My Dearest Wife

My Dearest Wife
Hujan


__ADS_3

Anindya tampak menuangkan kopi kedalam cangkir berwarna putih yang sudah disediakannya di samping coffee maker. Ia langsung meluncur begitu pria itu memintanya untuk membuatkan kopi untuknya. Sepengetahuannya, Adrian tak pernah suka dengan kopi buatan orang lain, kecuali ibu Sofia dan dirinya sendiri. Lalu kenapa pria itu tiba-tiba menyuruhnya untuk membuatkan kopi untuknya.


Untung saja sebelumnya ibu Sofia pernah mengajarkannya. Sehingga ia tidak terlalu kesulitan untuk membuatkannya. Ia tak lupa menuangkan satu sendok teh gula kedalam cangkir lalu mengaduknya.


Setelah selesai, ia meletakkannya diatas sebuah nampan yang tersedia disana. Ia segera melangkahkan kakinya ke ruangan pria itu. Ia rasanya enggan untuk masuk kedalam.


Maura yang melihatnya mematung di depan pintu atasannya itu segera memberikan kode kepadanya agar wanita itu segera masuk. Dengan berat hati, wanita itu mengetuk pintu. Setelah mendapat izin dari tuannya, ia membuka pintu coklat itu perlahan. Saat masuk, Anindya tak sengaja menginjak pecahan kotak dan makanan yang sudah berhamburan di lantai.


"Apa ini?" gumamnya pelan nyaris tak bersuara.


Ia meletakkan kopi itu di atas meja. Pria itu tampak sedang memeriksa beberapa file.


"I.. ini kopinya tuan." ucapnya sedikit takut.


"Hemm..!"


"A.. apa ada lagi yang Anda butuhkan?" tanyanya.


"Tidak. Pergilah!" perintahnya tanpa menoleh sedikitpun kearahnya.


Anindya hendak berlalu dari sana, namun melihat ruangan itu sangat berantakan, ia terpikir untuk merapikannya. Ia berjongkok dan memungut pecahan kotak kayu itu dari lantai dan meletakkannya diatas nampan.


Melihat hal itu, Adrian menghentikan aktivitasnya .


"Apa yang kau lakukan? pergilah! Akan ada petugas kebersihan yang akan membereskannya."


"Tidak apa. Biar aku saja yang membersihkannya." bantahnya.


"Pergilah! Aku tidak ingin melihat siapapun disini." perintahnya dengan meninggikan nada suaranya.


Anindya tampak kaget. Dan meletakkan nampan itu di lantai. Ia takut menjadi sasaran kemarahan pria itu.


"Permisi, tuan!" pamitnya.


Selepas kepergian wanita itu, Adrian menatap pintu ruangannya yang sudah tertutup rapat. Ia tampak menghela nafasnya. Lalu menatap secangkir kopi yang dibawakan wanita itu untuknya. Haih! Entah apa yang membuatnya meminta wanita itu untuk membuatkan kopi untuknya. Padahal ia tak pernah meminta siapapun membuatkan kopi untuknya selain Sofia. Menurutnya tak ada seorangpun yang bisa menyajikan kopi yang sesuai dengan seleranya.


Tadinya ia keluar dari ruangannya untuk pergi keluar. Ia begiti kesal hari ini sehingga ia ingin pergi sejenak melepaskan amarahnya di suatu tempat. Namun, melihat wanita itu berdiri disana sambil menatapnya dengan takut, ia malah meminta wanita itu untuk membuatkan kopi untuknya. Benar-benar tidak seperti biasanya. Itu diluar kebiasaannya.


Adrian mengambil cangkir kopinya dan sedikit menyesapnya. Penasaran dengan rasanya. Rasanya sangat pas sekali di lidahnya. Bagaimana wanita itu bisa membuatkan kopi seperti ini untuknya?

__ADS_1


Ia meletakkan kembali cangkir itu keatas piring. Ia kembali teringat pada Natasha. Lima tahun setelah kepergiannya, disaat dirinya sudah mulai melupakannya, ia malah kembali dan ingin memperbaiki kembali hubungannya. Apa sebenarnya yang dia inginkan?


************


Sore ini seperti biasa Anindya menunggu di halte bis yang jaraknya tak terlalu jauh dari kantor. Tujuannya agar tak ada seorangpun yang melihatnya menumpangi mobil presiden direktur mereka. Ia sengaja menunggu di halte bisa itu karena tidak ada seorang karyawan pun yang menggunakan bis untuk pulang. Kebanyakan dari mereka mempunyai kendaraan sendiri. Selebihnya lebih memilih taksi online sebagai sarana transportasi mereka.


Sore ini, sepertinya mereka akan sedikit terlambat karena Adrian masih ada meeting di luar. Sebenarnya Anindya ingin pulang naik kendaraan umum saja. Namun, jika ia melakukannya, maka ia harus bersiap menghadapi omelan kakek Zein. Jadi ia akhirnya memilih untuk menunggu saja.


Hampir satu jam ia menunggu. Namun sepertinya tidak ada tanda-tanda kemunculan mobil sedan mewah itu. Haih! Apa yang harus ia lakukan sekarang? Hari sudah semakin gelap. Sepertinya akan turun hujan. Awan yang semula putih telah berubah warna menjadi kelabu. Menandakan bahwa hujan akan segera turun. Ia memeluk tasnya dengan erat.


