
"Kemana dia pergi? Larinya cepat sekali." seru Anne yang kehilangan jejaknya.
Ia bahkan mengejarnya hingga ke taman. Tapi tidak menemukannya.
Anne berusaha untuk mencarinya kembali. Ia juga bertemu dengan Arkan dan Adrian. Ternyata mereka juga mencarinya.
"Apa kau sudah menemukannya?" tanya Adrian cemas.
"Belum tuan! Aku kehilangan dia." jawabnya.
Adrian lalu pergi mencarinya kembali. Ia sangat mencemaskan keadaan wanita itu. Arkan dan Anne juga berpencar untuk mencarinya.
Zein juga terlihat cemas. Ia menunggu di kursinya dengan tidak sabaran. Bagaimana bisa hal seperti itu terjadi pada Anindya? Apa yang sebenarnya di pikirkan oleh pria tadi?
Sofia juga sama cemasnya seperti Zein. Ia terlihat sedang menenangkan para tamu yang hadir untuk tetap menikmati acara. Bagaimanapun juga mereka tidak bisa menyuruh seluruh tamu untuk meninggalkan acara ini begitu saja. Walaupun sebenarnya Zein juga sudah tak bersemangat untuk melanjutkan pesta ini. Pikirannya di penuhi oleh Anindya. Wanita itu pasti sangat terpukul karena dipermalukan seperti itu di hadapan semua orang.
****
Aku bukan anak haram. Aku punya seorang ayah. Aku terlahir di dalam sebuah pernikahan. Kenapa dia bisa berpikir seperti itu. Anindya bersembunyi di balik sebuah tembok yang tak terjangkau oleh keramaian.
Ia sedang menangis. Kejadian yang sudah dia lupakan kembali mencuat dan menyakiti hatinya. Padahal ia sudah mulai merasakan kebahagiaan di tengah keluarga barunya. Namun kenapa kejadian itu harus terjadi di saat seperti ini.
Ia menangis sejadi-jadinya. Air mata yang selalu ditahannya, kini akhirnya tumpah tanpa ia bendung lagi.
"Kenapa semua berjalan tidak seperti yang ku harapkan? Kenapa selalu saja ada yang menghalanginya? Kenapa? Padahal aku sudah berusaha keras. Tapi kenapa seperti ini? Kenapa? Memangnya apa salahku?" tanyanya pada dirinya sendiri di sela-sela tangisnya.
"Apa salahku?"
***
"Anindya! Kau ada dimana?" panggil Adrian semakin cemas.
Ia sudah berkeliling seluruh hotel. Tapi ia juga tak menemukan wanita itu di manapun. Kini ia berada di belakang hotel. Tapi tak terlihat seorangpun di sana.
Ia juga tidak bisa menghubunginya karena ponselnya tertinggal di hotel. Ia mengusap kasar wajahnya. Mulai frustasi karena tak menemukan Anindya.
Ketika ia hendak pergi, ia seperti mendengar sesuatu. Suara seseorang yang sedang menangis. Ia mendekat ke arah suara itu untuk mendengarkan lebih jelas.
Ia menemukan seorang wanita tengah duduk di lantai sambil memeluk lututnya. Dan sepertinya itu adalah wanita yang dicarinya sedari tadi.
Ia berjalan mendekatinya. Bahunya terlihat berguncang dengan cepat. Suara tangisnya memecah kesunyian tempat itu.
"Anindya!" serunya sambil memegang pundaknya.
Anindya tampak kaget. Tapi sepertinya ia mengenali orang yang memanggilnya.
"Pergilah! Aku ingin sendiri saja sebentar! Nanti aku akan menyusul mu." ucapnya tanpa menoleh.
Adrian tak menghiraukan perkataannya. Yang ia lakukan justru sebaliknya. Ia memeluk wanita itu.
"Berhentilah berpikir jika kau bisa menghadapi semuanya seorang diri. Kau butuh orang lain untuk menghiburmu. Untuk mengatakan padamu jika semuanya akan baik-baik saja. Aku memang tidak pandai menghiburmu dengan kata-kata. Namun setidaknya aku bisa menjadi seseorang yang selalu ada untukmu disaat kau butuh." ucap Adrian.
Mendengar hal itu, tangisnya semakin pecah. Adrian benar, ia butuh seseorang yang bisa menemaninya di saat-saat seperti ini. Karena sejujurnya ia sudah merasa lelah menyimpan semuanya seorang diri.
__ADS_1
"Aku bukan anak haram! Aku punya ibu juga punya ayah! Mereka hanya tidak bersamaku saat ini. Apa aku salah? Kenapa dia tidak percaya? Hanya karena mereka tidak ada, bukan berarti aku anak haram, bukan?"
"Sudah! Tidak perlu menanggapi perkataannya. Dia tak tahu apapun tentangmu. Yang terpenting, sekalipun satu dunia tidak mempercayaimu, aku akan tetap percaya padamu. Kakek dan yang lainnya juga akan percaya padamu. Mengerti?" Adrian berusaha untuk menenangkannya.
