
Pagi hangat datang di keluarga Alandra Kenandra. Sejak pagi buta, setelah shalat subuh berjamaah, para anggota keluarga sudah memulai rutinitasnya masing-masing. Aisyah, bunda dan Bi Jena, pembantu keluarga mereka sudah berkutat di dapur dan memasak sarapan. Sedangkan Ayah dan kakak beradik itu sedang melakukan lari pagi di sekitar komplek perumahan mereka.
Pukul tujuh pagi, sarapan disajikan. Layaknya keluarga harmonis pada umumnya, mereka mengobrol dengan hangat. Lalu seusai sarapan, mereka mengobrol kembali di ruang keluarga.
“Alan, penerbanganmu hari ini kemana?” tanya Ayah pada putra sulungnya yang sedang asik mengemil kue kering favoritnya.
“Ke Kendari, yah.” Jawab Alan.
“Berapa hari, bang?” tanya bunda kemudian.
“Hanya dua hari bun.” Jawab Alan kembali singkat.
“Hati-hati ya Nak, berdo’a dahulu sebelum take off. Percayakan keselamatanmu pada Allah.” Pesan bunda. Alan mengangguk sembari tersenyum.
***
Di lain tempat, Kansha juga tengah menyiapkan sarapan pagi. Nana dan Ruben belum bangun. Jadilah dia menyiapkannya sendiri. Dia memanggang roti lalu menggoreng telur. Setelah itu dia menyajikannya di meja makan bersama beberapa selai buah.
Ketika Kansha tengah menaruh susu, Ruben keluar kamar dengan keadaan segar. Kansha langsung menyapanya.
“Pagi Kak Ruben. Tidur kakak nyenyak?”
Ruben begitu keluar kamar dan disuguhi pemandangan indah didepannya seketika tertegun. Kansha menyambutnya dengan senyuman pagi yang memabukkan. Melihatnya tengah menyiapkan sarapan membuat khayalan Ruben menjadi. Andai pemandangan itu selalu ia lihat di tiap paginya. Ruben akan menjadi lelaki paling beruntung.
“Kak Ruben?” tegur Kansha melihat Ruben yang terdiam seperti manekin.
Ruben terkesiap, “Pagi Kansha. Kamu bangun sangat awal.” Sapa kembali Ruben.
“Aku biasanya bangun jam segini semenjak terdampar di pulau. Ayo sarapan kak.” Ajak Kansha. Setelah itu Kansha kembali ke dapur untuk menyiapkan kopi untuk Ruben.
Tak lama, Nana keluar kamar setelah mandi. Dia langsung berteriak terpesona melihat sarapan sudah dihidangkan di wajahnya.
“Wah, ini yang selalu kuimpikan! Kansha, kamu menyiapkan ini sendirian?” Kansha mengangguk. “Luar biasa.” Ucap Nana takjub.
Kansha tersenyum, “Duduklah dan makan sarapanmu.” Titah Kansha. Nana mengangguk riang dan langsung duduk.
Kansha juga ikut duduk dan menikmati sarapannya.
“Kansha, kamu akan menginap lagi?” tanya Nana.
Kansha menggeleng, “Papa akan melakukan perjalan bisnis selama seminggu, jadi mama memintaku pulang karena dia sendirian.”
“Ah begitu. Kapan-kapan aku main deh. Mamamu sudah lebih jinak, kan?” tanya Nana.
Kansha tertawa, “Kamu fikir mamaku hewan buas? Sudah jinak atau belum. “
Nana hanya menyengir.
__ADS_1
***
Kansha sampai di kantornya. Dia langsung masuk ke dalam ruangannya. Lalu tak lama ponselnya bergetar. Ada pesan masuk dari Alan.
Alan
Aku akan terbang ke Kendari. Ada do’a perlindungan untukku?
Kansha tersenyum kecil lalu membalasnya.
Kansha
Kembalilah dengan utuh. Aku tidak mau mendengar berita bahwa kamu jatuh dari pesawat dan kembali terdampar.
Tak lama, pesan balasan Alan muncul.
