My Dearest Wife

My Dearest Wife
Hampir saja


__ADS_3

Semua tamu sudah meninggalkan acara sore tadi. Zein dan semua keluarga juga sudah kembali ke kamar masing-masing untuk beristirahat. Zein menyewa beberapa kamar hotel untuk keluarga dan juga kamar untuk pengantin baru.


Anindya sudah kembali ke kamar begitu menyelesaikan makan malamnya. Seperti yang sudah diduga, semenjak kepergian Adrian secara tiba-tiba siang tadi, beberapa tamu tampak bergunjing tentang Anindya. Sekalipun mereka hanya berbisik, namun tetap saja Anindya bisa melihat hal itu dari ekspresi wajah mereka.


Mungkin yang mereka pikirkan saat itu adalah ketidaksukaan Adrian pada calon pengantinnya. Itu benar-benar memalukan untuknya.


Namun, itu resiko yang harus ia tanggung setelah menerima pernikahan ini. Dan ia berusaha untuk mengabaikannya.


Anindya sudah mengganti gaun pernikahannya dengan night gown selutut yang di siapkan Sofia di kopernya. Ia tak lupa menggenakan outer untuk menutupi bagian tubuhnya yang terbuka. Entah kenapa Sofia memilihkan piyama seperti ini untuk dibawa. Masih ada sebuah lingerie juga didalam koper. Tapi jelas saja Anindya tidak akan mau memakainya. Apa Sofia berpikir jika akan terjadi sesuatu malam ini kepadanya dengan berpakaian seperti itu.


Tentu saja tidak akan terjadi apa-apa kepadanya. Suaminya bahkan mungkin tidak akan tidur bersamanya malam ini. Karena keberadaannya yang entah dimana. Begitupun malam-malam berikutnya. Mereka tidak akan tidur dalam satu ranjang sesuai dengan kesepakatan yang sudah mereka buat.


Rasa kantuk sudah mulai menyerangnya. Ia melihat jam di ponselnya, sudah hampir pukul sebelas malam. Wajar saja jika ia mulai mengantuk. Ia pun segera merebahkan tubuhnya diatas ranjang yang luas itu. Dikamar seluas ini, ia hanya tidur seorang diri. Rasanya kesepian juga.


Ia menutupi tubuhnya dengan selimut yang telah tersedia disana. Anindya mencoba untuk memejamkan matanya. Ia akhirnya tertidur dalam hitungan menit. Hari ini sungguh melelahkan baginya. Bukan hanya lelah fisik, namun juga lelah batin.


*


Tok... tok... tok...


Terdengar suara ketukan di pintu kamar Anindya. Anindya seketika tersentak saat mendengar suara ketukan itu. Namun ia pikir mungkin itu hanya mimpi. Jadi ia memutuskan untuk kembali tidur.


Tok... tok... tok...


Suara itu terdengar kembali. Kali ini Anindya langsung bangun dan duduk diatas ranjangnya. Ia mencoba untuk mendengar suara ketukan itu kembali. Untuk memastikan jika memang ada seseorang yang sedang mengetuk pintu kamarnya. Tapi siapa yang selarut ini mengetuk pintu kamarnya. Apalagi ia sedang berada di hotel saat ini. Bukan dirumah. Apakah mungkin Adrian?


Ia berjalan mendekat kearah pintu. Namun tidak langsung membukanya. Ia bertanya terlebih dahulu pada orang itu sebelum membukanya.


"Siapa itu?" tanyanya.


"Ini aku Samuel!" jawab orang dibalik pintu.


"Maksudnya dokter Samuel?" Hanya satu Samuel yang dikenalnya.


"Iya ini aku. Aku membawa Adrian. Tolong cepat buka pintunya." perintahnya setengah berbisik.


Ia kaget saat pria itu menyebutkan nama Adrian. Ia segera membuka pintu kamarnya.


"Kenapa dia bisa seperti ini?" Anindya tampak panik setelah melihat Samuel memapah Adrian yang tidak sadarkan diri.

__ADS_1


"Nanti saja aku jelaskan. Sebaiknya biarkan kami masuk dulu. Aku takut jika kakek melihatnya seperti ini." ucap Samuel tampak sudah keberatan menahan tubuhnya agar tetap bisa berdiri.


Anindya lalu membiarkannya masuk dan membaringkan tubuh pria itu diatas ranjang dengan sembarangan. Ia sudah tidak sanggup memapahnya. Samuel menjelaskan semuanya pada Anindya. Anindya tampaknya mengerti kenapa pria itu mabuk.


"Baiklah! Sebaiknya aku pergi sekarang. Tidak baik bagimu jika ada seseorang yang melihatku berada dikamarmu selarut ini." pamitnya.


"Baiklah dokter. Terima kasih karena sudah mengantarkannya pulang."


"Kau tidak perlu berterima kasih padaku. Itu sudah hal yang lumrah untukku. Bagaimanapun angkuhnya pria itu, dia tetap adalah sahabatku yang bodoh." ledeknya sambil melirik kearah pria yang tengah tertidur itu.


