My Husband My Pilot: Tragedi Pesawat Jatuh

My Husband My Pilot: Tragedi Pesawat Jatuh
Bab 133.


__ADS_3

Alan dan Kansha kembali naik mobil setelah mengisi perut dan bermain. Waktu bahkan sudah menunjukkan hampir siang dan adzan dzuhur pasti akan berkumandang sebentar lagi.


Allahu akbar allahu akbar


Suara adzan dzuhur bergema di dashboard mobil Alan. Alan pun mempercepat laju mobilnya untuk mencari masjid terdekat.


Allahu akbar, Allahu akbar


Asyhadu Allaa ilaaha illa Allah


Asyhadu Allaa ilaaha illa Allah


Asyhadu anna Muhammadar Rasulullah


Asyhadu anna Muhammadar Rasulullah


Hayya ‘alash shalaah


Hayya ‘alash shalaah


Hayya ‘alal falaah


Hayya ‘alal falaah


Allahu akbar Allahu akbar


Laa ilaaha illa Allah


Tepat setelah lafadz terakhir dikumandangkan, Alan berhasil menemukan masjid. Dia memarkirkan mobilnya di pelataran masjid.


"Kansha, aku akan shalat dulu." ucap Alan.


Tapi Alan menjadi bingung kala tidak mendengar tanggapan dari Kansha. Dia pun langsung menoleh dan menyadari bahwa Kansha sedang melamun.


"Kansha?" tegur Alan.


Kansha yang asik melamun seketika tersentak. Dia menatap Alan yang menatapnya balik dengan bingung.


"Kenapa melamun?" tanya Alan.


Kansha terkesiap, dia seketika menggeleng kecil, "Aku hanya cukup lelah. Tidak melamun sama sekali." kilahnya.


Alan mengangguk, "Aku akan kembali. Tunggu saja disini ya." ucap Alan.


Kansha mengangguk. Alan tersenyum sekilas lalu hendak turun dari mobil sebelum Kansha tiba-tiba memanggilnya.


"Alan." panggil Kansha.

__ADS_1


Alan tak jadi keluar, dia berbalik menatap Kansha.


"Ada apa?" tanya Alan.


Kansha terdiam ragu dan akhirnya menggeleng.


"Tidak jadi." ucapnya.


Alan tersenyum, dia mengelus puncak kepala Kansha dengan lembut.


"Aku segera kembali." ucapnya.


Kansha membalasnya dengan senyuman manis, "Santai saja. Kamu harus fokus saat beribadah."


Alan menganggukan kepalanya. Dia pun keluar dari mobil meninggalkan Kansha sendirian.


Seusai dia ditinggal sendirian, Kansha langsung menyenderkan punggungnya ke sandaran kursi. Dia menghela nafas dan tatapannya tertuju pada dashboard mobil, dimana tadi ponsel Alan ditaruh. Suara kumandang adzan entah kenapa terus terbayang-bayang di benaknya.


“Alan.”


“Ada apa?”


“Apa sebenarnya Islam itu?”


“Kenapa tiba-tiba bertanya seperti itu?”


“Jawab saja.”


“Maksudnya?”


“Islam merupakan suatu nikmat yang diberi oleh Allah SWT kepada hambanya. Islam berakar dari kata “Aslama” , “Yuslimu” dan ”islaaman” yang berarti tunduk, patuh dan selamat. Islam berarti kepasrahan dan ketundukkan secara total pada Allah. Orang yang beragama Islam berarti ia pasrah dan tunduk patuh terhadap ajaran-ajaran Islam. Seorang muslim berarti ia juga harus mampu menyelamatkan diri sendiri, juga menyelamatkan orang lain. Tidak cukup selamat tetapi juga menyelamatkan.”


“Islam dibawa oleh Nabi Muhammad SAW untuk umat manusia agar dapat hidup bahagia di dunia dan akhirat. Inti ajarannya adalah rukun islam. Bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah dan nabi Muhammad adalah utusan Allah, mendirikan shalat, zakat, berpuasa di bulan ramadhan dan pergi haji bila mampu.”


“Islam datang ke bumi untuk membangun manusia dalam kedamaian dengan sikap kepasrahan total kepada Allah SWT, sehingga orang yang beragama islam akan mengutamakan kedamaian pada diri sendiri maupun pada orang lain. Juga keselamatan diri sendiri dan keselamatan orang lain.


Kansha teringat dengan ucapan Alan dulu kala ketika mereka masih terdampar di pulau. Bagi Kansha saat itu, islam masih awam dalam fikirannya. Dia tidak terlalu tertarik dengan ajaran islam. Tapi semenjak melihat Alan shalat di tengah keterbatasan itu, dia menjadi berfikir keras. Apakah semua umat islam serajin itu beribadah?


Dan Kansha menemukan jawabannya dari Bu Warni, ustadzah yang kebetulan dia temui di masjid beberapa waktu lalu.


Bu Warni dulunya adalah seorang non-muslim sepertinya. Tapi dia menjadi mualaf dan menikahi seorang ustadz.


Cerita hijrahnya cukup panjang dan rumit, semuanya berakar dari kekecewaannya pada semesta atas apa yang terjadi pada hidupnya. Orang tuanya yang bercerai sejak kecil, hingga kekayaan orang tuanya yang menjadi rebutan semua keluarga ketika mereka meninggal. Warni yang saat itu anak kandungnya, tak diberi sepeserpun dan diperlakukan sebagai orang tak berguna.


