
"A... apa yang kau lakukan? Lepaskan aku! " pintanya.
"Kau mau lari kemana? Setelah memelukku kau mau pergi begitu saja. Kau harus mempertanggung jawabkan perbuatanmu." ucap Adrian sambil tersenyum sinis.
Anindya tampak takut. Pertanggungjawaban seperti apa yang diinginkan oleh pria itu darinya?
"A.. apa maksudmu tuan? Aku bukannya sengaja memelukmu. Aku bahkan tidak sadar ketika melakukannya. Jadi... jadi jangan salahkan aku." ia berusaha untuk membela dirinya.
"Lalu aku harus menyalahkan siapa?" tanya Adrian semakin mempererat pelukannya.
"Tolong lepaskan aku! Aku kesulitan bernafas." pintanya.
Adrian lalu melepaskannya. Saat mendapatkan kesempatan, ia langsung menjauh dari pria itu. Ia langsung beranjak dari atas ranjang.
"Pergilah bersiap-siap. Kita akan pergi ke suatu tempat." perintahnya ketika mendudukkan tubuhnya.
"Kemana?" tanyanya penasaran.
Adrian tidak menjawab. Ia hanya tampak menyeringai saja. Hal itu malah membuat Anindya cemas.
****************
Mobil sport berwarna silver itu tampak menerobos jalanan ibukota dengan sangat mulus. Kebetulan suasana jalanan pagi itu tak terlalu ramai. Mungkin karena ini adalah hari kerja.
Adrian terlihat mengemudikan mobilnya dengan sebelah tangan. Ia tampak santai saat memegang setir mobilnya. Sementara Anindya duduk di sampingnya. Sebenarnya wanita itu tidak mengetahui kemana tujuan mereka saat ini. Adrian sama sekali tak ingin memberitahukannya. Bahkan pria itu sampai memilih untuk tidak masuk kantor hari ini. Tidak seperti biasanya. Padahal setahu Anindya, suaminya itu adalah seorang pria yang gila kerja. Bahkan ketika di rumah pun ia masih bekerja di ruang kerjanya.
Anindya menatap pemandangan di luar dari kaca jendela mobil. Ini pertama kalinya ia melewati jalan ini. Tadinya mereka melewati banyak bangunan, namun kini beralih menjadi pepohonan besar nan rindang. Tidak ada satupun bangunan lagi yang terlihat.
Anindya semakin cemas. Ia pun kembali bertanya pada Adrian untuk memastikan kemana sebenarnya tujuan mereka.
"Nanti kau juga akan tahu!" Hanya itu saja jawaban yang di dapatnya sedari tadi.
Ia pun kembali diam dengan wajah masamnya itu. Lalu ketika melihat hutan di sisi kiri dan kanannya, Anindya seketika memikirkan hal yang tidak-tidak.
"Ehm... tuan! Kau tidak bermaksud untuk membuangku ke hutan dan menjadikanku makanan binatang buas, kan?" tanyanya cemas.
Adrian tampak menyeringai. Namun ia tak menoleh ke arah wanita di sampingnya itu.
"Jika kau masih tidak berhenti bertanya, mungkin aku akan mempertimbangkan hal itu!" ucapnya sinis sambil berpura-pura mengancam wanita itu agar ia semakin cemas.
"I.. iya, baiklah! Aku akan diam." ucap Anindya.
Dan setelah itu mereka berdua hanya diam satu sama lainnya.
*
__ADS_1
Perjalanan itu memakan waktu hampir dua jam. Barulah mereka tiba ke tempat yang mereka tuju. Sebuah pantai yang indah. Tidak tampak seorang pun di sana. Hanya ada mereka berdua. Mungkin karena ini masih terlalu pagi. Dan bukan hari libur. Anindya langsung turun dari mobil ketika melihat bentangan air laut di hadapannya. Sedari dulu ia memang paling suka dengan pantai.
"Kenapa kau tiba-tiba membawaku kemari?" tanyanya pada Adrian ketika pria itu berada di sampingnya.
"Aku hanya sedang bosan. Jadi aku mengajakmu kemari. Lagipula kau belum pernah kemari, kan?" tanyanya balik.
"Iya Aku memang belum pernah kemari." jawab Anindya.
Pantai ini sebenarnya adalah tempat kesukaan Adrian ketika ia ingin menyendiri. Karena letaknya yang jauh dari kota dan keramaian. Juga karena tidak banyak orang yang tahu tentang pantai ini. Sehingga ia merasa nyaman ketika berada disini. Dia juga tak pernah mengajak siapapun ke sini. Bahkan kakeknya sekalipun.
Namun sekali lagi ia melakukan hal yang diluar dari kebiasaannya. Ia bisa begitu saja mengajak Anindya ke pantai ini. Bahkan Natasha saja tidak pernah menginjakkan kakinya di sini. Ajaib bukan. Ia malah mengajak seseorang yang dulu sangat tidak disukainya.
