My Husband My Pilot: Tragedi Pesawat Jatuh

My Husband My Pilot: Tragedi Pesawat Jatuh
Bab 46. Cinta Segitiga


__ADS_3

Alan kini tengah berada di perusahaan maskpainya. Tadi pagi, dirinya diminta datang karena ada suatu hal. Jadi disinilah ia, duduk berhadapan dengan pimpinannya.


“Begini Alan, mengenai insiden beberapa hari yang lalu. Saya benar-benar memuji atas tindakan profesionalmu dan ketenangan yang luar biasa kamu. Saya benar-benar kagum dan berterima kasih.” Kata Arman, direktur Key Asia.


Alan tersenyum sopan, “Saya tidak melakukan apapun. Begitulah yang seharusnya dilakukan oleh semua pilot untuk menjaga keselamatan para penumpangnya. Semuanya juga berkat Allah yang sudah memberikan perlindungan-Nya.” Ujar Alan merendah.


Arman mengangguk-angguk bangga. “Oleh sebab itu, atas prestasi kamu, BNPB ingin memberikan penghargaan padamu.”


Alan mematung. BNPB ingin memberikan penghargaan untuknya? Benarkah? Alan serasa tidak mempercayainya. Mungkin pendengarannya salah.


“Bapak tidak salah bicara? Maksud saya, BNPB---“


Arman mengangguk mantap, “Saya tidak salah bicara. Acara penghargaan itu akan diselenggarakan tiga hari lagi, jadi bersiap-siaplah.”


Alan seketika mengembangkan senyumannya. Itu bukan halusinasinya melainkan kenyataan. Alan kini berbinar-binar.


“Alhamdulillah, terima kasih pak.” Kata Alan bahagia.


“Jangan berterima kasih. Seharusnya saya yang berterima kasih padamu, teringat bahwa maskapai pesawat ini yang sudah menyebabkanmu kecelakaan namun kamu masih tetap ingin bertahan disini ditambah insiden kemarin, saya benar-benar bersyukur memiliki pilot seperti kamu.” Ucap Arman tersenyum.


“Saya mencintai pekerjaan saya dan tidak mudah sampai ke titik ini. Kecelakaan beberapa bulan lalu dan insiden kemarin hanya bagian dari garis hidup saya. Saya tidak perlu merasa trauma hingga sampai meninggalkan profesi saya. Justru, saya ingin berusaha lebih baik lagi.” Balas Alan.


“Kamu memang pantas diberi penghargaan. Saya bangga padamu.” Puji Arman.


***


“Jadi wanita gila itu yang sudah membuatmu babak belur seperti ini? dasar kurang ajar, dia sepertinya belum merasakan tendangan lurusku.” Ucap Nana berapi-api. Pasalnya ketika dia ingin berkunjung ke rumah sahabatnya itu dengan dalih rindu, malah tak disangka mendapat pemandangan yang membuat darahnya mendidih.


“Aku tidak apa-apa. Lagipula lukanya hampir sembuh, jangan terlalu lebay.” Tukas Kansha.


“Tidak bisa begitu dong! Belum puas dia merundungmu selama tiga tahun dan kini malah menganiayayamu? Dia sepertinya memang memiliki darah kriminal.” Umpat Nana.


Kansha memukul bahu Nana keras membuat Nana mengaduh. “Jangan bicara sembarangan.” Peringat Kansha “Lagipula aku yang salah sudah menyebabkannya hilang kendali. Aku menyinggung soal kematian ibunya.” Lanjut Kansha merenung.


“Iya sih, memang sedikit keterlaluan.” Kata Nana menyetujui. “Namun, itu tetap tidak sebanding dengan perlakuannya padamu bertahun-tahun. Dia bukan hanya menyakitimu melalui verbal namun juga dengan tindakan. Siapa suruh menyinggung duluan soal luka keluarga. Giliran dia yang disinggung, langsung hilang kendali. Orang seperti itu memang harus diberi pelajaran agar mulut dan tangannya dijaga.” Ujar Nana menyerocos lagi.


