My Dearest Wife

My Dearest Wife
Menangis lagi


__ADS_3

"Kakek! Anin punya sesuatu untuk kakek!" ucapnya pada Zein ketika berada di kamarnya.


Mereka hanya berdua saja saat itu. Anin menyerahkan bungkusan berwarna biru muda pada pria baya itu.


"Apa ini?" tanyanya penasaran sambil membukanya.


"Kakek lihat saja! Anin harap kakek menyukainya. Anin tidak tahu barang apa yang kakek sukai. Jadi Anin membuatnya untuk kakek."


"Sebuah syal. Kau yang membuatnya sendiri?" tanyanya memastikan.


"Iya. Apa kakek menyukainya?"


"Tentu saja. Ini hadiah terindah yang kakek terima. Terima kasih, nak!" ucapnya sambil mencium puncak kepalanya.


"Anin yang seharusnya berterima kasih pada kakek. Kakek sudah menggantikan ibu dan nenek untuk menyayangi Anin hingga Anin tak pernah merasakan kekurangan kasih sayang. Terima kasih untuk semuanya, kakek. Anin sayang kakek!"


Anindya memeluk pria baya yang sudah dianggapnya sebagai kakek kandungnya sendiri itu. Ia menangis dalam pelukannya. Zein menepuk punggungnya pelan untuk menenangkannya.


****************


Anne dan para pelayan lainnya tampak baru saja kembali ke rumah besar. Mereka tampak sangat menikmati hari ini. Bisa bekerja di rumah ini adalah suatu keberuntungan. Mereka terlihat menuju ke paviliun belakang untuk beristirahat.


Di bangunan dua tingkat itulah mereka tinggal. Paviliun itu memiliki puluhan kamar dan disertai dengan fasilitas yang lengkap. Seperti dapur, ruang santai yang dilengkapi dengan televisi, dan pendingin ruangan di setiap kamarnya. Mereka benar-benar dimanjakan dengan rasa kenyamanan. Tentunya semua itu harus sesuai dengan timbal-balik yang mereka berikan pada tuan rumah mereka. Loyalitas pada pekerjaan mereka.


Sofia yang selama ini mengatur pekerjaan mereka. Adrian mempercayakan semua itu padanya.


Anne dan dua pelayan lainnya tampak berjalan menuju ke kamar mereka. Namun tiba-tiba ada seseorang yang membekap mulutnya dan membawanya menjauh dari kedua pelayan tersebut. Dan tampaknya kedua pelayan itu tidak menyadarinya karena mereka berada di depan Anne saat itu.


"Eh! Dimana Anne? Bukankah dia ada di belakang kita tadi?" tanya orang satunya kepada temannya.


"Iya ya! Kemana dia? Ehm... mungkin ada barangnya yang tertinggal di mobil. Jadi dia pergi untuk mengambilnya." tebaknya.


"Mungkin juga." Mereka berdua melanjutkan perjalanan mereka.


Mereka meninggalkan Anne begitu saja. Anne dibawa ke salah satu sudut di rumah besar. Ia berusaha untuk melepaskan dirinya dengan meronta.


"Tenanglah, Anne! Ini aku!" ucap Arkan.


Anne akhirnya berhenti meronta setelah mendengar suaranya. Arkan melepaskan tangannya dari mulut wanita itu.


"Kenapa tuan selalu melakukan hal itu padaku? Apa tuan tidak takut aku terkena serangan jantung mendadak?" tanyanya kesal.


"Jika kau terkena serangan jantung, aku akan mengobati mu." jawabnya dengan tersenyum.


"Tuan!" serunya kesal.


Arkan lalu menguncinya dengan kedua tangan yang ia tempelkan di dinding. Anne yang berada di jarak sedekat itu Arkan merasa canggung. Tapi tidak dengan sikap pria itu yang terlihat biasa saja. Apa perlu bicara dengan posisi sedekat ini?


"Maaf! Aku hanya ingin berbicara padamu." sahut Arkan.


"Apa begini caramu berbicara dengan wanita?" tanyanya canggung.


"Tidak. Hanya denganmu. Begini, apa kau ada acara akhir pekan ini?" tanyanya.

__ADS_1


"Akhir pekan? Ehm... sepertinya tidak. Tapi aku kan harus bekerja."


"Begitu! Jika kau tidak acara maka tidak masalah. Aku akan meminta izin dari ibu Sofia. Baiklah! Sampai ketemu akhir pekan nanti." ucapnya lalu pergi begitu saja dari hadapannya.


"Tapi... tuan! Memangnya mau apa akhir pekan nanti. Tuan Arkan!" Anne berusaha untuk memanggilnya berharap ada penjelasan.


Tapi pria itu malah pergi begitu saja. Meninggalkan dengan sejuta tanda tanya.



****************


Anindya baru saja keluar dari kamar Zein setelah pria itu tertidur. Sepertinya Zein sangat kelelahan hari ini. Di usianya yang sudah senja, ia pasti mudah sekali merasa kelelahan.


Anindya lalu berjalan menuju kamarnya. Saat ia melintas di area ruang tamu, ia berpapasan dengan pak Wisnu, supir Adrian.


