
Anindya dan Adrian masih terlihat menikmati santap malam mereka. Kali ini mereka menyantap dessert berupa strawberry shortcake yang sangat lezat. Anindya memakannya dengan lahap.
"Apa kau mau tambah? Kelihatannya kau sangat menyukainya." tanya Adrian sembari memberikan bagiannya yang belum ia sentuh sama sekali.
"Apa kau tidak suka cake nya?" tanya Anindya balik.
"Tidak. Kau saja yang habiskan! Aku ke toilet sebentar, ya!"
"Baiklah!" sahut Anindya.
Namun, setelah beberapa menit kepergian Adrian, seseorang menghampirinya. Ia bahkan duduk di kursi yang sebelumnya di tempati oleh Adrian.
Dan Anindya sepertinya mengenali wanita itu. "Ternyata kau nona Natasha. Sepertinya kau senang sekali berada di tempat yang sama ddenganku." sindir Anindya.
Natasha tersenyum sinis. "Kau pikir aku tidak ada kerjaan sehingga mengikutimu kemanapun kau pergi. Maaf saja! Tapi aku punya pekerjaan. Aku seorang model terkenal. Aku mengandalkan penghasilanku sendiri untuk hidup. Bukan menumpang hidup pada orang lain. Jadi jangan terlalu percaya diri nona." sindirnya balik.
Anindya tersenyum menatapnya. Ia tahu bahwa Natasha sedang memprovokasinya lagi saat ini. Ia ingin mempermalukan dirinya. Anindya mencoba untuk menghadapinya dengan tenang.
"Tapi maaf nona. Aku hidup bersama suamiku bukannya dengan orang lain. Aku rasa hal itu wajar mengingat jika kewajiban seorang suami adalah menafkahi istrinya. Jadi aku rasa itu bukan hal yang buruk. Benarkan?" ucapnya santai sambil memakan cake nya.
Natasha lagi-lagi tersenyum sinis. "Ternyata apa yang ku duga selama ini benar! Kau hanya mengincar uang di keluarga itu. Kau merebut hati kakeknya, lalu membuat Adrian terpaksa menikahimu atas permintaan kakeknya. Kau benar-benar pintar." ucapnya sekenanya.
"Itu terserah pada penilaianmu, nona. Kau berhakc mengutarakan pendapatmu." sahut Anindya.
"Bagaiamana rasanya menjadi bagian dari keluarga itu? Apa menyenangkan? Oh ya kalau aku tidak salah ingat dulu kau hidup sangat susah, kan! Pasti menyenangkan bukan dengan hidup yang kau jalani sekarang. Penuh kemewahan dan fasilitas yang di berikan Adrian padamu." sindirnya lagi.
"Tentu saja nona. Tapi, bukan karena kemewahan yang mereka berikan padaku. Melainkan karena kasih sayang dan cinta yang mereka berikan padaku. Itu yang terpenting. Mereka menerimaku, seseorang yang awalnya tidak mereka kenal. Namun mereka menjadikanku bagian dari keluarga mereka. Itu yang menurutku penting." jelas Anindya.
"Keluarga! Apa kau memang polos atau pura-pura polos. Tidak ada satupun yang gratis di dunia ini, nona Anindya." ucapnya sambil tertawa sinis.
"Itu terserah padamu mau percaya apa tidak padaku. Aku rasa aku juga tidak berkewajiban untuk menjelaskannya padamu." sahut Anindya sambil menghabiskan cakenya hingga gigitan yang terakhir.
"Ehm... cake ini benar-benar enak. Kau harus mencobanya, nona. Oh! Kau tidak sedang diet kan?" tanyanya.
"Kau sepertinya tidak takut padaku."
"Kenapa aku harus takut. Kau manusia, aku juga manusia. Kita sama-sama bernafas dengan cara yang sama. Kita juga sama-sama wanita, bukan. Jadi apa yang perlu aku takutkan. Ehm... apa jangan-jangan kau itu makhluk halus atau sejenisnya?" ejeknya.
Natasha kali ini tampak serius dan menahan rasa geramnya.
Ia mencondongkan tubuhnya ke arah Anindya dan mengatakan sesuatu padanya.
"Dengarkan aku Anindya! Mungkin saat ini kau sedang berada di atas awan. Tapi bukan tidak mungkin suatu saat kau akan jatuh. Jadi nikmatilah hari-harimu yang tersisa. Karena aku akan merebut apa yang seharusnya menjadi milikku darimu." Natasha menekankan setiap perkataannya. Seperti sedang mengancam.
