
"Tuan! Apa kau sedang bercanda denganku?" tanyanya ketika Arkan mengatakan padanya bahwa ia saat ini adalah kekasihnya.
"Untuk saat ini tidak. Sebenarnya itu tujuan ku mengajakmu keluar hari ini." jawabnya.
"Maksudnya bagaimana? Aku tidak mengerti." tanyanya semakin bingung.
"Jadi begini, ada seorang wanita yang sedang mengejar ku. Dia sudah berulang kali menyatakan perasaannya padaku. Tapi aku tidak menyukainya. Aku sudah mengatakan padanya bahwa aku sudah mempunyai kekasih. Tapi dia tetap saja tidak percaya dan terus mengejar ku. Itu sangat menganggu ku. Aku mencoba untuk terus meyakinkannya. Akhirnya ia mengatakan jika ia akan berhenti untuk mengejar ku jika aku menunjukkan kekasih ku padanya. Tapi masalahnya aku tidak punya kekasih. Jadi aku ingin kau berpura-pura menjadi kekasih ku." jelasnya.
"Apa kau sedang bercanda denganku, tuan? Kenapa harus aku? Apa kau tidak punya teman wanita yang lain? Lagipula apa dia akan percaya begitu saja jika aku ini kekasih mu?" tanyanya panik.
"Tenang saja! Dia pasti akan percaya. Lagipula aku tidak punya teman wanita. Satu-satunya wanita yang dekat denganku selain ibu Sofia dan kakak ipar hanyalah kau. Aku tidak mungkin meminta bantuan dari mereka berdua. Jadi hanya kau saja pilihan yang ku punya. Kau mau membantuku, kan?" tanya Arkan penuh harap.
"Tapi.... " Anne masih tampak ragu.
"Sudah! Tidak perlu cemas. Ini hanya untuk hari ini saja. Aku mohon bantu aku!" pintanya.
Ck! Bagaimana ini? Tapi aku tidak mungkin menolak permintaannya. Bagaimana jika dia memecat ku? Sangat sulit untuk mencari pekerjaan dengan gaji bagus plus fasilitas yang memadai seperti ini. Batinnya. "Baiklah tuan! Aku bersedia untuk membantumu."
"Benarkah! Terima kasih! Anak baik!" ucapnya gemas sambil mencubit pipi kiri Anne.
Anne tampak tersenyum masam sembari mengusap pipinya yang terasa sakit. Ia merasa sikap Arkan sangat aneh.
****************
Langit siang ini tampak cerah walaupun panasnya matahari serasa membakar sekujur tubuh.
Anindya masih berada di ruang kerja Adrian. Ia terlihat berdiri di jendela kaca yang memperlihatkan pemandangan kota yang indah. Letak gedung ini memang sangat strategis. Berada persis di tengah kota.
Adrian sendiri tampak sibuk kembali dengan pekerjaannya. Ia memang sangat sibuk setiap harinya. Tadinya Anindya ingin pulang ke rumah, namun Adrian tidak mengizinkannya.
"Ternyata saat serius bekerja, ia terlihat tampan. Biasanya juga tampan, tapi kali ini ketampanan jadi bertambah dua kali lipat." gumamnya tanpa sadar ketika memperhatikan Adrian dari tempatnya berdiri.
Ia tersenyum dan merasa tak percaya jika pria tampan itu kini telah menjadi suaminya. Tanpa sadar ia terus memperhatikan Adrian sambil tersenyum. Namun seketika senyumannya memudar ketika teringat sesuatu.
Mungkinkah dua orang yang sebelumnya tidak pernah saling mencintai bisa saling jatuh cinta? Apakah aku sudah jatuh cinta padanya? Aku bahkan tidak pernah tahu bagaimana rasanya jatuh cinta. Lalu bagaimana aku bisa tahu jika aku jatuh cinta padanya? Batinnya bertanya-tanya.
Anindya duduk di salah satu kursi yang ada di hadapan Adrian. Ia merasa sangat bosan berada di ruangan ini tanpa melakukan apapun. Rasanya ia ingin sekali membuat Adrian kesal hingga akhirnya pria itu mengizinkannya untuk pulang.
"Adrian! Kapan kau akan mengizinkanku pulang? Aku tidak ingin mengganggu pekerjaanmu disini! Aku pulang saja ya!" bujuk nya.
"Tidak. Kau tidak boleh pulang sekarang. Kita akan pulang bersama sore nanti. Aku sama sekali tidak merasa terganggu dengan kehadiranmu." larangnya.
"Tapi aku sudah janji pada kakek untuk menemaninya bermain catur sore ini. Memangnya kau tidak takut jika nanti kakek marah padamu karena menahan ku di sini?" Anindya masih mencoba untuk membujuknya.
"Tidak. Aku tidak takut. Lagipula aku yakin kakek tidak akan marah padaku. Aku juga bisa membujuknya jika ia marah. Jadi kau duduk saja dengan manis di sana." sahut Adrian sambil tersenyum sinis.
"Adrian!" ia tampak kesal.
Sementara pria itu melanjutkan pekerjaannya tanpa rasa bersalah sedikitpun.
***
__ADS_1
Satu jam kemudian.
