My Husband My Pilot: Tragedi Pesawat Jatuh

My Husband My Pilot: Tragedi Pesawat Jatuh
Bab 38. Kansha dan Aisyah


__ADS_3

"Apa sih yang kamu bicarakan?” tanya Alan.


Alfin yang diseberang telfon terkejut ketika mednegar suara kakkanya, “Loh, Mas Alan? Mas Alan kok bisa sama Kansha?”


“Oh, kita pergi makan bersama. Jadi, kamu ini kenapa?”


Alfin menghembuskan nafas kasar, kepalanya mendidih begitu mengingat kejadian tadi. Asli, dia baru menemui jenis wanita sperti itu, agresif menjurus gila.


“Katakan pada Kansha, kenapa dia bisa memiliki teman ganas seperti ular piton eh salah seperti harimau?!”


Kansha yang mendengar perkataan Alfin menoleh pada Alan dengan bingung.


“Apa sih yang kamu bicarakan? Teman apa?” tanya Kansha bingung.


“Temanmu itu membuatku trauma dengan kopi. Di pertemuan pertama, dia membasahi sneliku dan tadi—dia malah menyemburku!” ujar Alfin berapi-api.


“Sebentar, maksudmu temanku adalah Nana?” tanya kansha.


“Ah, jadi namanya Nana. Namanya saja imut kok orangnya beringas.” Decih Alfin.


Kansha menahan tawanya, “Jadi kamu sedang mengadu padaku?” tanyanya geli.


“Aku hanya tidak habis fikir, bukannya meminta maaf, dia malah mengomeliku. Bahkan tadi, dia menonjokku. Pipi ku lebam.” Rengek Alfin.


Kansha menggaruk kepalanya, “Eee, Nana memang jago beladiri, tapi dia tidak pernah menggunakan kemampuannya untuk menyakiti orang, kecuali—kamu menganggunya duluan.”


“Benar, apa yang dikatakan Kansha, kamu pasti menganggunya duluan. Katakan apa yang kamu perbuat?” imbuh Alan.


“Aku tidak melakukan apapun, aku hanya memesan kopi dan dia langsung menyemburku!” tukas Alfin tak terima disalahkan.


“Apa yang kamu katakan padanya?” tanya Kansha.


“Aku hanya mengatakan padanya bahwa bagaimana bisa Kansha, gadis cantik nan baik hati memiliki teman seperti makhluk jadi-jadian.” Mendengar dia dipuji, Kansha tak bisa menyembunyikan rasa senangnya.


“Pantas dia memukulmu, mulutmu kurang ajar.” Ucap Alan.


“Itu karena dia mengatakan bahwa begitu melihat mukaku, dia kehilangan kendali. Dia fikir dia banteng apa dan aku kain merahnya?”


Kansha menahan tawanya, “Sudahlah, lupakan saja. Anggap saja pengalaman bahwa kamu jangan mengusik perempuan apalagi perempuan ‘harimau’ seperti Nana.” Ujar Kansha menengahi.


“Kansha, aku tidak mengusiknya, dia duluan yang selalu menyebabkan masalah untukku.” Tukas Alfin masih tak terima.


“Baiklah, baiklah. Semuanya salah, tidak ada yang benar, harusnya kamu dan Nana bisa menjaga emosi satu sama lain. Lain kali, ketika bertemu jangan langsung perang urat. Aku juga akan membicarakan ini dengan Nana, agar dia meminta maaf padamu secara resmi.” Ucap Kansha bijak.


“Yasudah, aku lega bisa menceritakan ini padamu. Daripada dengan Mas Alan, dia hanya bisa mengompori atau mengomeli seperti ibu-ibu.” Kata Alfin.


“Eh, tentu saja mas akan mengomelimu. Gitu-gitu juga siapa yang selalu menyelesaikan masalah yang kamu perbuat? Kamu tidak berani mengadu pada ayah hingga akhirnya aku jadi korbannya.” Ujar Alan tak terima.


“Iya iya Mas Alan yang seperti kucing ketika marah, aku salah aku salah. Kalian hati-hati berkendara, aku tutup dulu.”


Begitu Alfin menutup telfonnya, Kansha menatap Alan dengan menahan tawanya.


“Kenapa?” tanya Alan.


