My Husband My Pilot: Tragedi Pesawat Jatuh

My Husband My Pilot: Tragedi Pesawat Jatuh
Bab 79.


__ADS_3

Setelah kemunculan Ruben yang membuat Nana hampir mati berdiri. Disinilah mereka, menjauh dari tempat ramai agar bisa mengobrol berdua. Nana mengajaknya berbicara empat mata di bawah sebuah pohon rimbun.


“Apa yang kakak lakukan disini?” tanya Nana memecah keheningan.


“Kansha bilang kamu hamil makanya kakak menjemputmu kesini. Tapi tadi katanya kamu jatuh pingsan kemarin, kamu tidak apa-apa? Kamu baik-baik saja?” Tiba-tiba Ruben menghampiri Nana, Nana melangkah mundur.


“Jangan mendekat.” Desisnya.


Ruben terlihat kecewa, tapi sebisa mungkin dia menutupinya. Dia tahu Nana masih marah padanya.


“Na, ayo kita pulang.” Ajaknya dengan memelas.


“Pulang? Pulang kemana?” tanya Nana dengan nada tajam. Hatinya kembali terasa sakit.


“Kita pulang ke Jakarta. Kakak minta maaf padamu.” Ucapnya penuh permohonan.


Nana terkekeh sumbang. “Minta maaf? Secepat itu? Semudah itu?” Nana merasa tak percaya. “Setelah apa yang kakak lakukan sama aku? Kakak minta aku pulang? Dan aku tidak semurah itu untuk mendapat permintaan maaf tidak layak!” teriak Nana emosi. Air matanya sudah mengalir.


Ruben tersentak kala Nana membentaknya. Namun dia pantas mendapatkannya. Dia terlalu brengsek dan tak tahu malu.


“Tampar aku, Na. Pukul aku sekeras mungkin. Aku benar-benar laki-laki brengsek.” Ucap Ruben penuh sesal. Dia tiba-tiba berlutut di hadapan Nana.


Nana membuang muka melihat hal itu. Hatinya kecilnya tergerak untuk memaafkan Ruben. Ruben tak pernah melakukan tindakan rendahan seperti ini. lelaki itu cukup arogan untuk tidak mengemis-ngemis permintaan maaf pada seseorang.


“Bangun kak. Jangan merendahkan diri seperti itu. itu bukan gaya kakak.” Lirih Nana dengan tetap membuang muka.


Ruben menggeleng kuat. “Aku tidak akan bangun sebelum mendapat permintaan maafmu. Aku benar-benar menyesal, Na. Aku bukan calon ayah yang baik. Aku sudah menyakitimu sangat dalam.” Ucapnya tiba-tiba terisak.


Nana menoleh dengan terkejut ketika Ruben menangis. Dia menutup mulutnya, menahan isakannya ketika melihat kepala Ruben yang tertunduk sambil tergugu.


“Jangan menangis. Itu tidak akan mengubah segalanya. Anak ini tidak ada hubungannya dengan kakak lagi. Aku tidak akan meminta pertanggung jawaban kakak.” Kata Nana dingin. Dia mencoba menguatkan hatinya.


Benar, ini keputusan yang tepat. Lagipula dirinya cukup mampu untuk menjadi orang tua mandiri. Dia tidak perlu Ruben. Tidak bila dia tidak mendapatkan hatinya.


Ruben mematung mendengarnya. Dia beringsut mendekati Nana dan memeluk kaki Nana. Dia menangis lebih kencang dari sebelumnya seperti anak kecil yang kehilangan mobil mainannya.

__ADS_1


“Jangan Na. Aku mohon. Aku ayahnya, izinkan aku bertanggung jawab padamu dan anak kita. Aku ingin memulai hidup yang baru denganmu dan anak kita.” Pinta Ruben dengan nada amat memohon.


Nana mencoba melepaskan kakinya tapi Ruben makin memeluk kakinya dengan erat. Nana menghembuskan nafas kesal.


“Lepaskan aku, kak!” serunya.


“Tidak mau.” tolak Ruben semakin mengeratkan pelukannya pada kedua kaki Nana.


“Apa sih yang kakak mau sebenarnya? Aku benar-benar tidak mengerti! Aku dan kakak tidak akan pernah bisa bersama. Aku bahkan sudah kehilangan mukaku di depan kakak. Kakak mau menyakitiku bagaimana lagi?!” akhirnya Nana meledak kembali.


“Bukan kamu yang sudah kehilangan muka tapi aku. Aku terlalu malu untuk menemuimu saat itu. aku bahkan tidak mencarimu. Aku sangat egois. Tapi karena ketika mendengar bahwa kamu hamil, aku merasa seperti tertampar.” ucap Ruben merasa bersalah.?


“Aku benar-benar tidak tahu harus berkata apa lagi. Aku benar-benar sudah muak dengan semuanya. Aku benar-benar sungguh lelah. Tidak cukupkah penderitaanku kak? Kenapa harus selalu aku?!”


