My Dearest Wife

My Dearest Wife
Honeymoon


__ADS_3

Waktu masih menunjukkan pukul tiga dini hari. Adrian masih terjaga dari tidurnya.Entah apa yang sedari tadi di kerjaannya. Ia tampak bingung.


Sementara Anindya tampak tertidur pulas di atas sofa dengan tubuh polosnya yang tertutupi oleh selimut.


Ia masih penasaran bagaimana cara pamannya menyelinap pergi tanpa di ketahui oleh orang suruhannya.


Ia juga sebelumnya sudah memastikan pada Anne bahwa orang yang dilihatnya kemarin memang pamannya.


Apa mungkin ia menyamar menjadi orang lain untuk mengelabui bawahannya?


"Jika benar seperti itu, artinya ia tahu jika aku mengawasinya." gumamnya.


"Tapi, tidak mungkin ia sepintar itu, kan? "


Bruk...


Adrian menoleh ke asal suara. Anindya jatuh terlentang dari atas sofa. Ia segera menghampirinya.


"Apa ada yang sakit?" tanyanya sambil membantunya duduk.


"Pinggul ku!" ia tampak mengusap-usap bagian belakang pinggangnya.


Adrian mengangkat tubuhnya dan mendudukkan Anindya di atas sofa.


"Kenapa kau bisa jatuh?" tanyanya sambil memijat pinggulnya.


"Aku tidak tahu. Lagipula bukankah kau tadi tidur di sampingku. Ini salahmu karena tidak menghalangiku. " ia tampak menggerutu.


Adrian tersenyum. "Iya!Ini memang salahku. Maafkan aku!" pintanya mengalah.


"Ayo! Kita pindah ke kamar saja. " ajaknya lalu mengangkat tubuh istrinya tersebut.


Anindya melingkarkan lengannya di leher Adrian.Lalu pria itu membawanya ke dalam kamar.


***


"Jangan tinggalkan aku lagi, ya! Jika kau meninggalkan aku lagi, aku akan marah padamu!" ancam Anindya pada Adrian ketika mereka merebahkan tubuh di atas ranjang.


"Iya, istriku sayang! Aku janji! Tidurlah! " pintanya. kepada istrinya tersebut.


Anindya memeluknya dengan erat. Seakan tak ingin pria itu kabur dari sisinya.



Ia lalu kembali memejamkan matanya. Tapi tidak dengan Adrian. Pria itu tampak mengusap kepalanya dengan lembut. Membuainya hingga wanita itu kembali terlelap dalam tidurnya.


Adrian tampak memperhatikan wajah Anindya.Hingga akhirnya ia juga ikut tertidur pulas sambil memeluknya.


****************


Pagi harinya Anindya tampak merapikan ranjang seperti biasanya.


Adrian tiba-tiba masuk ke kamar dan memeluk istrinya itu dari belakang.


"Aku punya sesuatu untukmu." ucapnya kemudian.


"Apa?" tanya Anindya penasaran.


"Kita akan pergi ke suatu tempat hari ini!" ucapnya.

__ADS_1


"Kemana? " tanyanya penasaran.


"Nanti kau juga akan tahu. " jawabnya memberi teka-teki padanya.


****************



"Kenapa kita naik jet pribadi? Memangnya kita mau kemana? " tanya Anindya begitu mobil yang mengantarkan mereka berhenti di lapangan parkir khusus pesawat.


Ini kali pertama Anindya berpergian dengan pesawat, apalagi pesawat pribadi yang hanya akan di tumpangi olehnya juga Adrian.


"Honeymoon! " jawabnya santai sambil menggiring tubuhnya menaiki jet tersebut.


"Honeymoon! Ta-tapi aku belum mempersiapkan apa-apa! Pakaianku? Bagaimana dengan pakaian dan barang-barang ku yang lain? Kenapa kau selalu bersikap semau mu?" Anindya tampak tak berkutik ketika Adrian mendudukkannya di dalam jet.


"Tidak perlu pikirkan apapun. Ibu Sofia sudah mengurus segala keperluan mu. Kau hanya perlu duduk manis saja." ucap Adrian lalu memberi kecupan di dahinya.


"Dasar pria arogan! " gerutunya.


Tak lama ada seorang wanita lain muncul di hadapan mereka. Jika dilihat dari pakaiannya sepertinya dia seorang pramugari khusus di sini.


Ia membantu Anindya untuk mengenakan sabuk pengaman. Karena pesawat jet tersebut akan segera terbang entah kemana.


****


Perjalanan akan memakan waktu beberapa jam. Sepertinya sangat lama. Anindya terus menerus menanyakan hal yang sama selama perjalanan. Kemana tujuan mereka pergi? Dan Adrian selalu menjawab dengan jawaban yang sama pula. "Nanti kau juga akan tahu?"