Kansha tersenyum kecil melihat betapa marahnya Nana yang terus saja bicara tanpa henti. Dulu, ketika dirinya dirundung Aura, tidak ada yang mau membantunya atau sekedar mendengar keluh kesahnya. Semuanya menutup mata dan berpura-pura tidak ada apapun yang terjadi. Namun kini, bahagia dan terharu rasanya ketika ada teman yang bersedia pasang badan dan menjadi tempat bersandar ketika ia tengah terluka lagi.


“Jadi dia memang pantas diberi pelajaran. Hukuman penjara terlalu ringan baginya. Bagaimana kalau sebenarnya dia masih punya korban lainnya selain kamu? Astaga para perundung itu harus segera dibas—“ Nana menoleh pada Kansha dan seketika berhenti berbicara ketika Kansha hanya diam menatapnya sembari tersenyum. “Kenapa kamu melihatku seperti itu? Awas saja kalau suka, aku akan menolakmu mentah-mentah!” kata Nana melotot.


“Iya aku menyukaimu, sangat menyukaimu.” Kata Kansha tetap menatap Nana.


“Lama kelamaan kamu menakutkan, Kansha.” Tukas Nana bergidik ngeri. Kansha terkekeh.


“Oh ya bagaimana dengan proyekmu? Sudah selesai?” tanya Kansha mengalihkan pembicaraan.


“Kamu ini selalu saja mengalihkan pembicaraan.” Tukas Nana berdecak.


“Haruskah kita lanjutkan topik tadi? Topik aku menyukaimu dan kamu mengancamku untuk menolakku mentah-mentah?” tanya Kansha menaikkan sebelah alisnya.


“Bukan yang itu. Ah sudahlah, lupakan saja.” Timpal Nana mengibaskan tangannya. “Tadi kamu bertanya apa? Tentang proyekku kan? Semuanya sudah berakhir.” Lanjut Nana.


“Syukurlah, kamu selalu saja mengeluh bahwa klienmu cerewet lah, sangat memperhatikan detail lah, perfeksionis lah dan banyak maunya. Tapi kamu tidak ingin melepaskannya karena imbalan yang besar.” Cibir Kansha.


“Iyalah. Dia membayar dengan sangat tinggi. Berkat kecerewetannya, aku berhasil menciptakan gaun wedding terindah yang pernah kubuat. Andai aku yang memakainya. Aku akan sangat senang. Usiaku sebentar lagi tiga puluh nanti empat tahun mendatang. Tapi boro-boro punya calon suami, pacar juga tidak punya dan menyedihkannya, cintaku bertepuk sebelah tangan. Kisah cintaku sungguh ironis.” Kata Nana mendesah.


“Kamu bermaksud menyindirku? Pakai bilang cinta bertepuk sebelah tangan, sekalian saja ungkap namaku.” Tukas Kansha.


“Itu kan kenyataannya.” Timpal Nana.

__ADS_1


“Kalau begitu cepat-cepat nyatakan perasaan pada kak Ruben, jangan sampai dia malah melamarku lagi. Aku mungkin akan mengatakan ya, untuk kali kedua.” Ucap Kansha memanasi.


Nana menatap sengit pada Kansha, “Kansha kamu bilang tidak menyukainya, tapi sekarang malah ingin menerimanya, bagaimana sih. Aku tidak akan rela untuk kali ini.”


“Jadi kamu lebih memilih cinta dibanding persahabatan? Kamu bilang asal Kak Ruben bahagia, kamu rela. Apalagi kamu bilang, Kak Ruben bisa menjadi kebahagiaanku yang menderita sejak dulu.”


“Tapi ini kasusnya berbeda. Kamu sudah jelas mengatakan kalau kamu tidak menyukainya. Aku harus rela apa?”


“Yasudah-sudah, tidak sudah diteruskan, aku hanya becanda.” Kata Kansha ketika melihat ekspresi Nana yang serius menjurus kesal.


