itu menciumnya begitu saja. Apa ia sudah menyerah? Entahlah! Ia tak mengerti.


**


Adrian berpamitan pada kakeknya dan juga Sofia. Mereka mengantarkannya hingga ke teras rumah. Di sana supirnya sudah menunggu di dalam mobil.


"Jaga diri kakek baik-baik, ya! Jangan buat masalah selama aku pergi." ucap Adrian pada pria baya itu.


"Kau pikir kakek ini anak kecil apa." keluhnya.


"Bukankah yang sudah-sudah juga seperti itu. Kakek selalu hilang saat aku tidak di rumah."


"Kakek tidak akan pergi lagi. Kakek sudah punya teman baru sekarang." ucapnya sambil tersenyum. "Tapi, dimana dia?" tanya Zein sembari melihat ke sekelilingnya. Mencari Anindya.


"Dia ada di kamar kakek!" ucap Adrian pada Zein yang ia tahu jika pria baya itu mencari istrinya.


"Dia tidak ikut mengantarmu ke bandara?" tanyanya.


"Tidak kakek. Aku melarangnya untuk ikut." jelas Adrian sambil tersenyum. "Baiklah kakek! Aku pergi dulu, ya!" ucapnya sambil memeluk pria yang sangat disayanginya itu.


"Jaga dirimu. Sampaikan salam kakek pada Arkan. Ingat! Hubungi kakek jika kau sudah tiba di sana!" pesannya setelah melepaskan pelukan cucunya itu.


"Baik kakek! Ibu Sofia aku titip kakek dan juga istriku, ya!" pesannya pada Sofia.


"Iya tuan! Anda tidak perlu cemas." sahut wanita paruh baya itu sambil tersenyum.


Akhirnya ia masuk ke dalam mobil. Namun sebelum masuk, ia lebih dulu melihat jendela kamarnya. Ia tahu jika seseorang sedang memperhatikannya dari atas sana. Ia tersenyum pada orang itu. Ini pertama kalinya Adrian tersenyum padanya.


Ia adalah Anindya yang sedang mengintip dari balik gorden kamarnya. Ia tidak tersenyum ataupun menangis. Ia hanya menatapnya dengan tatapan sendunya.


Adrian lalu pergi. Anindya terus melihatnya hingga mobil itu hilang dari pandangannya. Mungkin saja ia akan merindukan pria itu.


****************


Boston Logan International Airport.


Seorang pria muda tampak sedang berdiri di luar bandara. Ia tampak menunggu kedatangan seseorang.

__ADS_1


Saat itu masih pagi hari. Sekitar pukul sembilan pagi karena perbedaan waktu yang hampir dua belas jam. Ia hanya seorang diri di sana. Ia sudah menerima informasi dari sejam yang lalu bahwa pesawat dari Indonesia telah tiba di Bandara. Tetapi orang yang ditunggunya belum juga menampakkan wajahnya.


Pria itu tak lain adalah Arkan Wiguna. Adik semata wayang Adrian. Ia sudah tak sabar untuk bertemu dengan kakaknya itu. Arkan sendiri sudah berada di Amerika sekitar enam tahun. Ia hanya pulang sesekali ke Indonesia saat liburan akhir tahun. Kini ia sudah menyelesaikan program S2 di Harvard University. Sehingga ia bisa kembali ke Indonesia dan berkumpul dengan keluarganya kembali.


"Kakak!" panggilnya pada seorang pria yang tak lain adalah Adrian. Ia langsung mengenalinya begitu melihatnya.


Adrian membuka kacamata hitamnya dan tersenyum pada adik kesayangannya itu. Begitu dekat, mereka langsung saling berpelukan untuk melepas rindu. Adrian sangat merindukan adik kecilnya itu yang kini sudah menjadi seorang dokter. Waktu begitu cepat berlalu. Rasanya baru kemarin ia mengantarkannya ke Amerika untuk memulai kuliahnya. Tapi kini adiknya itu sudah lulus dengan predikat terbaik di Universitasnya. Hal itu membuat Adrian merasa bangga. Karena sudah berhasil membesarkan adiknya menggantikan kedua orang tua mereka yang telah tiada.


