
Adrian sedang menemui Romi di lobi hotel. Tadi ia menyuruhnya untuk membawakan pakaian ganti untuknya dan juga Anindya.
Setelah memberikan sebuah tas berisi pakaian itu pada Adrian, Romi pamit untuk pulang. Sebelum pria itu pulang, Adrian memintanya untuk memeriksa kembali segala keperluannya selama di Amerika. Ia mungkin akan lama berada di sana.
Setelah urusannya selesai, ia kembali ke kamar. Namun, ketika ia hendak masuk ke dalam lift, ia lagi-lagi bertemu dengan seorang wanita. Wanita yang beberapa hari belakang ini selalu berada di tempat yang sama dengannya.
"Astaga! Sepertinya kita memang berjodoh. Kita selalu bertemu belakangan ini." ucap wanita itu sambil tersenyum.
Adrian tersenyum sinis ketika mendengar ucapan wanita itu. "Jodoh? Bagaimana kau bisa mengatakan jika pertemuan kita terjadi karena kita berjodoh. Sementara kau sendiri yang dulu menolak untuk berjodoh denganku. Dan aku rasa kau memang sudah mengatur segalanya. Aku tahu bagaimana dirimu Natasha. Kau akan melakukan segala cara untuk mendapatkan apa yang kau inginkan, bukan!" ucapnya.
Natasha dengan cepat merubah ekspresi wajahnya. Ia menunjukkan wajah sedihnya di hadapan Adrian.
"Adrian! Aku tahu jika saat ini kau sedang marah padaku. Aku pernah membuatmu kecewa. Tapi, tidak bisakah kita kembali seperti dulu. Aku hanya melakukan sebuah kesalahan kecil padamu. Aku hanya ingin mengejar impian ku. Aku tidak berselingkuh ataupun mengkhianatimu. Aku sangat mencintaimu, Adrian. Apakah kau sudah benar-benar melupakan aku?" tanyanya lirih.
Adrian terdiam sejenak. Memperhatikan perubahan raut wajah wanita itu. Wanita itu bahkan menangis dan dengan berani memeluknya.
"Tolong! Kembalilah padaku, Adrian! Aku sangat mencintaimu. Aku tidak bisa melupakanmu. Aku merasa tersiksa setiap kali mengingat kesalahanku padamu. Aku tidak seharusnya melakukan hal itu. Aku sungguh bodoh karena sudah mengecewakanmu. Maafkan aku. Aku benar-benar menyesal. Maafkan aku, Adrian!" ucap Natasha sambil menangis.
Adrian sempat terlena dan hendak membalas pelukannya. Namun ia urungkan ketika tiba-tiba saja ia teringat pada Anindya.
Ia melepaskan pelukan Natasha. Natasha tampak kaget karena ia tak menyangka jika sikap Adrian akan seperti itu. Tadinya ia mengira jika dengan menangis, akan membuat hati pria itu luluh. Sama seperti dulu ketika mereka masih berhubungan.
Namun sepertinya kebenciannya pada Natasha sudah merubah hal itu. Ia tampak sulit untuk ditaklukkan. Apa dia mulai menyukai wanita itu? batinnya.
"Aku pernah memberimu kesempatan. Tapi kau malah menyia-nyiakannya. Kau tahu kan jika aku tidak suka memberikan kesempatan kedua pada siapapun. Dan hal itu juga berlaku padamu. Jadi berhentilah mengikutiku. Aku tidak suka." Ucapnya sinis lalu segera pergi dari sana.
"Adrian! Adrian! Aku mencintaimu!" serunya berusaha untuk menghentikan pria itu. Tapi sepertinya tidak berhasil.
Adrian segera masuk ke dalam lift dan meninggalkannya. Natasha terlihat kesal. Ia kesal karena triknya tidak berhasil. Sepertinya Adrian mulai menyukai istrinya itu. Natasha tentu saja tidak akan membiarkan hal itu terjadi. Ia sudah kembali dan siap merebut miliknya kembali.
*
Anindya baru saja selesai mandi. Ia menggunakan jubah mandi yang tersedia di kamar mandi hotel tersebut. Ia tak memiliki pakaian ganti sehelai pun.
Saat ia keluar dari kamar mandi, ia tak mendapati Adrian di kamar itu. Kemana dia?
Anindya berpikir mungkin pria itu sedang ada urusan di luar. Ia lalu duduk di sofa dan memakan makan malam yang sudah disediakan di atas meja. Ia merasa sangat lapar.
Anindya terlihat sangat menikmati makanan itu. Ia memakannya dengan lahap karena rasanya yang sangat lezat.
Dalam sekejab seluruh makanan itu habis tak bersisa. Begitupun dengan hidangan pencuci mulutnya. Ia merasa perutnya penuh dan sesak. Ia menyandarkan tubuhnya di sofa itu dan menjatuhkan kepalanya di atas sandaran sofa.
