
Waktu terus berjalan. Sudah hampir sejam Zein berada di dalam Unit Gawat Darurat. Samuel juga belum terlihat keluar dari ruangan itu. Adrian tampak gelisah sedari tadi. Ia terus menyalahkan dirinya karena bersikap keras pada kakeknya.
Sementara Anindya dan Sofia menangis sambil terus berdoa. Anindya sedari tadi juga terus menyalahkan dirinya karena menolak keinginan pria baya itu. Namun ia juga tidak bisa menerimanya karena ia tidak mencintai pria itu. Begitupun sebaliknya.
Mungkin ada baiknya jika ia tak pernah hadir dalam keluarga ini. Jika saja waktu itu ia menolak untuk ikut, semua ini pasti tidak akan terjadi. Tapi rasanya percuma jika ia menyesalinya saat ini. Waktu tidak bisa di ulang kembali, bukan?
Tak lama kemudian, Samuel terlihat keluar dari ruangan itu. Adrian segera menghampirinya.
"Bagaimana keadaan kakekku?" tanyanya.
"Kakek Zein sudah melewati masa kritisnya. Detak jantungnya sudah kembali normal. Namun, ia belum sadar sepenuhnya. Beberapa saat lagi perawat akan memindahkannya ke ruang perawat. Kalian bisa melihat keadaannya disana." jelas pria berkacamata itu pada mereka.
"Baiklah!" Adrian terdengar sangat lega.
Begitupun dengan Anindya dan Sofia. Mereka juga merasa lega mendengarnya.
"Adrian! Ikut aku! Ada sesuatu yang ingin aku tanyakan padamu." ucap Samuel sedikit berbisik pada pria itu.
Adrian tampak mengernyitkan dahinya. Namun ia tetap mengikuti sahabatnya itu.
*
"Apa yang ingin kau tanyakan?" tanya Adrian penasaran begitu mereka tiba di ruangannya.
Samuel mempersilahkan Adrian untuk duduk terlebih dahulu. Dan menawarkan kopi padanya sebelum memulai pembicaraan.
"Ada apa?" tanyanya lagi begitu Samuel ikut duduk bersamanya di atas sofa.
"Apa yang sebenarnya terjadi? Kenapa kakek bisa terkena serangan jantung seperti itu? Apa kau membuatnya marah?" Tanya pria berkacamata itu balik padanya.
"Tidak ada yang terjadi. Kaki hanya tiba-tiba saja seperti itu." jawabnya datar.
__ADS_1
"Tidak mungkin jika tidak ada yang terjadi. Kakek tidak mungkin seperti itu jika bukan karena ada yang mengganggu pikirannya." bantah Samuel.
Adrian tampak berdecak kesal. Ia akhirnya menceritakan permintaan kakeknya pada Samuel.
Saat mendengarkan ceritanya, Samuel seperti sedang berusaha untuk menahan tawanya. Adrian semakin kesal saat melihat wajah Samuel yang memerah karena menahan tawa.
"Jangan menertawakanku. Itu tidak lucu." gerutunya.
Akhirnya Samuel melepaskan tawanya. Ia merasa lucu sekali ketika mendengar bahwa sahabatnya itu dipaksa untuk menikah oleh kakeknya.
"Maka dari itu, jika kau tidak ingin dipaksa, carilah seorang wanita yang sesuai dengan dirimu untuk kau nikahi. Usiamu sudah kepala tiga. Mau sampai kapan kau menyendiri seperti ini. Apa kau tidak takut jika 'itu' mu tidak bisa berfungsi lagi karena tak pernah digunakan." ledeknya.
"Sialan kau! Kau sendiri masih sendiri hingga saat ini. Jadi jangan sok menasehatiku. Apa kau tidak malu pada dirimu." sahutnya sinis.
"Hei! Kakakku sudah menikah dan punya anak. Jadi orangtuaku tidak terlalu peduli dengan kehidupan asmaraku. Jadi aku tidak perlu repot mencari kekasih. Berbeda dengan dirimu. Kau cucu pertama. Sudah pasti kakek mencemaskanmu jika kau belum juga menikah hingga saat ini. Dia tentu ingin melihat cicitnya berlarian kesana-kemari di rumahnya."