"Maaf nyonya! Saya ingin memberikan berkas milik tuan. Tadi tertinggal di dalam mobil. Mungkin tuan lupa membawanya." jelasnya sambil menyerahkan amplop coklat itu padanya.


"Oh iya! Nanti akan saya berikan pada Adrian. Terima kasih ya pak." Ucap Anindya.


Pria itu lalu berpamitan padanya. Anindya naik ke atas untuk mencari Adrian. Tadi sepertinya ia sedang berada di ruang kerjanya.


Namun ketika berada di lantai dua, ia berpapasan lagi dengan Rian. Seharian tadi ia sengaja menghindari pria baya itu. Tapi sepertinya ia tak bisa menghindarinya ketika berada di rumah.


Mau tak mau ia harus bertemu dengannya.


"Selamat malam, paman!" sapa nya canggung sambil memaksakan senyumannya.


Rian hanya tersenyum simpul. Namun tanpa ekspresi sedikitpun.


Entah pria itu bermaksud untuk memujinya atau tidak. Anindya tak terlalu memperdulikannya.


Rian langsung turun ke bawah tanpa berbasa-basi lagi. Anindya juga melakukan hal yang sama.


Ia sudah berdiri di depan ruang kerja Adrian. Tapi sepertinya nanti saja ia menemuinya. Ia memilih untuk mandi terlebih dahulu. Ia merasa kegerahan karena hanya mandi pagi tadi saja.


Ia masuk ke dalam kamar. Ia meletakkan amplop coklat itu di atas meja dekat sofa. Ia lalu masuk ke dalam kamar mandi.


Ia berjalan ke arah cermin besar yang ada di dasa. Menatap sendu pantulan dirinya yang terlihat menyedihkan. Matanya yang sembab karena terlalu banyak menangis, mengingatkannya dengan apa yang terjadi di pesta tadi.


Bimo sangat keterlaluan. Ketika ia di sekolah pun, pria itu lah yang menjadi penyebab dirinya menjadi bahan ejekan satu sekolahnya. Padahal ia sudah berusaha keras untuk melupakan masa kelam itu. Namun kemunculan pria itu kembali mengingatkannya.


Rasanya seperti luka lama yang sudah kering, tapi kembali terbuka dan terkena percikan air asam. Sangat perih, bukan!


Ia membuka pakaiannya dan berjalan ke arah pancuran. Ia memutar kran yang di setel ke air hangat. Di bawah guyuran air, ia kembali menangis. Mengingat ibu, nenek dan dirinya sendiri. Bagaimana dulu mereka mendapatkan penghinaan dari setiap orang. Sementara ayahnya hidup dengan bahagia bersama keluarga barunya. Mereka hidup tenang tanpa gangguan dari siapapun. Jika dibilang iri, tentu saja ia sangat iri. Ia merasa iri setiap kali melihat Clarissa bisa memiliki hidup yang layak, pakaian yang bagus, makanan yang enak setiap hari tanpa harus memikirkan bagaimana ia bisa mendapatkannya.


Jika dibilang iri, ia memang sangat iri pada mereka. Kenapa? Kenapa ia juga tak bisa mendapatkan hidup sepertinya.


Mungkin satu kata yang bisa menggambarkan ayahnya saat ini di hatinya. Kejam.


Jika saja dulu, tidak, sekalipun itu bisa di ulang kembali, ia tak ingin memiliki ayah seperti dirinya.


Sekarang yang bisa dia lakukan hanyalah menangis dan menangis. Ia sudah lelah.

__ADS_1


Anindya begitu terhanyut dalam kesedihannya, hingga ia tak menyadari kehadiran seseorang di sana.


Adrian memeluk wanita itu dari belakang. Seketika ia tersadar dari lamunannya.


"Adrian!" serunya.


"ssssttt..... Kau menangis lagi?" tanyanya.


Adrian terlihat mencium puncak kepalanya. Mengendus setiap aroma rambutnya.


"Ti-tidak! Aku tidak menangis!"


"Kau bohong. Aku sudah mengatakan padamu jika aku tak pandai menghiburmu dengan kata-kata."


"Aku tak butuh di hibur!" Ia sudah merasa jika hal ini tidak akan berakhir dengan biasa-biasa saja.


"Ssssttt... Jangan memotong pembicaraan ku. Aku mungkin tak pandai berkata-kata, tapi aku bisa melakukan hal yang lain."


Jika perkataan itu dikatakan oleh orang yang normal, mungkin itu akan terdengar biasa. Namun lain halnya dengan Adrian, ketika ia mengatakannya, itu lebih terdengar seperti seseorang yang sedang ingin memenuhi hasratnya.


Anindya sepertinya sudah mulai terbiasa dengan hal itu. Sentuhan demi sentuhan yang ia berikan, terasa seperti candu yang tak bisa dihindarinya.


****************


*


*


*


*


*


*


*


Jangan lupa setiap baca selalu tinggalkan jejak ya. 😊😊


Jika suka dengan cerita ini, jangan lupa selalu sertakan:


like 👍


komentar 💬


vote


dan rate ⭐ ya.


Serta jadikan salah satu list favorit ❤ kamu agar kamu nggak ketinggalan setiap update terbarunya ya.


Terima kasih😘💕

__ADS_1




__ADS_2