
-Anne
*
Hari ini sepertinya akan cerah. Anindya menemui Anne di sebuah cafetaria yang berada di dalam sebuah mall. Mereka janji untuk ketemu di sana.
"Hai! Apa kau sudah lama menunggu?" tanyanya ketika bertemu dengan sahabatnya itu.
"Tidak! Aku juga baru sampai. Kau mau pesan sesuatu?" tanyanya sembari memberikan buku menu padanya.
"Aku pesan orange juice saja. Kebetulan aku sudah makan tadi." jawabnya.
"Baiklah!"
Anne memanggil pelayan dan memesan minuman padanya. Mereka lalu mengobrol setelah pelayan itu pergi.
"Ada apa kau memintaku ke sini? Bukankah kau seharusnya bekerja hari ini?" tanya Anindya.
"Ehm.. Aku meminta cuti hari ini." jawabnya.
"Ada apa? Apa kau ada masalah di tempat kerjamu?" tanya Anindya penasaran.
"Tidak. Tapi... aku.. bagaimana ya menjelaskannya."
"Katakan saja padaku jika kau punya masalah. Mungkin aku bisa membantumu, Anne!" ucap Anindya.
"Ehm... Anin. Sebenarnya aku perlu bantuanmu. Karena aku pikir hanya kau saja yang bisa membantuku saat ini."
Anindya terlihat serius mendengarkan sahabatnya itu.
"Begini! Ibuku punya masalah dengan seorang rentenir. Aku tidak tahu jika selama ini ia meminjam banyak uang darinya untuk membiayai kuliahku. Padahal aku sudah mengatakan padanya jika ia tak perlu mencemaskan masalah kuliahku karena aku juga bekerja di sini. Namun ibuku sungguh keras kepala dan bersikeras untuk membiayai kuliah dan keperluanku selama di sini. Aku baru tahu beberapa hari yang lalu jika ibu tidak bisa membayar pinjaman itu dan sudah jatuh tempo. Sehingga saat ini beberapa orang rentenir selalu mendatangi rumahku untuk menagih uang itu pada ibuku." jelasnya. Lalu ia terdiam sejenak dan menggenggam tangan Anindya. "Anin, bisakah kau meminjamkan sejumlah uang padaku. Aku akan melunasinya dalam sebulan." ucapnya.
"Berapa uang yang di pinjam ibumu?"
"Ibu awalnya hanya meminjam sepuluh juta. Namun karena pinjaman itu sudah jatuh tempo beberapa minggu, rentenir itu jadi melipatgandakan pinjamannya menjadi dua puluh juta. Aku sungguh bingung harus mencari pinjaman kemana lagi. Aku sudah berusaha untuk meminjam dari bos ku, tapi ia tidak bisa memberikannya. Aku hanya kenal kau disini. Jadi apa kau bisa membantuku?" tanyanya merasa putus asa.
"Kau tidak perlu cemas Anne. Aku akan membantumu. Kau tidak perlu terburu-buru untuk mengembalikan uang itu padaku. Kau bisa membayarnya ketika kau punya uang." jelasnya sambil tersenyum.
"Benarkah! Terima kasih Anin. Aku tahu jika kau pasti bisa menolongku. Terima kasih banyak."
Sepertinya kali ini aku terpaksa menggunakan kartu itu. Aku tidak mungkin membiarkan Anne kesusahan seperti ini. Aku bisa membayarnya nanti.
*
__ADS_1
Anindya sedang berada di toilet cafe. Ia membuka salah satu bilik toilet yang kosong lalu masuk ke dalam.
Beberapa saat kemudian, ia keluar setelah menyelesaikan urusannya. Ia lalu mencuci tangannya di wastafel toilet itu.
"Oh! Lihatlah siapa ini! Ternyata nyonya Adrian ada di sini. Aku tidak menyangka bisa bertemu denganmu di sini. " seru sinis seorang wanita yang juga baru selesai menggunakan toilet.
Anindya melihat siapa wanita itu. Ternyata dia adalah Natasha. Mengapa ia bisa bertemu dengannya di sini.
"Hai Nona Natasha! Aku juga tidak menyangka akan bertemu denganmu di sini."
Natasha lalu memperhatikan penampilannya dari ujung rambut hingga ujung kaki.
"Wow! Aku rasa Adrian memperlakukanmu dengan sangat baik. Apa kau dan dia sudah melakukannya?" tanyanya.
Anindya tampak bingung. Maksudnya melakukan apa?
"Melakukan apa?" tanyanya bingung. Anindya terlalu polos
"Jika dilihat dari ekspresi mu, sepertinya kau sama sekali belum di sentuh olehnya. Tampaknya dia hanya menganggap mu sebagai pelarian saja. Ternyata dia belum bisa melupakanku. Itu bagus."
