My Husband My Pilot: Tragedi Pesawat Jatuh

My Husband My Pilot: Tragedi Pesawat Jatuh
Bab 34. Tinggal Serumah


__ADS_3

"Saking romantisnya, ada banyak kisah yang tak ada kelanjutannya."


Alan mengernyitkan dahi mendengar perkataan Kansha. Dia tidak mengerti dengan maksud Kansha.


"Maksudnya?" tanya Alan.


Kansha menggeleng, "Oh ya, gelang ini untukku?" tanya Kansha mengalihkan pembicaraan.


Alan mengangguk, "Untukmu. Anggap sebagai ucapan terima kasih karena sudah mau membantuku melewati kesulitan di pulau."


"Itu tidak perlu, kita sama-sama saling membantu kan. Aku tidak melakukan apapun yang mengharuskanmu berterimakasih." balas Kansha.


"Kalau begitu, anggap itu hadiah pertemuan kita kembali." tukas Alan. Kansha mengangguk setuju.


“Kansha.” Tiba-tiba seseorang memanggil nama Kansha dari belakang.


Kansha yang dipanggil namanya seketika menoleh begitupun Alan.


“Kak Ruben?” Kansha terkejut dan seketika berdiri.


Ruben mendekat dan menghampiri Kansha yang kini sudah berdiri diikuti Alan.


“Dia siapa?” tanya Ruben menunjuk Alan.


“Ah, kalian belum saling berkenalan kan.” Ucap Kansha berusaha tenang. “Kak Ruben, ini Alan, dia orang yang bersamaku ketika kejadian itu.” Alan menatap Ruben dan mengangguk. “Alan, ini Kak Ruben, kakak tingkatku.” Ruben mengangguk.


“Alan.” Ucap Alan mengulurkan tangannya.


“Ruben.” Balas Ruben menjabat tangan Alan.


Alan dan Ruben masih saling berpandangan dengan tangan yang masih terpaut. Tampak ada pandangan tak biasa yang dilayangkan satu sama lain. Entah kenapa, suasananya menjadi aneh.


"Kurasa kita pernah bertemu." ucap Ruben tiba-tiba.


"Bertemu?" tanya Alan bingung.


Ruben mengangguk, "Insiden kopi, kalau kamu lupa."


Flashback On


Ruben sedang berada di sebuah cafe dekat kantornya. Waktu menunjukkan pukul sepuluh pagi dan dia baru saja rapat dengan kliennya. Sembari menyesap kopi, dia asik mempelajari kasus yang tadi diberikan oleh kliennya.


"Ruben." sapa seseorang. Dia perempuan cantik dengan blazer putih dan rok span ketat. Wajahnya berseri dan dengan penuh cinta menatap Ruben.


Ruben mendongak dan seketika merutuk diam-diam.


"Ada yang bisa saya bantu, Diana?" tanya Ruben formal.


"Aku baru saja memesan tiket nonton, bagaimana kalau kita menonton bersama?" tanya Diana penuh harap.


Ruben tersenyum formal, "Maaf tapi saya tidak bisa. Saya baru saja mendapat kasus dan harus saya pelajari." tolak Ruben.


Wajah Diana berubah keruh, dia mengernyit tidak suka dengan penolakan Ruben. Diana sudah lama menyukai pengacara jebolan Harvard itu namun Ruben tak pernah menggubrisnya.


"Apa ada hal lain?" tanya Ruben. Diana menggeleng dengan pelan.


"Kalau begitu saya pergi dulu." pamit Ruben. Dia membereskan dokumennya dan langsung memasukkannya ke dalam tas kemudian beranjak pergi.


Diana menggigit bibirnya pelan. Setelah itu tiba-tiba berseru, "Ruben, tunggu!" seru Diana menghentikan langkah kaki Ruben.


Ruben yang mendengar namanya disebut mendesah pelan lalu berbalik menatap Diana. Dia tersenyum sopan dan bertanya dengan sabar, "Ada apa lagi?"