Anindya menganggukkan kepalanya. Ia tahu jika ia tidak sendirian.
****************
"Ayo masuk!" ajak Adrian pada Anindya.
Setelah menangis hampir sejam lamanya, akhirnya wanita itu berhasil di bujuk untuk masuk kembali ke dalam hotel.
Namun begitu sampai di pintu ballroom, nyalinya tiba-tiba menciut. Ia takut akan membuat keributan lagi.
"Sebaiknya aku menunggu di sini saja!" ucapnya ragu.
"Kenapa? Kau takut?"
Anindya mengangguk pelan. Adrian bisa melihat dengan jelas jika masih ada ketakutan di wajahnya.
"Tenang saja! Tidak akan ada yang berani menghina mu lagi. Jika ada, maka aku tidak akan segan-segan untuk merobek mulutnya." ucapnya mencoba untuk menenangkannya.
"Tapi.... " ia masih saja ragu.
"Masuk kedalam sekarang atau aku akan mencium mu di sini." Ancamnya.
Anindya pasti akan langsung masuk jika di ancam seperti itu.
"Anindya!" serunya tak sabaran.
"Baiklah! Aku masuk!" Ia akhirnya masuk ke dalam.
Sepertinya keadaan sudah kembali normal. Seperti tidak ada kejadian apapun sebelumnya. Anindya terlihat bingung karena tidak ada seseorang pun yang menatapnya dengan tatapan sinis.
Begitu melihat Anindya muncul, Zein tampak senang dan merasa lega. Ia akhirnya bisa mengakhiri acara ini dengan tenang. Sudah saatnya memperkenalkan Anindya kepada seluruh tamu. Dengan begitu setelah ini tak akan ada lagi prasangka buruk apapun mengenai dirinya.
Zein naik ke atas panggung di temani oleh Sofia. Ia mulai berbicara.
"Terima kasih karena kalian sudah meluangkan waktu untuk dapat hadir di sini. Maaf jika ada sedikit gangguan. Pria itu hanya berpikir sesuka hatinya tentang cucu mantuku. Padahal yang terjadi tentu saja tidak seperti itu. Apa yang dituduhkan pria itu hanyalah sebuah kebohongan. Anindya berasal dari keluarga baik-baik dan tentunya di besarkan dengan didikan yang baik pula. Terlepas dari itu semua, Anindya adalah satu-satunya wanita yang akan aku akui sebagai istri dari cucu tertuaku, Adrian." Jelasnya.
Ia lalu meminta Anindya untuk naik ke atas panggung. Lagi-lagi ia merasa ragu. Namun Adrian meyakinkannya dan menemaninya naik. Sehingga itu bisa sedikit menenangkannya.
"Anindya! Selamat datang di keluarga kami! Semoga kau selalu bahagia, nak!" ucap Zein.
"Terima kasih, kakek!" serunya sambil menangis.
Orang yang tadinya asing, kini malah menjadi keluargaku. Kasih sayang yang mereka berikan, entah apa aku bisa membalasnya atau tidak. Terima kasih, kakek! Aku tak tahu apa jadinya jika aku tidak bertemu denganmu. batinnya.
Anindya menangis di pelukan Zein.
Sementara itu, seseorang yang berdiri di sudut ruangan, menatapnya dengan sinis.
__ADS_1
Wanita itu terlalu mirip dengannya. Pandai mengambil hati.
****************
"Maaf tuan! Ada sesuatu yang harus saya sampaikan!" ucap Romi pada Adrian ketika pria itu hendak masuk ke dalam mobil untuk pulang.
Romi menyerahkan sebuah amplop coklat pada Adrian ketika mereka sudah menjauh dari mobil.
"Kau sudah mendapatkan informasinya?" tanyanya.
"Iya tuan. Semua informasi yang berkaitan dengan nyonya sudah ada di sana. Saya juga menyertakan hasil tes DNA nyonya dan.... ayahnya untuk lebih meyakinkan tuan." jelasnya ragu.
"Apa kau tahu siapa ayahnya?" tanyanya penasaran.
"Masalah itu.... ehm.. sebaiknya tuan melihatnya sendiri." ucapnya.
Adrian tampak mengerutkan dahinya. Sejak dulu Romi tak pernah terlihat ragu ketika menyampaikan sesuatu padanya. Ini kali pertama pria itu bersikap seperti ini. Adrian merasa jika ini bukanlah hal yang mudah.
Adrian lalu pergi dari hadapan Romi karena Anindya sudah menunggunya di mobil.
"Bagaimana jika tuan tahu siapa ayah kandung nyonya. Aku tidak akan bisa membayangkan reaksinya." gumam Romi cemas.
****************
*
*
*
*
*
*
*
Jangan lupa setiap baca selalu tinggalkan jejak ya. 😊😊
Jika suka dengan cerita ini, jangan lupa selalu sertakan:
like 👍
komentar 💬
vote
dan rate ⭐ ya.
Serta jadikan salah satu list favorit ❤ kamu agar kamu nggak ketinggalan setiap update terbarunya ya.
Terima kasih😘💕
__ADS_1