
"Aku tahu dia menyukaimu. Aku melihatnya."
"Kamu melihatnya? Apa maksudmu?" tanya Kansha bingung.
"Saat di rumah sakit itu."
Flashback On
Alan berjalan menuju kantin kembali. Setelah pembicaraannya dengan Kansha yang berakhir pertengkarannya dengan Aisyah, Alan memang kembali ke ruangan Aisyah. Dia menjelaskan apa yang terjadi dan meminta maaf telah membentaknya.
Aisyah mengerti. Dia pun memaafkannya dan meminta Alan berjanji untuk tidak melakukannya lagi. Perempuan itu juga tahu bahwa dia sudah bersikap kekanakkan tadi padahal Alan tengah cemas.
Setelah itu dirinya keluar dari ruang rawat Aisyah untuk melaksanakan shalat ashar. Alan harus melewati kantin untuk sampai ke mushala rumah sakit. Namun begitu dia melewati kantin, dia melihat siluet seseorang yang tengah duduk dihadapan seorang wanita yang tengah tertidur.
Matanya menyipit dan dia menyadari bahwa wanita itu adalah Kansha. Tapi siapa laki-laki itu? Alan tak bisa melihat wajahnya karena lelaki itu duduk memunggunginya.
Keningnya mengernyit dalam ketika lelaki asing itu menyentuh rambut Kansha dan membelainya dengan lembut. Tak lama, Kansha terbangun. Ekspresi terkejut Kansha adalah yang pertama dia lihat.
Alan hendak maju kalau-kalau lelaki itu adalah orang jahat. Tapi kata yang keluar dari mulut Kansha menghentikan niatnya.
"Alvaro?"
Alan tertegun. Lelaki itu adalah Alvaro, teman SMA Kansha. Tapi untuk apa lelaki itu disini? Dan apa yang dia lakukan tadi pada Kansha?
Flashback Off
"Aku hanya berteman biasa dengannya. Kami tak punya hubungan istimewa." tukas Kansha tenang.
"Tapi mengapa kamu bertanya? Ini kan tidak ada hubungannya denganmu." lanjut Kansha merasa bingung.
"Aku hanya bertanya. Kalau tidak ya sudah." balas Alan terlihat sedikit acuh. Tapi Alan tidak menyadari bahwa ekspresi Kansha sedikit sedih mendengarnya.
Kansha berusaha menguatkan hatinya. Dia bodoh karena merasa Alan cemburu padanya. Tapi dia baru sadar bahwa itu hanyalah fantasinya sendiri. Alan tak mungkin merasakan hal itu.
Drrt
Perhatian Alan dan Kansha teralih pada ponsel Kansha yang berbunyi. Layar pemanggilnya menampilkan nama Alfin. Kansha dan Alan bertukar pandang sesaat.Kemudian Kansha menjawab telfon Alfin.
"Ha--"
"Kansha! Kamu sudah gila?!"
Pekikkan bernada kasar dan marah itu memotong ucapan Kansha. Kansha mengernyit bingung ketika Alfin tiba-tiba marah-marah padanya. Dia melirik Alan.
"Kamu jangan kurang ajar ya! Kansha dua tahun lebih tua dibandingmu." serobot Alan kesal.
"Loh Mas Alan?! Mas kok bersama Kansha?!"
***
"Keguguran?"
Ririn menggeleng. "Hampir." koreksinya. "Andai kamu telat sedikit, janinnya tak akan selamat."
Alfin menghembuskan nafas berat. Dia mengacak rambutnya dengan frustasi. Ada apa ini sebenarnya? Kenapa tiba-tiba dia mendapat kabar bahwa Nana hamil dan hampir keguguran? Alfin pusing bukan kepalang.
"Sebenarnya aku sudah curiga dari awal ketika melihatnya. Wajahnya pucat dan sering terlihat kelelahan. Tapi kufikir itu wajar karena siapapun bisa lelah saat proses evakuasi. Tapi Nana menahannya dengan baik."
Alfin tak menanggapi. Dia malah melirik Nana yang masih terpejam dengan damai.