“Ternyata kamu suka mengomel juga. Miaw!” ucap Kansha memperagakan suara kucing.


***


Pagi hari, Kansha mendapat pesan dari seseorang. Dan disinilah dia, duduk berhadapan dengan seorang perempuan berhijab syar’i.

__ADS_1


“Aku kira, mbak tidak akan datang.” Ucap Aisyah. Dia yang mengirim pesan pada Kansha yang dia dapat nomornya dari Alfin tanpa sepengetahuan sang empunya.


“Aku cukup terkejut kamu menghubungiku dan meminta bertemu. Kita tidak pernah bersinggungan bukan? Lalu ada masalah apa hingga ingin menemuiku?” kata Kansha tenang.


Aisyah tersenyum manis, “Sudah diduga, seorang reporter tak akan menanyakan hal remeh seperti 'darimana kamu dapat nomorku?' Tapi langsung ke intinya.” Puji Aisyah.


“Terima kasih, jadi apa yang ingin kamu bicarakan?” tanya Kansha kembali ke intinya.


“Aku tahu kalau kemarin kalian pergi makan bersama ke restoran ayam bakar.” Ucap Aisyah.


Kansha tetap memasang wajah tenang, dia tidak berkomentar apapun, hingga Aisyah melanjutkan perkataannya. “Mengingat kalian tidak bertemu selama enam bulan ini, sangat mengejutkan bahwa kalian bisa bertemu kembali dan makan bersama. Sejak kapan kalian bertemu kembali?”


“Lima hari yang lalu, di Mandalika.” Jawab Kansha singkat.


“Baru lima hari yang lalu dan kalian sudah makan bersama?” tanya Aisyah tak percaya.


“Itu tidak seperti yang kamu fikirkan, kami hanya sekedar makan siang bersama, tidak ada keistimewaan lain. Hanya pertemuan teman lama.” Ucap Kansha menjelaskan.


“Mbak, kamu tahu kan kalau Mas Alan dan aku akan menikah?” tanya Aisyah. Kansha mengangguk.


“kalau mbak tahu, harusnya mbak tahu harus bersikap bagaimana. Jalan bersama seseorang yang sudah memiliki calon istri, bukanlah tindakan yang baik. Terlebih calon istrinya tidak tahu menahu soal ini.” ujar Aisyah tajam.


Kansha tersenyum kecil mendengar nada tajam yang dilontarkan Aisyah, “Kalau begitu seharusnya kamu bertanya dahulu pada Alan bukan padaku. Bagaimanapun, Alan yang mengajakku duluan dan soal kamu yang tidak tahu menahu, itu bukan salah siapapun.” Aisyah mengernyit bingung.


“Kamu dan Alan baru menjadi ‘calon’, kamu belum resmi dengannya dan Alan tentunya masih punya kebebebasan untuk melakukan apa yang dia inginkan tanpa harus meminta izin padamu. Kamu bukan siapa-siapanya yang mesti dia mintai izin.” ucap Kansha tenang namun menohok.


Aisyah mendengus mendengar ucapan Kansha, “Tapi dia adalah calon suamiku. Dia akan menjadi kekasih halalku dan seharusnya sebagai orang luar, Mbak Kansha harus cukup tahu diri untuk tidak menganggu hubungan orang lain.” Balas Aisyah tak kalah tajam.


“Aku tidak menganggu hubungan siapapun, baik hubungan kamu dengan Alan, itu tidak ada hubungannya denganku dan mengapa aku harus menganggu? Namun, mengingat kamu yang sepertinya terganggu hingga menemuiku itu artinya kamu tidak cukup percaya diri untuk mengamankan posisimu di hati Alan.” Ujar Kansha tenang.


Aisyah terdiam mendengar pernyataan Kansha. Memang, Aisyah akui bahwa dia merasa tak tenang soal ketidakpastian hubungan mereka ditambah dengan kedatangan Kansha membuatnya semakin gelisah. Dia takut bahwa Alan akan berpaling darinya.


Melihat Aisyah yang diam, Kansha tersenyum simpul, “Lebih baik kamu temui Alan dan bicara dengannya baik-baik, tanyakan apa yang seharusnya kamu tanyakan dan jangan buat kesimpulan sendiri lain kali.”


