
“Kamu temannya Kansha?” tanya Alan kaget. Nana mengangguk.
“Apa Kansha tidak pernah bercerita soal saya?” tanya Nana.
“Justru dia sering bercerita soal kamu ketika kami terdampar. Tapi dia belum pernah menunjukkan potret sahabatnya jadi aku tidak tahu.”
“Apa yang dia bicarakan soal aku?” tanya Nana penasaran.
“Dia sering bilang kalau dia kangen dengan sahabatnya. Katanya kamu sudah seperti keluarganya. Dia sangat menyayangi kamu. Itu yang selalu dia katakan.” Jawab Alan.
Nana terdiam. Dia menjadi tersentuh ketika Kansha sangat merindukannya ketika hilang dulu. Tiba-tiba, Nana merasa bersalah sudah menyalahkan Kansha dan bertengkar dengannya.
“Kalau kamu benar-benar tidak ada tempat tinggal, untuk sementara ini tinggalah disini. Lagipula apartement ini kosong. Alfin selalu pulang ke rumah.” Ujar Alan.
Nana menggeleng, “Tidak perlu. Kurasa sudah waktunya aku menyelesaikan permasalahanku. Perkataanmu tadi membuatku tersadar.” Balas Nana.
Alan mengernyit bingung, “Maksudmu?”
Nana menggeleng, tidak ingin menjelaskan lebih lanjut. “Terima kasih ya Alfin sudah mengizinkanku menginap beberapa hari disini. Aku harus pulang dan menyelesaikan masalahku.” Kata Nana menatap Alfin dengan tersenyum.
Alfin menggaruk kepalanya, “Sama-sama. Tidak perlu sungkan. Tapi apa kamu sudah yakin?”
Nana mengangguk.
“Tidak ada gunanya lari dari masalah. Aku harus pulang dan menyelesaikannya.” Ucap Nana tersenyum yakin.
***
Kansha sedang bekerja didepan laptopnya ketika ponselnya berdering. Kansha mengambil ponsel yang ditaruh disampingnya dan mengernyit ketika yang menelfonnya adalah Alan. Kansha pun mengangkatnya.
“Halo, Lan. Ada apa?” tanya Kansha.
“Kamu tahu bahwa sahabatmu Nana tinggal di rumah Alfin?” todong Alan langsung.
Kansha mengeryit bingung, “Maksudmu?”
Di seberang telfon terdengar Alan menghela nafas, “Aku datang ke rumah Alfin untuk menjemput bunda dan ternyata ada Nana yang bersembunyi di balik lemari. Jadi aku kembali dan menanyai mereka berdua. Nana bilang, dia sedang memiliki masalah hingga pergi dari rumah.”
Giliran Kansha yang menghela nafas pelan, dia menunduk sebentar, “Sebenarnya aku dan Nana memang sedang bertengkar.” Jawab Kansha jujur.
“Bertengkar? Soal apa?”
“Malam itu, aku dilamar oleh lelaki yang disukai Nana. Tapi aku menolaknya dan mengatakan kalau ada perempuan lain yang menyukainya. Begitu menyukainya hingga rela menjodohkannya pada sahabatnya sendiri. Sebenarnya aku tidak menyebut nama Nana, tapi dia pasti tahu siapa yang kumaksud. Itulah yang membuat Nana marah besar padaku.” Tutur Kansha sedih.
Di seberang telfon, Alan terdiam. Kemudian dia berkata hati-hati, “Kamu yakin tidak menyukai lelaki itu?”
Kansha yang mendengarnya tersedak, “Apa?”
“Kamu yakin tidak menyukainya? Dia sudah melamarmu.”
“Sebenarnya arah pembahasanmu kemana sih? Tadi membahas soal Nana yang tinggal di rumah Alfin, sekarang kenapa bertanya hal lain?”
“Aku hanya memastikannya. Maksudku,” Alan terdengar berdeham, “Bisa saja Nana marah padamu karena kamu menolaknya padahal dia sudah mencoba rela mati-matian.”
Kansha menutar bola matanya, “Sudah kubilang aku tidak menyukainya. Kenapa sih omonganmu jadi ngaco?!”