"Kamu yakin tidak ada masalah apapun lagi?" tanya Alfin memastikan.
Ririn menggeleng. "Tidak tapi dia harus dipulangkan. Atau kalau tidak.."
"Aku tahu." angguk Alfin pelan. "Terima kasih atas kerja kerasmu. Maaf kamu seharusnya sudah beristirahat tadi tapi aku membangunkanmu." lanjut Alfin merasa bersalah.
__ADS_1
"Tidak masalah, ini sudah tugasku sebagai dokter. Aku akan menjaganya malam ini."
Alfin menggeleng, "Tidak. Kamu sangat lelah hari ini. Aku yang akan menjaganya. Kamu istirahatlah malam ini, besok kita harus menggunakan energi yang banyak untuk membantu para korban."
"Kamu yakin?"
Alfin mengangguk, "Yakin. Beristirahatlah."
"Baiklah kalau begitu. Kalau ada apa-apa, segera kabari aku."
"Baik. Kamu tenang saja.
"Yasudah aku pergi. Selamat malam, dokter." pamit Ririn.
Begitu Ririn pergi, Alfin duduk di samping brangkar Nana. Dia menatap Nana dengan bingung, kecewa sekaligus marah.
"Hamil?" gumamnya. Dia menelungkupkan kepalanya dengan frutasi yang menumpuk.
Lama Alfin berada di posisi itu hingga suara dentingan ponsel menganggunya. Alfin mengeluarkan ponsel dari saku snelinya. Dia melotot ketika suara itu berasal dari notifikasi sosial media miliknya. Itu berarti sinyal sudah terhubung kembali. Alfin berdiri dan segera keluar posko.
Begitu sudah keluar, dia langsung mengetikkan nomor seseorang. Dia harus meminta penjelasan.
Alfin mengetuk-ngetuk casing ponselnya ketika nada sambung terdengar. Hingga pada nada ketiga, panggilannya diangkat.
"Ha--"
"Kansha! Kamu sudah gila?!" sambarnya begitu si empu baru mengatakan sepotong kata.
"Kamu jangan kurang ajar ya! Kansha dua tahun lebih tua dibandingmu." serobot suara lain. Alfin membelakan mata kala menyadari itu suara Alan yang tengah kesal.
"Loh Mas Alan?! Mas kok bersama Kansha?!" pekiknya terkejut.
"Ceritanya panjang. Katakan kemana saja kamu? Kenapa panggilan mas tidak kamu jawab satupun?"
"Mas, ini sudah pukul dua pagi dan kalian sedang dimana? Kenapa bisa bersama? Kalian tidak melakukan hal yang aneh kan?"
"Mas yang jawab pertanyaanku dulu. Mas sama Kansha sedang apa bersama di waktu yang tak wajar? Ini pukul 2 pagi bukan 2 siang."
Pada akhirnya mereka malah berdebat.
Di seberang telfon, Kansha merebut ponselnya dari Alan. Dia harus segera mengklarifikasi pada adik Alan itu agar tidak ada kesalah pahaman.
"Halo, Alfin? Ini aku. Alan menyelamatkanku tadi dari orang berbahaya. Dia membawaku ke apartementnya karena mobilku tertinggal. Tadi kami baru saja selesai makan malam." jelas Kansha.
"Oh begitu. Aku kira sedang apa. Kalian berduaan di waktu yang tak wajar. Bagaimana kalau ada yang salah paham."
"Aku tahu. Maafkan aku."
"Sudah jelas kan? Jadi ada apa menelfon Kansha larut malam seperti ini?" Alan kembali mengambil alih pembicaraan.
"Mas jangan ikut campur dulu. Kansaha, kamu tau soal kondisi Nana?"
Kansha menghembuskan nafas pelan, "Aku tahu."
"Kalau kamu tahu kenapa kamu malah mengizinkannya menjadi relawan? Dia hampir saja keguguran."
Kansha menegang. "Keguguran katamu?"
"Hampir. Untungnya janinnya selamat. Tapi terlambat sedikit saja, aku tidak tahu apa yang akan terjadi."