"Tetap saja saya harus berterima kasih, kan!" sahut Anindya sambil tersenyum.


"Baiklah! Tolong jaga dia baik-baik. Orang mabuk biasanya suka melakukan hal-hal yang sedikit tidak masuk akal." pria itu tampak mengingatkannya sebelum pergi meninggalkan kamar itu.


"Memangnya dia akan melakukan apa?" Anindya menutup pintu kamarnya dan mendekati Adrian yang tampak pulas.


Ia tampak menghela nafas saat melihat pria itu. "Jika seperti ini kau tampak menyedihkan! Sepengetahuanku kau tidak pernah menyentuh minuman beralkohol seumur hidupmu. Apa kau begitu tertekan dengan pernikahan ini. Jika iya, kenapa kau menyetujuinya?" gumamnya.


Ia lalu melepaskan sepatu dan kaus kaki pria itu. Lalu meletakkan di lantai. Setelah itu, ia duduk ditepi ranjang untuk membuka jas yang melekat sempurna ditubuh kekar pria. Semula ia tampak ragu, namun pria itu pasti tidak nyaman jika tidur memakai jas seperti ini.


Akhirnya ia melepaskan jas itu dengan susah payah. Tubuh pria itu ternyata berat juga. Anindya berhasil melepaskan jasnya setelah berusaha beberapa menit.


"Tidurlah yang nyenyak. Setelah ini kau masih harus menghadapi hari-hari pernikahan kita yang membosankan." gumamnya.


"Kenapa dia bangun? Apa dia ingin memarahiku karena menyentuh tubuhnya dengan lancang." gumamnya sambil menatapnya.


Pria itu hanya diam. Sepertinya ia masih berada di bawah pengaruh alkohol saat ini. Ia belum sadar akan tindakannya.


"Tu.. tuan! Apa kau baik-baik saja?" Anindya memberanikan dirinya untuk bertanya.


Pria itu langsung menoleh kearahnya begitu mendengar suaranya.


"Oh! Ternyata kau istriku. Aku baik-baik saja. Kau pasti sedang menungguku kan?" Pria itu tersenyum padanya.


Hal yang mustahil dilakukannya jika dalam keadaan sadar. Anindya semakin risih melihatnya. Ia hanya tersenyum lalu beranjak dari tempat duduknya sebelum hal-hal lainnya terjadi. Apa ini yang dimaksud dokter Samuel?


Anindya semakin kaget begitu Adrian tiba-tiba menarik tangannya hingga kembali duduk ditempatnya. Pria itu mendekat kearahnya. Hingga wajah mereka kini hanya berjarak beberapa centi saja. Apalagi Adrian mencengkram pinggang rampingnya hingga ia sulit untuk melepaskan diri darinya.


"Kau mau apa?" tanyanya takut.

__ADS_1


"Kenapa bertanya. Bukankah ini yang kau inginkan." ucap Adrian.


"Aku tidak mengerti. Lepaskan aku!" ia tampak memberontak.


Namun Adrian semakin mempererat pelukannya. Entah sepucat apa wajah Anindya saat ini. Hingga akhirnya sesuatu terjadi pada Adrian.


Hoeeekk!!!


Pria itu muntah di pakaian Anindya. Anindya tampak pasrah.


Astaga! Hampir saja. Akan lebih baik jika kau muntah daripada melakukan hal yang tidak-tidak padaku. batinnya.


Tapi kini.... ia tak berani menatap muntahan pria itu ditubuhnya. Sementara pria itu tampak lega setelah mengeluarkan isi lambungnya. Ia langsung tertidur kembali dengan nyaman diatas ranjangnya.


Sementara Anindya segera membersihkan tubuhnya yang sudah tak karuan kedalam kamar mandi.


*************


*


*


*


*


*


*


*


Mohon bersabar ya nungguin kelanjutannya.😊 Maunya juga update setiap hari dan banyak. Tapi suka tersendat karena minimnya waktu. Maklumlah karena saya seorang ibu rumah tangga dengan dua anak yang masih butuh perhatian. Jadi kadang-kadang suka rewel kalo kelamaan di cuekin. Haha.... πŸ˜†πŸ˜†


Menulis adalah hobi saya sejak remaja. Tapi memang saya belum terlalu mahir dalam merangkai kata-kata hingga cerita itu jadi enak untuk dibaca. πŸ™πŸ™ tapi tetap diusahakan untuk update setiap harinya walau kadang suka lama.


Saya juga punya satu novel lagi yang masih on going dan mo ditamatin. Jadi sekali lagi maaf ya untuk keterlambatan up nya.


Terima kasih untuk semua pembaca yang masih tetap setia nungguin kelanjutan ceritanya. Terima kasih juga untuk like, komen, rate dan vote nya. , πŸ™πŸ™ maaf sedikit curhat.,πŸ˜™

__ADS_1


salam sayang darikuπŸ₯°



__ADS_2