
Alan sampai di rumah menjelang adzan maghrib. Suasana rumah besarnya amat sepi tak seperti siang tadi. Sepertinya keluarga Aisyah sudah pulang. Alan tak sempat berpamitan dengan baik. Dia juga menyadari bahwa tindakannya yang pergi begitu saja setelah membatalkan pinangannya pada Aisyah dirasa tidak sopan.
Alan masuk ke rumah. Suasana rumah terasa berbeda. Tak ada siapapun baik di ruang tamu maupun di ruang keluarga. Hal ini amat tak biasa, karena biasanya keluarganya selalu berkumpul sembari menunggu adzan maghrib. Memilih berfikir positif, Alan naik menuju kamarnya di lantai dua.
Begitu berada di lantai dua, dia melihat pintu kamar adiknya yang terbuka. Alan mengurungkan niatnya masuk ke kamarnya dan memilih menuju kamar Alfin.
tok tok
"Assalamu'alaikum, Alfin." ucap Alan. Dia tidak masuk ke kamar Alfin begitu saja sebelum dipersilakan.
"Waalaikum salam, mas. Masuk saja." balas Alfin dari dalam kamar.
"Mas masuk kalau begitu ya." ucap Alan.
Lelaki dua puluh lima tahun itu mulai melangkahkan kakinya. Alfin sedang mengeringkan rambutnya ketika Alan masuk ke dalam kamar.
"Alfin, kenapa rumah sepi sekali?" tanya Alan sembari mendudukan dirinya ke sofa kamar.
Alfin meletakan handuk kecilnya di gantungan kemudian menatap Alan, "Keluarga Aisyah sudah pulang begitu mas pergi. Dan sedari tadi, bunda dan ayah terus berada di kamarnya." jawab Alfin.
Alan seketika tertegun mendengarnya. Mungkinkah mereka kecewa padanya hingga mengurung diri?
"Mas jangan merasa bersalah. Bunda dan ayah mendukung keputusan mas. Tidak ada yang perlu disesalkan." ucap Alfin seakan mengerti bahwa Alan merasa bersalah.
"Mas hanya takut dengan tindakan mas ini, banyak pihak yang tersakiti." timpal Alan pelan.
Alfin menghela nafasnya lalu duduk di pinggir ranjang menghadap kakaknya itu.
"Alfin tidak bisa memungkiri bahwa memang banyak pihak yang pro maupun kontra atas keputusan mas. Ayah dan bunda mungkin bisa menerimanya terlebih kini bunda sudah tahu kebenarannya. Keluarga Aisyah...mungkin ada yang menerimanya ada yang tidak. Aisyah bahkan masih berusaha mengemis belas kasih dari bunda untuk membujuk mas agar membatalkan keputusan mas."
"Lalu apa yang terjadi setelahnya?"
"Tentu bunda menolak. Bunda bilang, beliau tidak bisa mencampuri apa keputusan mas. Bunda harus menghormatinya begitupun Aisyah. Bagaimanapun, keputusan pembatalan itu akibat ulahnya sendiri."
Alan menghela nafas, "Situasinya menjadi rumit hingga mas memilih keputusan itu."
Alfin mengangguk menyetujui, "Aku mengerti, mas. Sejujurnya menurutku itu keputusan paling baik yang bisa diambil saat ini. Tapi entah kenapa aku merasa bahwa ini juga bisa jadi ide yang buruk." balas Alfin dengan raut mengernyit.
"Apa maksudmu?" tanya Alan tak mengerti.
"Aisyah bukan lagi Aisyah yang kita kenal. Dia sudah sangat berbeda. Aku takut karena Aisyah tidak menerima keputusan mas, dia akan melukai Kansha." jawab Alfin menatap Alan.
"Apa? Kenapa?" tanya Alan bingung. "Kansha tidak ada hubungannya dengan ini semua. Meski alasan Aisyah melakukan hal itu karena Kansha tapi itu hanya salah paham."