***


Kansha mengemudikan mobilnya dengan pelan, dia memikirkan pertemuannya dengan Aisyah. Calon istri Alan itu cukup tangguh, dia berani bertindak untuk menjaga posisinya di hati Alan. Kansha sebenarnya tidak begitu berani tadi, dia hanya menutupi ketidakpercayaan dirinya dengan kemampuan berfikir tenang. Kansha tahu sejak awal, bahwa akan ada masalah bila dirinya dan Alan masih berhubungan.


Kansha masih terus melamun hingga dia tak sadar hendak menabrak seorang anak kecil. Kansha terkejut dan langsung mengerem mendadak. Anak kecil itu terjatuh di jalanan. Barang dagangan anak itu juga bercerceran.


Kansha dengan segera keluar dari mobil dan menghampiri anak kecil itu yang meringis kesakitan. Untungnya, anak itu tidak tertabrak mobilnya, dia hanya mengalami memar dan luka akibat gesekan dengan aspal.


“Kamu tidak apa-apa? Maafkan kakak,” ucap Kansha, dia membantu anak itu berdiri dan memapahnya ke trotoar. Anak itu duduk dengan memegang sikunya yang tergesek aspal.


“Kamu tunggu sebentar, kakak membawa kotak p3k.” Ucap Kansha. Dia bergegas ke mobilnya dan mengambil kotak p3k yang selalu dia simpan dimobilnya.


Kansha mengobati luka anak itu. Dia membersihkan lukanya dengan telaten dan sejak diobati, anak itu tidak meringis sama sekali. Kansha mengoleskan obat merah pada siku dan lutut anak itu kemudian membalutnya. Setelah selesai, Kansha menutup kotak p3k nya dan menatap khawatir pada anak itu.


“Kakak sekali lagi minta maaf, kakak tidak lihat situasi jalan. Hampir saja kamu tertabrak.” Ujar Kansha merasa bersalah.


“Saya tidak apa-apa kak, luka ini biasa terjadi, aku sudah terbiasa.” Balas anak itu tersenyum.


“Biasa? Maksud kamu?” tanya kansha tidak mengerti.


"Saya kan selalu berjualan di sekitar jalan raya jadi hal seperti terserempet atau jatuh sudah biasa.” Ucap anak itu sembari tersenyum. Gayanya berbicara nampak dewasa dengan bahunya menegap tegar.


“Kamu dewasa sekali, siapa namamu?” tanya Kansha lembut.


“Nama saya Kanaya.” Jawab anak itu.

__ADS_1


Kansha tersenyum manis, “Nama kamu cantik, secantik wajah pemiliknya.” Puji Kansha. “Oh ya, Kanaya usianya berapa tahun?” tanya Kansha.


“Usia saya 9 tahun.” Jawab Kanaya. Kansha mematung, usia Kanaya ternyata sama dengan usia Kania ketika kejadiaan naas itu.


Kansha mencoba mengendalikan perasaannya, “Kanaya rumah kamu dimana? Biar kakak antar ke rumah.” Ucap Kansha.


Namun Kanaya menggeleng, membuat Kansha bingung. “Ada apa, Kanaya?” tanya kansha.


“Saya belum bisa pulang, barang dagangan saya masih banyak.” Tolak Kanaya.


“Kalau begitu, biar kakak yang beli dagangan kamu.” Ujar Kansha. Kanaya menatap terkejut ketika Kansha bilang dia ingin membeli semua dagangannya.


“Kakak serius?” tanyanya penuh harap.


Kansha mengangguk, “Lagian kakak itu orang yang cengeng, jadi kakak akan selalu butuh tisu.” Ujar Kansha sembari tertawa.


Namun Kanaya tak ikut tertawa, dia malah menatap penuh terima kasih pada Kansha. Di tengah kesulitannya, gadis kecil bertemu dengan sosok baik hati seperti Kansha. Dia meneteskan air mata bahagia.


“Kanaya, kenapa kamu menangis?” tanya Kansha panik. Dia mengelus pipi mungil Kanaya dengan kembut.


“Saya terharu kak, terima kasih karena kakak mau berbaik hati membeli dagangan saya. Sejak pagi, dagangan saya belum laku terjual.” Ucapnya masih terisak.


