My Dearest Wife

My Dearest Wife
Jadi milikku saja.


__ADS_3

"Mungkin seperti itu juga yang kurasakan saat ini padamu. Aku tidak memikirkan bagaimana perasaanmu nantinya padaku. Aku hanya ingin kau tetap berada di sisiku selamanya sekalipun kau tidak punya perasaan apapun padaku. Itu sudah lebih dari cukup untukku. Lagipula kau tidak mengatakan bahwa kau tidak bisa membalas perasaanku, tapi kau hanya belum bisa membalasnya. Bukankah itu berarti kau punya sedikit perasaan padaku?"


Adrian hanya terdiam. Wanita seperti apa yang ia nikahi?


"Jika kau bersikap seperti ini, aku malah semakin merasa bersalah padamu. Kau bukan malaikat yang bisa sabar menghadapi semuanya. Suatu hari kau akan lelah, akan merasa batas kesabaranmu sudah habis. Kau akan lelah menungguku. Membuatmu berpikir untuk meninggalkan aku. Mencari seseorang yang bisa mencintaimu seperti kau mencintainya. Apa kau yakin bisa menungguku?" tanyanya memastikan.


"Aku bisa. Setahun, dua tahun bahkan seumur hidupku. Mungkin aku terlahir seperti ibuku, yang hanya bisa mencintai seorang pria saja selama hidupnya. Sekalipun pria itu meninggalkannya. Bahkan hingga ajal menjemputnya." jawabnya yakin.


"Tidak. Aku tidak akan menjadi seperti ayahmu yang meninggalkan ibumu. Aku akan selalu berada di sisimu selagi Tuhan masih memberiku kesempatan untuk bernafas. Apapun yang terjadi." ucap Adrian sambil memegang wajahnya.


"Jangan menjanjikan apapun padaku. Jika kau tidak bisa menepatinya, itu akan sangat menyakitkan buatku. Ikuti saja kemana arus membawa kita. Jika memang kita ditakdirkan untuk bersama, maka kita tidak akan berpisah."


"Kakek memang pandai memilih wanita." ia tersenyum.


Anindya juga ikut tersenyum. Entah apa yang memberikannya keberanian. Mungkin karena rasa cintanya pada Adrian sehingga menjadikannya miliknya. Anindya mencium bibirnya. Adrian seketika membeku karena tak menyangka jika wanita yang dinikahinya itu berinisiatif untuk menciumnya terlebih dahulu. Dan ini untuk kali pertama selama mereka menikah.


"Sudah berani mencium ku?" tanyanya begitu Anindya melepaskan ciumannya yang cukup lama.


Anindya hanya bisa tersipu malu setelahnya. Entah semerah apa wajahnya saat ini.


"Ayo!" ajaknya sambil beranjak turun dari ranjang dan menarik tangan Adrian.


"Kemana?"


"Kau bilang tadi kita akan mandi bersama. Ayo!" tanyanya malu-malu.


"Tadi sudah berani mencium ku, sekarang mengajakku mandi bersama. Kau sedang menggodaku, ya?" tanyanya sambil menyeringai. Ia juga beranjak berdiri di sampingnya.


"Bukan! Ini sudah pukul berapa? Apa kau berniat membuat kakek kelaparan karena terlalu lama menunggu kita?" tanyanya.


"Jika lapar, kakek bisa makan lebih dahulu." ucap Adrian lalu menarik selimut yang membalut tubuh Anindya.


"Adrian!" serunya sambil menutupi tubuhnya dengan tangannya.


Adrian mengangkat tubuhnya. "Apa yang kau pikirkan? Kita akan mandi, bukan? Kau tidak mengharapkan terjadi sesuatu yang lain, kan?" Adrian membawanya ke kamar mandi.


"Adrian! Jangan menggodaku terus."


"Aku hanya bercanda."


****************


Di sisi lain, Anne tampak sedang berdebat dengan ibunya.


"Ibu! Apa perlu bertemu sepagi ini dengannya?" tanyanya kesal.


"Pagi apanya, ini sudah hampir waktunya makan siang. Cepatlah sedikit! Jangan banyak bicara. Lakukan saja apa yang ibu suruh padamu." perintahnya.

__ADS_1


"Tapi, bu...!" ia hendak membantah.


"Sudah! Cepat pergi sana! Hasan sudah menunggumu di luar. Ia yang akan mengantarkan mu ke sana." ibunya menarik paksa tangannya.


Anne terpaksa mengikuti perkataan ibunya. Padahal ia sama sekali tidak berminat untuk bertemu dengan pria itu.


