
Anindya perlahan membuka mata ketika kesadaran mulai kembali. Ia melihat sekeliling ruangan yang disadarinya bahwa itu adalah kamar tidurnya. Dan ia hanya berada seorang diri di sana.
Ketika ia mencoba untuk bangun, tiba-tiba dahinya terasa berdenyut hingga membuatnya mengaduh kesakitan. Ia lalu menyentuh titik denyutan tersebut dan rasa sakit yang dirasakannya semakin bertambah.
"Apa yang terjadi padaku?" Anindya mencoba untuk mengingat apa yang sudah terjadi kepadanya.
Namun ia hanya ingat jika ia berencana untuk mengambil. air minum di dapur. Lalu ia merasa seperti di dorong oleh seseorang hingga akhirnya terjatuh dari tangga. Setelah itu ia tak mengingat apa-apa lagi. Ruangan itu terlalu gelap, sehingga ia tak bisa melihat jelas wajahnya.
"Siapa yang mendorong ku? Dan kenapa ia melakukan hal itu kepadaku?" tanyanya.
Ia mencoba untuk duduk setelah di rasa tubuhnya sudah kuat. Ia bersandar di tepi ranjang. Namun lagi-lagi ia merasa sakit, kali ini rasa sakit itu berasal dari pergelangan kakinya. Ia lalu menarik selimut yang menutupi tubuhnya. Dan ia terkejut ketika melihat pergelangan kakinya telah di babat kuat dengan perban.
Ia mencoba untuk turun, namun sebuah suara tiba-tiba mengagetkan dirinya. Itu adalah Adrian. Ia baru saja masuk ke kamar dan mendapati Anindya sedang mencoba untuk turun dari ranjang.
"Apa yang kau lakukan? Dokter bilang kau tidak boleh banyak bergerak dulu selama beberapa hari. Pergelangan kakimu mengalami pergeseran tulang. Jadi agar tulangnya kembali menyatu dengan baik, kau tidak boleh banyak bergerak terlebih dahulu" jelasnya ketika menghampiri Anindya sambil menahannya agar tidak turun dari ranjang.
"Baiklah!" Anindya kembali menyandarkan tubuhnya di tepi ranjang.
Adrian menyelimuti kembali tubuh Anindya dengan selimut.
"Tapi kenapa kau tidak membawaku ke rumah sakit?" tanya Anindya.
"Dokter bilang itu tidak perlu karena pergelangan kakimu tidak terlalu parah. Dan perawatannya masih bisa dilakukan di rumah. " jelasnya.
Adrian duduk di samping Anindya. Ia terlihat sangat cemas terhadapnya. Ketika melihat Anindya tidak sadarkan diri, pikirannya langsung menjadi kacau. Untungnya Anindya baik-baik saja.
"Sekarang katakan padaku kenapa kau bisa jatuh dari tangga?" tanya Adrian penasaran.
"Aku... Sebaiknya aku tidak mengatakan hal itu padanya. Aku tak ingin memperpanjang masalah ini. Ehm.. aku juga tidak begitu ingat. Sepertinya aku menyandung sesuatu. Saat itu sangat gelap. Aku jadi tidak bisa melihat pijakan tangga dengan jelas. Hingga akhirnya aku terjatuh. " jelasnya berusaha untuk terlihat meyakinkan. Karena sesungguhnya ia tak pernah bisa berbohong kepada siapapun.
"Kau yakin hanya itu? Lagipula bukankan lampu di ruangan itu tak pernah mati ketika malam hari? " tanyanya.
"Aku juga tidak tahu kenapa bisa mati." jawabnya.
"Kamera pengawas juga sudah dirusak sebelumnya. Siapa yang berani melakukan hal itu di rumah ini? Para pelayan tidak mungkin berani." Adrian tampak berpikir.
Melihat Adrian tengah berpikir, Anindya mencoba untuk mencairkan suasana.
"Sudahlah! Itu semua salahku karena terlalu ceroboh. Aku saja yang tidak berhati-hati. Jadi tidak perlu memikirkan masalah itu lagi." ucapnya.
"Apanya yang tidak perlu dipikirkan? Apa kau tahu jika itu sangat berbahaya. Bagaimana jika sesuatu yang buruk terjadi padamu? Apa kau tidak tahu betapa cemas nya aku?" ia mulai kesal pada sikap Anindya yang terlalu meremehkan keadaan.
"Aku tahu itu. Aku hanya tidak ingin kau terbebani karena masalah ini. Ini memang hanya kecelakaan biasa saja. Siapapun bisa terjatuh dari tangga, kan?"
Adrian masih terlihat mengernyitkan dahinya. Ia masih berpikir. Anindya sejujurnya juga penasaran. Tapi ia tidak mungkin mengatakan yang sebenarnya pada Adrian. Itu hanya akan memperburuk suasana hatinya.
Anindya lalu memeluknya. Hanya itu saja yang bisa menenangkan hatinya saat ini. Memeluk pria yang sangat dicintainya.
"Sudah ya! Jangan memikirkan hal itu lagi." ucapnya.
Adrian tampak mendengus. "Baiklah! Tapi kau harus lebih berhati-hati lagi lain kali. Jika perlu aku akan menggendong mu setiap kali kau pergi."
Anindya terkekeh. "Kau terlalu berlebihan." Anindya mendongak untuk menatap wajah suaminya itu.
__ADS_1
"Berlebihan apanya! Aku sangat mencemaskan dirimu, tahu?"
"Apa aku sangat berarti bagimu?" tanya Anindya.