Alfin langsung menggeleng tegas.
"Mas salah. Bagi Aisyah, Kanshalah penyebab mas memutuskan perjodohan kalian. Karena Kanshalah yang membuat mas berpaling darinya. Terlebih Aisyah dibantu oleh Aura. Kata mas, Aura adalah teman SMA Kansha yang sangat membenci Kansha."
Alan terdiam. Perasaanya menjadi tidak enak sekarang. Bagaimana kalau apa yang dikatakan Alfin benar? Bahwa Aisyah akan mengincar Kansha? Aisyah bukan lagi perempuan yang dia kenal. Dia tidak tahu apa yang difikirkan perempuan itu atau apa yang akan dilakukan olehnya. Alan tidak bisa menduga-duga.
"Jadi kurasa mas, mas harus lindungi Kansha. Bagaimanapun ketika dua orang yang sama-sama membenci Kansha bersatu, maka Kansha akan dalam situasi yang jauh dari kata aman."
***
Kansha mengemudikan mobilnya menembus jalanan padat Jakarta yang langitnya hampir menghitam. Dia mengemudi dengan tenang namun berusaha cepat. Tapi begitu dia melihat kaca spion, ada sebuah mobil hitam tepat dibelakangnya. Entah kenapa, Kansha merasa diikuti.
Untuk membuktikannya, gadis itu menginjak pedal gas dan mobilnya melaju cepat. Dia memutar setir ke kanan dan kiri bergantian, menyalip kendaraan lain. Dan begitu dirasa dia sudah berada di jalan yang lebih lenggang, mobil itu masih mengikutinya di belakang.
"Siapa yang mengikutiku?" gumam Kansha mulai was-was.
Kansha terus melajukan mobilnya lurus tanpa berbelok sehingga dia terus berada di jalan raya. Seharusnya arah jalan pulangnya adalah belok kanan, namun karena dia takut ada apa-apa, jadinya dia memilih jalan yang aman. Meski harus memutar, tak masalah.
Kansha terus melirik mobil hitam itu. Dia ke kanan, maka mobil itu juga ke kanan, begitulah seterusnya. Kansha mencoba tetap tenang. Dia ingin segera sampai rumah.
Kansha kini masih berada di jalan besar. Dia mulai mengebut. Dan mobil itu seperti mengejarnya. Mobil itu seperti harus berada tepat di belakang mobilnya.
Kemudian Kansha melihat di depannya ada belokan ke kanan yang cukup menjorok ke dalam. Kansha menggunakan kesempatan itu. Dia menekan pedal gas kemudian tiba-tiba berbelok kanan. Dia lalu melihat ke kaca spion, mobil itu melaju lurus karena kelebihan kecepatan. Kansha mendesah lega.
Tak lama, Kansha sampai di gerbang perumahannya. Dia lalu menepikan mobil di depan pos jaga. Dia membuka kaca jendela mobil dan berkata lirih pada satpam perumahannya.
"Kalau ada mobil hitam yang masuk setelah saya, tolong halangi dan tanyai apa kepentingannya. Kalau bisa, jangan sampai masuk." pesan Kansha.
"Baik, bu." sahut satpam itu. Kansha tersenyum sembari mengucap terimakasih kemudian menutup kaca mobil dan mulai melajukan mobilnya kembali.
Tak lama, seperti perkiraan Kansha, sebuah mobil hitam berhenti tepat di depan gerbang perumahan Kansha. Namun mobil itu tidak masuk kedalam perumahan dan malah langsung melaju pergi.
***
Kansha keluar dari mobilnya. Dia menyandarkan dirinya di badan mobil. Menghela nafas lega karena dia berhasil kabur dari penguntit itu. Entah apa tujuannya, Kansha merasa ada yang tidak beres.
Kansha lalu masuk ke rumahnya. Suasana rumah sepi seperti biasanya. Bi Ningsih mungkin sedang berada di paviliun sedangkan mama dan papanya masih dalam perjalanan bisnis.
