My Husband My Pilot: Tragedi Pesawat Jatuh

My Husband My Pilot: Tragedi Pesawat Jatuh
Bab 92.


__ADS_3

Mobil SUV Kansha melaju mengikuti mobil yang dikemudikan Alfin menuju rumahnya. Sepanjang jalan, Kansha berusaha bersikap tenang dan biasa saja. Dia bukan memikirkan soal bagaimana dirinya nanti saat di rumah Alfin, tapi kepada persepsinya mengenai kakak kandung Aisyah. Dia tidak mungkin kakaknya bukan? Dirinya tidak mungkin Azzahra. Tapi semua bukti yang diperlihatkan Alfin tanpa sadar membawanya pada kenyataan tersebut.


Dan kalau benar bahwa dirinya memang Azzahra selama ini, entah apa yang akan dia rasakan nanti. Bagaimana tanggapan Aisyah dan abinya. Dia juga belum siap mengetahui kenyataan itu. Terlebih bagaimana tanggapan orang tuanya yang selama ini merawatnya dan mengasihinya. Dan Bu Sari.


Lalu Kansha juga sampai pada pertanyaan lain. Tentang mengapa dia bisa terpisah dari keluarganya. Tentang apakah selama ini orang tua kandungnya mencarinya atau tidak. Tentang apakah dirinya berharga bagi kedua orang tua kandungnya apa tidak. Tentang dan tentang, semuanya seakan memiliki tanda tanya di tiap ujungnya. Dan Kansha ingin menuntut jawabannya satu persatu.


Seiring dengan pemikirannya yang makin mendalam, Kansha sampai di pelataran rumah Alfin. Rumah keluarganya itu amatlah besar dan indah hingga Kansha yakin seratus orang akan muat tinggal disana. Terlebih, ketika Kansha lebih masuk ke dalam, ada sebuah taman kecil di sudut yang tengahnya terdapat air mancur. Bunga-bunga warna warni juga berjajar menghiasi tiap sudut. Kansha yakin bahwa bunda Alan dan Alfin itu sangat menyukai bunga.


Bunda mengajak Kansha masuk ke ruang tamu. Begitu masuk, potret keluarga besar Andra, langsung menyita perhatian Kansha. Mereka berpose resmi berbalut busana serba putih. Alan dan Alfin yang nampak gagah, berdiri mengapit ratu mereka, sang bunda serta sang raja, ayah. Di wajah mereka, senyum bahagia terkembang indah hingga Kansha merasa iri. Dia tidak pernah melakukan foto keluarga seperti itu. Di rumahnya, hanya ada potret monokrom yang berfungsi sebagai pemanis saja.


Bunda menyuruh Kansha duduk, sedangkan Aisyah permisi sebentar ingin ke kamar untuk berganti baju. Alfin juga langsung menghilang begitu mereka sudah memarkirkan mobil sehingga di ruang tamu hanya ada bunda dan Kansha saja.


"Nak Kansha apa kabar?" tanya bunda menatap Kansha yang sedari tadi duduk dengan canggung.


"Baik bunda. Bunda sendiri apa kabar?"ucap Kansha dengan sopan.


"Bunda alhamdulillah baik-baik saja. Bunda malah sedang merasa bahagia saat ini." ucap bunda tersenyum. Kebahagiaan memang nampak di raut wanita cantik yang sudah tak lagi muda itu.


"Bahagia kenapa bunda? Pasti ada kabar baik ya." balas Kansha.


"Iya, memang ada kabar baik. Alan dengan Aisyah kan akan menikah sebentar lagi. Mereka akan lamaran besok." ucap bunda antusias.


deg


Kansha yang tadinya tersenyum lebar kini melunturkan senyumnya.


Alan akan melamar Aisyah besok?


"Pasti Alan sudah memberitahumu kan. Kalian selalu berhubungan baik. Bunda tahu itu." lanjut bunda tidak menyadari raut Kansha yang nampak tidak baik-baik saja.


Tidak..bunda, Alan tidak pernah memberitahuku


Kapan Alan memberitahukan soal itu padanya. Lelaki itu bersama seharian kemarin, dan tidak pernah ada pembahasan seperti itu saat itu. Alan tidak pernah menyinggung hal itu sama sekali.


"Itu berarti kalian sudah memutuskan kapan akan menikah bukan?"


Giliran Alan yang terdiam sesaat, namun setelah itu menganggukkan kepalanya. "Rencananya dua bulan lagi."


Kansha menarik nafasnya, "Secepat itu?"


"Iya, sebelum kondisi kesehatan Aisyah makin memburuk. Aku perlu menemaninya disisinya."


