My Husband My Pilot: Tragedi Pesawat Jatuh

My Husband My Pilot: Tragedi Pesawat Jatuh
Bab 87.


__ADS_3

Ceklek


Zakariya dan Alan masuk dengan Aisyah yang berada di kursi roda. Mereka terkejut ketika Alfin sedang duduk di sofa sambil memainkan game.


"Alfin, sejak kapan kamu disini?" tanya Alan.


"Baru saja. " jawab Alfin dengan nada biasa saja. Dia berusaha lebih terlihat asyik dengan game ponselnya.


"Kok Nak Alfin disini? Memangnya tijidak bekerja?" imbuh Zakariya, entah kenapa dia merasa gugup. Pasalnya sejak menemukan Alan dan Alfin di samping pintu tatkala dia berdebat dengan Aisyah, Zakariya takut mereka mencuri dengar.


"Pekerjaan saya sudah selesai, makanya kesini. Tapi saya baru ingat kalau Aisyah ada jadwal konsultasi jadinya saya main game sambil menunggu." balas Alfin tenang.


"Ah begitu." Zakariya menganggukkan kepalanya. Agak lega. Dilihat dari ekspresi Alfin dan ketenangannya dalam bicara, Zakariya sedikit tenang dan menyimpulkan Alfin memang hanya datang secara kebetulan.


"Oh ya, bagaimana hasil pemeriksaannya?" tanya Alfin menoleh pada Aisyah.


Aisyah tiba-tiba beraut sedih, Alfin yang bingung melirik Alan. Alan menghembuskan nafas pelan.


"Luka di kepalanya sudah sembuh, Aisyah bisa pulang hari ini. Tapi soal penyakitnya, Aisyah masih harus tetap berobat rutin. Untungnya sel kankernya masih tidak terlalu menyebar dan masih bisa ditangani oleh obat-obatan." balas Alan.


"Alhamdulillah kalau lukamu sudah sembuh. Semoga penyakit kamu juga cepat sembuh Aisyah." timpal Alfin yang diamini oleh semuanya.


Alfin tiba-tiba melihat arlojinya. Setelah itu dia melirik Alan.


"Mas, sudah waktunya makan siang. Bagaimana kalau kita makan siang bersama?" ajak Alfin.


"Tapi Aisyah?" Alan bingung.


"Tidak apa-apa, kalian makan siang dahulu saja. Aisyah kan ada om." timpal Zakariya.


"Sekalian ada yang ingin aku bicarakan denganmu. " imbuh Alfin melirik Zakariya diam-diam.


"Bicara soal apa?" tanya Alan.


Alfin membisikkan ke telinga Alan, "Soal acara reuni." bisiknya. Dia melihat dari sudut matanya, Zakariya seperti tengah berusaha menangkap ucapannya.


"Reuni?" Alan menatap Alfin. Alfin mengangguk.


"Nanti kujelaskan saat makan siang."


"Kalau begitu. saya dan Alfin makan siang dahulu." ucap Alan.


"Iya, selamat makan ya. Jangan lupa shalat dzuhur." balas Zakariya tersenyum.


"Aisyah, mas makan siang dahulu." ucap Alan pada Aisyah.


Aisyah tersenyum, "Iya mas,"


"Aisyah dan om juga jangan lupa makan siang ya." lanjut Alan.


"Pasti, Nak."


Alan tersenyum, "Kalau begitu kami permisi. Assalamu'alaikum."


"Waalaikum salam." balas Zakariya dan Aisyah serempak.


Alan dan Alfin pun keluar ruangan. Dan Alfin diam-diam menghela nafas lega.


***


Alfin


Dimana sekarang? Kamu sudah berada di restoran?


Kansha melihat pesan yang dikirim Alfin semenit yang lalu. Tadi Alfin memang mengajak makan siang bersama. Kansha agak aneh sih, pasalnya mereka baru saja makan malam bersama kemarin. Tapi kenapa sekarang lelaki itu mengajaknya makan siang? Sangat bukan ciri Alfin.


Kansha


Aku sedang berada di jalan, macet. Ini waktu makan siang soalnya.


Kansha pun berfikir positif, mungkin Alfin memang hanya sekedar mengajaknya saja. Tidak ada maksud apapun.


Alfin


Bukankah sudah kubilang, untuk berangkat lebih awal? Dibilangin ngeyel sih.


Kansha berdecak sebal, dia membalas pesan Alfin sambil sesekali menatap kedepan.


Kansha


Tutup mulutmu. Pekerjaanku baru saja selesai. Lagipula kenapa tiba-tiba mengajak makan bersama lagi apalagi tempatnya sangat jauh.


Kansha mengirimkan pesannya pada Alfin setelah itu menyalakan audio karena merasa suntuk menunggu di kemacetan.


Ting!


Notifikasinya berbunyi. Kansha pun mengambil ponselnya lagi dan membuka pesan balasan Alfin.


