My Husband My Pilot: Tragedi Pesawat Jatuh

My Husband My Pilot: Tragedi Pesawat Jatuh
Bab 21. Sungguhan Selamat


__ADS_3

Grace menatap sendu pada Kansha yang masih belum sadar. Grace begitu menyesal ketika melihat raut lelah dari wajah putrinya. Entah berapa banyak luka yang sudah dia torehkan pada putri keduanya ini. Grace merasa penyesalan menggerogotinya. Luka Kansha membunuhnya perlahan.


Andrian dan Kelvin juga tengah duduk di sofa, mengamati dari jauh. Andrian menatap tubuh Kansha yang terbaring lemah. Sebagai seorang ayah, dia merasa gagal.


Ceklek


Lalu terdengar pintu terbuka. Rupanya Nana, Ruben dan Bu Sari yang mendengar kabar bahwa Kansha selamat segera pergi ke rumah sakit.


“Kansha!” pekik pelan Bu Sari. Air matanya sudah berlinang. Dia menutup mulutnya, sungguh ingin menjerit melihat Kansha yang sudah seperti anaknya sendiri dikabarkan selamat dari maut.


Nana juga sama. Ia begitu mengucap terima kasih pada Tuhan yang sudah mengabulkan pintanya selama ini. Nana masih diberi kesempatan untuk melihat Kansha lagi. Nana menatap sendu pada Kansha yang terbaring di ranjang. Rambutnya kusut, banyak bekas luka di sekitaran wajahnya dan jangan lupakan tubuh Kansha yang kurus kering.


Ruben juga terdiam. Dia tidak menghampiri Kansha seperti yang dilakukan Nana dan Bu Sari. Dia masih terlalu terkejut dan tak percaya bahwa Kansha masih hidup. Ruben benar-benar bahagia. Meskipun baru tak bertemu beberapa bulan, Ruben merasa rindu amat mendalam. Apalagi sebulan terakhir, perasaannya terombang-ambing karena rasa takut dan khawatir akan keselamatan Kansha.


Mata Kansha perlahan terbuka. Sedikit-demi sedikit matanya mulai menyesuaikan pada cahaya. Kansha meringis pelan. Pusing menghantam kepalanya.


“Ashh.” Ringisan pelan Kansha rupanya disadari oleh semua orang yang ada disana. Grace menatap penuh bahagia ketika Kansha mulai sadar, begitupun Bu Sari. Andrian, Nana dan Ruben mendekat ke arah ranjang.


“Aku dimana?” tanya Kansha pelan. Ruangan ini penuh berbau obat-obatan dengan langit-langit putih.


“Kansha kamu sudah sadar sayang!” seru Grace bahagia. Air matanya meluruh lagi namun cepat-cepat dihapusnya. Ukiran senyuman terpatri di wajah cantiknya. Ukiran senyuman terpatri di wajah cantiknya.


“Ini dimana?” tanya Kansha sekali lagi. Ia mengernyit pelan ketika rasa pusing kembali menghantamnya dengan denyutan.


“Ini di rumah sakit sayang. Bagaimana keadaan kamu? Ada yang sakit?” tanya Bu Sari.


“Rumah sakit?” lirih Kansha. “Aku selamat? Ini bukan mimpi?” gumam Kansha.

__ADS_1


Bu Sari tersenyum dengan air mata yang berlinang, “Ini bukan mimpi, nak. Kamu selamat, kamu kembali pulang pada kami.” Kata Bu Sari lembut.


Kansha yang mendengar perkataan Bu Sari memejamkan matanya. Raut wajahnya penuh bahagia dengan senyuman terpatri di bibir pucatnya. Air matanya meluruh. Menyadari bahwa ini bukanlah mimpi, dirinya sungguhan selamat.


“Terima kasih Tuhan.” Ucap Kansha penuh rasa syukur.


***


“Bagaimana cara kamu bisa selamat saat pesawat jatuh, Lan?” tanya Bunda sambil menyuapi Alan jeruk.