Kansha ikut meneteskan air mata. Dia merasa emosional bahwa gadis sekecil ini harus berjualan dengan jarak yang jauh dan hanya berjalan kaki.


“Sudah, jangan menangis lagi.” Ucap Kansha menghapus air mata Kanaya. “Yuk, kakak antar pulang, kamu harus istirahat.” Bujuk Kansha. Kanaya terlihat ragu namun pada akhirnya mengangguk.


Kansha pun mengantar Kanaya pulang dengan hati-hati.


***


“Jadi, Aisyah mendatangi kamu dan melabrak kamu?” tanya Nana heboh.


Setelah mengantar Kanaya pulang, Kansha menyempatkan diri menjenguk Nana yang sedari tadi menerornya untuk datang ke rumah dan memintanya menginap.


Kansha yang memakan keripik kentang seketika mengangguk, namun kemudian menggeleng. Nana mengernyit bingung, “Kamu ini mengangguk atau menggeleng sih?” tanyanya.


“Dia memang menemuiku tapi bukan melabrak juga. Istilahnya yang tepat adalah bicara baik-baik.” Ralat Kansha.


“Dia datang padamu dan menanyakan hubunganmu dengan Alan kan? Kenapa calon suaminya itu mengajak perempuan lain makan bersama? Itukan maksudnya?” Kansha mengangguk membenarkan.


“Itu artinya dia melabrakmu! Dia merasa harus mengkonfirmasi hubunganmu dengan Alan agar dia merasa tenang. Dia pasti khawatir kalau kamu akan mengggoda Alan.” Ucap Nana.


“Aku? Menggoda Alan? Untuk apa aku melakukannya?” ujar Kansha tidak percaya.


Nana mendekat pada kansha dan menatap gemas pada sahabatnya itu, “Ya ampun , kansha! Coba kamu fikirkan baik-baik. Alan sudah memiliki calon istri dan tiba-tiba Alan mengajak mu makan siang bersama alih-alih dengan Aisyah. Aisyah pasti merasa panas dan khawatir kalau kamu akan menggoda calon suaminya!” seru Nana.


Kansha mendesah, dia memberhentikan kegiatan makannya, “Kenapa aku harus melakukan itu? Lagipula aku tahu kalau mereka akan menikah, aku tidak akan mengacaukannya.”


“Itu sih menurutmu, kalau menurut Aisyah bagaimana? Pemikiran setiap manusia itu berbeda. Bagaimana kalau Aisyah nanti malah benar-benar melabrakmu karena kamu makin dekat Alan?”


“Jadi apa yang harus kulakukan?” tanya Kansha.


Nana berfikir kemudian berkata, “Kamu jangan terlalu dekat dengan Alan. Kamu harus tegas padanya bahwa dia sudah memiliki calon istri dan perlakukan kamu seperti biasa layaknya teman.” Saran Nana.


Kansha memalingkan badannya memunggungi Nana. Dia sejujurnya tidak terima dengan saran itu. Bagaimanapun, dia juga menyukai Alan, meski lelaki itu sudah memiliki tambatan hati, setidaknya berada dalam radar Alan akan membuatnya bahagia. Tapi sebagai sesama wanita, Kansha mengerti kekhawatiran Aisyah, bila posisinya dibalik, dirinya pun enggan melihat bahwa calon suaminya dekat dengan wanita lain.


“Kansha, kamu mengertikan?” tegur Nana, dia menepuk bahu sahabatnya itu.


Kansha menghadapkan kembali badannya pada Nana, “Sejujurnya, kenapa aku harus menjauh? Alan yang menarikku kembali dan lagi aku tidak pernah punya maksud untuk merebut Alan. Kalaupun Aisyah merasa khawatir akan posisinya, itu karena hanya rasa ketidakpercaya diriannya. Kalau dia merasa, dia tak akan kalah, tak peduli bila Alan dekat dengan banyak perempuan, posisinya tak akan terganti.”

__ADS_1


Nana menghembuskan nafas pelan mendengar pembelaan Kansha. “Kansha, kamu menyukai Alan?” tanya Nana.


Kansha mematung. Dia jadi membeku ketika disodori pertanyaan yang bahkan tak pernah ia fikirkan bagaimana menjawabnya. Dan Nana mampu menebak dengan tepat, bagaimana perasaannya pada Alan.


__ADS_2