__ADS_1
"Lakukan sesukamu, nona. Aku akan pertahankan apapun itu yang sudah menjadi miliku." sahutnya.
Setelah mengucapkan hal itu. Natasha beranjak dari tempat duduknya. Lalu ketika melihat Anindya lengah, ia mengambil gelas yang berisi air minum dan menumpahkannya diatas kepala Anindya. Sontak saja hal itu menjadi tontonan para pengunjung di sana.
Anindya tetap saja tenang. Ia mengambil serbet yang ada di atas meja lalu menyeka wajahnya yang basah.
"Caramu sangat kekanak-kanakan nona. Apa ini cara wanita kelas atas mempernalukan seseorang?" tanyanya sambil tersenyum sinis.
"Tidak. Ini hanya salam perpisahan dariku saja." ucapnya tanpa rasa bersalah sedikitpun.
"Baiklah. Terima kasih untuk salam perpisahannya. Aku tidak menyangka jika kau sangat murah hati."
Natasha lalu pergi dengan tersenyum manis padanya.
"Untung saja Adrian tidak ada di sini." gumamnya lalu mengambil kaca dari dalam tasnya dan merapikan wajahnya.
Namun, Anindya tidak menyadari jika Adrian melihat semuanya bahkan sempat mendengar apa yang mereka bicarakan walau hanya bagian terakhirnya saja.
Ia melihat Natasha sudah keluar dari restoran itu. Ia lalu menyusulnya melalui pintu belakang restoran agar Anindya tak melihatnya.
Ia menarik tangan Natasha dengan keras. Natasha sontak merasa terkejut. Terlebih setelah melihat orang yang menarik tangannya.
"Adrian! Lepaskan tanganku. Kau menyakitiku."
"Bukankan sudah ku peringatkan padamu untuk menjauhi istriku. Kenapa kau masih mengganggunya." bentak Adrian.
"Apa yang kau maksud? Aku tidak mengerti dengan apa yang kau katakan."
"Jangan berpura-pura Natasha! Kau ingat jelas bukan jika hubungan kita sudah lama berakhir. Jadi aku peringatkan sekali lagi padamu. Jauhi istriku! Aku tidak suka kau menemuinya di belakang ku. Sudah cukup dengan semua ulah mu selama ini. Aku sudah muak!" ucapnya sambil mengancam wanita itu.
"Apa kau sudah benar-benar tidak mempunyai perasaan apapun lagi padaku? Apakah hubungan yang terjalin sekian tahun lamanya hanya akan berakhir seperti ini?" tanyanya.
Adrian tersenyum sinis kearahnya. "Apa kau sedang menyalahkanku dan bersikap layaknya korban di sini. Apa kau terkena amnesia hingga kau lupa siapa yang lebih dulu mengakhiri hubungan ini?" tanyanya balik.
"Adrian! Aku tahu jika aku yang menolakmu saat itu. Tapi perasaanku masih sama dengan saat itu. Bahkan tidak pernah berubah sedikitpun. Apa kau tahu jika aku tak pernah menjalin hubungan dengan siapapun selain dirimu. Bahkan setelah kita berpisah. Itu karena aku masih mencintaimu, Adrian. Aku menjaga diriku hanya untukmu. Tidakkah kau bisa melihat hal itu?" Natasha tampak menangis.
Ia terduduk di tanah. Ia mengungkapkan segala apa yang di rasakan saat ini. Iya itu memang benar. Ia tak pernah sekalipun jatuh cinta pada pria lain setelah mengakhiri hubungannya dengan Adrian. Sekalipun pada Jackson yang pernah menyatakan perasaannya pada Natasha.
Namun, apakah itu akan sebanding dengan kesalahan fatal yang ia lakukan pada pria di hadapannya itu?
Apa yang akan dilakukan Adrian padanya setelah mendengar semua isi hatinya selama ini?
Apakah ia akan memaafkan dirinya?
__ADS_1
Adrian tampak tak bergeming di tempatnya. Entah apa yang sedang ia pikirkan saat ini.
Tanpa mereka berdua sadari, dari sisi yang berbeda, ada dua pasang mata yang sedang mengawasi mereka dari kejauhan. Yang satu tampak pasrah. Dan yang lainnya tampak cemas.
****************
*
*
*
*
*
*
*
*
*
Jika kalian berada di posisi Adrian, apa yang kira-kira akan kalian lakukan?
Jika suka dengan bab ini, jangan lupa berikan
like 👍
komentar 💬
vote
dan rate ⭐ ya.
Tambahkan juga cerita ini ke list favorite mu agar tidak ketinggalan lanjutan ceritanya.
Terima kasih😘💕
__ADS_1