
Malam ini Adrian masih terlihat menyibukkan diri di ruang kerjanya. Padahal malam sudah semakin larut. Bahkan penghuni rumah lainnya mungkin sudah terlebih dahulu tidur. Hanya petugas keamanan saja yang masih terjaga.
Tak terasa waktu begitu cepat berjalan. Sudah pukul dua belas malam. Adrian tampak merenggangkan otot-otot tubuhnya yang kaku karena terlalu lama duduk di kursi kerjanya. Ia juga memijat lehernya yang terasa pegal karena terus-menerus menatap layar laptopnya seharian ini.
Sepertinya ia membutuhkan istirahat. Ia lalu keluar dari ruang kerjanya setelah mematikan laptop dan lampu ruangan.
Ia berjalan menuju kamarnya. Di dalam kamar ia mendapati istrinya lagi-lagi tidur di atas sofa. Lama-lama ia merasa iba terhadap wanita itu. Dia mengutuk dirinya yang terlalu egois.
Ia berjalan mendekat kearah Anindya yang terlihat sangat pulas. Mungkin wanita itu bahkan tidak sadar jika Adrian sudah berada di dalam kamar. Kewaspadaan wanita itu seketika menurun saat ia sedang tidur.
Adrian lalu mengangkat tubuh wanita itu dengan hati-hati agar tidak membangunkannya. Lalu memindahkannya ke atas ranjang dan menyelimutinya. Ia juga terlihat menyingkirkan anak rambut yang menutupi wajah istrinya itu.
Jika diperhatikan dengan seksama, wanita itu terlihat cantik. Adrian juga mengakui jika Anindya itu adalah wanita yang baik dan juga polos. Apa yang dikatakan oleh Samuel memang benar. Tidak ada ruginya menikahi Anindya. Ia bisa membuat kakeknya merasa bahagia.
Setelah itu Adrian tidak tidur di sofa seperti malam-malam sebelumnya. Melainkan berbaring di samping Anindya dengan dibatasi oleh sebuah bantal guling yang ia letakkan di tengah-tengah.
Sepertinya ia mulai terbiasa tidur berdampingan dengan wanita yang dulu tak disukainya itu.
Ia lalu mencoba untuk memejamkan matanya setelah menutupi tubuhnya dengan selimut.
Tak butuh waktu lama baginya untuk tidur. Karena ia benar-benar kelelahan seharian ini. Bagaimana tidak, setelah kembali ke kota ia langsung ke kantor untuk mengurus pekerjaannya yang tertunda beberapa hari.
****************
Matahari pagi tampak bersinar dengan terang. Hari ini terlihat sangat cerah.
Anindya terbangun ketika cahaya matahari mulai mengganggunya. Namun ia tampak bingung saat mendapati dirinya sedang memeluk sesuatu yang keras namun terasa hangat. Apa ini? Ia bahkan meraba-raba bagian keras itu lalu membuka matanya perlahan.
Ini... ini tubuh seorang pria. Anindya perlahan melirik wajah si pemilik tubuh itu. Itu adalah Adrian. Anindya seketika menjauh darinya. Namun, pikirannya tampak berlarian mencari jawaban yang belum juga ditemukannya.
Apa yang terjadi? Kenapa aku bisa berada disini? Dan kenapa aku bisa memeluknya? Apa kemarin malam aku mengigau? Apa aku tidur sambil berjalan?
Anindya seketika beranjak dari tempatnya. Ia bahkan berlari kecil masuk kedalam kamar mandi, sebelum pria itu bangun dan memikirkan yang tidak-tidak mengenai dirinya yang tiba-tiba tidur satu ranjang dengannya.
Ia tidak tahu, bahwa Adrian sudah bangun sedari tadi. Namun, ia kembali memejamkan matanya begitu melihat Anindya mulai menggeliat di atas dada bidangnya.
Setelah kepergian istrinya itu, Adrian baru membuka matanya. Ia bahkan tersenyum melihatnya.
*
Karena terburu-buru, Anindya lupa membawa pakaian gantinya ke kamar mandi. Mana mungkin ia keluar dengan hanya menggunakan handuk. Sementara Adrian masih berada di dalam kamar
Anindya lalu membuka pintu kamar mandi dengan perlahan. Dan mengintip keluar dari celah pintu yang sedikit terbuka.
"Dia masih tidur. " gumamnya.
__ADS_1
Ia lalu keluar dengan perlahan. Ia berjalan pelan agar tidak menimbulkan suara. Ia takut Adrian akan terbangun dan melihatnya hanya memakai handuk saja. Ia langsung masuk ke dalam ruang gantinya.
Adrian lalu beranjak dari atas ranjang begitu wanita itu masuk ke ruang ganti. Lagi-lagi ia tersenyum melihat tingkat wanita yang telah menjadi istrinya itu.
Wanita itu terlihat sedikit menggemaskan jika bertingkat seperti itu. Ia lalu mengusap kasar wajahnya setelah menyadari tingkah bodohnya yang tersenyum saat melihat istrinya.