Alfin

__ADS_1


Hanya sekedar mengajak, tak ada maksud yang lain. Kamu berharap akan ada kejutan, begitu?


Itu restoran yang enak dan murah. Sebagai temanku, kamu harus coba.


Kansha


Kenapa juga aku berharap kejutan. Hidupku sudah penuh kejutan.


Alfin


Tapi kalau kamu berharap aku memiliki kejutan. Anggap saja seperti itu, aku punya kejutan untukmu!


Kansha


Sudah kuduga kamu memiliki niat terselubung. Katakan siapa yang kamu ajak?


Kansha memandangi ponselnya. Pesannya belum dibaca Alfin.


Tit


Suara klakson membuat Kansha terkesiap. Dia cepat-cepat menaruh ponselnya dan mulai mengemudi kembali.


***


Alan dan Alfin sampai di restoran yang direkomendasikan Alfin. Mereka duduk di sudut. Lama mereka duduk, dan Alfin terlihat gelisah. Adiknya itu terus melirik ke arah pintu. Mereka bahkan belum memesan makanan.


"Kamu menunggu seseorang?" celetuk Alan.


Alfin terkesiap, dia menoleh pada Alan. "Tidak kok mas."


Alan mengangkat alisnya, dia tidak percaya begitu saja dengan jawaban Alfin.


"Mas sudah mengenalmu selama 23 tahun ini, katakan apa yang sebenarnya kamu rencanakan? Ini bukan sekedar makan siang biasa kan?" selidik Alan.


Alfin menghembuskan nafas pelan, dia sadar bahwa dia tidak akan bisa menutupi apapun dari Alan. Akhirnya Alfin memilih menjawab jujur.


"Aku juga mengajak Kansha datang kesini." tandasnya.


"Kansha?" Alan terkejut, pupil matanya membesar kala nama Kansha di sebut. "Untuk apa kamu mengajaknya?"


"Untuk apa lagi selain mendamaikan kalian berdua. Aku sudah dengar semuanya dari Kansha. Kalian berdua bertengkar karena salah paham." balas Alfin.


"Itu bukan salah paham. Mas melihatnya dengan mata kepala sendiri." sanggah Alan jadi kesal.


"Mas, itu hanya salah paham. Mas hanya melihatnya dari sudut pandang mas sendiri. Coba mas teliti, apakah Kansha sungguhan hendak mendorong Aisyah? Lagipula mas sudah lama mengenal Kansha, apakah Kansha adalah tipikal seseorang yang akan membunuh orang lain? Tanpa alasan lagi?"


Ucapan Alfin membuat Alan terdiam. Kalau difikir-fikir lagi, Kansha memang tidak mungkin hendak mendorong Aisyah jatuh. Dia bukan orang sepert itu. Tapi kalau memang seperti itu, mungkinkah Aisyah yang berbohong?


"Dia beneran akan datang?" Alfin mengangguk.


"Dan mas harus bisa tahan emosi mas, selesaikan masalah ini dengan baik dan kepala dingin." peringat Alfin.


Alan terdiam lalu mengangguk. Alfin kemudian mengecek ponselnya.


"Kansha sudah di depan."


***


Alfin


Kamu jalan lurus saja, aku duduk di sudut yang ada pot bunga besar. Btw, aku mengajak orang keren. Kamu pasti tidak akan menyesal.


Kansha membaca pesan yang dikirim Alfin. Kansha mendecih, dia mengirim kapan, dibalas kapan. Kansha pun memasukkan ponselnya ke tasnya dan berjalan masuk ke restoran.


Kansha mengedarkan tatapannya kesekeliling. Matanya tertuju pada sudut yang ada pot bunga seperti yang dikatakan Alfin, tapi masalahnya, entah kenapa yang duduk di meja itu ada dua orang. Jadi benar, Alfin mengajak seseorang.


Kansha pun memilih menghampiri. Alfin yang dari kejauhan melihat siluet Kansha melambaikan tangan. Kansha pun yakin itu adalah Alfin, dia pun mendekat.


"Kamu akhirnya datang juga." sambut Alfin.


"Jalanan sangat macet, aku--" Kansha menghentikan perkataannya ketika matanya bersibobrok dengan Alan.


Tunggu, Alan? Sedang apa lelaki itu disini?


"Duduklah Kansha, kenapa diam saja?" tegur Alfin.


Kansha tersadar kemudian duduk di samping Alan.


"Kenapa lelaki menyebalkan ini ada disini?" bisik Kansha pada Alfin yang berada di depannya.


Alfin melirik Alan kemudian balas berbisik, "Lelaki menyebalkan ini ingin berdamai denganmu."


"Ekhem." deham Alan. Alfin dan Kansha pun duduk kembali.


"Dia galau sejak kemarin." imbuh Alfin menunjuk Alan dengan dagunya.


"Aku tidak.." Alan hampir melemparkan vas bunga pada Adik tengilnya. Alfin membalasnya dengan kedipan isyarat agar Alan diam saja.