Alan
Aku sudah bilang kalau aku tak akan terdampar lagi jika tidak denganmu.
Kansha
Kenapa membawa-bawa namaku? Jika ingin terdampar, sendiri saja. Jangan mengajakku.
Alan
Kansha menggelengkan kepalanya. Dia lalu membalasnya lagi.
Kansha
Kalau begitu, kembalilah dengan selamat. Aku tidak mau direpotkan olehmu lagi.
Alan
Siap Nona Pemburu 🏌♀️
Kansha
Kamu masih ingat ternyata.
Alan
Aku kan si jenius IPS :)
Baiklah, Ketua Suku akan berburu.
Do’akan aku, Nona.
__ADS_1
Kansha terkekeh kecil melihat balasan Alan. Dia menatap room chatnya dengan Alan. Ada kebahagiaan tersendiri untuknya ketika Alan masih mempedulikannya.
***
Kansha pulang ke rumah seperti yang dijanjikan pada mamanya. Waktu saat ini pukul dua belas siang. Dia memang pulang lebih awal dari biasanya.
“Mam.” Sapa Kansha pada mamanya yang tengah menonton televisi di ruang keluarga.
Grace menoleh pada Kansha yang sudah berganti baju, dia tersenyum dan meminta Kansha duduk di sebelahnya.
“Bagaimana pekerjaan kamu?” tanya Grace lembut.
“Seperti biasanya.” Jawab Kansha.
“Ada masalah atau kesulitan?” tanya Grace.
Kansha menggeleng, “Semuanya oke ma, hanya aku sedang sibuk mempersiapkan kantor baru di Korea Selatan.” Jawab Kansha.
“Kalau misal kamu mengalami kesulitan, jangan sungkan kasih tahu mama sama papa ya. Kami akan membantu sebisanya.” Pesan Grace. Kansha mengangguk pasti.
“Mama sedang menonton apa?” tanya Kansha.
“Oh tadi sih berita, sekarang lihat film dulu. Mama ingin refreshing.” Jawab Grace terkekeh.
“Kalau begitu kapan-kapan kita jalan-jalan, bagaimana? Kita sudah lama tidak menghabiskan waktu berdua.” Tawar Kansha.
Grace mengangguk setuju, “Oke. Mama setuju. Setelah peresmian proyek kamu kita jalan-jalan berdua.” Kansha mengangguk sembari tersenyum.
Lalu film yang ditonton Grace masuk jeda iklan. Grace lalu mengalihkannya pada saluran lain. Dan sebuah berita membuat Kansha mematung.
Pemirsa, pesawat Key Asia T 110 dengan rute Jakarta- Kendari dikabarkan mengalami masalah mesin hingga batal mendarat di Bandara Haluoleo. Sebaliknya pesawat yang dikemudikan oleh kapten Alandra itu memutuskan mendarat darurat di Bandar Udara Internasional Sultan Hasanudin. Akibat tindakan heroik ini, pesawat berhasil mendarat dan para penumpang selamat. Kita beralih ke berita selanjutnya.
“Kansha, dia orang yang bersamamu ketika kecelakaan pesawat itu, kan?” tanya Grace.
“Iya.” jawab Kansha pelan.
“Dia sangat hebat. Mama salut dengannya. Dia menyelamatkan ratusan penumpang.” Puji Grace.
Grace menoleh pada Kansha karena tak mendapat tanggapan dari sang putri,
“Kansha, kamu tidak apa-apa?” tegur Grace.
“Ma, aku ke atas dulu.” ucap Kansha pelan. Tanpa sempat Grace menjawab, Kansha langsung berlari ke kamarnya di lantai dua.
Kansha menghubungi Alan. Namun ponselnya tidakbisa dihubungi. Tak menyerah, Kansha kembali menelfon Alan.
Maaf Nomor yang Anda Tuju, Tidak Dapat Menerima Panggilan
__ADS_1
Kansha tetap tak menyerah, dia terus menelfon Alan. Namun jawaban yang dia dapat selalu sama, nomor Alan tidak bisa dihubungi.