***


"Dimana pria itu?" Anne tampak memperhatikan para pengunjung pria di cafe itu.


Ibunya mengatur tempat pertemuan di area cafe yang ada di penginapan dekat pantai.


"Ibu berkata jika pria itu memakai kemeja biru tua. Ia juga memakai kacamata baca. Tapi yang mana?"


Akhirnya ia melihat seorang pria yang sedang duduk seorang diri di sudut ruangan. Ciri-cirinya sama persis dengan yang dikatakan oleh ibunya. Ia pun segera menghampirinya.


"Tuan Morgan?" tanyanya memastikan.


Pria itu tampak menoleh padanya. " Nona Anne?" tanyanya balik.


"Iya." jawab Anne singkat.


Morgan mempersilahkannya duduk. "Apa kau mau memesan makanan? Kebetulan aku sudah memesan lebih dulu. Maaf! Aku sudah sangat lapar!" tanyanya sopan.


Pria ini lumayan juga. Ah! Bukan itu intinya. Aku harus mencari cara untuk menolaknya. batin Anne.


Setelah memesan makanan, Morgan mulai berbicara padanya.


"Aku dengar kau sedang kuliah saat ini. Jurusan apa yang kau ambil?" tanya Morgan.


"Psikologi."


Mereka mulai berbicara banyak hal. Hingga akhirnya Morgan memberanikan diri untuk membicarakan sesuatu pada Anne.


"Maaf sebelumnya. Bukan bermaksud untuk mengecewakan mu. Jika boleh jujur sebenarnya aku tidak bisa menikah denganmu. Hanya saja karena ibuku terus memaksa, akhirnya aku setuju untuk melakukan pertemuan ini. Aku benar-benar tidak bisa meneruskan hubungan ini." jelasnya.


Anne tampak kaget karena tidak menyangka jika pria itu akan menolak. Ia jadi bisa bernafas lega.


"Benarkah! Untunglah jika seperti itu. Sebenarnya aku juga belum ingin menikah. Aku masih ingin memperoleh gelar S2 ku dan bekerja. Tapi ibuku juga terus memaksaku. Aku terpaksa menurutinya."


"Benarkah! Baguslah jika kita sependapat. Sebenarnya aku juga sedang menyukai seseorang. Jadi tidak mungkin aku menjalin hubungan dengan orang lain." jelasnya.


"Jika kau punya kekasih, kenapa kau tidak memperkenalkannya pada orang tua mu?" tanya Anne.


"Masalahnya ia belum menjadi kekasih ku. Aku bahkan belum mengutarakan perasaan ku padanya."


"Kenapa? Kau takut ditolak?" tebaknya.

__ADS_1


"Iya. Aku memang takut di tolak." pria itu tampak ragu.


"Kau itu seorang pria. Harusnya kau mengatakan perasaanmu kepadanya. Ia mana tahu jika kau tidak mengatakannya. Jangan takut ditolak. Ungkapkan perasaanmu. Seandainya pun ia menolak mu, kau akan merasa lega karena sudah menyampaikan perasaanmu. Setidaknya ia tahu jika ada seorang pria yang mencintainya."


"Tapi... " ia tampak ragu.


"Morgan! Tunjukkan jika dirimu seorang pria."


"Baiklah aku akan mencobanya. Kau benar. Aku harus berani mengakui perasaanku sendiri. Tapi bagaimana dengan orang tua kita? Apa yang harus kita katakan pada mereka?"


Anne tampak berpikir. "Begini saja. Katakan saja jika aku tidak menyukaimu kepada orang tua mu. Aku juga akan mengatakan hal yang sama kepada ibuku. Bagaimana?"


"Ehmm... baiklah!"


Mereka berdua tampak melanjutkan obrolan mereka. Sesekali tawa terdengar dari obrolan itu.


Tanpa mereka sadari, seseorang tengah memperhatikan mereka dari dalam mobilnya. Seorang pria berkacamata hitam yang tampak kesal.


"Berani sekali ia bertemu dengan pria lain di belakang ku. Lihat bagaimana aku menghukum mu nanti. Kau hanya boleh jadi milikku saja." kesalnya.


****************


*


*


*


*


Jangan lupa setiap baca selalu tinggalkan jejak ya. 😊😊


Jika suka dengan cerita ini, jangan lupa selalu sertakan:


like 👍


komentar 💬


vote


dan rate ⭐ ya.


Serta jadikan salah satu list favorit ❤ kamu agar kamu nggak ketinggalan setiap update terbarunya ya.


Terima kasih😘💕


__ADS_1


__ADS_2