__ADS_1
“Maafkan aku.”
“Jadi apa Nana masih di tempat Alfin?”
“Tidak, dia baru pergi tadi. “
“Pergi? Kemana?” tanya Kansha kaget.
“Dia bilang sih pulang. Mungkin dia pulang ke rumahnya dan menyelesaikan permasalahannya. Lagipula sangat tidak etis bila ada perempuan asing tinggal di rumah lelaki apalagi bukan mahramnya meski rumah itu jarang ditempati Alfin. tapi tetap saja bukan, itu bukan hal yang bagus.”
Kansha mengangguk-anggukan kepalanya, dia setuju dengan perkataan Alan. Bagaimanapun juga, meski Nana kenal dengan Alfin bukan berarti Nana bisa tinggal di rumah Alfin. Ditambah keluarga Alan adalah keluarga yang religius. Masih hal tabu bila ada wanita tinggal di rumah lelaki asing.
Tapi ada pemikiran lain yang terlintas di benak Kansha. Nana dan Ruben adalah teman serumah. Kemudian di malam itu, Kansha menolak Ruben dan membongkar rahasia Nana. Nana dan Ruben pasti bertengkar apalagi Ruben pasti bertanya apakah Nana memang menyukainya atau tidak. Ruben kan tipe orang yang selalu to the point. Mereka pasti bertengkar soal itu yang menyebabkan Nana marah padanya.
Tapi tunggu, jalan Nana saat itu pincang fikir Kansha.
"Ruben minum wine gila-gilaan saat itu." gumam Kansha.
Tidak mungkin.
“Kansha? Kansha? Kamu dengar aku bicara?”
Suara Alan di telfon menyadarkan Kansha bahwa dia tidak sendiri. Kansha terlalu larut dalam fikirannya hingga dia lupa bahwa dirinya sedang berbicara dengan Alan.
“Maafkan, aku. Tapi aku memiliki urusan penting. Aku tutup dulu.”
Kansha pun langsung menutup telfonnya. Tanpa menunggu jawaban dari Alan.
Dia lalu menelfon Seli, sekretarisnya.
“Hari ini bu?”
“Perlu saya ulangi?” tanya Kansha.
“Baik bu.”
Kemudian Kansha cepat-cepat membereskan pakaiannya.
***
Nana sampai di apartementnya. Dia terdiam cukup lama di depan pintu. Dia gugup dan khawatir bila bertemu dengan Ruben didalam. Apa yang harus dia lakukan nanti?
Tapi Nana sudah membulatkan tekadnya. Dia memang harus pulang tidak peduli ada Ruben atau tidak. Lagipula ini rumahnya kan. Dia lebih memiliki hak dibanding Ruben. Akhirnya Nana menekan digit sandi dan setelah terbuka, Nana masuk kedalam.
Nana masuk ke ruang tamu. Dia terdiam melihat ruang tamu yang sangat bersih. Telunjuknya menyentuh ujung laci, tidak ada debu sedikitpun. Nana pun beralih ke kamarnya. Kamar saksi pertengkaran dan percintaannya dengan Ruben. Memikirkannya, Nana merasa gemetar malu.
Kamar itu bersih dan harum. Nana bahkan berani bersumpah bahwa kamarnya tidak pernah sebersih ini. Seolah-olah penghuni rumah ini adalah seorang penggila kebersihan. Dan Ruben salah satunya. Dia sangat perfeksionis. Bisa ditebak Ruben pasti membersihkannya berkali-kali dalam sehari.
Menaruh tasnya, Nana kembali ke ruang tamu. Kini dia menuju dapur. Dapur juga sangatlah bersih. Nana membuka kulkas, berbagai macam bahan makanan terhampar didepannya. Nana menganga kaget. Sayuran-sayuran itu bahkan masih sangat segar. Apa Ruben memang hidup sesehat ini selama kepergiannya? Nana pun menutup pintu kulkas.
Nana beralih ke ruang kerjanya. Ruang favoritnya. Dia membuka pintu dan semuanya masih sama. Potongan gaun sisa desainnya masih ada. Yang berbeda adalah ruangan ini jauh lebih hangat karena tertimpa cahaya matahari akibat gorden yang dibuka. Sesuatu yang tak pernah dilakukan oleh Nana.