"Tentu saja. Kenapa masih bertanya?" Ia menggigit hidungnya dengan gemas.
Anindya lalu tersenyum dan kembali menenggelamkan kepalanya di dada Adrian.
Adrian ikut tersenyum dan membalas pelukannya.
Tetapi sesungguhnya Adrian merasa jika ini bukanlah sekedar kecelakaan biasa. Anindya sepertinya menyembunyikan sesuatu darinya.
****************
"Bagaimana keadaan Anindya tuan?" tanya Anne cemas kepada Adrian yang baru saja keluar dari kamar.
Wanita itu sedari tadi menunggu di luar karena cemas. Ia orang pertama yang menemukan Anindya tak sadarkan diri di bawah tangga. Karena kebetulan ia baru saja pulang dari kampus saat itu. Syukur ia pulang terlambat saat itu. Sehingga ia bisa menemukan Anindya tepat waktu.
"Ia sudah sadar. Kau mau bertemu dengannya?" tanyanya.
"Ia tuan. Aku ingin melihatnya jika diizinkan." jawabnya ragu.
"Masuklah! Tapi jangan terlalu lama. Dia masih butuh istirahat." Adrian memberi peringatan kepadanya.
"Baik, tuan!"
Setelah itu Adrian pergi dari sana untuk menemui kakeknya. Sedari tadi pria baya itu menunggu di kamarnya dengan cemas.
"Anne!"
"Bagaimana keadaanmu?" tanyanya begitu duduk di sampingnya.
"Seperti yang kau lihat. Selain cedera kaki dan memar di dahi, aku baik-baik saja. Untung saja kau ada di sana. Terima kasih karena sudah menolongku." ucapnya tulus.
"Tidak perlu berterima kasih padaku. Itu sudah keharusan." ucapnya."Bagaimana hal itu terjadi? Kenapa kau bisa jatuh?" tanyanya kemudian karena ia begitu penasaran.
"Aku hanya tersandung. Pada saat itu ruangan sangat gelap jadi aku tidak bisa melihat apapun. " jelasnya berusaha untuk tenang.
"Benar hanya tersandung?" tanyanya memastikan.
"Iya!" Sungguh Anindya sebenarnya tidak pandai berbohong pada siapapun. Apalagi Anne. Wanita itu seakan bisa membaca ekspresi wajahnya yang berusaha untuk terlihat biasa.
"Kenapa kau tidak berhati-hati! Syukurnya kau hanya mendapat luka ringan saja." ucapnya lega.
"Tapi... waktu itu aku melihat tuan Rian ada di sana? Kenapa dia tidak menolong mu, ya? Ah.. mungkin ia tidak melihat dan sedang terburu-buru." gumamnya samar-samar tetapi Anindya masih bisa mendengarnya.
"Apa yang kau katakan?" tanyanya memastikan.
"Aku bilang saat itu aku melihat tuan Rian. Tapi kenapa dia tidak menolong mu?" ulangnya.
"Paman?Tidak mungkin. Kau pasti salah lihat. Paman sudah berpamitan pada kami setelah makan malam. Dan supir sudah mengantarkannya ke bandara saat itu juga.Kau pasti salah lihat." ucapnya meyakinkan Anne.
__ADS_1
"Aku tidak salah lihat. Itu memang dia. Aku bahkan sempat menyapanya. Hanya saja ia tidak membalasnya. Ia terlihat seperti sedang terburu-buru saat itu. Ia langsung pergi begitu saja." jelasnya yakin.
Anindya seketika tampak pucat. Apa orang itu adalah dia? Tapi jika memang dia, kenapa dia melakukan hal itu padaku? Apa dia tahu jika aku adalah anaknya? Apa ia ingin menyingkirkan aku?Batinnya tampak bertanya-tanya. Ia terlihat sangat terkejut.
Anindya tampak tidak percaya dengan apa yang didengarnya. Anne seketika menyadari perubahan raut wajah Anindya.
"Ada apa? Kenapa kau terlihat seperti itu?Apa yang terjadi?" tanyanya cemas.
"Tidak.Aku hanya terkejut. Aku tidak apa-apa." jawabnya berusaha untuk bersikap tenang.
"Kau sedang berbohong, kan? Apa ada sesuatu yang terjadi? Apa yang sedang kau tutupi, Anin? " tanyanya penasaran.
"Apa maksudmu? Aku tidak menutupi apa-apa?" sanggahnya.
"Kau benar-benar tidak pandai berbohong, Anin!Katakan padaku bagaimana kau bisa jatuh?" tanyanya lagi.
"Aku kan sudah bilang, jika aku jatuh karena tersandung. " ucapnya pura-pura polos.
"Kau berbohong! Jujur saja padaku, sebenarnya apa yang terjadi?"
Anindya tampak diam.
"Anindya!" Anne tampak mendesaknya. Ia yakin jika wanita yang ada dihadapannya itu tengah berbohong kepadanya.
Anindya terlihat ragu. Ia menatap Anne. "Sebenarnya aku jatuh karena..... seseorang mendorong ku."
****************
*
*
*
*
*
Jangan lupa setiap baca selalu tinggalkan jejak ya. 😊😊
Jika suka dengan cerita ini, jangan lupa selalu sertakan:
like 👍
komentar 💬
vote
dan rate ⭐ ya.
Serta jadikan salah satu list favorit ❤ kamu agar kamu nggak ketinggalan setiap update terbarunya ya.
Terima kasih😘💕
__ADS_1