"Apa kau tidak punya jawaban yang lain? Kau tidak berencana untuk membuang ku ke tempat yang tidak terdeteksi, kan?"


Adrian tertawa gemas. "Mungkin! Jika kau tidak berhenti bertanya, aku mungkin akan benar-benar membuang mu." ia tiba-tiba terlihat serius.


Beruntung pramugari menyediakan makanan dan cemilan yang lezat untuk menutup mulut istrinya yang tidak berhenti bertanya itu. Sehingga Adrian tidak terlalu pusing menjawab pertanyaannya.


****


Adrian kini sudah duduk bersebelahan dengan istrinya. Mereka baru saja selesai makan.


Adrian tampak memeriksa tab nya. Sementara Anindya tampak melihat pemandangan luar melalui kaca jendela pesawat.


"Tahu tidak! Ini kali pertama aku berpergian dengan pesawat terbang. Dulu aku hanya bisa menatapnya dari atas langit. Begitu saja aku sudah senang. Suatu hari aku meminta pada ibuku agar ia membawa ku pergi ke tempat dengan menggunakan pesawat. Tetapi ibu hanya tersenyum. Ibu bilang jika aku ingin naik pesawat , maka aku harus rajin menabung karena untuk naik pesawat membutuhkan uang yang banyak. Saat itu usiaku. sekitar tujuh tahun. Aku selalu menyisihkan uang saku ku dan menyimpannya di sebuah kotak.Aku berharap jika suatu hari aku bisa membawa ibu ku berpergian dengan pesawat. Dia pasti akan sangat bahagia." raut wajah Anindya seketika berubah. Ada kesedihan yang terlukis di sana.


Adrian tentu menyadari perubahan raut wajah istrinya itu.


"Tetapi aku tidak sempat untuk mewujudkannya. Ibu sudah lebih dulu pergi meninggalkan aku sebelum aku sempat membuatnya bahagia." Ia melihat Adrian yang menggenggam tangannya.


Pria itu tampak cemas padanya.


"Mungkin dulu aku hanya bisa bermimpi. Tapi kini aku bahkan naik pesawat khusus yang hanya dipersiapkan untuk ku." ia lalu tertawa.


Adrian juga ikut tertawa. "Aku sudah pernah mengatakan padamu. Aku akan memberikan apapun yang dulu tidak pernah kau dapatkan. Bahkan memberikan yang terbaik dari yang kau harapkan."


"Kenapa kau sangat memanjakan aku. Aku jadi semakin tergila-gila padamu." ucapnya sembari menyandarkan kepalanya di pundak Adrian.


"Itu yang ku harapkan. Aku tidak akan memberi celah padamu untuk berhenti mencintaiku."


Anindya tersenyum. Lalu ia mulai berpikir untuk menggoda suaminya lagi. Ia mulai bersikap nakal dengan menyelipkan tangannya di balik kaos yang dikenakan suaminya itu. Meraba-raba otot perutnya yang dirasa sangat keras.


Adrian memang selalu memperhatikan kebugaran tubuhnya dengan serius. Karena itulah ia memiliki ruangan olahraga khusus di rumahnya. Otot-otot tubuhnya terbentuk dengan sempurna.

__ADS_1


Anindya merasa senang karena hanya ia saja yang bisa melihat bagaimana sempurnanya tubuh suaminya tersebut.


"Anindya! Jangan mencoba untuk menggodaku, karena kau tidak akan tahan menghadapi konsekuensi nya." ancamnya.


"Aku tidak sedang menggoda mu. Aku hanya ingin meraba perut mu saja. Itu terasa menyenangkan!" ucapnya tanpa rasa bersalah sedikitpun.


Ia terus meraba-raba perutnya.


"Anindya!" serunya menahan geram.


Ia memegang tangan itu. Dan membisikkan sesuatu di telinganya.


"Jika kau ingin bermain-main denganku, di belakang sana ada kamar yang bisa kau gunakan. Aku tidak keberatan melayani mu."


Wajah Anindya seketika merona merah. Adrian lalu menariknya ke dalam kamar yang ada di bagian belakang.



Lalu dengan cepat menjatuhkan wanita itu di atas ranjang. Ia menutup pintu ruangan dan memulai honeymoon nya lebih cepat dari rencana awal.


****************


*


*


*


*


*


*


*


*


*


*


Jangan lupa setiap baca selalu tinggalkan jejak ya. 😊😊


Jika suka dengan cerita ini, jangan lupa selalu sertakan:


like 👍


komentar 💬


vote


dan rate ⭐ ya.


Serta jadikan salah satu list favorit ❤ kamu agar kamu nggak ketinggalan setiap update terbarunya ya.


Terima kasih😘💕


__ADS_1


__ADS_2