Brak
Lama mengamati ruang kerjanya, Nana tersentak kaget ketika suara pintu terbuka. Nana menoleh dan matanya menatap kaget melihat Ruben berada di depannya.
__ADS_1
***
Kansha sudah berada di bandara. Dia akan pulang ke Indonesia saat ini juga. Kansha merasa ada yang janggal mengenai pertengkarannya dengan Nana dan kejadian malam itu. Kansha takut itu sama dengan yang dia fikirkan.
Kansha pun masuk ke dalam pesawat.
Beberapa jam terlewati, Kansha tiba di Bandara Soekarno Hatta. Setelah melewati berbagai proses, Kansha sampai di pintu keluar. Tidak ada yang menjemputnya dengan Seli karena dirinya memang tidak memberitahu kabar kepulangannya yang maju satu hari.
Lalu seorang lelaki menghampiri Kansha dan Seli yang ternyata adalah suami Seli. Kansha tersenyum sopan menyapa.
“Seli, kamu tidak usah ke kantor. Pulang saja ke rumah dan beristirahat.” Kata Kansha pada Seli yang berada disampingnya.
“Baik bu, terima kasih. Ibu dijemput? Kalau tidak, mari ikut dengan kami.” Ajak Seli sopan.
Kansha menggeleng sopan, “Tidak perlu. Saya sudah menghubungi supir perusahaan. Kamu duluan saja.”
“Ibu serius? Tidak apa-apa ikut dengan kami saja, daripada ibu menunggu sendirian disini.” Bujuk Seli lagi. Dia khawatir kalau direkturnya itu harus menunggu sendirian.
“Jangan khawatir, saya tidak apa-apa. Pulang saja duluan, kamu pasti rindu dengan bayi kamu. Kamu pergi dengan saya mendadak malam-malam meninggalkan putrimu.” Kata Kansha merasa bersalah.
“Itu sudah menjadi kewajiban saya.” Ujar Seli segan.
“Kalau begitu pulang duluan saja.”
Seli masih ragu tapi Kansha terus membujuknya hingga akhirnya Seli mau tak mau mengangguk. Seli pun pamit bersama suaminya. Kini tinggalah Kansha sendiri.
Kansha sebenarnya belum menghubungi siapapun termasuk supir perusahaan. Tapi dia tidak bingung karena ada banyak taksi disini. Baru saja Kansha hendak menghampiri taksi yang terlihat kosong, suara seseorang memanggil namanya.
“Kansha!”
Kansha menoleh. Dia mengernyit bingung sekaligus kaget tentang kehadiran Alvaro disini. Alvaro tersenyum dan menyebrang menghampirinya.
“Alvaro? Kamu kenapa bisa ada disini?” tanya Kansha begitu Alvaro berada di depannya.
“Menjemputmu, apa lagi.” Jawab Alvaro santai.
“Darimana kamu tahu aku akan pulang hari ini?” tanya Kansha masih bingung. Pasalnya dia kemarin bilang pada Alvaro bahwa dirinya akan pulang esok hari.
“Itu tidak penting. Yang penting, aku berhasil memenuhi janjiku untuk menjemputmu.”
“Iya sih. Tapi aku masih tidak menyangka. Kamu tiba-tiba ada disini. Kamu bukan cenayang kan?”
Alvaro tertawa, “Ya bukanlah. Aku diberitahu oleh sekretarismu sebenarnya sebelum penerbangan kalian. Sekretarismu tahu kalau kamu pasti tidak akan menghubungi siapapun.”
Kansha mengangguk mengerti. Dia tidak salah memilih Seli.
“Jadi, ayo pulang.” Kata Alvaro mengambil alih koper Kansha.
Kansha menganggguk, “Jangan ke rumahku dulu. aku memiliki urusan lain di luar jadi antarkan aku kesana.”
“Kemana?”
“Nanti kamu juga tahu. Ayo.”
Kansha pun berjalan lebih dulu diikuti Alvaro yang kini sudah mensejajarkan langkah dengan Kansha.
__ADS_1