Anindya terlihat senang sekali saat bermain di pantai. Ia berlarian kesana kemari mengejar ombak. Seperti anak kecil yang baru pertama kalinya melihat pantai. Mungkin karena usianya yang juga masih muda.
Sementara Adrian hanya duduk di atas mobilnya sambil memandang wajah polos istrinya yang tampak sangat bahagia. Padahal itu hanyalah hal yang sangat sederhana baginya. Namun wanita itu bisa sesenang itu.
Mungkin apa yang ia berikan pada Anindya saat ini, tak ada artinya jika hal itu di berikan pada Natasha. Wanita itu lebih suka dengan pemberian barang-barang mewah darinya daripada hal sederhana seperti ini.
Mungkin hal itu dikarenakan gaya hidup mereka yang berbeda. Natasha terbiasa di manjakan dengan kemewahan semenjak kecil, sementara Anindya terbiasa hidup susah dan harus berjuang sendiri untuk bertahan hidup. Hal itulah yang justru membuatnya mensyukuri apapun yang ia dapatkan saat ini.
Adrian mungkin baru menyadari hal itu beberapa hari belakangan ini. Ia berniat untuk memulai lembaran baru bersama Anindya dan mencoba belajar untuk membuka hatinya kembali untuk wanita itu.
Ia sudah memikirkan hal itu baik-baik selama beberapa hari ini. Ia hanya berharap jika Anindya tak akan pernah mengecewakan dirinya.
****************
Tak terasa hari sudah menjelang sore. Anindya tampak menikmati harinya dengan senang. Ia bermain seharian di pantai. Mengejar ombak dan berlarian kesana kemari. Ia bahkan meminta Adrian untuk membelikannya sebuah layangan yang dijajakan di sana. Ia sudah lama tidak memainkannya. Bahkan Adrian dengan senang hati bermain layangan bersamanya. Entah apa yang sebenarnya terjadi pada suaminya itu. Ia begitu menurut hari ini.
Begitupun dengan Adrian. Pakaiannya juga basah. Mereka kini berada di dalam mobil.
Adrian lalu teringat jika dia masih memiliki beberapa pakaian bersih di dalam bagasi mobilnya. Ia lalu turun dari mobil untuk memeriksanya.
Ternyata dugaannya benar. Ada beberapa kemeja di dalam sana. Namun, ia tak memiliki pakaian untuk Anindya. Akhirnya mau tak mau ia mengambil dua potong kemeja dari dalam bagasi dan memberikan salah satunya untuk Anindya.
Ia masuk ke dalam mobil. "Ganti pakaianmu dengan ini!" perintahnya sambil memberikan kemeja berwarna putih itu padanya.
Sementara Adrian langsung membuka pakaiannya yang basah dengan kemeja biru tua yang dibawanya di hadapan Anindya. Ia bahkan tak menyadari Anindya yang memalingkan wajahnya karena malu.
Kenapa dia selalu sembarangan seperti itu. Apa dia tak punya malu sedikitpun padaku. batinnya.
"Kenapa kau belum mengganti pakaianmu? Jika kau sakit, aku yang akan repot." ucap Adrian begitu selesai dengan pakaiannya.
" Apa aku harus menggantinya disini?" tanyanya ragu.
"Lalu kau mau menggantinya dimana? Di luar?" tanyanya balik.
"Bukankah ada toilet umum di sini. Kau bisa mengantarku kesana, kan?" tanya Anindya.
__ADS_1
"Tidak bisa. Mobilku tidak bisa masuk kesana. Jalannya terlalu sempit." jelasnya.
"Iya sudah. Aku akan pergi sendiri kesana." ucapnya lalu hendak membuka pintu mobil itu.
"Ck. Tidak usah banyak tingkah. Ganti saja di sini. Aku tidak akan melihatmu." ucap Adrian mencoba untuk menenangkan wanita itu. Ia menyadari jika wanita itu malu untuk mengganti pakaiannya di hadapannya.
"Bagaimana mungkin kau tidak melihatku?"
"Ck. Gantilah di belakang. Aku akan memejamkan mataku. Cepat!" jelasnya.
Anindya akhirnya pindah ke belakang. Adrian lalu memalingkan wajahnya. Anindya tepat berada di belakangnya. Mulai membuka pakaiannya yang basah dengan kemeja itu.
****************
*
*
*
*
*
*
*
*
Tungguin up selanjutnya ya teman-teman. Mudah-mudahan bisa update banyak hari ini. 😊
Tetap sertakan:
like
komentar
vote
rate ya 😄
Dan jangan lupa tambahkan jadi list favorit ❤ juga biar tetap bisa ngikutin update-an selanjutnya.
Terima kasih buat semua pembaca yang udah kasih dukungan.
salam hangat dari
__ADS_1
Thiea 🥰🌹🍎❤