Kansha lalu berjalan menuju ruang keluarga. Kansha rasa rencananya malam ini adalah menonton film sampai larut malam sembari mengemil.
Namun ketika sampai di ruang keluarga, dia mencium aroma harum masakan. Sepertinya ada yang tengah memasak. Tapi siapa? Bi Ningsih tidak mungkin karena dia sudah menyuruh Bi Ningsih untuk tidak memasakannya makan malam karena dia akan makan diluar.
"Ah, mungkin Bi Ningsih sedang masak makan malam untuk dirinya." gumam Kansha.
Kansha lalu memilih menuju dapur alih-alih langsung ke kamarnya. Dan betapa terkejutnya bahwa yang memasak adalah Grace, mamanya. Kansha seketika terpekik kaget.
"Loh, ma? Mama sudah pulang?" tanya Kansha terkejut. Pasalnya orang tuanya itu bilang bahwa mereka akan kembali satu minggu lagi.
__ADS_1
"Mama kangen sama anak mama ini. Lagian kamu sudah terlalu lama ditinggal. Kamu pasti kesepian." balas mamanya. Grace mematikan kompor.
Kansha berjalan menuju mamanya dan memeluk Grace dengan erat.
"Aku kangen sama mama." ucapnya.
Grace membalas pelukan putrinya itu, "Mama juga kangen sama kamu." balasnya.
Setelah berpelukan cukup lama, Kansha dan Grace melepaskan pelukan mereka.
"Kata Bi Ningsih, kamu pesan untuk tidak masak karena kamu makan diluar." ucap Grace.
"Iya, ma. Soalnya sepi kalau makan di rumah." jawab Kansha.
"Kan ada Bi Ningsih. Lagipula makan di restoran emang kamu tidak kesepian juga? Sama-sama sendiri. Ataukah jangan-jangan, " Tatapan Grace mulai menyelidik, "Kamu sudah punya pacar?" tuduh Grace curiga.
"Ya ampun, ma. Aku tidak punya waktu untuk memikirkan itu disaat kerjaanku sedang menumpuk-numpuknya. Mama ada-ada saja." sanggah Kansha.
"Habisnya, kamu aneh-aneh saja alasannya." balas mamanya.
"Aku biasanya makan bersama rekan kerjaku seringnya sama Seli. Meski dia sudah bersuami, dia rela mau menemani orang jomblo sepertiku." sahut Kansha terkekeh malu.
"Kamu kenapa malah menganggu sih. Seharusnya kamu cari pacar saja. Biar yang menemani kamu bukan Seli lagi. Kasihan suaminya dong." omel Grace.
"Yah, aku kan tidak tahu. Seli sendiri yang memaksa. Lagian bukannya mama belum setuju aku punya pacar?"
"Kapan mama bilang begitu?"
"Tadi, nada suara mama seperti peringatan. 'Jangan-jangan kamu sudah pacar?' gitu." ujar Kansha menirukan ucapan Grace.
"Kamu suka salah paham ih sama mama." balas Grace mencebik. "Bukannya mama melarang, malah mama berharap kamu sudah punya kekasih asal kekasih kamu itu dikenalkan dulu ke papa dan mama." jelas Grace.
"Siap, ma. Kalau sudah waktunya, aku akan langsung membawa calon suamiku." ucap Kansha.
"Baiklah, mama tunggu." balas Grace.
"Oh iya, ma, papa juga pulang kan?" tanya Kansha. Dia mengedarkan pandangannya kesekeliling namun batang hidung ayahnya tak terlihat sama sekali.
"Iya, kami kan satu paket." balas Grace tertawa.
Kansha ikut tersenyum mendengarnya, "Papa dimana dong ma?" tanyanya.
"Papa sedang mandi. Kamu juga mandi, kamu baru pulang kerja pasti keringatan." ucap Grace.
"Iya, ma. Kansha ke atas dulu kalau begitu."