Merasa depresi dan kecewa, Warni memutuskan bunuh diri. Namun tepat ketika dia hendak melompat dari atas jembatan, seorang ustadz yang kini menjadi suaminya mencegahnya. Warni pun diberi pengertian dan pengetahuan agama terkait tindakannya. Dan merasa terketuk pintu hatinya oleh islam. Pada akhirnya, dia menjadi mualaf dan menikahi seorang ustdz yang juga penolongnya.


Dari kisah itu Kansha belajar tentang kelapangan hati menerima semua musibah yang terjadi. Kansha kurang lebih memahami apa yang dirasakan Warni, karena dia juga pernah mengalaminya. Hidupnya tak mudah sejak kecil dan keinginan mengakhiri hidup selalu terlintas di benaknya. Namun dari semua peluang yang dia ambil, tak satupun yang berhasil. Dirinya selamat dari tindakan bunuh diri.

__ADS_1


“Tapi Kansha, apa kamu tidak pernah kefikiran ingin masuk Islam?” celetukan Alfin terlintas di fikirannya.


Dan ucapan Alan juga teringat olehnya kala mereka menengadah melihat langit senja di pulau.


“Faa bi ayyi alaa’irrabi kuma tukadziban.”


“Apa maksudnya?” tanya Kansha tidak mengerti.


“Maka nikmat Tuhanmu manakah yang kamu dustakan? Al-Qur’an surah Ar-Rahman ayat 13.” Jelas Alan.


“Kitab suci kalian sepertinya menarik ya. Banyak nyanyiannya.” Ujar Kansha.


“Itu bukan nyanyian Kansha. Itu adalah murotal. Mengaji sambil dilagukan.” Jawab Alan mengoreksi.


“Kamu tahu, Al-Qu’an merupakan suatu yang luar biasa. Semua kejadian di alam semesta yang dikaji oleh Sains ternyata sudah ada dalam Al-Qur’an.”


“Contohnya?”


“Contohnya seperti planet yang beredar pada garis orbitnya masing-masing. Gunung-gunung yang berdiri tegak bahkan soal penjelasan mengapa ada sungai di laut. Semuanya sudah dijelaskan dalam Al-Qur’an. Di dalam Al-Qur’an juga disebutkan tentang bagaimana mencari mata pencaharian. Dan menurutku yang luar biasa salah satunya tentang keberadaan air Zam Zam yang sudah dijelaskan dalam Al-Qu’an tentang air jernih penuh manfaat yang takkan pernah kering.”


“Lalu banyak peneliti yang meneliti tentang sumur Zam-zam itu dan mereka juga mengakui bahwa air itu tidak pernah kering dan selalu jernih.”


“Banyak penjelasan dalam Al-Quran yang sesuai dengan sains dan hebatnya di Al-Qur’an sudah tertulis lebih dahulu.” Jelas Alan.


“Agama Islam sepertinya memang menarik.” Komentar Kansha.


Tes


Tiba-tiba Kansha meneteskan air mata. Dia tidak sedang menonton film sedih atau membaca cerita tragis, tapi entah kenapa ingatan demi ingatan soal penjelasan islam malah membuatnya meneteskan air mata. Ini lebay dan berlebihan, dia tahu. Tapi dia juga tidak bisa menahan keharuan yang tiba-tiba menyeruak.


“Tertarik masuk Islam?”


"Tertarik? Bisakah?" gumam Kansha membalas perkataan isi kepalanya sendiri.


Nak, selain surat ini, Abi haturkan sebuah hal yang Abi harapkan akan menjadi awalmu meluruskan kebahagiaanmu. Cobalah lihat dan renungkan. Dan tanyakan, apakah hatimu terenyuh untuk memakainya?


"Bahkan keluarga asliku adalah penganut agama islam yang taat. Di kado terakhirnya, ayah bahkan menghadiahiku sebuah kerudung alih-alih benda lain. Apakah ini sudah waktunya untukku?" gumam Kansha.


Dan Kansha termenung semakin dalam. Dia tidak tahu harus melakukan apa. Fikirannya selalu tertuju pada omongan orang-orang terdekatnya mengenai agama islam.


Sejujurnya, Kansha sudah lama tertarik ingin mengenal agama yang dianut Alan itu, tapi kedua sisi hatinya masih berperang. Perang batin yang alot tanpa diketahui siapapun. Kansha sudah lama tak merasakan ketenangan tapi begitu dia mendengar penjelasan untuk pertama kalinya soal islam, hatinya diam-diam tenang. Dan makin tertarik kala ayah kandungnya pun seorang muslim. Mungkinkah darah seorang muslim yang sama juga mengaliri nadinya?


Drrt


Kansha tersentak kaget dalam lamunanya kala ponselnya bergetar keras di dashboard mobil. Kansha mengambil ponselnya dan sebuah pesan membuatnya termenung.


Maaf saya baru membalas hari ini, saya punya waktu. Apakah kamu ingin bertemu hari ini?

__ADS_1


Pesan itu dari Bu Warni. Dia mengirimkan pesan pada ustadzah itu tadi malam, tepat setelah dia membaca surat dari Zakariya. Dan ditengah kegamangannya, pesan dari Bu Warni muncul.


"Kurasa aku harus menemuinya dan mencari pencerahan sendiri." tandas Kansha.


__ADS_2