Diana terdiam. Dia berfikir keras haruskah dia melakukan hal itu lagi? Terakhir kali, dirinya berakhir dipermalukan karena ditolak. Ini akan menjadi penolakan ke empat kalinya bila dia ditolak lagi. Namun, dirinya terlanjur menyukai Ruben. Ruben adalah sosok luar biasa, dia hebat dan dia penyayang. Senyumnya yang hangat mampu meluluhkan hati setiap wanita termasuk Diana sendiri.


"Ruben, aku mencintaimu. Maukah kamu menjadi kekasihku?" seru Diana dengan nada tegas. Pernyataannya itu membuat semua pengunjung kafe sontak menoleh ke arah mereka.


Ruben melihat ke sekeliling, dia menyadari bahwa atensi semua orang sudah mengarah padanya dan Diana. Ruben benar-benar tak habis fikir, bagaimana Diana dengan lantangnya mengucap cinta padanya di keramaian.


"Diana, bukankah aku sudah bilang kalau aku tidak bisa karena aku tidak mencintaimu." kata Ruben tenang.


"Kamu bohong. Dari dulu kamu selalu bilang seperti itu. Apa sih yang kurang dariku? Katakan, agar aku bisa memperbaikinya sesuai yang kamu inginkan." ucap Diana. Dia benar-benar merasa hilang asa ketika Ruben kembali menolaknya.

__ADS_1


"Tidak ada yang kurang dari kamu. Kamu cantik, berpendidikan dan berdedikasi. Tapi aku sungguh tidak mencintaimu. Aku hanya menganggapmu sebagai rekan kerja."


Diana menggeleng keras. Air mata mulai mengalir di pipinya yang mulus. "Kamu bohong. Kamu mencintaiku kan? Katakan kamu mencintaiku." tuntut Diana. Dia mendekat pada Ruben dan menggoyangkan lengan Ruben.


"Aku tidak mencintaimu. Sudah beberapa kali kubilang." ucap Ruben tegas. Dia mulai jengah dengan drama yang dilakukan oleh Diana. Dia sudah melihat adegan serupa tiga kali.


"Kamu bohong. Apa sesulit itu mencintaiku? Aku tidak memintamu melakukan hal lain. Cukup bilang kamu juga mencintaiku." pinta Diana dengan putus asa.


"Aku sungguh tidak bisa." tolak Ruben dengan tegas.


"Ruben, ka--"


byur


Perkataan Diana tersela oleh air jus yang tak sengaja ditumpahkan oleh seseorang ke blazernya. Diana ternganga menatap blazernya yang berubah warna menjadi orange.


"Maaf saya tidak sengaja." ucap orang itu yang tak lain adalah Alan.


Diana menatap Alan kesal yang berdiri dengan raut merasa bersalah. Ruben juga menjadi terdiam ketika insiden itu terjadi.


"Lebih baik kamu segera kembali ke kantor. Blazermu penuh noda." saran Ruben. Berupaya mengendalikan keadaan.


Diana berdecak kesal kemudian segera pergi keluar kafe. Alan menatap kepergiannya dengan masih beraut tak enak.


"Tidak apa-apa. Hanya noda kecil, masih bisa dicuci." ucap Ruben menatap wajah Alan.


Alan menoleh pada Ruben yang tersenyum, "Tadi saya tidak melihat jalan hingga tak sengaja menabrak temanmu dan menumpahkan jus ke bajunya. Sampaikan permintaan maaf saya untuknya." timpal Alan.


Ruben mengangguk, "Saya juga ingin berterimakasih denganmu." katanya.


Alan mengeryit bingung, "Berterima kasih soal apa?"


"Insiden tadi. Andai kamu tidak menumpahkannya, saya akan kelabakan dengan wanita itu. Saya benar-benar sudah jengah tapi terlalu kasar bila harus menolak secara keras."