“Kamu menakutiku!” pekik Nana. Kansha hanya tertawa.


“Jadi cepatlah akui perasaanmu. Kak Ruben harus tahu, bagaimana perasaanmu padanya.” Titah Kansha.


“Tapi aku takut dan tidak yakin. Maksudku, aku tidak tahu bagaimana perasaan Kak Ruben padaku. Dia juga sepertinya masih menyukaimu, dia selalu menanyakan kabarmu. Akan sangat memalukan bila aku mengakuinya kemudian ditolak.” Tutur Nana murung.


Kansha menghela nafas, “Haruskah aku berbicara padanya?”


“Bicara apa? Tanya Nana menoleh pada Kansha.


“Bicara bahwa aku tidak menyukainya. Bagaimanapun kalau difikir-dikir, lamaran yang dulu, aku belum sempat menjawab apapun.”


“Tapi itu akan membuat Kak Ruben kecewa. Aku tidak bisa melihat raut kecewa dan sedihnya nanti.” Kata Nana menggeleng.


“Lalu mau bagaimana? Apakah kamu akan terus bersembunyi di cangkangmu lalu baru keluar ketika Kak Ruben sudah memiliki istri? Kamu mau diam saja? Dan masalah kecewa atau tidak, semua orang akan merasakannya. Kadang kejujuran itu bisa menyakitkan.” Tukas Kansha.


“Sebenarnya, aku sudah memikirkan hal itu. Aku juga tidak ingin menyembunyikannya lagi semenjak melihat kejadian di kantor Kak Ruben, tapi ya itu. Aku takut bernasib sama dengan wanita itu. Dan bagaimana kalau Kak Ruben sungguhan menolakku? Aku tidak bisa bayangkan bagaimana canggungnya hubungan kita nanti. Cinta segitiga antar teman memang menyeramkan.” Geleng Nana.


Kansha yang mendengarnya hanya mendesah.


***


Dia kemudian masuk ke kontak nomor dan mencari nama seseorang. Setelah ketemu, dia hendak menekan tombol panggil namun seketika berhenti. Nama Kansha Andara terpampang di layarnya.


Alan tiba-tiba mematung. Tunggu, dia merasa aneh. Entah kenapa setiap ada kabar atau berita tentangnya, nama yang ada difikirannya untuk diberi tahu pertama kali, adalah Kansha. Ketika insiden pesawat mendarat mendadak pun, dia menunggu Kansha menghubunginya. Saat itu yang ada difikirannya adalah apakah Kansha sudah mendengar berita ini? apakah Kansha akan menghubunginya dan mengkhawatirkannya? Semua hal tentang Kansha selalu menjadi pemikiran nomor satu di benaknya. Alan jadi bertanya-tanya ada apa ini? apa yang salah dengan otaknya sebenarnya?


“Kenapa aku selalu ingin menghubunginya dan memberitahunya pertama kali?” gumam Alan. Dia menatap nama Kansha di ponselnya.


“Ada apa ini? lalu kenapa jantungku tiba-tiba berdebar? Aku sakit?” gumam Alan lagi menyentuh dada kirinya. Bayangan Kansha yang tersenyum menari dibenaknya hingga membuat jantungnya berdebar aneh.


“Kurasa aku sakit. Aku harus memperiksakannya ke rumah sakit.” Simpul Alan.


Dia lalu mengembalikan kontak Kansha dan memilih menelfon bundanya.


“Halo, assalamu’alaikum bunda. Alan ingin memberitahu kabar bahagia.” Kata Alan tersenyum dengan ponsel ditelinganya.


***


Kansha terus melirik ke arah ponselnya membuat Nana mengernyit bingung.


“Kamu menunggu pesan seseorang? Kamu selalu melirik ponselmu.” Celetuk Nana.


“Tidak kok.” Sangkal Kansha.