Nafas Kansha serasa tertahan. Kilasan percakapannya dengan Alan kemarin kembali terputar diingatannya. Kansha tahu bahwa waktunya sudah diputuskan, hanya saja dia tidak tahu bahwa lamarannya akan secepat ini. Dan apa maksud dari lelaki itu tidak memberitahunya.


Sadar Kansha, dia bukanlah siapa-siapamu..


Kansha menghela nafas. Benar, dia bukanlah siapa-siapanya Alan. Dia tidan berhak marah bahwa Alan tidak memberitahunya. Dia juga tidak berhak untuk tahu bukan? Yang harus dia lakukan hanyalah mendukung keputusan lelaki tersebut.


Cinta bertepuk sebelah tangan, memang merepotkan hatinya tiap saat.


"Nak Kansha? Kenapa melamun?" tegur bunda ketika melihat Kansha yang hanya diam saja.


Kansha tersentak kemudian menggeleng pelan. Ekspresinya kembali biasa saja.


"Alan pernah memberitahuku soal rencana ini. Aku senang Alan dan Aisyah akhirnya akan menikah." sahut Kansha tenang plus dengan satu senyuman yang dia berikan untuk meyakinkan ucapannya. Dia tidak boleh lemah, benar kan? Bunda tidak boleh tahu apa yang dia rasakan sebenarnya.


Kemudian Aisyah turun ke lantai satu, dia langsung duduk di samping bunda dan berhadapan langsung dengan Kansha.


"Oh ya, Kansha, bunda sebenarnya ingin mengundang kamu makan bersama sebagai ucapan terima kasih telah menjaga Alan selama kejadian itu tapi bunda belum sempat terlebih lagi kita sempat putus komunikasi." ucap bunda.


Kansha tersenyum tipis, "Alan yang selama ini menjaga saya dengan baik selama disana. Dia yang menyalakan api unggun, berburu makanan hingga memasaknya. Saya hanya bisa menyusahkan dia saja." ucap Kansha merendah.


"Emm, bunda, sekarang waktunya makan siang, Mas Alan juga akan pulang sebentar lagi, bagaimana kalau kita menyiapkan makan siang sekarang?" sela Aisyah lembut.


"Boleh, bunda juga tadi hendak mengatakan itu. Nak Kansha makan siang disini saja ya." ucap bunda.


Kansha hendak menolak tapi tak jadi karena raut bunda sudah terlihat berharap. Mau tak mau, Kansha mengangguk. Bunda kelihatan senang sekali kemudian menyuruh Kansha diam saja di ruang tamu.


Sepeninggal Aisyah dan bunda, Kansha duduk sendirian. Dia menghela nafas pelan. Kemudian suara derap langkah terdengar menuruni tangga, Alfin datang menghampiri Kansha.


"Kamu darimana saja? Kenapa malah menghilang?" seru Kansha pelan.


"Maaf, aku ada urusan sebentar." ucap Alfin merasa bersalah telah meninggalkan Kansha sendirian bersama bunda dan Aisyah.

__ADS_1


"Kalau saja kita langsung berbicara, aku tidak perlu lama-lama disini. Alan akan datang, aku tidak bisa menemuinya sekarang." bisik Kansha.


"Kenapa?" tanya Alfin.


"Menurutmu? Aku sudah tahu kalau Alan akan melamar Aisyah besok. Katakan, kenapa tidak ada siapapun yang memberitahuku soal itu?"


Alfin mematung. Dia menelan ludah susah payah. Kalau bukan bunda yang memberitahu, pastilah Aisyah.


"Aku juga tidak tahu. Aku sendiri terkejut bahwa kamu tidak tahu soal hal ini. Kukira Mas Alan akan memberitahumu karena kalian seharian bersama." ucap Alfin pelan.


Kansha menghembuskan nafas pelan, "Aku sudah tidak punya kesempatan lagi, benar kan?" Alfin menoleh pada Kansha yang beraut kusut.


"Untungnya aku tidak mengatakan perasaanku padanya. Coba kalau iya, aku tidak tahu akan dikemanakan mukaku nanti." lanjut Kansha pelan.


Alfin turut menghela nafas. Dia mengerti atas kegundahan hati Kansha. Jatuh cinta memang tidak salah. Kita tidak tahu akan kemana perasaan kita berlabuh. Hanya saja, yang selalu jadi ujung tombak adalah tindakan kita saat menyikapinya. Dan Kansha memilih mengendalikan perasaannya pada Alan yang hampir dimiliki orang lain.


"Aku akan menyusul bunda dulu." kata Kansha.


"Untuk apa? Ada Aisyah disana." cegah Alfin.


"Ya terus? Aku dan Aisyah bukanlah musuh. Lagipula tidak enak bila aku hanya berdiam saja sedangkan bunda tengah memasak sendirian." Usai mengatakan itu, Kansha bangkit dan menuju dapur.