"Habis itu turun ya, kita makan malam." pesan Grace.
Cup
Dia mengecup pipi mamanya lalu berjalan keluar dapur. Grace hanya menggelengkan kepalanya sembari tersenyum dan mulai fokus pada masakannya lagi.
***
Kansha, Grace dan Andrian sedang makan malam bersama. Ini adalah kali pertama mereka sekeluarga makan malam setelah tidak bertemu hampir satu bulan. Andrian dan Grace memang sedang sibuk dengan perusahaan mereka di luar negeri hingga harus meninggalkan Kansha dalam waktu yang lama.
"Oh ya, Kansha, bagaimana dengan perkembangan pembangunan ARC di Korea Selatan?" tanya Andrian.
"Semuanya lancar, pa. Aku baru kesana beberapa hari yang lalu. Mr.Haseong bilang bulan depan diprediksi akan rampung." jawab Kansha.
"Syukurlah, kamu luar biasa, Kansha. Papa bangga denganmu."puji Andrian.
"Aku bisa mewujudkannya karena dukungan dari kalian." balas Kansha.
"Semuanya atas usaha kamu, kami hanya membantumu membuka jalan pertama kalinya. Bagaimana kamu melaluinya dan cara kerjanya, itu semua tergantung kamu." timpal Andrian.
Grace mengangguk, "Kamu memiliki pemikiran terbuka dan ambisius. Dunia Jurnalistik sebenarnya belum mendapat tempat terlalu banyak di luar negeri. Apalagi yang berasal dari negara lain. Jadi jadikan itu sebagai peluang untuk membuka kesempatan yang lebih luas lagi."
"Baik, ma. Kansha akan melakukan yang terbaik dan tidak akan mengecewakan kalian." ujar Kansha tersenyum.
***
"Jadi, mas, tadi bersama Kansha?" tanya Alfin.
Alan mengangguk membenarkan.
"Kamu pasti yang mengatakan pada Kansha soal ini kan?" tebak Alan.
Alfin kini yang mengangguk.
"Kenapa kamu lakukan itu?" tanya Alan.
Alfin terdiam. Sejujurnya, dia juga tidak tahu kenapa. Hanya saja, setelah melihat kecocokan antara Alan dan Kansha ketika bersanding, Alfin merasa ingin mereka lebih dekat lagi. Terlebih ketika mendengar pengakuan Kansha soal perasaannya pada Alan, Alfin rasa dia jadi lebih gencar. Setiap berita sekecil apapun, dia ingin baik Kansha atau Alan sama-sama tahu kabar terbaru masing-masing.
"Aku hanya memberitahunya. Mungkin Kansha bisa mengajak mas berbicara untuk meringankan beban mas." jawab Alfin.
"Mas jadi merasa bersalah. Seakan-akan, anggapan Aisyah benar bahwa mas memang memiliki kedekatan khusus dengan Kansha."
Alfin terdiam, dia lalu bangkit berdiri menghampiri Alan yang duduk mengerut di sofa. Dia duduk di samping Alan, menatap kakaknya penuh kekhawatiran.
"Mas, tidak ada yang salah dengan mas. Alfin akui bahwa mas memang terkesan dekat dengan Kansha, tapi Alfin tahu bahwa mas tidak punya keinginan untuk menduakan Aisyah. Jadi berhentilah merasa bersalah."
__ADS_1
"Tapi mas, ada yang ingin Alfin tanyakan sama mas."
"Apa?" tanya Alan menoleh.
"Bagaimana perasaan mas pada Kansha? Apa mas benar-benar hanya menganggap Kansha sebagai seorang teman?"
Alan terdiam kembali. Entah kenapa akhir-akhir ini pertanyaan yang berasal dari Alfin selalu membuatnya terdiam dan memutar otak sebelum menjawab.
"Kenapa tiba-tiba kamu bertanya seperti itu?" tanya Alan.
Alfin mengedikan bahu, "Alfin akan mengatakannya kalau mas mengatakan yang sebenarnya dulu."