"Jadi ada apa sebenarnya?" tanya Kansha jutek.

__ADS_1


"Aku tidak tahu, Alfin yang merencanakan ini semua." sahut Alan ikutan jutek. Alfin menendang kaki kanan Alan.


"Aw." ringis Alan menatap kesal Alfin. Alfin balas memelotinya.


"Aaduh." Alfin tiba-tiba meringis. Dia memegang perutnya.


"Ada apa? Kamu kenapa?" tanya Kansha khawatir.


"Perutku sakit, sepertinya aku harus buang air besar dulu. Aku pergi dulu ya. Kalian makan duluan saja." pamit Alfin. Dia tiba-tiba berdiri dan berlari pergi sambil memegang perutnya.


"Hati-hati!" seru Kansha.


"Kamu percaya pada aktingnya?" tanya Alan begitu Kansha berbalik.


"Tentu saja tidak. Orang bodoh pun tahu dia hanya pura-pura." sahut Kansha.


"Jadi ada apa?" tanya Kansha tanpa basa-basi.


"Apa?" tanya Alan balik.


Kansha berdecak, "Kata Alfin kamu ingin membahas masalah kemarin."


"Oh, itu..aku..tidak..bukan aku yang mengatakannya. Ini semua rencana Alfin." jawab Alan terbata-bata.


"Jadi kamu tidak ada yang ingin dibicarakan?" tanya Kansha. Alan hanya terdiam.


"Ya sudah berarti tidak guna juga kita disini." Kansha mengambil tasnya dan seketika berdiri.


"Eh, kamu mau kemana?" cegah Alan.


"Pulang." balas Kansha singkat.


"Duduk dulu. Ada yang ingin kubicarakan." tukas Alan akhirnya.


Kansha pun duduk kembali. Kali ini di depan Alan.


"Soal kejadian kemarin, benar kamu tidak mendorong Aisyah?"


Kansha berdecak kembali, "Sudah berapa kali kukatakan tidak. Untuk apa aku melakukannya, aku juga masih waras." balasnya agak ketus.


"Tapi kenapa Aisyah malah menuduhmu?" tanya Alan bingung.


"Aku tidak tahu. Tanyakan saja sendiri padanya." balas Kansha ketus.


Alan terdiam berfikir. Ini aneh. Aisyah bukanlah wanita seperti itu. Dia tidak mungkin main menuduh orang sembarangan.


"Mbak Kansha, hampir mendorongku, karena dia tidak suka aku dengan mas. Dia ingin merebut Mas Alan dariku."


Ucapan Aisyah kembali bergaung di fikirannya.


"Apa yang sebenarnya terjadi saat itu?" tanya Alan.


Kansha terdiam. Dia tidak mungkin mengatakan soal apa yang menjadi pertengkarannya dengan Aisyah. Alan akan kefikiran nanti.


"Hanya masalah wanita. Tidak ada apapun." balas Kansha acuh.


Alan menelisik raut tenang Kansha. Tidak mungkin hanya masalah biasa. Ataukah benar yang dikatakan Aisyah bahwa Kansha dan Aisyah bertengkar karenanya.


"Eh Alan, sudahlah tidak usah difikirkan lagi. Aku juga sudah menerima yang terjadi. Yang lalu biarlah berlalu. Mungkin aku juga salah disitu. Tapi aku tidak pernah berniat mendorongnya jatuh." celetuk Kansha. "Jadi lupakan saja. Anggap sudah berlalu." lanjutnya.


Alan menghela nafas. Dia sebenarnya masih penasaran dan merasa janggal, namun untuk menghormati Kansha, dia tak urung mengangguk. Biarlah nanti Alan cari tahu sendiri.


"Sudahkan? Sekarang kita makan." kata Kansha. Dia mulai memakan makanannya yang baru diantar semenit yang lalu.


"Makan yang banyak." ucap Alan ikut makan.


Alfin yang duduk dikejauhan, seketika megembangkan senyumnya. Dia lega bahwa Alan dan Kansha sudah berdamai. Alfin pun mengetikan sesuatu pada ponselnya.


Setelah pesannya terbaca, Alfin bangkit. Namun sebelum itu dia mendapat sebuah pesan.


Bibi


Den Alfin, bunda sama ayah sudah pulang.


Alfin ber'yes' senang. Dia mengantongi ponselnya dan menuju parkiran. Biarlah tanggungan makanannya ditanggung Alan toh dia yang makan. Dan Alfin masih punya satu urusan lagi.


***


Alfin


Hari ini Mas Alan ulang tahun. Kamu tidak akan memberi hadiah?


Kansha terdiam setelah membaca pesan yang dikirim oleh adik Alan itu. Dia lalu menatap Alan yang masih asik makan.


"Kamu punya waktu setelah ini?" tanyanya.


Alan menghentikan makannya, "Kenapa?"


"Ikut denganku ke toko kue."

__ADS_1


Mendengar jawaban Kansha, Alan hanya mengangkat satu alisnya.


__ADS_2