“Bangun, kak. Hadapi aku dengan gentle. Katakan aku harus bagaimana?!” tiba-tiba Nana menarik baju Ruben, memaksa lelaki itu bangkit.


“Kenapa harus aku yang menjadi bayangan Kansha? kenapa kakak harus menyukai sahabatku sendiri? Kenapa kakak tidak mencintaiku? Kenapa harus aku yang menderita? Kenapa mencintai kakak sesulit ini? kenapa mencintai kakak sesakit ini? KENAPA?!”


Nana menggoyang-goyangkan kerah baju Ruben. Dia meledak tanpa ampun. Mencurahkan kesakitannya selama ini. Berharap agar perasaannya didengar oleh Ruben.


Ruben terdiam. Nana mengangguk pelan. Mengerti dengan arti keterdiam laki-laki didepannya. Lagi dan lagi, Nana merasa terhunus belati. Luka dihatinya kembali bertambah. Fikirannya terhempas kenyataan. Perasaannya tertampar keadaan.


“Aku benar-benar bodoh. Baru saja aku berfikir untuk bisa memaafkan kakak tapi mengingat bahwa kakak bahkan tidak menyukaiku sedikitpun membuatku nyaris seperti orang dungu. Harusnya aku tidak berharap apapun. Harusnya aku tidak bertanya hal rendahan seperti itu.” nada suara Nana makin melemah.


Tak ada tanggapan dari Ruben. Nana menghembuskan nafas pelan. Semuanya sudah usai disini. Nana melangkahkan kakinya untuk pergi.


Dia berjalan pelan meninggalkan Ruben. Amat pelan hingga dia berharap Ruben punya waktu untuk mengejarnya. Namun seiring angka langkahnya yang bertambah, Ruben tak jua menyusul. Nana makin tersadar kenyataan. Harapannya mulai hilang tertiup angin lembah.


Aku mungkin tidak berjodoh dengannya. Semua sudah berakhir, Na gumam Nana dengan sebuah bulir air mata yang menetes.


***


Aura tengah menunggu seseorang di sebuah kafe. Tak lama, siluet seorang lelaki berjas hitam muncul. Dia duduk di hadapan Aura.


“Kufikir kamu tidak akan datang.” Sambut Aura dengan senyum manis.

__ADS_1


Lelaki itu hanya mendesah pelan. “Bagaimana bisa aku tidak datang ketika nada suara wanita didepanku sudah seperti mengancam?”


Aura tertawa kecil, amat geli dengan perkataan lelaki yang penuh sindiran ini dihadapannya ini.


“Ayolah, jangan melebih-lebihkan. Aku tidak bermaksud mengancammu. Kamu sendiri yang mengabaikan pesanku berkali-kali.” Ucapnya dengan nada sedih. Namun lelaki itu tidak menimpalinya.


“Baiklah, karena kamu sepertinya sangat tidak suka melihat wajahku. Kita langsung ke intinya saja.”


Aura menatap wajah lelaki misterius itu dengan tak terbaca, “Kamu ingat soal rahasia tujuh tahun lalu?” tanya Aura.


Lelaki itu mengernyitkan dahinya, “Rahasia?”


Aura mengangguk, “Rahasia yang membuatmu hampir tidak bisa menghadapi Kansha, wanita yang kamu sukai saat SMA.”


Lelaki itu mematung. Wajahnya pias dengan mata yang bergerak sembarangan.


“Jangan coba mengatakan omong kosong.” Desis lelaki itu.


Aura tertawa geli, “Omong kosong? Hahaha, bagaimana bisa aku mengatakan omong kosong? Ini semua benar. Kamu sendiri yang mengatakannya padaku. Ah, masa itu memang masa terindah untukku dan kamu. Kita hampir berbagi segalanya.” Tiba-tiba Aura terlihat menerawang.


"Kamu tidak ingin Kansha tahu kan?" Aura mencondongkan wajahnya pada lelaki itu.


"Aku tidak peduli kalaupun Kansha tahu." jawab lelaki itu acuh.


"Benarkah?" tanya Aura dengan nada ceria.


"Tentu saja." jawab lelaki itu percaya diri.


"Setelah semua yang kamu lakukan untuk mendekatinya, kamu tidak peduli? meskipun dia menjauhimu pada akhirnya?"


Lelaki itu terdiam. Matanya bergetar pelan. Beberapa saat kemudian, lelaki itu menghembuskan nafas pelan, merasa dia sudah kalah.


“Apa maumu?” tanyanya pada akhirnya.


“Mauku? Sederhana.” Balas Aura santai.

__ADS_1


Aura menatap raut tak terbaca laki-laki itu. Senyumnya mengembang cantik, “Ikuti apapun yang kukatakan, Alvaro.”


__ADS_2