Anindya paling tidak suka hujan. Karena hal itu mengingatkannya pada ibunya. Ibunya sering kali mengajaknya untuk bermain hujan. Bukan karena ia merasa bahagia, namun karena ia ingin menyembunyikan airmatanya. Ia tak ingin putrinya itu melihat dirinya menangis. Namun, Anindya tahu hal itu. Setelah ibunya meninggal, neneknya menceritakan hal itu padanya. Rasanya sakit sekali saat mendengarnya.


Namun, sepertinya Anindya juga melakukan hal yang sama seperti ibunya. Jika ingin menangis, ia selalu berlari ke dalam lemari pakaian untuk mengeluarkan segala kesedihannya agar tak seorangpun mendengarnya.


"Haih! Sampai kapan aku harus menunggu disini." gumamnya sambil melihat apakah mobil Adrian sudah terlihat.


Di halte itu bahkan tidak ada tempat yang bisa di duduki. Gerimis perlahan mulai turun. Untungnya ia bisa berteduh di halte tersebut. Ia melihat sekelilingnya untuk mengusir kebosanan.


"Eh!" serunya begitu melihat seorang di sebrang jalan.


Ia lalu menyelempangkan tasnya dan menyebrangi jalan yang kebetulan sedang lampu merah.


***************


Apalagi gerimis sudah mulai turun dan lama kelamaan semakin deras. Bagaimana kondisi wanita itu saat ini?


Namun, beruntung kemacetan itu segera berakhir. Paman Anwar segera melajukan mobilnya untuk menjemput nona mudanya.


*


Tak berapa lama kemudian, mobil itu sampai di tempat penjemputan. Namun wanita itu tidak terlihat disana. Kemana dia? Apa dia nekat pulang sendiri ke rumah?


"Bagaimana ini, tuan? Nona Anindya tidak ada? Apa mungkin dia sudah pulang?" tanya pria paruh baya itu pada tuan mudanya yang sedari tadi memandang keluar.


"Tidak mungkin paman. Dia pasti sedang berteduh di sekitar sini. Saya akan mencarinya." Jawab Romi.


Saat Romi hendak turun untuk mencari Anindya, Adrian mencegahnya.


"Tidak perlu. Tunggu saja disini." sahutnya datar.

__ADS_1


Romi dan Anwar saling berpandangan. Mereka tampak bingung karena tuannya yang terkesan tidak perduli pada wanita malang itu. Mereka berdua merasa cemas. Namun di satu sisi, mereka juga tak berani membantah tuannya itu. Dimana wanita itu sebenarnya.


Sementara Adrian, tetap memfokuskan pandangannya pada satu titik. Hujan semakin deras dan haripun semakin gelap.


************


Anindya bergegas menyebrangi jalanan yang kebetulan tidak dilalui oleh banyak kendaraan. Tadi ia melihat seorang nenek yang hendak menyebrangi jalan seorang diri. Ia tampak kepayahan. Karena tak tega, Anindya menawarkan bantuan untuk membantunya menyebrangi jalanan.


Wanita baya itu awalnya menolak karena tak ingin merepotkan Anindya. Ia sudah terbiasa melakukannya seorang diri. Namun, Anindy memaksanya.


"Tidak apa-apa, nek! Aku akan membantu nenek! Ayo!" Anindya tampak berjongkok hendak menggendong wanita baya itu di pundaknya agar lebih mudah dan cepat karena hujan sudah terlalu deras.


Tubuh mereka berdua sudah basah kuyup. Wanita tua itu tampak ragu, apakah wanita muda ini sanggup menggendong tubuhnya. Namun Anindya meyakinkannya. Dulu, dia juga sering menggendong neneknya jika neneknya kelelahan berjalan. Tubuhnya tidak jauh beda dengan wanita baya ini. Akhirnya wanita itu naik ke punggungnya.


"Sudah, nek?" tanya Anindya setelah memastikan wanita itu naik ke punggungnya.


"Iya."


"Oke, nek! Pegangan yang erat, ya!"


Anindya berjalan menyebrangi jalan dengan membawa wanita itu di punggungnya. Sementara wanita baya itu melingkarkan kedua lengannya di leher Anindya sebagai pegangan. Anindya membawanya ke halte bis, karena wanita itu pulang kerumahnya dengan menggunakan bis.


Ia menurunkan wanita itu disana dan menemaninya menunggu bis. Tak berapa lama bis itu pun tiba, dan nenek itu pergi setelah berterima kasih pada Anindya.


Kini Anindya hanya berdiri di tempatnya menunggu jemputannya. Ia sudah mulai kedinginan karena sekujur tubuhnya telah basah kuyup.


Tin... Tin.. Tin..


*****************


*


*


*


Sedikit info. Novel di up secara bergantian dengan novelku yang satu lagi. Jadi maaf kalo g bisa update tiap hari. Karena untuk update 2 bab perhari berat banget. Hehe..


Terima kasih ya karena selalu setia nungguinnya. Terima kasih juga untuk segala like, komen dan votenya. Tungguin terus ya updatenya.. 😍🥰😘

__ADS_1



__ADS_2