My Dearest Wife

My Dearest Wife
Dasar keras kepala


__ADS_3

"A... Apa kau tertarik padaku?" tanya Anindya.


Adrian membelai pipinya dengan lembut. Ada guratan kecemasan yang terlukis di wajah wanita itu.


"Jika aku tidak tertarik padamu, aku tidak akan sudi menyentuhmu seperti ini. Apalagi tidur seranjang denganmu setiap hari." jawabnya.


"Kau tidak akan membuang ku, kan?" tanyanya lagi.


Adrian tampak kesal dengan pertanyaannya. "Pertanyaan bodoh macam apa itu? Kenapa kau bisa berpikir seperti itu? Apa aku terlihat sekejam itu di mata mu?"


Anindya menggelengkan kepalanya. Ia tiba-tiba saja teringat perkataan ayahnya kemarin malam.


"Jangan berpikir yang tidak-tidak. Aku sudah katakan padamu sebelumnya. Aku ingin kita memulai semuanya dari awal. Tanpa ada syarat, tanpa ada perjanjian apapun. Jadi hilangkan semua prasangka buruk mu padaku. Sampai matipun aku tak akan meninggalkanmu ataupun membuang mu. Apa kau mengerti?"


Entah apa yang membuat Anindya bersedih. Air matanya mengalir begitu saja tanpa adanya pertahanan. Ia sepertinya juga tak berniat untuk menahannya. Apa ia tak perlu meragukan Adrian lagi?


"Kenapa kau menangis lagi? Apa aku mengatakan sesuatu yang salah?" tanyanya sambil menghapus air mata Anindya.


"Tidak. Aku hanya..." ia tak tahu harus berkata apa saat ini. Pikirannya sangat kacau.


"Berhentilah menangis! Atau mata mu akan membengkak. Bisa-bisa kakek berpikir jika aku memarahi mu semalaman hingga kau menangis." perintahnya sambil menghapus air mata wanita itu.


Adrian menyuruhnya untuk mandi dan berganti pakaian. Sepertinya ia tak mungkin melakukan apapun padanya saat ini. Wanita itu terlalu lelah untuk melakukannya.


Setelah memastikan wanita itu masuk ke kamar mandi, Adrian mengambil ponselnya dan berjalan ke balkon kamarnya. Ia menelpon seseorang lalu berkata setelah telepon itu tersambung.


"Bantu aku temukan seseorang!"


****************


"Kenapa aku tidak melihatmu kemarin malam? Kau pergi kemana?" Tanya Anindya pada Anne ketika berpapasan di depan kamarnya.


Wanita itu tengah membersihkan perabotan yang ada di sana.


"Aku pergi kuliah." jawabnya.


"Kuliah? Bukankah kau kuliah pagi?"


"Iya, itu sebelum aku bekerja di sini. Tuan Arkan menyarankan agar aku mengambil kuliah malam saja. Sehingga pagi harinya aku bisa bekerja. Itu akan lebih memudahkan aku. Tuan Adrian juga mengizinkan aku pulang malam di bawah jam sepuluh. Dia juga mengizinkan aku untuk tinggal di sini karena semua yang bekerja di rumah ini, harus menetap. Aku merasa sangat terbantu dengan hal itu. Aku sangat berterima kasih pada mereka. Ternyata suamimu itu sangat baik." jelasnya.


"Itu sangat bagus. Kita bisa bertemu setiap hari. Tapi... apa kau tidak lelah. Bekerja sambil kuliah?" tanyanya cemas.


"Tidak. Aku sudah terbiasa. Aku belajar darimu. Kau bahkan sudah melakukan keduanya ketika duduk di bangku Sekolah Dasar. Benarkan? " jawabnya.

__ADS_1


Anindya tersenyum ketika teringat kembali masa-masa itu. Masa-masa dimana ia harus ikut bekerja keras setelah ibunya meninggal jika ingin meneruskan sekolahnya. Ia tak ingin membebani neneknya yang berpenghasilan pas-pasan.


"Tapi sepertinya jika aku perhatikan, tampaknya kau terlihat jauh lebih kelelahan dari pada aku. Apa.. suamimu itu menyiksamu sepanjang malam?" tanyanya menyelidiki.


"Bicara omong kosong. Sudahlah! Aku mau pergi ke dapur." sahutnya sambil memalingkan wajahnya yang memerah.