"Kenyang sekali!" gumamnya.
__ADS_1
Setelah selesai makan, ia terlihat bingung karena tak tahu harus melakukan apa. Ingin tidur, tapi ia belum mengantuk. Ia ingin menonton televisi, namun ia urungkan setelah mengingat kejadian memalukan tadi. Ia melihat ke sekeliling kamar, mencari sebuah buku yang mungkin bisa di baca. Namun ia tak menemukan satupun buku di sana.
Ia mulai bosan. Adrian juga belum kembali. Ia lalu teringat pada ponselnya. Sepertinya ia meninggalkan di dalam kamar mandi. Ia langsung masuk kedalam kamar mandi dan mencarinya.
Ia lalu menemukan ponsel itu di atas wastafel dan dalam keadaan basah karena terkena hujan. Ponsel itu mati dan tidak mau menyala.
"Aduh! Bagaimana ini?" tanyanya panik.
Ia lalu keluar dari kamar mandi. Mencoba menyalahkan ponselnya sekali lagi. Tapi sepertinya ponsel itu benar-benar rusak. Mungkin hal itu disebabkan karena air yang masuk ke bagian dalam ponsel.
Ia duduk kembali di sofa. Menatap layar ponselnya yang mati. Ponsel itu adalah pemberian Zein. Dan sekarang ponsel itu telah rusak. Bagaimana sekarang?
Ia mencoba berbagai cara untuk menghidupkan kembali ponselnya. Tapi sepertinya usahanya sia-sia.
Tak lama kemudian Adrian masuk kedalam kamar dan mendapati istrinya sedang duduk di atas sofa sambil memainkan ponselnya hanya menggunakan jubah mandi saja.
Ia meletakkan tas yang dibawanya di samping Anindya.
"Ada apa?" tanyanya ketika melihat Anindya hanya sibuk dengan ponselnya saja.
"Ponselku tidak mau menyala. Sepertinya rusak karena kemasukan air. Bagaimana ini? Apa tuan tahu cara memperbaikinya?" tanyanya dengan wajah memelas.
Adrian sungguh tak tahan melihat wajah istrinya yang seperti itu. Itu terlalu menggemaskan baginya.
Ia pun mencoba untuk memeriksanya. "Sepertinya ponselnya memang rusak. Sudah tak perlu pikirkan itu. Aku akan membelikan yang baru untukmu." ucap Anindya berusaha untuk menghiburnya.
"Eh... tidak perlu di ganti. Aku rasa ponsel itu masih bisa di perbaiki." tolak Anindya ingin merebut kembali ponsel itu dari tangan Adrian.
Namun Adrian tidak membiarkannya mengambil ponsel itu. Ia malah melemparkan ke tempat sampah.
"Kenapa di buang? Apa kau sudah tidak waras." hardiknya.
Anindya lalu mengambil ponsel itu kembali dari tempat sampah dan membersihkannya. Ia akan memperbaikinya nanti. Ia lalu meletakkan ponsel itu di atas meja.
"Oh ya! Apa tidak ada pakaian yang bisa ku pakai?" tanyanya pada Adrian.
"Pakaianmu ada di dalam tas itu." ia mengarahkan matanya ke tas yang ada di atas sofa.
Anindya lalu membuka tas itu dan melihat isi dalamnya. Ternyata benar, ada pakaiannya juga pakaian untuk Adrian. Ternyata ia tadi pergi untuk mengambil tas. Tapi siapa yang membawakan tas ini.
Anindya lalu mengambil sebuah gaun berwarna putih yang terlihat sepertinya pakaian tidur. Ia lalu membawanya ke kamar mandi agar ia bisa mengganti jubah mandinya.
Sementara Adrian terus saja menatap wanita itu hingga ia masuk ke dalam kamar mandi. Ia tampak menyeringai. Memikirkan sesuatu yang akan terjadi malam ini dengan istri kecilnya itu.
"Aku tidak akan melepaskanmu malam ini!"
__ADS_1
****************
*
*
*
*
*
*
*
*
*
*
Maaf baru bisa up lagi ya. Semoga kalian tidak kecewa. Aku usahain untuk up banyak hari ini ya.
Makasih buat reader yang masih setiap nungguin updatenya setiap hari. Terima kasih juga buat semua yang udah mendukung karyaku ini.
Tetap sertakan:
like
komentar
vote
rate ya 😄
Tambahin juga sebagai salah satu list favorit kamu ya. Biar gak ketinggalan up terbarunya. 😊😊❤🍒
Terima kasih buat semua pembaca yang udah kasih dukungan.
salam hangat dari
Thiea 🥰🌹🍎❤
__ADS_1