
Dua bulan kemudian...
Tanpa terasa, pernikahan mereka telah berjalan selama dua bulan. Kini ada hal yang berubah. Adrian terlihat lebih sering tidur di kamarnya saat malam hari. Namun, tentu saja tidak seranjang dengan Anindya. Ia tak sudi berbagi ranjang dengan Anindya. Begitupun dengan Anindya, ia lebih memilih tidur diatas sofa malas yang ada di kamar itu.
Seperti yang terjadi malam ini, Anindya terlihat tidur di atas sofa dengan sangat pulas. Sementara Adrian belum kembali kerumah. Padahal jam sudah menunjukkan pukul dua belas malam. Penghuni rumah yang lainnya juga sepertinya sudah tidur, kecuali bagian keamanan. Mereka tetap terjaga sepanjang malam untuk mengawasi rumah. Lampu sebagian ruangan sudah dimatikan.
Sejam kemudian, sebuah mobil sedan berwarna hitam tampak memasuki kawasan rumah itu. Para penjaga tampak memberi hormat setelah mengetahui pemilik mobil mewah itu.
Pemilik mobil itu tak lain adalah Adrian. Ia tampak lelah. Setelah memarkirkan mobilnya di garasi, ia langsung masuk ke dalam rumah. Ia langsung naik ke atas menuju kamarnya. Ia memang terbiasa seperti itu. Jika sudah menyangkut pekerjaan, maka tak ada istilah kompromi untuknya.
Sesampainya di kamar, ia langsung masuk dengan perlahan. Sepertinya ia tak ingin membangunkan istrinya yang sedang tidur. Entah sejak kapan ia menjadi sedikit berperasaan terhadap orang lain. Wanita itu tampak pulas di pembaringannya. Sekalipun itu hanya diatas sofa. Dia tampak bisa tidur pulas dimanapun.
Adrian melewatinya begitu saja. Ia langsung pergi ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya yang terasa tidak nyaman karena seharian memakai pakaian yang sama.
Setelah selesai mandi dan berpakaian, ia langsung merangkak ke atas ranjangnya yang nyaman. Lalu menutupi tubuhnya dengan selimut dan berusaha untuk memejamkan matanya. Ia merasa sangat lelah hari ini. Namun, sekeras apapun ia mencoba, ia malah tidak bisa memejamkan matanya.
Adrian lalu beranjak dari tidurnya. Ia duduk di tepi ranjang. Tatapannya beralih pada wanita yang kini sedang tertidur pulas dihadapannya. Wanita itu tampak memeluk sesuatu yang baru saja di sadarinya. Sebuah figura. Mungkin ia sudah bisa menebak siapa saja yang berada di foto itu. Tadinya ia meletakkan figura itu di atas meja kamar mereka. Namun, setiap malam sebelum tidur, wanita itu selalu mengambilnya dan memeluknya seperti saat ini. Figura itu berisi foto ibu, nenek dan dirinya yang masih kecil.
Namun, Adrian tak pernah menanyakan hal itu padanya. Ia hanya memperhatikannya saja. Lagipula ia terlalu malas untuk ikut campur dengan apapun yang berkaitan dengan wanita itu.
Meskipun ia akui, ia sudah sedikit lebih berperasaan padanya selama dua bulan terakhir ini. Ia membiarkan wanita itu tidur satu kamar dengannya. Berbagi udara yang sama dengannya. Bahkan membiarkan wanita itu menyiapkan pakaian dan sarapan untuknya setiap harinya. Sekalipun ia tidak pernah memintanya. Hal yang tak pernah ia lakukan seumur hidupnya. Membiarkan seseorang mengurusnya.
Saat ia menanyakan kepada Anindya perihal tersebut kepadanya, wanita itu malah menjawab, "Anggap saja ini sebagai kompensasi untuk uang yang kau berikan padaku setiap bulannya. Mungkin kau bisa menganggapku sebagai pelayanmu atau apapun. Terserah padamu. Aku tidak terbiasa menerima uang dengan percuma."
__ADS_1
Apa ada wanita lain sepertinya? Bahkan ia belum menggunakan uang yang ku berikan sepeserpun. Apanya yang harus dianggap sebagai kompensasi. Dia bahkan tidak tahu berapa uang yang kuberikan padanya setiap bulan. Apa yang dilakukannya tidaklah sebanding. Batinnya.