"Ah, jadi tadi perempuan itu menyatakan perasaan padamu? Kenapa ditolak?"


"Hanya merasa tidak cocok saja. Tapi intinya saya berterimakasih padamu."


Drrt


Ponsel Ruben bergetar. Dia memeriksa pesan yang dikirim padanya setelah itu memasukkannya kembali ke saku jasnya.


"Saya masih ada urusan. Oh ya, jus itu biar saya yang bayar. Sampai jumpa." pamit Ruben.


Flashback Off


"Ah, saya baru ingat sekarang." kata Alan.


"Kapan kalian bertemu?" tanya Kansha.


"Kurasa sekitar setahun yang lalu. Kamu ingat Diana yang mengejarku terus menerus?" ujar Ruben.


Kansha mengangguk, "Aku ingat. Dia cukup menyebalkan. Dia pernah melabrak ku gara-gara aku dijemput olehmu. Dia benar-benar nenek lampir." tukas Kansha kesal. Ruben hanya terkekeh.


"Oh ya, kalian tadi membicarakan apa?" tanya Ruben.


Kansha dan Alan saling berpandangan membuat tanda tanya di kepala Ruben makin besar.


"Hanya pembicaraan teman lama. Kebetulan Alan melakukan penerbangan kemarin jadi kami memilih bertemu." balas Kansha tenang. Alan mengangguk menyetujui.


"Ah begitu." kata Ruben sedikit merasa lega. "Pembicaraan kalian sudah selesai?"


Kansha mengangguk sedangkan Alan hampir menggeleng. "Iya sudah." timpal Kansha cepat.


"Kalau begitu, Kansha tolong temani Nana. Aku akan pergi ke ruang dokter menanyakan kondisi Nana." pinta Ruben.


Kansha mengangguk. "Ayo pergi." ajak Ruben.


Namun sebelum pergi, Kansha menoleh pada Alan, "Hati-hati di jalan. Safe flight." kata Kansha tersenyum pada Alan.


Alan balas tersenyum, "Terima kasih. Kabari aku bila akan pulang."

__ADS_1


Kansha balas mengangguk. Kemudian pergi diikuti Ruben yang bertukar senyum terakhir dengan Alan.


***


"Kata dokter, bagaimana kondisi Nana, kak?" tanya Kansha begitu Ruben tiba di ruang rawat.


"Kondisinya sudah lebih baik. Kata dokter, Nana bisa pulang besok." jawab Ruben.


Kansha dan Nana menghembuskan nafas lega.


"Oh ya, begitu kamu keluar dari rumah sakit, hentikan segala acara minum-minum mu dan jangan pernah telat makan lagi. Obat pereda nyeri milikmu juga akan ku sita." kata Kansha tegas.


"Jadi ceritanya kamu akan mengawasiku?" goda Nana.


"Ah benar juga, kamu harus diawasi. Akan berbahaya kalau kamu ditinggal sendiri di apartement, lebih baik kamu tinggal denganku saja." tawar Kansha.


Nana sontak menggeleng. "Tidak mau."


"Kenapa?" tanya Kansha bingung.


"Kamu kan sudah tidak tinggal di apartement lagi, dan lagi aku tidak terbiasa dengan keberadaan orang tuamu terutama tante Grace, dia terlalu mendominasi." ujar Nana merinding.


"Ibuku baik dan lembut gitu masa kamu takut." tukas Nana berdecih." Kalau begitu, bagaimana kalau Kak Ruben saja yang tinggal bersama Nana?" usul Kansha lagi.


Nana dan Ruben seketika menoleh dengan terkejut. Mereka ternganga ketika Kansha menyarankan permintaan yang gila.


"Apa? Tidak mungkin, Kansha. Kamu gila apa! Kenapa Kak Ruben harus tinggal denganku?" pekik Nana.


"Iya, lagipula Nana perempuan sedangkan aku laki-laki. Kami juga tidak memiliki hubungan apapun." timpal Ruben.


