My Dearest Wife

My Dearest Wife
Aku hanya ingin memelukmu


__ADS_3

Seorang wanita paruh baya dan seorang wanita muda masuk ke dalam.


"Anne!" ucap Arkan begitu mengenali wanita muda itu.


"Tuan Arkan! Anda bekerja di rumah sakit ini?" tanyanya.


"Iya! Aku bekerja di sini. Apa ini ibumu?" jawabnya sembari bertanya.


"Bukan. Dia bukan ibuku. Dia pemilik rumah yang aku sewa. Aku mengantarkannya ke sini untuk check-up. Biasanya anaknya yang mengantar. Tapi hari ini ia ada urusan. Jadi aku yang mengantarkannya." jelasnya.


"Oh begitu! Baiklah! Aku akan memeriksanya. Kau duduk saja di sini." ucapnya pada Anne.


Arkan meminta wanita paruh baya itu untuk naik ke atas ranjang untuk di periksa.


Beberapa saat kemudian, setelah pemeriksaan selesai, Anne dan wanita itu pamit untuk pulang. Tak lupa mereka menerima resep obat dari Arkan.


"Terima kasih tuan!" ucap Anne.


Mereka berdua lalu keluar dari ruangan itu. Anne lebih dulu menebus obat yang di resepkan padanya di apotik rumah sakit sebelum pulang.


Namun, ketika selesai membayar obat tersebut, ia secara tak sengaja melihat Adrian yang berjalan keluar dari rumah sakit dengan tergesa-gesa.


"Bukankah itu tuan Adrian? Apa yang dilakukannya di rumah sakit? Ah... apa Anindya sedang sakit? Atau kakek Zein? Tapi tuan Arkan terlihat biasa saja tadi. Mungkin sebaiknya aku menghubungi Anindya." gumamnya.


Ia merogoh tasnya untuk mencari ponselnya. Tapi tidak ketemu. Sepertinya ia meninggalkannya di rumah karena pergi dengan terburu-buru.


"Sebaiknya ku hubungi nanti saja. Semoga dia baik-baik saja."


Ketika wanita itu hendak pulang, seseorang memanggilnya. Dia adalah Arkan yang tampak berjalan menghampiri mereka.


"Ada apa tuan?" tanya Anne padanya.


"Jangan memanggilku tuan! Panggil saja namaku." ucapnya.


Anne tampak tersenyum masam. "Baiklah tuan! Ehm... maksudku Arkan. Ada apa?" tanyanya lagi.


"Tidak ada. Aku hanya ingin menawarkan tumpangan padamu. Kebetulan aku juga mau pulang untuk makan siang. Apa kau mau ikut bersama ku?" tanyanya.


"Ehm... aku rasa tidak perlu. Aku tidak ingin merepotkan mu. Kami akan naik taksi saja." ucapnya.


"Hei! Sama sekali tidak merepotkan. Lagi pula aku yang menawarkan diri, bukan. Ayolah!" ajaknya lagi.


"Ehm.. baiklah jika kau memaksa." ucapnya sambil tersenyum.


Arkan juga ikut tersenyum. Melihat Arkan, Anne tiba-tiba teringat sesuatu dan langsung menanyakannya pada pria itu.


"Oh ya! Apa Anindya sedang sakit?" tanyanya.


"Ha! Sakit! Aku rasa pagi tadi ia kelihatan sehat-sehat saja. Lagipula jika ia sakit, pasti ibu Sofia akan memberitahuku. Kenapa memangnya?"

__ADS_1


"Tidak. Tadi aku melihat tuan Adrian. Aku pikir mungkin kakek atau Anindya sedang sakit. Jadi aku menanyakan hal itu padamu." jelasnya.


"Kakak! Ehm... entahlah. Mungkin ia sedang menjenguk rekan bisnis atau temannya di sini." jelas Arkan.


"Mungkin juga!"


"Iya sudah! Ayo kita pulang." Ajaknya.


Mereka seketika pergi.


****************


Jam sudah menunjukkan pukul dua belas siang. Semua orang di rumah utama tampak sedang sibuk menyiapkan makanan untuk disajikan sebagai santapan siang ini.


Seperti biasa, Anindya dan Sofia berada di dapur untuk memasak makanan. Anindya tampaknya mulai menikmati kehidupan barunya yang selalu berkutat pada masalah rumah tangga.


Padahal Adrian berulang kali mengingatkannya tentang menyambung pendidikan ke Universitas. Namun Anindya merasa belum tertarik untuk kuliah. Ia hanya ingin fokus untuk merawat kakek dan juga suaminya itu.


