My Dearest Wife

My Dearest Wife
Merasa cemas.


__ADS_3


Anindya langsung masuk ke dalam toilet yang kosong. Kebetulan tidak banyak yang memakai toilet pada saat itu.


Setelah selesai, ia keluar dari toilet. Tetapi lantainya terasa licin karena percikan air yang membasahi lantai. Anindya hampir saja terjatuh ke lantai jika saja seorang wanita tidak menahan tubuhnya dengan cepat saat itu.


"Hati-hati nona! Kau bisa terjatuh." pesan wanita itu padanya.


"Terima kasih, nona!" ucapnya.


Mereka saling bertatapan.


"Natasha! " seru Anindya setelah mengenali wanita itu.


"Ternyata kau." Natasha seketika merasa canggung.


Mereka berdua hanya diam setelahnya. Natasha tampak memperhatikan perut Anindya yang tampak menonjol akibat dress selutut yang dikenakan Anindya pada saat itu.


Ia memberanikan diri untuk bertanya.


"Kau hamil? " tanya Natasha.


Ia terlihat kecewa.


"Iya!" jawab Anindya datar.


Natasha tampak menghela nafas. "Selamat atas kehamilan mu. Jaga kandungan mu dengan baik." ucapnya.


Natasha terdengar tulus ketika mengucapkan hal itu padanya. Apakah itu artinya ia sudah merelakan Adrian. Entahlah!


"Terima kasih." ucap Anindya.


Natasha lalu mengatakan sesuatu padanya.


"Jangan sia-siakan cintanya kepadamu. Hiduplah dengan bahagia bersamanya. Juga... jaga calon bayi mu dengan baik."


"Aku tidak akan mensia-siakan cintanya. Kau tak perlu mengingatkan ku tentang itu." ucap Anindya.


"Dan terima kasih atas ucapan selamat yang kau berikan untuk bayi ku." sambungnya.


Anindya lalu keluar dari toilet tersebut. Tapi sebelum pergi, ia mengatakan sesuatu pada Natasha.


"Kau juga hiduplah bahagia bersama dengan seseorang yang kau cintai." pesannya.


Natasha hanya diam sambil memperhatikan Anindya yang berjalan keluar dari toilet.

__ADS_1


Mungkin sudah saatnya ia merelakan Adrian untuk wanita lain. Wanita yang mungkin lebih baik dari dirinya. Wanita yang mungkin lebih mencintai Adrian melebihi cintanya pada pria tersebut.


***


"Kenapa lama sekali? Apa toiletnya penuh? Aku hampir menerobos masuk jika kau tidak keluar juga dalam lima menit. " Adrian tampak cemas melihat istrinya tersebut.


"Kau terlalu berlebihan. Toiletnya lumayan penuh. Ayo!" ajaknya sembari menggandeng lengan kekarnya itu.


Mereka berdua lalu pergi dari sana.


Selang beberapa saat kemudian, Natasha keluar dari toilet.


Seorang pria datang menghampirinya.



"Kau sudah selesai?" tanya pria tersebut tersenyum lebar.


Senyuman pria itu terasa hangat walaupun mungkin Natasha tidak merasa seperti itu.


"Iya!" jawab Natasha datar.


"Ayo!" ajaknya sambil mengulurkan tangannya.


"Jackson!" serunya tak senang.


****************


Keesokan harinya.....


"Kau benar-benar harus pergi?" tanya Anindya pada Adrian yang sedang mengancingkan kemejanya.


Adrian terlihat sabar menanggapi pertanyaan istrinya tersebut yang entah sudah keberapa kalinya diajukan Anindya sejak kemarin malam hingga pagi ini padanya.


Adrian memeluk gemas tubuh istrinya itu. Berusaha untuk membujuknya.


"Aku akan kembali lebih cepat. Kau bahkan tak akan sempat menyadarinya.Oke! Kita bisa melakukan panggilan video setiap saat jika kau rindu padaku. Aku akan selalu ada untuk mu. Jangan membuat ku membatalkan kepergian ku, sayang!" ia mencium gemas kedua pipinya.


"Baiklah! Tapi cepatlah kembali. Aku akan marah jika kau tidak pulang dalam dua minggu. Apa kau mengerti?" ancamnya.


Adrian bukannya kesal malah tertawa gemas melihat tingkah istrinya itu. Anindya benar-benar berubah menjadi wanita manja yang membuatnya gemas. Rasanya ingin sekali mencubit pipi Anindya yang terlihat mulai berisi.


"Iya kesayangan ku. Hanya dua minggu. Tidak lebih." jawabnya menyanggupi.


Akhirnya setelah drama pagi yang cukup menguras tenaga, Adrian pergi. Anindya berusaha untuk mengantarkannya dengan senyuman. Walaupun sebenarnya ia merasa sedikit cemas dengan kepergian Adrian kali ini. Entah apa penyebabnya.

__ADS_1


"Ada apa Anindya? Kau terlihat cemas?" tanya Zein ketika menyadari hal itu.


"Entahlah kakek! Anin merasa sedikit cemas. Tapi... mungkin itu hanya perasaan Anin saja." ucapnya.


"Tenang saja. Adrian akan baik-baik saja. Mungkin itu karena pembawaan bayi mu saja. Kau tidak perlu cemas." Zein tampak menenangkannya.


"Iya, kakek! Mungkin itu hanya perasaan Anin saja." sahutnya.


"Iya sudah! Ayo kita masuk! " ajak pria baya itu.


Anindya mengiyakan ajakannya. Mereka masuk ke dalam rumah.


...****************...


Adrian turun dari mobil yang mengantarkannya ke landasan helikopter miliknya. Di sana sebuah helikopter berwarna hitam sudah menunggu dengan baling-balingnya yang berputar dengan cepat. Romi beserta beberapa orang lainnya sudah menantinya di sana.


"Kau sudah menyiapkan segalanya?" tanya Adrian pada Romi.


"Sudah, tuan! Saya juga sudah menyiapkan beberapa pengawal tambahan untuk berjaga-jaga jika diperlukan. Walaupun mungkin anda tidak membutuhkannya." Romi menjelaskan.


Adrian tampak menyeringai padanya. "Memangnya apa yang mungkin dilakukannya sampai kau harus menyiapkan tambahan pengawal untukku. Apa kau lupa jika dia adalah ayah mertuaku. Aku ini termasuk menantu kesayangannya, bukan!" sindirnya dengan sedikit angkuh.


"Iya, tuan! Saya rasa saya terlalu berlebihan." sahut Romi sambil tersenyum simpul.


Adrian dan yang lainnya naik ke dalam helikopter tersebut. Dia sudah tampak siap bertemu dengan paman yang juga adalah mertuanya tersebut. Mungkin Rian tak akan menduga hal menantinya nanti. Dia harus membayar setiap derita yang di tanggung Anindya sejak kecil. Dia tak akan pernah melupakan hal itu.


****************


Maaf lama update nya ya! Lagi bingung nentuin ending ceritanya. Semoga Endingnya bisa memuaskan para readers ya.


Semangat!!


Jangan lupa setiap baca selalu tinggalkan jejak ya. 😊😊


Jika suka dengan cerita ini, jangan lupa selalu sertakan:


like 👍


komentar 💬


vote


dan rate ⭐ ya.


Serta jadikan salah satu list favorit ❤ kamu agar kamu nggak ketinggalan setiap update terbarunya ya.

__ADS_1


Terima kasih😘💕


__ADS_2