“Jangan berbohong. Sudah jelas kamu tengah menunggu seseorang. Menunggu Alan menghubungimu?” tebak Nana tepat sasaran.


Melihat Kansha yang diam, Nana sudah mengetahui bahwa tebakannya benar.


“Kamu menyukainya kan?”

__ADS_1


“Aku tidak—dia dan aku hanya berteman.” Sangkal Kansha lagi.


Nana berdecak, “Kamu selalu saja berkelit. Kalau begitu aku akan memberikan tes padamu.” Kata Nana.


“Tes apa?” tanya Kansha bingung.


“Jawab saja dulu. kamu akan tahu nanti.” Kata Nana tersenyum licik.


“Baik, siap?” Kansha mengangguk.


“Musim hujan atau musim panas?”


“Hujan.”


“Kopi atau teh?”


“Kopi.”


“Mentimun atau zukini?”


“Mentimun.”


“Mie ayam atau mie goreng?”


“Mie ayam.”


“Alan atau Ruben?”


“Alan.”


Kansha mematung dan seketika menutup mulutnya.


“See? Kamu menyukainya.” Kata Nana puas.


Kansha menurunkan tangannya, “Kalaupun aku menyukainya, aku tidak akan bisa bersama dengannya. Bagaimanapun, dia sudah memiliki calon istri.” Kata Kansha pelan.


“Kamu selalu saja berkelit dibalik ‘Alan sudah memiliki calon istri’ kalau kamu suka, katakan saja. Hasilnya bagaimana nanti.”


“Tidak semudah itu. Kalau seperti itu, kelihatannya aku seperti orang ketiga.” Tukas Kansha menatap Nana.


Nana tercenung, lalu menganggukkan kepalanya. “Iya sih, tapi kalian tidak memiliki hubungan apapun. Meski kamu belakangan ini sangat lengket dengannya. Orang awam mungkin akan melihatmu demikian tapi aslinya Alan kan yang mendekatimu duluan. Kamu mencoba menghilang darinya selama 6 bulan ini, tapi Alan menemukanmu dan mengikatmu lagi di sekitarnya.”


“Tapi meski begitu, melihat Alan yang selalu mendekatimu, perlakuannya ini tidak seperti teman ke teman. Kurasa mungkin Alan juga menyukaimu hanya saja dia belum menyadarinya.” Lanjut Nana memberi hipotesis.


“Tidak mungkin. Dia sudah memiliki Aisyah, tentu saja cintanya untuk Aisyah. Kenapa tiba-tiba dia berbalik menyukaiku?” sangkal Kansha.


“Mungkin saja. Selama ini, kamu dan Alan melalui suka duka bersama di pulau. Kalian mempelajari sikap masing-masing secara tidak langsung dan mungkin Alan merasa lebih nyaman denganmu dibanding Aisyah. Buktinya, dia masih belum menikahi Aisyah padahal hubungan mereka sudah bertahun-tahun.”


“Tapi Alan bilang, dia menunggu Aisyah menyelesaikan skripsinya baru menikahinya.” Tukas Kansha.


“Itu bisa saja hanya alasannya. Bagaimanapun dalam sudut pandangan seorang pemikir cinta sepertiku, Alan mengatakan itu hanya dalih bahwa dia sebenarnya belum siap menghabiskan hidupnya dengan Aisyah. Kehadiranmu juga sepertinya menjadi pemicunya. Hanya dia belum menyadarinya.”


Kansha terdiam. Apa yang dikatakan Nana masuk-tidak masuk akal. Ingin Kansha bahwa Alan memang menyukainya. Namun dia tidak mau egois, ini bukanlah sinetron dimana perasaan bisa dibalik-balik.


“Kalau kamu masih tidak yakin, aku memililiki tes untuk membuktikannya.” Kata Nana.


Kansha menoleh, “Tes apa lagi?”


Nana tersenyum misterius, “Tes membuktikan bahwa perasaan Alan sudah berbalik menyukaimu.”

__ADS_1


__ADS_2