Bagaimana ia bisa berpikir seperti itu. Dia pasti sudah tidak waras. Adrian lalu masuk kedalam kamar mandi.
Tak berapa lama kemudian, ia keluar dari kamar mandi dengan handuk yang melilit di pinggangnya. Sebelah tangannya tangannya tampak sedang mengeringkan rambutnya dengan handuk kecil.
Ia berpapasan dengan Anindya saat keluar. Wanita itu terlihat segar pagi itu dengan blouse dan rok selutut yang melekat sempurna di tubuh rampingnya.
Wanita itu tampak menolehkan wajahnya ketika melihat Adrian. Ia belum terbiasa melihat tubuh telanjang suaminya itu. Padahal ia sudah pernah melihatnya beberapa kali.
Sementara Adrian tampak biasa saja menunjukkan tubuhnya seperti itu karena ia sudah terbiasa. Berbeda dengan Anindya yang tak pernah melihat tubuh polos seorang pria secara langsung seperti itu.
"Tunggu!" perintah Adrian pada Anindya ketika melihat wanita itu hendak membuka pintu kamar.
"A... ada apa?" tanyanya tanpa menoleh padanya.
"Apa kau tidak merasa bersalah sedikitpun?" Adrian bertanya balik.
"Merasa bersalah? Memangnya apa yang sudah kulakukan?" tanya Anindya bingung.
Kali ini wanita itu menoleh. Namun saat melihat Adrian dengan tubuh telanjangnya itu, ia langsung menundukkan pandangannya.
"Kau tidak ingat apa yang kau lakukan padaku pagi ini?" Adrian tampak mendekat kearahnya.
"Aku tidak mengerti dengan apa yang kau katakan. Memangnya apa yang sudah ku lakukan. Aku tidak ingat. " Ia berdalih.
"Baiklah! Jika kau tidak bisa mengingatnya, aku bisa membantumu." ucap Adrian semakin mendekat padanya hingga jarak mereka berdua sangat dekat.
Anindya tetap menundukkan wajahnya. Sementara Adrian meraih dagunya dan memaksanya untuk melihat kearahnya. Mau tak mau Anindya menatap wajah tampan pria dihadapannya itu.
"Jika sedang berbicara dengan seseorang, kau harus menatapnya. Bukankah tidak sopan jika kau memalingkan wajahmu." ucapnya.
"Ehm... Ka.. kau mau apa?" Anindya kembali teringat ketika mereka berciuman.
"Aku hanya ingin mengingatkanmu. Apa kau sudah ingat sekarang?" tanyanya.
Anindya mengangguk ragu.
"Ingat! Mulai malam ini dan seterusnya. Kau harus tidur bersamaku. Apa kau mengerti?"
"Kenapa? Bukankah kau tidak suka jika aku tidur di ranjang mu apalagi bersamamu? Lagipula pernikahan kita hanya... "
"Ssssttt... kau tahu kan jika aku tidak suka dibantah. Jadi jangan banyak tanya." Adrian dengan cepat memotong pembicaraan wanita itu dengan menempelkan jemari telunjuknya di bibirnya. "Apa kau mengerti?" tanyanya.
__ADS_1
Anindya hanya menganggukkan kepalanya ketika Adrian melepaskan jemarinya dari bibirnya.
"Tapi... kenapa tiba-tiba kau ingin aku... " Lagi-lagi Anindya tak bisa melanjutkan perkataannya karena Adrian menutup mulutnya.
"Aku sudah bilang jika aku tidak suka jika kau banyak bertanya. Sekarang pergilah! Siapkan sarapanku istriku." perintahnya sambil tersenyum sinis.
Anindya menatapnya dengan wajah masamnya. Rasanya ingin sekali dia memaki pria yang berstatus sebagai suaminya itu. Namun ia tak kuasa saat berhadapan dengannya.
Adrian lalu berbalik dan masuk ke ruang ganti. Saat melihat punggung pria itu, ia menemukan sesuatu yang baru pertama kali ini dilihatnya. Sebuah tato yang bertuliskan sebuah nama. Natasha.
"Apa itu adalah nama kekasihnya? Dia pasti belum bisa melupakan wanita itu." batinnya.
****************
Maaf ya para reader ku! Karena gak bisa setiap hari up nya. Karena kondisi tubuh yang lagi hamil. Kadang mood nulis sering hilang timbul. Tapi sebisa mungkin aku bakal terus up setiap harinya.
Terima kasih buat para reader yang masih setia ngikutin kelanjutan ceritaku ini ya. Terima kasih juga buat semua like, komen, vote dan rate yang kalian berikan. Senang rasanya saat melihat novelku ini di sukai oleh banyak orang. 🥰🥰
Jangan lupa tetap sertakan
komentar 💬
Like 👍
rate 🌹
vote 🙏
Terima kasih😘💕
*
*
*
*
*
*
*
*
*
__ADS_1
*