Ia lalu mengalihkan pandangannya dari wanita itu. Ia tampak memikirkan sesuatu. Ia tiba-tiba teringat pada sesosok wanita yang pernah dikenalnya.
Jika saja waktu itu dia menerima lamarannya, mungkin saat ini, mereka sudah menikah dan hidup bahagia. Mungkin dengan anak-anak mereka. Namun sayangnya, wanita itu lebih mementingkan karirnya sebagai model. Ia terlalu berambisi untuk mengejar impiannya itu. Ia melupakan dirinya yang sudah setia padanya selama ini. Sekarang, setelah ia sukses dan mendapatkan segala pencapaiannya, ia baru teringat pada dirinya. Sungguh ironi jika dirinya masih mengharapkan wanita itu, bukan. Sisa-sisa rasa itu masih ada pada salah satu sudut hatinya.
Saat mendengar jika wanita itu masih berharap padanya, ada sedikit rasa senang pada hatinya. Namun, ketika ia menerima pernikahan ini, ia bahkan meragukan hatinya kembali. Bagaimana ia bisa menikah dengan wanita lain, jika hatinya masih mengharapkan wanita itu? Mungkin dengan adanya pernikahan ini, Adrian bisa memberikan peringatan padanya bahwa dia bukan lagi pria menyedihkan yang pernah ditolak dulu.
Malam semakin larut menjelang dini hari. Adrian memutuskan untuk kembali merebahkan tubuhnya dan mencoba untuk tidur. Hari-harinya masih sangat panjang.
****************
Pagi hari menjelang dengan cara yang berbeda. Cuaca tidak secerah biasanya. Pagi ini hujan turun dengan lebatnya. Anindya sudah lebih bangun sejak subuh tadi untuk membantu Sofia menyiapkan sarapan pagi untuk para tuannya yang masih tertidur pulas di peraduannya.
"Apa tidurmu nyenyak, Anin?" tanya Sofia di sela-sela kegiatan mereka.
"Tidak. Ibu hanya ingin tahu saja. Baguslah jika kau bisa tidur dengan nyenyak. Ibu hanya merasa cemas membiarkan dirimu berada satu kamar dengan tuan muda. Kau tahu kan bagaimana sifatnya?" tanyanya.
Anindya hanya tersenyum.
Setelah menyelesaikan masakan mereka dan menghidangkannya diatas meja, Anindya pergi ke kamar untuk melihat apakah Adrian sudah bangun atau belum. Sementara Sofia pergi untuk membangunkan Zein di kamarnya.
Anindya membuka pintu kamar itu secara perlahan agar tidak menimbulkan keributan. Ia mengintip dari celah pintu yang terbuka terlebih dahulu sebelum masuk. Dia tidak melihat siapapun di atas ranjang. Apa mungkin pria itu sedang mandi. Ia lalu masuk kedalam kamar dan mengedarkan pandangannya di sekeliling ruangan. Setelah mendengar suara air yang menyala di kamar mandi, barulah ia membenarkan dugaannya tadi. Pria itu memang sedang mandi. Ia buru-buru menyiapkan pakaian kerjanya di ruang ganti. Setelah itu, membereskan ranjang yang terlihat berantakan.
Adrian keluar dari kamar mandi beberapa saat kemudian. Ia mengabaikan Anindya yang sedang merapikan tempat tidurnya. Wanita itu sedang membelakanginya. Adrian lalu masuk ke ruang ganti. Ia tidak menyadari jika pada saat itu Anindya sedang menenangkan hatinya yang berdebar tak karuan.
__ADS_1
Bagaimana tidak, pria itu dengan santainya keluar dari kamar mandi dengan bertelanjang dada. Ia hanya melilitkan handuk di pinggangnya. Apa dia tak menganggap dirinya sebagai seorang wanita? Bisa-bisanya ia terlihat santai seperti itu.
****************
*
*
*
*
*
*
*
Hai! Para reader tersayang. Terima kasih untuk segala komentar dan like nya ya. Senang rasanya karena kalian masih setia nungguin kelanjutan ceritaku ini.
Jangan lupa terus dukung ya. 🥰🥰
Novelku juga aku ikut sertakan dalam lomba "You're writer season 4"
Jika ada kritik dan saran juga boleh disertakan di kolom komentar. Tapi kritik yang membangun ya. 😆 Terima kasih semuanya.
__ADS_1