"Kau terlihat kurus. Apa kau makan dengan tidak benar selama disini?" tanyanya begitu melepaskan pelukannya sambil memperhatikan tubuh adiknya itu.


"Aku tidak kurus kakak. Berat tubuhku sudah proporsional." jawabnya.


"Baiklah! Ayo kita pergi. Aku sangat lelah dengan perjalanan ini." ucap Adrian.


"Kau sudah tua ternyata. Baru segitu saja kau sudah kelelahan." ledek Arkan.


"Kau sudah berani, ya!"


Arkan hanya tersenyum padanya. Mereka lalu pergi dari sana menuju ke apartemen Arkan yang letaknya tak jauh dari bandara.


Di sepanjang perjalanan, Arkan menanyakan banyak hal pada Adrian. Tentang kakeknya, rumah termasuk tentang kakak iparnya itu. Ia begitu penasaran dengan wanita yang berhasil menikahi kakaknya yang arogan itu.


Adrian menceritakan semuanya pada Arkan. Namun tidak dengan perjanjian yang ia buat dengan Anindya sebelum menikah. Toh itu sudah menjadi masa lalu yang tak perlu diketahui oleh siapapun termasuk keluarganya.


"Benarkah! Aku jadi tidak sabar untuk bertemu dengan kakak iparku. Berapa lama kakak disini?" tanya Arkan.


"Sebulan? Apa kau tidak merindukan kakak ipar? Kenapa kau tidak sekalian mengajaknya ke sini, kak?"


"Nanti saja. Dia harus menjaga kakek." jawabnya singkat.


Lalu mereka kembali bercerita banyak hal tentang Arkan dan juga sekolahnya.


****************


Di Indonesia sendiri kini sudah malam hari sekitar pukul sembilan malam. Anindya baru saja selesai mengantarkan Zein tidur di kamarnya. Mereka mengobrol cukup lama sebelum akhirnya pria baya itu tertidur pulas.


Zein menanyakan pada Anindya tentang kepergian suaminya itu. Mengapa ia tidak ikut mengantarkan ke Bandara.


Anindya hanya menjawab jika ia tak ingin bersedih karena melihat Adrian pergi untuk waktu yang lama. Zein tampaknya memaklumi hal itu karena pernikahan mereka yang masih terbilang baru.


Adrian juga sudah mengabari Zein bahwa ia sudah tiba dengan selamat di sana. Namun, ia hanya mengabarkan hal itu saja padanya. Ia sama sekali tak menanyakan istrinya.


Ketika Anindya mengetahui hal itu, entah kenapa ia merasa sedih. Namun, ia berusaha untuk menyangkalnya karena tak ingin hatinya terluka.


Setelah memastikan bahwa Zein sudah tidur, Anindya keluar dari kamar. Namun, ia tak pergi ke kamarnya. Melainkan pergi ke balkon atas.

__ADS_1


Ia duduk di atas balkon dan memandangi bulan malam itu yang terlihat sangat terang. Rasanya tenang sekali.


Namun entah kenapa lagi-lagi ia merasa ada yang hilang dari dirinya. Ia merasa kesepian. Apakah itu karena Adrian pergi?


Ia menaikkan kedua kakinya ke atas kursi dan memeluk kedua lututnya. Malam ini begitu sunyi. Apakah ia juga merasakannya?


****************


*


*


*


*


*


*


*


*


*


*


Makasih buat reader yang masih setiap nungguin updatenya setiap hari. Terima kasih juga buat semua yang udah mendukung karyaku ini.


Tetap sertakan:


like


komentar


vote


rate ya πŸ˜„


Tambahin juga sebagai salah satu list favorit kamu ya. Biar gak ketinggalan up terbarunya. πŸ˜ŠπŸ˜Šβ€πŸ’


-ThieaπŸ₯€πŸ₯€πŸ₯€


__ADS_1


-Arkan



__ADS_2