My Dearest Wife

My Dearest Wife
Pria kecil yang tampan.


__ADS_3


Semua orang tampak bahagia menyambut pria kecil yang tampan itu. Setelah di bersihkan dan di selimuti dengan kain, perawat memberikan bayi itu pada Adrian.


Pria itu terlihat kaku ketika pertama kali menggendong bayinya. Ini kali pertama baginya. Wajar jika ia merasa tidak terbiasa. Sementara Anindya masih ditangani oleh dokter di ruangannya.


Adrian membawa bayi itu keluar ruangan untuk diperlihatkan pada keluarganya yang lain. Terutama Zein. Pria baya itu sangat senang menyambut kelahiran cicit pertamanya.


"Kakek! Anakku sudah lahir!Dia seorang pria." Adrian tampak antusias mengatakannya.


Ia berulang kali menciumi bayi kecil itu.


"Dia sangat tampan dan menggemaskan! Berikan pada kakek! Kakek ingin sekali menggendongnya!" ucap Zein.


"Aku baru menggendongnya, kakek! Kakek sudah mau merebutnya! " keluh Adrian dengan candaan.


"Dasar kau! Ayo! Berikan pada kakek!" desaknya.


Adrian lalu memberikan bayi itu pada Zein dengan hati-hati. Zein tampak sangat bahagia. Ia tersenyum lebar ketika bayi itu berada di dekapannya.


"Lihatlah dia sangat tampan. Persis seperti kakek! " pujinya.


"Bagaimana bisa seperti kakek! Tentu saja dia seperti ku. Aku kan ayahnya!" sanggah Adrian tak mau kalah.


Kedua pria itu malah saling berdebat tak mau kalah. Yang lainnya tampak tertawa melihat sikap mereka yang seperti anak kecil.


"Oh ya! Bagaimana keadaan Anindya?" tanya Rossa kemudian.


"Anindya baik-baik saja bibi. Dokter sedang menanganinya saat ini. " jelas Adrian.


"Syukurlah!" ucap Rossa.


Beberapa saat kemudian seorang perawat wanita keluar dan meminta kembali bayi itu pada Adrian. Bayi itu akan menyusu untuk pertama kalinya. Adrian juga ikut masuk ke dalam ruangan.


Perawat meletakkan bayi itu di atas perut Anindya. Ia membiarkan bayi tersebut menyusu dengan sendirinya. Atau yang biasa di sebut inisiasi menyusui dini.


Beruntung Anindya memiliki ASI yang banyak sehingga ia tak terlalu kesulitan.


Adrian selalu siaga mendampinginya. Ia memang sangat membutuhkan hal itu di saat-saat seperti ini.


****************


"Lalu? Apa kalian sudah mendapatkan nama untuknya?" tanya Rossa pada Anindya dan Adrian.


Anindya tampak duduk di atas ranjang sembari menggendong bayinya yang sedang tertidur pulas. Sementara Adrian berdiri di sampingnya.


"Kami masih belum menemukan nama yang cocok untuknya!" jelas Adrian.


"Mungkin kalian bisa memberi kami nama! Ucap Anindya.


Yang lain tampak berpikir.


" Kakek sudah memikirkan satu nama untuknya. Bagaimana jika berikan nama Arya untuknya?" usul Zein. "Nama Arya mempunyai makna yang bagus. Seperti pemberani dan bijaksana. Mudah-mudahan ia menjadi anak pemberani juga bijaksana." jelasnya kemudian.


"Arya? Nama yang bagus, kakek!" sahut Adrian.


Ia lalu bertanya pada Anindya mengenai nama tersebut.


"Nama yang bagus. Kita berikan nama itu saja kepadanya!" Anindya menyetujuinya.


Hingga akhirnya nama bayi itu adalah Arya. Semua orang tampak senang dan bahagia. Semoga kebahagiaan ini akan bertahan selamanya.

__ADS_1


****************


Menjelang siang hari, Zein dan yang lainnya memutuskan untuk pulang dan membiarkan Anindya untuk beristirahat. Hanya Adrian dan Sofia yang menemaninya di sana.


Anindya seketika terlelap pulas setelah menyusui bayinya. Ia tampak sangat kelelahan. Adrian selalu berada di sampingnya. Ia bahkan mengalihkan semua urusan pekerjaan pada Romi. Karena ia ingin fokus merawat Anindya yang masih dalam masa pemulihan.


"Tuan! Sebaiknya anda makan siang terlebih dahulu. Sejak pagi tadi anda belum makan sedikitpun! Anda punya riwayat magh, tuan! Anindya juga tidak akan senang jika mengetahui hal itu." ucap Sofia panjang lebar.


"Bu Sofia! Kenapa kau terdengar lebih cerewet dari biasanya? Baiklah! Siapkan makananku!" perintahnya.


Sofia tersenyum. "Baik, tuan!" sahutnya.


Sofia segera menyiapkan makan siang untuk Adrian dan menatanya di atas meja.