"Kansha! Kansha! Jangan!" seru Alfin. Tapi Kansha tidak berbalik bahkan untuk sekedar menoleh. Alfin berdecak.


"Perasaanku jadi buruk." gumam Alfin kesal.


***


Kansha menghampiri bunda dan Aisyah yang tengah memasaka bersama. Bunda menyambutnya dengan ramah dan mempersilakan Kansha ikut memasak dengannya.


Kansha memperhatikan bagaimana interaksi bunda dan Aisyah sembari memotong wortel. Mereka terlihat sangat dekat. Bunda dan Aisyah memasak dengan riang, saling bercanda dan tertawa. Mereka seperti terlihat ibu dan anak. Dan Kansha hanya bisa diam saja. Dia tidak bisa ikut pembicaraan mereka. Kansha seketika menyesali keputusannya ikut memasak. Seharusnya dia mendengarkan Alfin untuk tetap di ruang keluarga saja.


"Bunda ke toilet dulu ya. Kansha, bunda ke toilet dulu." ucap bunda pada Aisyah dan Kansha. Kansha yang mendengar namanya disebut juga mengangguk.


Di dapur tinggalah Aisyah dan Kansha. Keheningan seketika terasa. Baik Aisyah dan Kansha fokus pada tugas masing-masing. Tampaknya, baik Aisyah atau Kansha tidak ingin memulai pembicaraan.


"Mbak, jadi tidak tahu malu." celetuk Aisyah setelah lama terdiam. Dia berbicara tajam sambil dengan santai memasukkan sayuran kedalam panci yang airnya tengah mendidih.


"Apa maksudmu?" tanya Kansha tenang. Dia juga tetap fokus pada masakannya.


Kansha menghela nafas lelah, kurasa apa yang dia lakukan di mata Aisyah pastilah salah.


"Aku tidak mengerti kenapa kamu sepertinya benci sekali denganku." ucap Kansha.


"Aku tidak membenci mbak. Aku hanya membenci tindakan mbak yang tidak tahu malu ingin merebut calon suami orang." balas Aisyah tajam.


Kansha kehilangan kesabaran, dia menaruh pisau yang dipegangnya dengan keras membuat Aisyah sedikit tersentak kaget.


"Dengar. Usia kita berbeda dua tahun, dan kamu benar-benar tidak sopan. Sudah berapa kali kubilang, aku tidak berniat merebut calon suamimu." tekan Kansha menatap Aisyah dengan tajam.


Aisyah hampir terintimidasi tapi kini beralih melawan dengan menatap Kansha, "Aku tidak akan bilang seperti ini, kalau tidak ada buktinya." desis Aisyah. "Katakan saja, kalau mbak memang menyukai Mas Alan." desaknya.


Kansha terdiam sesaat.


"Iya, aku menyukainya, kamu puas?!"


Aisyah sempat ternganga, tapi kini rautnya kembali tenang meski matanya terlihat sedikit bergetar. Dia tidak menduga Kansha akan langsung mengakuinya. Aisyah memang tahu bahwa Kansha menyukai Alan tapi mendengar hal itu terucap langsung di mulut Kansha, Aisyah tidak mengiranya.


"Lihat, kan? Mbak memang menyukainya. Itu berarti aku tidaklah salah." ucap Aisyah tersenyum sinis.


"Meski aku menyukainya, bukan berarti aku ingin merebutnya. Aku masih punya akal sehat." tukas Kansha.


"Kita lihat saja, apakah yang mbak katakan itu sesuai dengan tindakan mbak atau tidak." tantang Aisyah dengan seulas senyum sinis.


***


Alan sampai di rumah begitu jam makan siang tiba. Jalanan macet sekali, jadi dia tidak bisa cepat-cepat. Padahal dia tengah cemas karena mendengar Kansha ada di rumahnya.


Alan langsung disambut oleh Aisyah. Kansha melihatnya melalui celah-celah antara ruang makan dan ruang depan, mereka terlihat seperti sepasang suami istri.


Alan kemudian menuju ruang makan. Dan pandangannya jatuh pertama kali pada Kansha yang duduk dengan tenang di samping Alfin. Bunda lalu menyuruh Alan duduk di depan Kansha dan Aisyah duduk disampingnya. Kansha mencoba melihatnya dengan biasa saja.


Sepanjang makan, Aisyah terus melayani Alan dengan baik. Dia membawakan nasi dan lauk pauk yang disukai Alan. Kemudian menuang air putih. Alan menerimanya dengan canggung karena tidak enak pada Kansha. Bahkan sedari tadi Alan terus mencoba mencuri lirik pada Kansha tapi Kansha fokus pada makanannya dan terkadang mengobrol dengan Alfin yang ada disampingnya.