"Tuh kan. Wajahmu tidak bisa berbohong. Tebakanku benar, kan?" Anne terus saja menggodanya.


"Terserah kau saja." ucapnya lalu segera berlalu pergi.


Anne tersenyum melihat sahabatnya yang salah tingkah.


*


Anindya tampak berhenti di ujung tangga ketika melihat pemandangan sebuah keluarga yang membuatnya iri. Gadis muda itu tampak kegirangan menunjukkan gaun baru yang baru saja di belikan oleh ayahnya. Ia berterima kasih padanya sambil mencium kedua pipinya.


Dia terlihat sangat senang. Kenapa ia tak bisa seberuntung itu?


Anindya tampak termenung memikirkannya. Hingga tak sadar ada seseorang yang tiba-tiba memeluknya dari belakang. Ia tampak kaget. Itu adalah Adrian. Ia baru keluar dari ruang kerjanya. Ia tidak akan pergi ke kantor hari ini. Besok adalah ulang tahun kakeknya. Sehingga ia memutuskan untuk menemani kakeknya saja hari ini.


"Apa yang sedang kau pikirkan, hemm? Kenapa termenung di sini? Sedang memikirkan aku?" tanya Adrian sembari menjatuhkan kepalanya di pundak Anindya.


"Adrian! Bagaimana jika ada yang melihat? Jangan seperti ini."


"Memangnya kenapa jika ada yang melihat? Aku kan memeluk istriku." Ia tak mau melepaskan pelukannya.


"Adrian!" serunya.



"Astaga! Apa kalian tak bisa bermesraan di tempat lain. Kenapa selalu saja mengotori mata suciku ini. Apa tidak kasihan melihatku?" Arkan tampak menggerutu pada sepasang suami istri yang menghalangi jalannya sambil pamer kemesraan di hadapannya.


"Apa kau iri? Carilah kekasih mu sana! Jangan menggangguku!" tegur Adrian lalu melepaskan pelukannya.


"Dasar sombong! Kau saja kakek yang harus turun tangan untuk mencarikan mu istri." gerutu Arkan.


"Jika begitu, mintalah pada kakek agar ia juga mencarikan seorang wanita untukmu."


Anindya memutuskan untuk pergi daripada mendengarkan perdebatan kedua kakak beradik yang kehilangan wibawanya dalam sekejap. Mereka lebih terlihat seperti dua anak kecil yang sedang memperebutkan mainan.


****************


Sementara itu di sebuah apartemen, Natasha sedang bersama dengan Jackson. Pria itu baru saja mengantarkannya pulang ke apartemen setelah mendapat izin dari rumah sakit setelah dinyatakan sembuh.

__ADS_1


"Terima kasih karena sudah mengantarkan aku pulang. Sekarang tolong pergilah! Aku ingin sendiri saat ini." pintanya pada pria berambut merah itu.


"Aku tidak akan pergi kemanapun. Jangan harap aku akan bersedia meninggalkan mu seorang diri di sini. Aku tak ingin kau berbuat sesuatu yang akan menyakiti dirimu lagi." sanggahnya.


"Jackson! Tolong mengertilah! Aku hanya ingin sendiri. Aku tidak akan melakukan apapun lagi. Jadi tolong pergilah!"


"Tidak akan! Sekalipun kau memanggil keamanan untuk mengusirku, aku tidak akan pergi." Jackson tetap teguh pada pendiriannya. Ia merasa sangat cemas pada wanita itu.


Natasha mencebik bibirnya. "Terserahlah!" ucapnya lalu masuk ke dalam kamarnya.


"Dasar keras kepala!" gumamnya pelan sebelum menutup pintu kamarnya.


Jackson tampak tersenyum ketika Natasha tak mempermasalahkan kehadirannya di sana. Ia sudah memutuskan akan mengejar wanita itu kembali. Benar apa yang dikatakan oleh Adrian kemarin. Seharusnya ia tak menyerah terhadap cintanya. Ia malah harus berusaha keras untuk meluluhkan hati wanita itu.



****************


*


*


*


*


*


*


Jangan lupa setiap baca selalu tinggalkan jejak ya. 😊😊


Jika suka dengan cerita ini, jangan lupa selalu sertakan:


like 👍


komentar 💬


vote


dan rate ⭐ ya.


Serta jadikan salah satu list favorit ❤ kamu agar kamu nggak ketinggalan setiap update terbarunya ya.

__ADS_1


Terima kasih😘💕



__ADS_2