My Dearest Wife

My Dearest Wife
Pergi berkencan?


__ADS_3


"Uhm...!" Anindya tampak terbangun dari tidurnya.


Ia merasa terkejut ketika melihat Adrian sedang memandang wajahnya sambil tersenyum. Entah pukul berapa pria itu pulang kemarin malam.


"Selamat pagi, sayang!" sapa Adrian sambil tak lupa memberi kecupan di dahinya.


"Pagi! Apa aku ketiduran lagi kemarin malam?"


"Iya!" jawabnya singkat.


Anindya memeluk erat pria itu.


"Oh iya! Besok pagi aku akan pergi ke luar kota. Mungkin sedikit lebih lama. Kau tidak keberatan, kan?" tanya Adrian.


"Ke luar kota? Berapa lama?" tanyanya.


"Mungkin sekitar dua minggu." jelas Adrian sambil membelai pipinya yang tampak berisi.


"Kenapa lama sekali? Apa tidak bisa di kerjakan dari rumah saja? Bagaimana jika aku tiba-tiba rindu padamu? Bagaimana jika anak kita rindu pada ayahnya? Apa aku boleh ikut? " Anindya tampak merengek manja padanya.


Adrian tersenyum ketika menyadari bahwa semenjak hamil, Anindya semakin terlihat manja padanya.


"Aku tidak bisa membawamu, sayang! Jika aku bisa, aku malah tidak ingin pergi dan tetap berada di sisimu setiap saat. Tetapi Ada pekerjaan yang benar-benar harus ku lakukan. Aku akan berusaha untuk menyelesaikannya lebih cepat. Oke? "


Anindya seketika mengerucutkan bibirnya. Adrian sungguh tak tahan melihat tingkah istrinya yang sangat menggemaskan itu.


Ia mengecup bibirnya dengan gemas. Namun tiba-tiba saja pria itu seketika memposisikan tubuhnya di atas Anindya.


Ia sepertinya menginginkan sesuatu yang lebih darinya. Sudah hampir dua bulan ini Adrian tak pernah menyentuh Anindya karena kehamilannya. Kini ia sepertinya sudah berada dalam batas kesabarannya.



"Kau mau apa?" tanya Anindya.


"Aku sangat menginginkannya. Sudah hampir dua bulan aku menahannya. Kemarin dokter juga sudah mengatakan tidak masalah jika kita melakukannya. Jadi aku boleh melakukannya, kan?" ucap Adrian.


"Ta-tapi bayinya?" Anindya tampak cemas jika hal itu mungkin akan menyakiti bayinya.


"Aku akan melakukannya dengan hati-hati. Kau tidak perlu cemas. Oke?"


Anindya mengangguk ragu.


Ia juga tak tega melihat Adrian harus tersiksa berhari-hari karena kondisinya. Bahkan ia sudah beberapa kali memergoki Adrian mandi di tengah malam untuk meredakan keinginannya tersebut.

__ADS_1


****************


"Dia sudah tiba di sana?" tanya Adrian pada seseorang melalui ponselnya.


Ia berada di balkon kamarnya. Ia tampak melakukan pembicaraan serius dengan orang tersebut.


"Baiklah! Persiapkan segalanya! Besok pagi-pagi sekali kita berangkat." perintahnya kepada orang tersebut lalu mengakhiri panggilannya.


Apa yang diinginkannya sebenarnya? Kenapa ia memintaku untuk bertemu di sana? Apa ia ingin bermain-main denganku? batinnya kesal.


"Kau tampak kesal? Apa ada masalah?" tanya Anindya yang tiba-tiba memeluknya.


Ia baru saja selesai mandi dan bersiap.


Adrian dengan cepat merubah ekspresi wajahnya. Ia tampak tersenyum kini.


"Masalah pekerjaan. Selalu saja ada hal yang membuatku kesal setiap hari."


"Apa aku juga pernah membuatmu kesal?" tanya Anindya.


"Tentu saja tidak, sayang! Kau tidak pernah membuatku kesal, hanya membuatku gemas sehingga aku tak ingin berhenti mencium mu seperti ini." Ia mencium seluruh wajah Anindya dengan gemas.


Ia juga tak lupa mencium perut Anindya. Adrian juga tampak berbicara pada calon bayinya itu.


"Sudah cukup! Aku merasa geli di cium terus menerus." pinta Anindya.


"Apa kau tidak bekerja hari ini? " tanyanya.


"Tidak. Hari ini aku tersedia khusus untukmu."


"Benarkah? Ehm.. bagaimana jika kita pergi ke suatu tempat?" ajaknya.


"Baiklah, nyonya! Aku akan menjadi supir mu hari ini!"


Anindya tampak tersenyum lebar. Ia tak pernah berpikir bahwa kehidupannya akan sangat sempurna seperti ini.


****************


"Kau ingin pergi kemana hari ini? " tanya Adrian ketika berada di dalam mobil.


"Ehm... bagiamana jika kita pergi berkencan seperti pasangan pada umumnya?" tanya Anindya balik.


"Berkencan?"


"Iya! Nonton film, makan dan lainnya. Sebelumnya kita belum pernah melakukannya, bukan? Aku juga ingin merasakan hal seperti itu dalam hidup ku. Kau pria pertamaku, tetapi hubungan kita tidak seperti pasangan pada umumnya. Berkenalan, lalu saling mengutarakan perasaan hingga akhirnya menjadi sepasang kekasih. Kemudian pergi berkencan hingga akhirnya menikah. Kita tidak melewati tahap itu. Jadi bisakah kita melakukannya hari ini?" jelasnya.

__ADS_1


Adrian tersenyum. "Baiklah! Kita lakukan yang pertama dulu. Berkenalan." ia lalu menyodorkan tangan kanannya untuk berjabat tangan. "Hai, cantik! Namaku Adrian. Apa aku boleh berkenalan denganmu?" tanyanya.


"Ehm... bagaimana ya? Aku belum mengenalmu. Kata ibu, aku tidak boleh bicara dengan orang asing apalagi berkenalan dengannya." jawab Anindya.


Adrian tersenyum kembali. "Kau yakin tidak ingin berkenalan denganku? Aku punya banyak uang. Aku bisa memberikan segalanya padamu bahkan memberikan hatiku padamu. Bagaimana?"


Anindya terkekeh. "Baiklah! Aku Anindya. Senang berkenalan denganmu." Ia menjabat tangannya.


"Kita pergi?" tanya Adrian.


"Iya!"


"Baiklah! Kita akan pergi berkencan hari ini." ucap Adrian.


Anindya memasak sabuk pengamannya. Setelah itu Adrian menyalakan mobilnya lalu pergi.



****************


*


*


*


*


*


*


Jangan lupa setiap baca selalu tinggalkan jejak ya. 😊😊


Jika suka dengan cerita ini, jangan lupa selalu sertakan:


like 👍


komentar 💬


vote


dan rate ⭐ ya.


Serta jadikan salah satu list favorit ❤ kamu agar kamu nggak ketinggalan setiap update terbarunya ya.

__ADS_1


Terima kasih😘💕


__ADS_2