"Diamlah! Kau tahu apa tentang pernikahan." Adrian terus saja membantah perkataannya.
"Tapi.. jika aku perhatikan, Anindya itu sangat cocok untukmu. Dia gadis yang baik dan yang terpenting dia menyayangi kakekmu dengan tulus. Ia juga merawatnya dan membuatnya bahagia. Lalu apa yang membuatmu menolak perjodohan ini?" Samuel tampak penasaran.
"Jika gadis itu Anindya. Aku rasa aku tidak keberatan untuk menghabiskan seumur hidupku bersamanya." Samuel terlihat senang.
"Aku rasa asalkan dia wanita kau pasti tidak akan menolaknya. Sekalipun itu adalah pria yang kewanita-wanitaan." ledeknya sambil tersenyum.
"Sialan kau! Aku masih normal. Apa kau tidak pernah melihat Anindya sebagai seorang wanita. Dia itu cantik. Walau tanpa riasan wajah sekalipun." Samuel tampak terlihat serius. "Adrian! Aku rasa tidak ada salahnya jika kau menyetujui perjodohan ini. Kau juga tidak akan rugi. Aku tahu jika kau belum bisa melupakan Natasha. Tapi jangan jadikan itu alasan untuk membuatmu menutup hati untuk wanita lain. Tidak semua wanita itu seperti Natasha. Dan aku juga tidak yakin jika Natasha akan menyayangi kakekmu seperti dia menyayangimu."
Adrian terdiam sejenak memikirkan perkataan Samuel. Ucapannya memang ada benarnya. Tapi.. wanita itu sama sekali bukan tipenya. Dan lagi usia mereka terpaut sangat jauh. Wanita itu masih terlalu muda untuk menikah.
***********
Anindya dan Sofia masuk ke ruangan perawat untuk melihat Zein yang sudah dipindahkan ke sana untuk pemulihan. Namun, pria baya itu masih tertidur akibat pengaruh obat.
__ADS_1
Anindya masih menangis. Sejujurnya ia merasa bersalah karena tak bisa mengabulkan permintaan pria baya itu padanya. Karena ini menyangkut kehidupannya. Ia tak mungkin menikah dengan orang yang tidak dicintainya. Jika ia menyetujuinya, bagaimana ia harus menjalani kehidupannya nanti. Itu pasti akan sangat sulit.
Maafkan Anin, kakek. Anin menyayangi kakek. Tapi Anin tidak bisa mengabulkan permintaan kakek. Itu terlalu berat untuk Anin. Anin berharap, kakek bisa mengerti keputusan Anin.
Anin tampak menggenggam tangan kiri pria baya itu. Ia meneteskan air matanya.
Sofia memegang pundaknya untuk menenangkan hati wanita itu. Mungkin ia tahu bahwa hal ini tidaklah mudah bagi wanita muda itu. Menerima keluarga asing dan berada diantara mereka saja itu sudah sangat sulit. Sekarang ia di hadapan dengan pilihan dimana ia harus hidup selamanya dengan orang yang tidak mencintainya. Pasti itu akan jauh lebih sulit lagi baginya. Wajar jika ia menolak.
Namun tuan besarnya itu terlalu menggantungkan harapan pada wanita muda ini. Bagaimana akhirnya, mungkin hanya mereka berdualah yang tahu.
Tak lama Adrian muncul di ruangan itu. Ia masuk kedalam untuk melihat keadaan kakek tersayangnya. Anindya tampak berdiri dari tempatnya setelah melihat pria itu masuk dan menjauh dari ranjang. Bermaksud untuk membiarkan pria itu mendekat kearah kakeknya.
Pria itu tak berbicara sepatah kata pun pada kakeknya yang tengah berbaring. Ia hanya diam memandangnya.
*************
*
*
*
*
*
*
Update... update..
Jangan lupa dibaca ya. Tungguin terus ya. Sambilan nunggu bisa mampir ke novelku yang satu lagi. "My beloved wife" Klik aja nama profilku. Nanti akan muncul.
__ADS_1
Terima kasih 😘💕