Entahlah, sejujurnya ia masih memikirkan ayahnya yang belum juga di ketahui keberadaan. Ia masih berharap bisa bertemu dengan ayah kandungnya suatu hari nanti. Walau kemungkinan terburuknya adalah ia tak diinginkan oleh ayahnya.


Saat sedang memasak, Anindya tiba-tiba saja teringat dengan sikap Adrian pagi ini. Ia masih penasaran dengan apa yang terjadi padanya. Padahal sebelumnya mereka sedang..... Ah, Anindya malu untuk memikirkannya. Ia tiba-tiba saja tersipu malu jika mengingat hal itu.


Entah kenapa Adrian tiba-tiba saja jadi suka menciumnya. Padahal dulu untuk berbicara normal saja sangat sulit. Sekarang yang terjadi malah kebalikannya.


Sofia seketika menyadari perubahan wajah Anindya yang tiba-tiba tersipu malu seperti itu.


"Kenapa wajahmu merah seperti itu? Apa yang sedang kau pikirkan Anin?" tanyanya yang seketika menyadarkan wanita itu dari lamunannya.


"Jika tidak memikirkan apa-apa, kenapa wajahmu memerah seperti itu. Apa kau sedang memikirkan suamimu?" tanyanya yang semakin membuat Anindya salah tingkah.


Ia tertawa masam. "Siapa yang sedang memikirkan dia. Aku hanya... hanya... astaga apa yang sedang ku katakan. Aku hanya memikirkan tentang... tentang..."


"Anindya! Tidak perlu mengelak. Yang kau pikirkan adalah suamimu sendiri. Bukannya suami orang lain. Kenapa kau harus malu pada ibu. Melihat tingkahmu ini mengingatkan ibu pada mendiang nyonya muda ketika baru menikah. Tingkahnya persis sepertimu. Terkadang ia suka senyum-senyum sendiri dan tiba-tiba wajahnya memerah seperti sedang terbakar." jelasnya.


Anindya semakin gelagapan. "Oh ya! Ehm.. bu, apa Anindya boleh tahu tentang ibunya Adrian?"


"Tentu saja boleh! Nyonya muda adalah orang yang sangat baik. Ia penuh kelembutan dan kasih sayang. Tuan besar sangat menyayanginya seperti putri kandungnya sendiri. Ia selalu menolong orang lain tidak perduli bagaimana statusnya. Baik orang itu kaya ataupun tidak. Setiap bulan ia akan datang mengunjungi anak-anak dan para lansia di panti. Nyonya muda memang wanita yang luar biasa." jelasnya sambil tersenyum.


"Oh ya! Bagaimana kabar panti itu sekarang? Apa ibu tahu dimana tempatnya?" tanya Anindya.


"Tentu saja ibu tahu. Setiap bulan tuan Adrian menggantikan ibunya untuk berkunjung dan memberikan santunan pada mereka. Hanya saja setahun belakangan ini tuan Adrian tidak bisa datang mengunjungi mereka karena banyaknya masalah yang terjadi. Ia hanya mengirimkan sejumlah uang pada pengurus panti setiap bulannya." jelasnya.


"Mungkin kau bisa mengajaknya ke sana bulan depan." sambungnya sambil tersenyum.


"Apa aku boleh pergi ke sana?"


"Tentu saja boleh!"


Mereka melanjutkan kegiatan mereka.

__ADS_1


*


Setelah masakan siap, mereka menatanya di atas meja makan. Arkan akan pulang sebentar lagi untuk makan siang. Tapi entahlah dengan Adrian. Anindya tak tahu apa suaminya itu akan pulang ke rumah atau tidak.


Anindya keluar dari ruang makan untuk memanggil Zein di kamarnya. Namun ketika ia baru saja ingin masuk ke kamar pria baya itu. Ia terkejut ketika seseorang menariknya lalu tiba-tiba memeluknya.


Orang itu adalah suaminya.


"A... Adrian! Apa yang kau lakukan?" tanyanya kaget.


"Ssstttt! Jangan bertanya apapun. Biarkan aku memelukmu sebentar." ucapnya.


"Ta.. tapi kenapa?"


"Aku hanya ingin memelukmu saat ini." jelasnya.


Anindya hanya bisa pasrah ketika suaminya memeluknya. Adrian terlihat putus asa. Sebenarnya apa yang terjadi hari ini. Anindya begitu penasaran.


****************


*


*


"


*


*


*


*


*


Jangan lupa setiap baca selalu tinggalkan jejak ya. 😊😊


Jika suka dengan cerita ini, jangan lupa selalu sertakan:


like 👍


komentar 💬


vote


dan rate ⭐ ya.


Serta jadikan salah satu list favorit ❤ kamu agar kamu nggak ketinggalan setiap update terbarunya ya.

__ADS_1


Terima kasih😘💕



__ADS_2