Alan menerawang, “Um, Alan memakai rompi pelampung yang selalu Alan bawa ketika terbang. Lalu saat pesawat jatuh ke laut, Alan mencoba sadar dan berenang ke atas. Setelah itu Alan tidak tahu lagi. Bangun-bangun, Alan sudah ada di pulau terpencil. Itupun karena Kansha yang teriak ada mayat.” Jawab Alan terkekeh. Saat itu, andai Kansha tidak berteriak, mungkin Alan akan lamat sadar dari pingsannya.


“Kansha itu..”


“Kansha juga salah satu korban pesawat yang berhasil selamat. Dia seorang reporter.” Sela Alan.


Alan mengangguk, “Pasti yah.”


Ceklek


“Mas Alan!” pekik seorang lelaki yang baru saja masuk dengan buru-buru. Rambutnya kusut dengan lingkaran mata yang terlihat jelas. Dia adalah Alfin, adik Alan.


Alan, Bunda, Ayah dan Aisyah terkejut dengan pekikan Alfin yang sudah seperti toa. Alfin langsung menghampiri ranjang Alan.


“Mas, mas tidak apa-apa? Ada yang sakit? Mas kok bisa selamat?” tanya beruntun Alfin yang langsung dipukul bahunya oleh Bunda.


“Alfin, anak nakal kamu ya! Bunda sudah hubungi kamu berminggu-minggu lalu, tapi kamu tidak ada kabar sama sekali. Kemana saja kamu?” omel Bunda.

__ADS_1


Alfin menyengir, “Maaf bun, aku kan sudah bilang aku ada pengobatan gratis di pedalaman. Lagipula tidak ada sinyal disana. Aku saja baru tahu berita ini ketika baru mendarat di bandara lalu aku buru-buru kesini. Maaf ya mas.” Ucap Alfin menyesal.


“Tidak apa-apa, Fin. Mas sudah senang kamu bisa datang. Mas kangen sama adik tengil mas ini.” timpal Alan terkekeh.


“Ngomong-ngomong mas, tadi di berita bukan hanya mas yang selamat, tapi ada satu lagi, siapa namanya? Aku lupa.”


“Kansha Andara.”


“Ah, Kansha! Tapi bagaimana kalian bisa selamat dan bertahan hidup di pulau?”


“Semuanya adalah takdir Allah. “


Alfin berdecak, “Iya Alfin juga tahu. Jadi bagaimana mas?”


“Iya Bunda juga penasaran. Kamu bisa bertahan dengan Kansha selama satu bulan di pulau. Belum lagi kalian pasti luka-luka kan.” Kata Bunda ikut menimpali.


“Tidak bagaimana-bagaimana sih. Kami makan seadanya dengan umbi-umbian atau hasil laut seperti ikan dan udang. Lalu kami juga bekerja sama membangun gubuk dan bergantian membuat api unggun. Begitulah cara kami bertahan hidup.”


“Dilihat dari jawaban Mas Alan, Mbak Kansha ini pasti gadis hebat ya?” Alfin sedikit menyelipkan nada godaan disana.


“Bukan hebat lagi, Kansha gadis dengan persiapan matang. Dia pernah mengikuti pelatihan penyelamatan di air . Dia juga membawa tas pinggang yang sudah seperti tas doraemon. Ada pisau lipat, roti gandum, senter kecil bahkan rompi pelampung. Daya fikirnya juga luar biasa. Dan kemampuan fisiknya juga bagus. Dia bahkan bisa memanjat pohon kelapa.” Jawab Alan terkekeh. Bayangan Kansha ketika di pulau menari di benaknya. “Intinya, Kansha gadis serba bisa.” Pungkas Alan.


“Uwu, aku jadi penasaran dengan Kansha-Kansha itu, seperti apa ya rupanya.” Tebak Alfin. “Oh ya, mas kondisi Kansha itu mas sudah tahu?”


Alan menggeleng lesu, “Belum. Mas tidak diperbolehkan keluar kamar oleh dokter. Padahal ketika detik-detik penyelamatan, Kansha tengah jatuh sakit.” Ucap Alan mendesah kecewa.


Pembicaraan terus berlanjut. Tanpa menyadari bahwa ada sesosok gadis yang mendengarnya. Aisyah merasa sakit hatinya ketika Alan membahas perempuan lain dengan sorot penuh kekaguman.

__ADS_1


__ADS_2