"Mas..tidak tahu." balas Alan setelah berfikir lama.
"Mas tidak tahu?" tanya Alfin bingung.
"Iya, mas tidak pernah memikirkan hal itu sebelumnya. Bagi mas, kedekatan kami semuanya alami karena kami pernah bersama saat terdampar dulu."
"Jadi mas dekat dengannya sebagai seorang teman seperjuangan atau seorang wanita?" cecar Alfin.
"Apa itu berbeda?"
"Tentu saja beda." balas Alfin gemas.
"Ooh.." balas Alan.
Alfin menghela nafas, "Menurutku, mas menyukainya." tandasnya.
"Bagaimana bisa kamu menyimpulkan seperti itu?" tanya Alan terkekeh tak percaya.
"Aku pernah menanyakan hal yang sama dengan mas beberapa bulan yang lalu. Awalnya aku ragu mas menyukai Kansha tapi kini, aku menjadi sangat yakin."
Alan terkekeh kembali, dia menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Kamu ada-ada saja." ujarnya.
"Berarti mas tidak menyukainya, benar kan?" tanya Alfin memastikan.
Alan menggeleng.
Alfin tersenyum membuat Alan menjadi bingung, "Kalau begitu, bolehkan aku menyukai Kansha?"
Mendengar hal itu, Alan menatap tak percaya pada Alfin.
***
Kansha sedang bekerja di kantornya ketika pintunya di ketuk seseorang.
"Masuk." ucapnya tanpa mengalihkan pandangannya pada berkas-berkas dihadapannya.
Pintu terbuka, dan orang itu masuk ke dalam ruangan Kansha.
"Selamat siang." sapanya.
"Siang." balas Kansha tanpa menoleh sedikitpun.
"Ayo, makan siang bersama." ucap orang itu.
Kansha menghentikan pekerjaanya. Rasanya suara Seli tidak seberat ini. Dia mendongak dan matanya terbelalak melihat Alan berdiri di depannya.
"Alan? Kenapa kamu ada disini?" seru Kansha terkejut. Saking terkejut dan tak percayanya, dia langsung bangkit berdiri.
"Memang aku tidak boleh ke kantormu?" tanya Alan dengan senyum mengembang di bibirnya.
"Bukan begitu. Hanya saja, aku tidak percaya aku melihatmu di kantorku. Kamu juga tidak mengatakan sebelumnya akan kemari." balas Kansna bingung.
"Aku sengaja tidak memberitahumu. Bagaimana, pekerjaanmu sudah selesai?"
Kansha menggeleng, "Aku masih memiliki pekerjaan lain."
"Kalau begitu aku tunggu. Selesaikan dulu pekerjaanmu." ucap Alan ringan.
Kansha mengernyit heran, "Hah? Kamu serius?"
Alan menggeleng, "Tentu. Dimana aku duduk?"
Kansha merasa aneh namun tak urung menunjuk sebuah kursi di dekatnya.
"Kamu bisa duduk disana." balas Kansha perlahan. Dia merasa ada yang tidak beres dengan Alan.
"Baiklah." Alan lalu duduk di kursi yang tadi ditunjuk Kansha.
"Silakan lanjutkan pekerjaanmu. " ucap Alan tersenyum.
Kansha makin merasa aneh, "Kamu lebih baik makan duluan saja. Kalau menungguku, pasti lama." ucap Kansha.
Alan menggeleng, "Aku ingin makan siang denganmu. Dan tidak masalah menunggu lama. Baik, selamat bekerja. Semangat!" ucap Alan jelas.
Kansha mengangguk ragu, kemudian dia bergegas duduk kembali di kursinya. Sebelum dia melanjutkan pekerjaannya, matanya bertemu dengan mata Alan.
"Semangat!" seru Alan lirih tapi penuh semangat.
__ADS_1
Kansha tersenyum garing lalu cepat-cepat menenggelamkan diri ke pekerjaannya.