" Nanti pulanglah bersama Romi! Biar aku saja yang menjaga Anindya di sini." usul Adrian.


"Apa tuan yakin bisa menjaga seorang diri?" tanya Sofia memastikan.


"Ibu meragukan ku? Dia istriku. Aku bisa menjaganya walau seorang diri. Lagipula kakek juga memerlukan ibu, bukan?" jelas Adrian.


"Iya.Tuan muda benar. Baiklah, tuan!"


**********


"Biar aku yang menyuapi mu! Kau konsentrasi saja menyusui bayi kita!" ucap Adrian ketika melihat Anindya bersikeras menyuapi makanannya seorang diri sambil menyusui Arya yang kelaparan.


"Baiklah!" Anindya akhirnya menyerah.


Di sela-sela makan, Adrian memandangi wajah anak dan istrinya secara bergantian. Ia rasanya masih tak percaya dengan apa yang dilihatnya. Dari seorang suami kini menjadi seorang ayah. Ia tak pernah membayangkan akan hal ini sebelumnya.


"Kenapa kau melihatku seperti itu?" tanya Anindya ketika menyadari bahwa Adrian sedang menatapnya.


"Rasa sakitnya masih ada, tetapi aku masih bisa menahannya. Lagipula ketika melihat Arya, rasa sakit ku seketika hilang. Aku senang karena ia terlahir sehat dan sempurna." jelas Anindya sambil tersenyum lebar.


"Terima kasih, sayang!"


"Entah sudah ke berapa kalinya kau berterima kasih padaku hari ini. Aku bisa besar kepala nantinya." Anindya tersenyum.


"Walau jutaan kali pun aku ucapkan, aku rasa itu belum cukup untuk membayar pengorbanan mu."


Anindya tersenyum kembali. "Cukup bayar aku dengan cintamu." ucap Anindya.


"Itu pasti, sayang. Cintaku hanya untukmu." sahut Adrian yakin.


Adrian lalu memperhatikan Arya yang tengah menyusu pada ibunya. Lalu ia tiba-tiba saja menghela nafas.


"Kenapa?" tanya Anindya bingung.


"Sepertinya kini aku harus rela membagi dirimu dengan orang lain." jawabnya.


"Orang lain?" tanyanya bingung.


"Iya!" jawabnya sambil melihat kearah Arya yang sudah tertidur pulas dalam dekapan ibunya.


"Dia bukan orang lain, dia anak kita. Kau tidak sedang cemburu dengan anak kita, kan?" tanyanya sambil terkekeh.


"Aku cemburu dengan siapapun yang mencoba merebut perhatian mu dariku. Tetapi.. dia pengecualian karena aku menyayanginya." jelas Adrian.


"Kau ini ada-ada saja!"


Ia lalu mencium anak dan istrinya itu secara bergantian. Ia terlihat sangat bahagia memiliki keluarga kecilnya.

__ADS_1


"Adrian!" Anindya tiba-tiba teringat sesuatu.


"Iya?"


"Ehm... apa kau tahu sesuatu tentang ayah ehm... maksudku paman?" tanyanya ragu.


"Kenapa kau tiba-tiba menanyakannya? " tanya Adrian balik.


"Aku hanya ingin tahu saja. Aku tiba-tiba terpikir dengannya."


Adrian menghela nafas sejenak sebelum menjawabnya. Ia terlihat ragu, tetapi ia tetap harus menjawabnya.


"Sebenarnya beberapa bulan yang lalu, aku bertemu dengannya ketika aku berada di luar kota. Lebih tepatnya, paman mengajakku bertemu di sana. " jelasnya.


"Dia yang mengajakmu bertemu? Untuk apa? " Anindya sangat penasaran.


"Dia..... " Adrian mulai menceritakan semuanya padanya.


Mulai dari pinjaman uang yang ia berikan pada Rian hingga niat Rian yang menginginkan Anindya kembali padanya.


Anindya tampak tak percaya dengan apa yang didengarnya.


"Paman berkata seperti itu padamu?"


"Iya. Tetapi aku tidak percaya begitu saja padanya setelah apa yang ia lakukan padamu." jelas Adrian.


"Kenapa dia bisa berpikiran seperti itu? Apa yang sebenarnya diinginkannya?" Anindya terlihat bingung.


Ia benar-benar tidak mengerti dengan jalan pikiran Rian. Apa ia benar-benar sudah berubah atau ini hanya salah satu tipu muslihatnya saja. Ia menginginkan sesuatu darinya.


****************


*


*


*


*


*


*


Jangan lupa setiap baca selalu tinggalkan jejak ya. 😊😊


Jika suka dengan cerita ini, jangan lupa selalu sertakan:


like 👍


komentar 💬


vote


dan rate ⭐ ya.


Serta jadikan salah satu list favorit ❤ kamu agar kamu nggak ketinggalan setiap update terbarunya ya.


Terima kasih😘💕


__ADS_1


__ADS_2