My Dearest Wife

My Dearest Wife
Jangan menahannya


__ADS_3

Satu kata yang ingin aku sampaikan pada ayah. Rindu!


*


*


"Ayah! Buka pintunya! Biarkan Anin masuk! Anin janji akan jadi anak yang baik! Anin tidak akan minta apa-apa lagi pada ayah! Maafkan Anin! Ayah! Ayah!"


"AYAH!!!" Anindya tampak membuka matanya tiba-tiba begitu tersadar dari mimpi buruknya.


Peluh tampak membanjiri sekujur tubuhnya. Nafasnya berpacu dengan cepat. Seakan-akan dirinya baru saja berhenti berlari karena kelelahan.


Ia melihat ke sekelilingnya, ia masih berada di atas ranjangnya. Dengan Adrian yang terbaring di sampingnya.


Anindya duduk di atas ranjang sambil berusaha untuk mengatur kembali nafasnya. Ia terbangun tiba-tiba karena mimpi buruk yang membayanginya.


Ia kembali terkenang peristiwa kelamnya di masa kecil ketika ayahnya mengusir dirinya yang masih kecil. Menguncinya di luar rumah tanpa memperdulikan teriakannya yang memohon untuk membiarkannya masuk. Ia begitu ketakutan waktu itu. Walaupun ibunya berulang kali menenangkannya, tetap saja ia tak bisa berhenti menangis. Saat itu ia hanya mengira bahwa dirinyalah yang menyebabkan ayahnya marah seperti itu.


Air mata yang berusaha ia tahan sekuat tenaga akhirnya tumpah juga. Walaupun ia sudah berjanji tidak akan menangis lagi, namun tetap saja hal itu tak bisa selalu dilakukannya.


Ia menghapus air mata yang mulai membanjiri wajahnya sebelum Adrian terbangun karena suara isak tangis yang coba ditahannya.


Anindya lalu menatap meja kecil disamping ranjangnya. Di sana terpajang figura yang berisi foto ibu, nenek dan dirinya. Ia mengambil figura itu dan menatapnya. Lalu mengusap wajah ibunya yang tampak tersenyum bahagia disana. Walau ia tahu dibalik arti senyuman itu, penuh kesedihan yang coba ia tahan agar semata-mata putrinya tidak ikut merasakan kesedihannya.


Ibu! Apa yang harus aku lakukan? Aku benar-benar bingung, ibu!


Air matanya kembali mengalir membasahi wajahnya. Ia mencoba untuk menghapusnya. Namun itu tak bisa menghentikannya. Akhirnya ia memutuskan untuk keluar dari kamar setelah meletakkan kembali figura itu di atas meja.


Ia ingin mencari udara segar untuk sedikit melegakan hatinya.


Namun ketika ia turun ke bawah, ia berpapasan dengan Rian.


"Kau mau kemana tengah malam seperti ini?" tanyanya.


"Ehm... aku.. aku ingin ke dapur untuk minum, ay... maksud ku paman!" jelasnya gelagapan mencoba untuk tersenyum.


"Oh! Paman juga ingin ke dapur untuk membuat kopi. Ayo!" ajaknya.


Anindya terpaksa mengikutinya. Padahal tadinya ia ingin pergi ke taman.


Sesampainya di dapur, Anindya mengambil gelas dalam lemari penyimpanan dan menuangkan air dari dispenser. Suasana dapur terasa hening karena kebisuan keduanya.


Ketika selesai minum, ia ingin secepatnya pergi dari sana, namun entah apa yang membuatnya berubah pikiran ketika melihat Rian membuat kopi seorang diri.


"Ehm.. paman! Biar aku saja yang membuatkannya jika boleh!" ucapnya menawarkan diri.


"Apa kau bisa membuat kopi?" tanyanya tak yakin.


"Iya. Aku bisa. Biasanya aku selalu membuatkan kopi untuk Adrian. Apa paman mau ku buatkan?"


"Baiklah!" ucapnya.


Anindya lalu menyiapkan kopi itu dengan segera. Ia menanyakan terlebih dahulu berapa takaran sendok gula yang diinginkannya.


"Satu sendok saja!" jawabnya.

__ADS_1


Anindya lalu menaruh satu sendok gula di dalam cangkir itu. Lalu memberikannya pada ayahnya.


Rian sepertinya menyukai kopi buatan Anindya. Ia tampak menikmatinya.


"Sepertinya kau berbakat untuk merebut hati seseorang. Tak heran jika Adrian yang tidak mudah dekat dengan seseorang mau menikah denganmu." ucapnya entah dengan maksud memujinya atau menyindirnya.


"Maksud paman?" tanyanya.


"Iya! Kau bisa dengan mudah masuk kedalam keluarga ini dan menjadi bagian di dalamnya. Padahal kau hanya orang asing sebelumnya. Itu membuktikan bahwa kau sangat pandai merebut hati orang, bukan?"


Anindya hanya tersenyum masam. Ia mengerti jika ayahnya itu sedang menyindirnya saat ini.


"Ehm... aku kembali ke kamar dulu ya, paman. Permisi!" ucapnya.


"Iya. Terima kasih untuk kopinya!" ucapnya sambil tersenyum.