Entah apa saja yang dilakukan Anindya sedari tadi untuk mengusik ketenangan Adrian. Ia memang sengaja melakukannya agar pria itu akhirnya mengusirnya pulang karena kesal. Tapi sepertinya tidak berhasil karena Adrian tampak tidak merasa terganggu dengan keributan yang dibuatnya.
Padahal ia sudah sangat cerewet hari ini. Ia menanyakan pertanyaan yang tidak penting padanya. Tapi pria itu malah dengan sabar menjawabnya walaupun ia sedang bekerja.
"Apa lagu favoritmu?" tanyanya.
"Tidak ada." jawab Adrian tanpa beralih dari pekerjaannya.
"Siapa tokoh idola favoritmu?"
"Tidak ada."
"Apa kau tidak punya ketertarikan pada sesuatu? Hidupmu membosankan sekali!" ledek Anindya.
"Aku hanya tertarik pada satu hal." ucapnya.
"Apa itu?" tanya Anindya penasaran.
"Kau." jawabnya singkat.
Pipi Anindya tiba-tiba bersemu merah ketika mendengar hal itu.
"Selain aku?"
"Tidak ada."
"Siapa yang paling berarti di hidupmu selain kakek?"
"Diantara Natasha dan aku siapa yang paling cantik dan lebih kau sayangi?" tanya Anindya yang seketika membuat Adrian menghentikan pekerjaannya.
Ia lalu menatapnya kesal.
"Aku rasa aku sudah salah bicara." Anindya terlihat takut.
Adrian lalu beranjak dari kursinya dan menghampiri Anindya. Ia memutar kursi yang didudukinya hingga menghadap ke arahnya.
"Sudah ku katakan berapa kali padamu. Aku tidak suka jika kau membandingkan dirimu dengan orang lain. Apalagi dengan wanita itu. Apa kau tidak mengerti perkataan ku?" ucapnya sedikit membentak hingga membuat Anindya tak berkutik.
Ia pun hanya bisa mengangguk. " M-maaf aku kan hanya bertanya!" pintanya.
"Kau tidak bisa dibandingkan dengannya ataupun dengan yang lainnya. Kau sangat jauh berada di atasnya. Seharusnya kau tidak perlu menanyakan hal seperti itu padaku. Apa kau mengerti perkataan ku? Jika aku dengar kau bertanya seperti itu lagi padaku, lihat saja apa yang akan ku lakukan padamu." ucapnya sambil mengancam.
"Memangnya a-apa yang akan kau lakukan padaku?" tanyanya seperti ingin menantangnya.
"Kau ingin tahu apa yang akan ku lakukan padamu?"
Anindya terdiam. Sepertinya ia sudah salah bicara lagi. Bagaimana ia bisa menantangnya seperti itu.
"Lihat apa yang akan ku lakukan padamu."
__ADS_1
Adrian menciumnya tanpa izin. Ia tak membiarkan Anindya mempersiapkan dirinya terlebih dahulu. Ia tampak gemas melihat istrinya yang terkadang sangat polos dan selalu merasa rendah diri.
Anindya tampak kepayahan untuk mengambil nafas. Pria itu terlalu brutal. Ia sama sekali tak memberi ruang sedikitpun untuk Anindya. Mungkin setelah ini Anindya akan berhati-hati untuk tidak memprovokasinya. Pria itu terlalu arogan.
Adrian seketika melepaskan ciumannya yang berlangsung cukup lama. Ia juga harus mengontrol tindakannya agar tidak melampaui batas. Ia bisa lepas kendali jika meneruskannya. Takutnya Anindya tidak akan bisa menghadapinya. Ia ibarat singa kelaparan yang tak pernah kenyang dengan santapannya.
"Masih berani?" tanyanya.
Anindya menggelengkan kepalanya dengan cepat karena takut Adrian akan melakukan hal lainnya. Ia sungguh bisa menebak apa yang ada dipikirkan pria itu saat ini.
"Bagus." ia lalu kembali ke kursinya.
Adrian tampak mengendurkan dasinya. Ia harus menahan dirinya saat ini. Ia tampak kembali fokus pada pekerjaannya. Membiarkan Anindya menenangkan dirinya sendiri saat ini.
****************
*
*
*
*
*
*
Hai semua! Terima kasih karena masih setia ngikutin cerita novel ku ini. Aku sangat berterima kasih sekali untuk semua dukungan yang kalian berikan.
Maaf ya karena gak bisa selalu update sering-sering. Karena banyak pekerjaan di dunia nyata jadi sangat gak memungkinkan untuk update setiap hari. Tapi aku selalu usahain untuk nulis banyak setiap update. Harap maklum ya..
Jangan bosan untuk nungguin update-an selanjutnya ya. Semangat untuk semuanya. 🙏🙏💪💪
❤❤
Jangan lupa setiap baca selalu tinggalkan jejak ya. 😊😊
Jika suka dengan cerita ini, jangan lupa selalu sertakan:
like 👍
komentar 💬
vote
dan rate ⭐ ya.
Serta jadikan salah satu list favorit ❤ kamu agar kamu nggak ketinggalan setiap update terbarunya ya.
Terima kasih😘💕
__ADS_1