"Menurutku itu ide yang bagus. Kak Ruben kan rumahnya sedang di renovasi, dan daripada sewa apartement atau bahkan tinggal di hotel lebih baik tinggal dengan Nana. Dan Kak Ruben adalah sosok yang pas untuk mengawasi Nana yang nakal. Kak Ruben jauh lebih tegas dibanding aku. Jadi Nana bisa lebih terawasi, apalagi kak Ruben pintar memasak. Setidaknya untuk sarapan dan makan malam, Nana bisa makan sehat." jelas Kansha panjang lebar.


Nana masih terdiam tak percaya sedangkan Ruben mulai merenung. Sebenarnya apa yang dikatakan Kansha memang benar. Ini seperti timbal balik mutualisme. Tapi bila harus tinggal serumah--


"Tetap tidak bisa Kansha. Kami tidak memiliki hubungan apapun dan apa yang akan dikata orang bila lelaki yang belum menikah tinggal dengan perempuan yang sama-sama belum menikah?" sanggah Ruben.


"Kalian itu hanya teman serumah. Kak Ruben juga pernah kan dengan Diana ketika di Amerika. Nah kinerjanya sama dengan itu. Lagipula Kak Ruben temannya kakak Nana jadi pasti tidak akan ada masalah."


"Bagaimana, Na?" tanya Kansha pada Nana yang sedari tadi terdiam.


Nana menatap Kansha dan berkata, "Aku tidak terlalu yakin. Ini Indonesia bukan Amerika, akan menjadi masalah bila kita tinggal serumah." ucap Nana ragu-ragu.


"Aku tahu kekhawatiran kalian tapi kalian sama-sama untung kan. Dan lagi, kalau kamu tidak mau dengan Kak Ruben maka kamu harus tinggal denganku, di rumah Williams." kata Kansha tegas.


Ketika Nana hendak membuka mulutnya, Ruben menyela duluan, "Aku setuju dengan saran Kansha."


Nana menoleh dengan raut terkejut pada Ruben sedangkan Kansha tersenyum senang.


"Alasannya?" tanya Kansha.


"Seperti yang kamu bilang. daripada Nana ditinggal sendiri lebih baik aku tinggal dengannya dan mengawasinya. Aku juga tidak perlu menyewa apartement lagi. Kita hanya cukup membagi uang belanja dan membereskan rumah. Dan soal masalah lain, aku mungkin akan ada di rumah pada pagi hari dan menjelang larut malam. Terlebih saat-saat ini, aku sedang menangani kasus besar yang membuatku bisa tinggal lebih lama di kantor." balas Ruben.


"Tapi meski begitu kakak masih bisa mengawasi Nana kan?" tanya Kansha memastikan.


Ruben mengangguk yakin. "Tenang saja."


Kansha mengangguk puas kemudian beralih menatap Nana. Nana menyadari tatapan Kansha mengarah padanya, dan meminta pendapatnya.


"Kalau Kak Ruben setuju, maka aku tidak punya pilihan lain." kata Nana pasrah.


"Kamu masih punya pilihan lain kok." tukas Kansha.


"Apa?" seketika mata Nana berbinar.


Kansha tersenyum licik, "Tinggal denganku." jawab Kansha santai.


Nana seketika merenggut, "Bersama Kak Ruben jauh lebih baik." ujarnya.


Kansha bertepuk tangan sekali kemudian bangkit, "Baiklah, kesepakatan selesai. Kak Ruben jangan segan-segan menegur Nana. dan Nana awas saja bila kamu tetap melakukan kebiasaan burukmu itu. " pesan Kansha. "Intinya kalian harus saling menjaga." dan menyadari tambah Kansha dalam hati.


Sebenarnya ada alasan mengapa Kansha mau mengusulkan ide gila itu. Karena Kansha percaya, kebetulan selalu terulang bila tetap bersama di setiap waktu.

__ADS_1


__ADS_2