Anindya hanya mengangguk sambil tersenyum.


Namun ketika Anindya hendak keluar dari dapur, Rian kembali berkata padanya.


"Pastikan jika kau bisa seterusnya mengambil hati Adrian, karena mungkin suatu saat nanti ketika dia merasa bosan, dia akan membuang mu. Seperti yang biasanya dia lakukan. Dia selalu membuang mainan yang tidak di sukai nya lagi." sindirnya sambil tetap tersenyum kepadanya.


Anindya terdiam ketika mendengar perkataan yang keluar dari mulut ayahnya itu. Kenapa itu terdengar sangat kejam dan menyakiti hatinya. Seakan-akan Adrian hanya menganggapnya tak lebih dari mainannya saja selama ini. Walaupun ia tahu pasti jika pria itu tak punya perasaan padanya, namun ia tak pernah berpikir jika Adrian hanya menganggapnya barang atau benda mati yang tak berperasaan.


Dan yang lebih menyakitkan lagi, kata-kata itu justru keluar dari mulut ayahnya sendiri. Kenapa ia bisa mengatakan hal itu padanya?


Anindya tak kuasa menahan air matanya. Namun ia tak bisa menangis di hadapannya. Ia segera meninggalkan dapur dan berjalan ke kamarnya.


Anindya tampak menarik nafas panjang ketika berada di depan pintu kamarnya. Ia menghapus kembali air mata yang sempat lolos dari pertahanannya.


Namun, ia terkejut ketika melihat suaminya itu sudah bangun dan sedang duduk di atas sofa dengan bertelanjang dada dan kaki berselonjor. Wajahnya tampak kesal.


Adrian kesal karena tak mendapati istrinya di sampingnya ketika terbangun tadi. Ia mencarinya ke setiap sudut kamar tapi tak menemukannya. Akhirnya ia duduk di atas sofa sembari menunggunya.


"Tutup pintunya! Lalu kemari! Aku ingin bicara denganmu." perintahnya sambil memainkan jemari telunjuknya.


Anindya mengikuti perintahnya. Ia mendekati Adrian setelah menutup pintu.


"Kenapa wajahmu terlihat kesal?" tanya Anindya dengan polosnya.


Adrian lalu menariknya hingga ia terduduk di atas pangkuannya.


"Bukannya kau ingin bicara padaku? Apa tidak bisa sambil berdiri saja. Kan tidak perlu sedekat ini." Anindya ingin beranjak, namun Adrian menahannya dengan memeluk pinggangnya. Menguncinya hingga ia tak bisa lari kemanapun.


Anindya memalingkan wajahnya karena merasa canggung berada sedekat itu dengannya.


Adrian memegang dagunya, memaksanya untuk menoleh menatapnya.


"Kenapa kau masih tak berani menatap mataku? Ketika berbicara denganku, kau harus menatapku. Mengerti?"


Anindya menganggukkan kepalanya.


"Apa kau sedang sedih?" tanyanya ketika kembali menemukan kesedihan di mata istrinya.


"Ti... tidak! Aku baik-baik saja." ucapnya.

__ADS_1


"Matamu tidak bisa berbohong Anindya." Adrian mengusap buliran air mata yang tersisa di sudut matanya. "Apa yang membuatmu sedih? Katakan padaku!"


Anindya hanya diam. Ia tak tahu harus berkata apa saat ini. Ia tak ingin Adrian tahu tentang pamannya.


"Kau merindukan ayahmu?" tanyanya mencoba menebak dari apa yang ditangkapnya ketika Anindya tak henti menatap pamannya saat di ruang makan tadi.


Anindya lagi-lagi hanya diam. Lalu menggelengkan kepalanya.


Adrian tersenyum. "Jika kau merindukannya, itu hal yang wajar. Karena ia masih ayahmu. Terlepas bagaimana sikapnya padamu dulu. Jadi kau tak perlu malu dan menyembunyikannya dariku. Katakan saja jika kau merindukannya. Jangan menahan apalagi menyimpannya sendiri. Itu hanya akan menyakitimu. Apa kau mau aku bantu untuk mencarinya?"


"Tidak. Kau tak perlu mencarinya. Karena aku sudah menemukannya."


"Baiklah! Jika kau berubah pikiran, katakan padaku."


Anindya mengangguk. Air matanya kembali terjatuh. Ia ingin menghapusnya, namun Adrian mencegahnya.


"Jangan menahannya! Jika ingin menangis, menangislah! Itu tak akan membuatmu terlihat lemah."


Perkataan Adrian membuatnya semakin ingin menangis. Ia tak lagi menahannya. Adrian memeluknya dan membenamkan wajahnya ke dadanya.


Ia mengusap punggungnya untuk menenangkannya. Dan terdiam, membiarkan wanita itu menangis sepuasnya.


****************


*


*


*


*


*


*


*


Jangan lupa setiap baca selalu tinggalkan jejak ya. 😊😊


Jika suka dengan cerita ini, jangan lupa selalu sertakan:


like 👍


komentar 💬


vote


dan rate ⭐ ya.


Serta jadikan salah satu list favorit ❤ kamu agar kamu nggak ketinggalan setiap update terbarunya ya.


Terima kasih😘💕


__ADS_1



__ADS_2