Kansha menghembuskan nafas lega. Disisi lain, Alan terlihat bingung.
"Aku juga tidak tahu bahwa Nana hamil. Dia menyembunyikan kebenarannya. Aku pun baru tahu hari ini andai Alvaro tidak keceplosan. Mereka bersekongkol membohongiku." ujar Kansha menjadi kesal kembali.
"Jadi saat di rumah sakit itu, kalian datang untuk memeriksa hal itu?"
__ADS_1
"Iya, kamu tahu kan Nana sempat kabur ingin ke luar negeri? Dia bertengkar denganku sebelumnya."
Alfin terdengar menghela nafas berat, "Dia harus pulang."
Kansha mengangguk setuju, "Aku juga berfikir demikian. Tapi kudengar akses kesana ditutup."
"Aku baru mendapat kabar bahwa akses jalan akan dibuka besok kembali. Saat itu juga aku akan membawanya pulang."
Kansha tertegun tiba-tiba. Bayangan Ruben saat mengatakan hendak pergi menyusul Nana melintas di fikirannya tiba-tiba. Kansha rasa, sudah waktunya Ruben menebus dirinya. Dia akan memberikannya kesempatan.
"Kamu jaga Nana baik-baik, sebentar lagi akan ada orang yang menjemputnya."
"Siapa?"
"Seseorang yang membuat Nana bertindak sejauh itu. Kurasa dia akan datang besok. Sudah waktunya mereka berbaikan."
Alfin di seberang telfon mengernyit bingung.
"Apa maksudmu?"
"Nanti kamu juga akan tahu. Tapi bila saat itu tiba, kuharap kamu mau menjadi penengah bagi mereka."
Alfin masih bingung tapi sepertinya Kansha tak akan menjawab kebingungannya secara jelas.
"Aku mengerti." angguk Alfin pada akhirnya.
***
Kansha menutup telfonnya. Dan begitu menoleh pada Alan, Alan terdiam dengan pandangan bertanya.
"Nana hamil dan sialnya aku baru tahu." kata Kansha pelan.
Alan menghela nafas, "Aku tidak tahu harus mengatakan apa."
"Aku juga sama. Oh ya ini sudah pukul 2, kamu mau pergi sekarang?" ujar Kansha melirik arlojinya.
"Iya, aku lupa kalau aku sudah terlalu lama disini."
Alan lalu mengambil jaketnya. Dia lalu berjalan menuju pintu. Di belakangnya, ada Kansha yang tengah terdiam berfikir.
"Eh Alan." panggil Kansha.
Alan menoleh, "Ada apa?"
Kansha nampak ragu, "Tidur saja disini,"
Alab mengernyitkan dahinya dan bingung sekaligus terkejut. Dia tidak mempercayai pendengarannya.
Kansha cepat-cepat menjelaskan, "Maksudku ini sudah dini hari, berbahaya juga bila kamu harus berkendara malam-malam begini. Kamu tidur saja disini, baru subuh nanti kamu pergi mengambil mobilku." tawar Kansha.
"Kansha, aku tidak bisa. Kita tidak boleh di dalam satu atap selama ini. Terlebih tidur bersama?"
"Apa sih yang kamu fikirkan. Aku bilang kamu tidur di kamarmu dan aku di sofa tamu."
"Tidak, lebih baik aku pulang saja." tolak Alan.
"Kamu yakin?"
"Iya. Tidak baik untukku menginap bersama satu atap denganmu."
"Yasudah, aku hanya menawari demi kemanusiaan. Kalau kamu mau pulang, hati-hati."
Alan mengangguk, dia melanjutkan langkahnya menuju pintu. Kansha mengikutinya.
"Hati-hati di jalan." ucap Kansha begitu berada di ambang pintu.
__ADS_1
"Aku jadi merasa dejavu ." celetuk Alan geli. Kejadian ini pernah teralami saat Alan pamit pulang ketika di Seoul beberapa waktu lalu.
Kansha hanya tersenyum kecil, "Pada akhirnya kita harus berpisah."