"Jika dia belum bisa melupakan mu, apa yang akan kau lakukan nona?" tanya Anindya.
"Tentu saja aku akan merebutnya kembali. Wanita hina sepertimu sangat tidak pantas untuk berdiri di sampingnya." ejeknya.
"Bagaimana bisa wanita sepertimu dijadikan menantu di keluarga itu. Atau mungkin kau menggunakan ilmu sihir untuk menaklukkan hati kakeknya Adrian. Benar-benar tidak tahu malu." lanjutnya dengan melontarkan kata-kata penuh hinaan pada Anindya.
Anindya tersenyum sinis padanya. "Apa kau sudah selesai berbicara nona? Jika sudah,maka aku akan bicara. Aku mungkin bukan seseorang yang berasal dari keluarga terpandang ataupun kaya. Tapi setidaknya terlepas dari dia menyukaiku atau tidak, akulah yang kini mendampinginya sebagai istrinya. Bukan kau nona. Kau hanya bagian dari masa lalunya yang tidak ingin diingatnya lagi. Dia bahkan tak ingin menatap wajahmu. Apa kau yakin ia masih punya perasaan terhadapmu?" sindirnya sinis.
"Adrian hanya sedang marah padaku. Nanti jika amarahnya sudah reda, ia pasti akan kembali padaku. Dan ketika saat itu tiba, maka kau harus mempersiapkan dirimu untuk kembali ke tempat asal mu."
"Kelihatannya kau begitu percaya diri, nona. Tahukah kau satu hal, bahwa aku dan dia sudah pernah....... melakukannya. Dia juga berkata padaku, bahwa dia ingin mempertahankan pernikahan kami. Jadi kenapa kau terlihat sangat percaya diri. " Anindya benar-benar tak mengerti kenapa ia malah berkata seperti itu pada Natasha.
Natasha terlihat kaget begitu mendengarnya. Raut wajahnya seketika berubah menjadi masam. Tidak seangkuh tadi.
"Kenapa diam? Apa kau tidak percaya, nona?" tanyanya sambil tersenyum.
Natasha tentu tidak kehabisan kata-kata. Ia langsung memprovokasi nya. Ia kembali tersenyum sinis.
"Jika kau dan Adrian memang sudah melakukannya, kau pasti melihatnya, kan? Apa dia masih memilikinya? Dia pasti belum menghapusnya, kan. Ah! Jika di lihat dari ekspresi wajahmu sepertinya dugaanku benar." ucapnya sambil tersenyum bangga ketika melihat ekpresi wajah Anindya yang berubah pucat.
"Kau pasti heran kenapa aku bisa mengetahuinya, bukan? Bagaimana mungkin aku tidak mengetahuinya, karena itu adalah hadiah ulang tahunku darinya. Dia benar-benar romantis sekali, kan! Aku bahkan menemaninya saat itu." Natasha semakin bersemangat untuk memprovokasi Anindya.
Anindya terdiam sejenak. Jadi itu alasannya? Lalu aku ini apa? Anindya berusaha untuk tetap tegar. Ia tak ingin Natasha semakin mengintimidasi dirinya.
__ADS_1
Ia lalu tersenyum dengan manisnya. "Mungkin saja jika dia masih punya perasaan padamu, namun pada akhirnya yang tetap berdiri disisinya tetaplah aku nona. Walaupun mungkin aku hanya bisa memiliki tubuhnya saja. Dan aku yakin seiring berjalannya waktu, aku juga bisa memiliki hatinya. Lalu bagaimana denganmu? Apa yang kau miliki darinya?"
Natasha terdiam. Ia berhasil membungkam wanita itu.
"Tidak satupun nona. Jadi jangan terlalu percaya pada dirimu sendiri. Kau hanyalah bagian dari masa lalunya."
Natasha sepertinya sudah kehabisan rasa sabarnya. Ia lalu mengangkat tangannya hendak menampar Anindya. Namun tentu saja Anindya tak membiarkannya. Ia menepis tangannya dan menggenggamnya dengan kuat.
"Jangan coba-coba nona. Karena nantinya kau yang akan menangis." ancamnya.
Anindya lalu melepaskan tangan itu dan menepisnya dengan kasar.
"Baiklah! Aku rasa tidak ada yang perlu kita bicarakan lagi. Aku permisi dulu ya!" pamitnya.
Ia lalu keluar dari sana dan meninggalkan Natasha yang kesal setengah mati padanya.
****************
*
*
*
*
*
*
*
Apa kalian suka dengan bab ini. Jika suka jangan lupa berikan
Like π
komentar π¬
vote
dan rate πΉya.
jangan lupa juga jadiin novel ini sebagai salah satu list favorite kalian ya. biar gak ketinggalan updatenya. Tekan tanda hati β€ .
Thieaπ₯π₯β€
__ADS_1