__ADS_1


"Bagaimana makanannya, Kansha?" tanya bunda perhatian.


"Enak bunda. Saya sudah lama tidak merasakan masakan rumahan seperti ini. Terima kasih." ucap Kansha tulus.


"Sambil menunggu penerbanganmu, bagaimana kalau kita mengobrol ringan sambil minum jus?" tawar bunda riang.


Kasha bangkit berdiri, "Kalau begitu, biar Kansha yang membuatnya bunda." Kansha mengajukan diri.


"Tidak apa-apa?" tanya Bunda. Kansha mengangguk.


"Anggap saja, sebagai ucapan terima kasih saya."


"Ya sudah, bunda minta tolong ya." ucap bunda.


"Baik, bunda." angguk Kansha.


"Kansha, aku kopi ya." celetuk Alfin menyengir.


"Oke." ucap Kansha.


"Eh, Mas Alan juga! Iya kan, mas?" Alfin menatap Alan.


"O-oh iya." angguk Alan terbata-bata. "Gulanya hanya satu sendok."lanjutnya pelan.


Kansha terdiam kemudian mengangguk tanpa menatap Alan.


Kansha lalu menuju dapur dan mulai membuat minuman. Dia membuat jus untuk bunda, Aisyah dan dirinya. Juga kopi untuk dua bersaudara.


Setelah siap, dia membawanya meuju ruang keluarga. Tidak ada siapapun disana. Sepertinya mereka sedang shalat dzuhur karena tadi Kansha lihat jam sudah pada angka 12.


Kansha lalu menaruh satu persatu gelas di meja. Dimulai dari jus untuk bunda dan kopi untuk Alfin.


"Kansha." panggil seseorang dari lantai atas.


Kansha mendongak dan ada Alfin yang memanggilnya rupanya. Dia melambaikan tangan pada Kansha bermaksud meminta Kansha datang.


"Kemarilah." serunya.


Kansha lalu naik ke atas menghampiri Alfin yang sudah menunggu. Alfin membawanya ke sebuah ruangan seperti ruang kerja. Banyak replika pesawat menghiasi ruangan ini. Dan di ruangan ini tidak hanya ada Alfin, melainkan Alan juga ada.


Kansha berdecak sebal pada Alfin.


***


Di sisi lain, bunda datang pertama di ruang keluarga. Dia bingung tidak melihat kehadiran Kansha sedangkan minuman dan kue kering sudah tersedia di meja.


"Ah, mungkin Kansha sedang berbicara dengan Alfin. Mereka bilang ada yang ingin dibicarakan bersama." simpul bunda.


Bunda lalu duduk dan mengambil jus jeruk yang tadi dibuat oleh Kansha. Cuacanya memang tengah panas dan meminum segelas jus pastilah sangat menyegarkan. Bunda meminumnya hingga tandas.


"Jusnya enak sekali." puji bunda.


Tapi belum juga semenit, bunda merasa pusing entah kenapa. Dia memegang kepalanya yang berdenyut sakit. Segala sesuatu terlihat berputar dan buram di penglihatannya, hingga bunda tidak bisa menahan keseimbangan.


bruk


Bunda pingsan!


***


Meski enggan, Kansha tetap berbicara dengan Alan. Dan Alfin disana menjadi penengah mereka. Karena Alfin rasa, mereka harus menyelesaikan masalah mereka dulu sebelum hal ini menjadi kesalah pahaman.


"Jadi kamu tidak memberitahuku karena itu? Aku tidak masalah kapan kamu menikah. Aku memang agak kecewa kamu tidak mengatakannya padaku. Tapi aku sadar, aku bukanlah siapa-siapa. Kamu juga sebenarnya tidak perlu memberitahuku." sahut Kansha.


"Aku minta maaf. Tadinya aku ingin memberitahumu soal ini. Hanya saja belum sempat. Aku juga tidak tahu harus bicara darimana." tandas Alan merasa bersalah.


"Aku--"


"TOLONGG!!"


Teriakan Aisyah menghentikan ucapan Kansha. Mereka langsung keluar ruangan. Mata mereka hampir copot melihat bunda terkapar di lantai dan Aisyah yang menangis. Alan, Alfin dan Kansha segera berlari turun.


"Mas Alan, bunda!" seru Aisyah menangis.

__ADS_1


Alfin langsung mengecek nadi bunda dan pupil mata bunda. Sedangkan Kansha, matanya langsung tertuju pada gelas jus yang kini sudah kosong. Kansha lalu beralih menatap bunda.


Tidak mungkin..


__ADS_2