
Kansha baru sampai di rumahnya setelah penerbangan yang hampir memakan waktu tiga jam. Kansha menaruh kopernya di samping tempat tidur dan langsung merebahkan diri di kasur. Dia seketika mengerang.
Kansha menutup matanya beberapa saat sebelum kemudian dering telfon menganggu istirahatnya. Ayolah, Kansha masih jet lag dan sudah ada yang mengganggunya.
“Maaf, pemilik ponsel ini tidak ada ditempat. Silakan hubungi 3 kali 24 jam lagi.” Kata Kansha begitu telfon dia angkat.
Tak ada balasan dari seberang telfon membuat Kansha mengernyit bingung. Kemudian tak lama terdengar kekehan kecil.
“Padahal aku ingin mengajakmu makan siang. Ada warung ayam bakar yang baru buka.” Ucap seseorang yang lain Alan.
Kansha langsung duduk tegak, “Jangan bohong.” Katanya serius.
“Aku serius. Aku ingat bahwa kamu selalu mengidamkan ayam bakar ketika di pulau, kamu bahkan menganggap pisang adalah ayam bakar.” Sahut Alan terkekeh.
“Kenapa sih kamu suka sekali mengulang masa lalu. Pantas saja nilai IPS kamu tinggi.” Dengus Kansha.
Alan terkekeh di telfon, “Jadi bagaimana? Mau tidak? Aku traktir sepuasmu.” Tawar Alan.
Kansha seketika tersenyum senang dengan mata berbinar, “Jangan ingkar ya. Aku akan menguras isi dompetmu hari ini.”
***
Di sebuah apartement mewah di Bilangan Jakarta, Nana dan Ruben berdiri diam. Nana dengan perasaan malunya dan Ruben dengan perasaan terperangahnya.
“Tolong analisa, ini rumah atau kandang ayam?” tanya Ruben.
Nana menatap sebal pada Ruben. “Ini rumahku masa dibilang kandang ayam.”
“Kalau ini rumah kamu, kenapa berantakan sekali? Kamu tidak bersih-bersih sejak kapan?” decak Ruben. Dia adalah penyuka kebersihan, tapi jangan katakan Ruben adalah perfeksionis apalagi OCD ya. Dia tidak separah itu.
“Aku sibuk bekerja jadi tidak punya waktu membersihkan rumah.” Kata Nana malu.
Ruben mendesah kemudian menggelengkan kepala. Kepalanya sudah pusing duluan begitu melihat betapa berantakannya rumah adik temannya itu. Kaleng-kaleng soda bertebaran, baju-baju juga dibiarkan tergeletak, buku-buku yang terbuka di lantai dan jangan lupakan tempat sampah yang bahkan sudah dikelilingi lalat akibat sudah lama isinya tidak dibuang.
“Kamu sudah sehat seratus persen kan?” tanya Ruben. Nana mengangguk yakin.
“Kalau begitu, kita bersih-bersih dulu. Aku membersihkan ruang tamu dan kamar tamu untukku, kamu sisanya, dapur dan toilet.” Kata Ruben membagi pekerjaan. “Dan jangan lupakan kamarmu sendiri, lalu cuci juga baju-bajumu.” Lanjut Ruben menatap tumpukan baju Nana dengan jijik.
Nana mengangguk mantap, “Serahkan padaku, jangan khawatir.” Katanya santai.
Ruben mengangguk, “Baiklah operasi semut apartement No 101 dimulai.” Ucapnya dengan akting tegas.
***
__ADS_1
Kansha menunggu Alan yang akan menjemputnya. Lalu tak lama, sebuah mobil range rover mendekatinya. Mobil itu kemudian berhenti dan seseorang keluar dari kursi pengemudi. Itu Alan yang mengenakan jaket denim dengan kacamata hitam.
Kansha terpana melihat penampilan Alan yang melampaui kata keren, “Kamu tampan.” Ucap Kansha menyuarakan fikirannya begitu Alan sampai di depannya.
“Kufikir kamu akan mengomel karena aku terlambat datang.” Kata Alan setengah terkejut setengah malu.
Kansha mengangguk menyetujui, “Iya, tadinya aku mau mengomel tapi ketampanan kamu membutakanku.” Balas Kansha santai.
Alan terdiam dengan muka memerah. Alan tak pernah menyangka bahwa dia akan mendengar pujian dari Kansha begitu saja. Kansha memang gadis unik, dia selalu mengutarakan fikirannya dengan santai.
“Kamu juga cantik hari ini.” balas Alan.
Kansha mengangguk, “Aku tahu. Keturunan keluarga Williams tak pernah gagal produk.” Ucapnya santai. Alan terbatuk mendengar nada percaya diri Kansha.
“Iya iya, ayo pergi.” Ucap Alan mengalihkan topik.
Alan dan Kansha mengemudi dengan tenang. Lagu-lagu pop indie tahun 90’an menjadi playlist musik kali ini. Kansha baru tahu kalau Alan ternyata lebih suka lagu zaman dulu.
“Kamu ternyata memiliki selera orang dewasa.” Kata Kansha.
Alan menoleh pada Kansha, “Maksudnya?”
“Iya kamu suka dengan lagu-lagu zaman dulu semacam nolstalgia.” Balas Kansha.
Kansha berfikir sebentar kemudian menjawab singkat, “KPOP.”
“KPOP?” tanya Alan mengernyit bingung.
Kansha mengangguk, “Iya, itu singkatan dari Korean Pop.”
“Ah aku baru ingat. Berarti kamu Kpopers.” Kata Alan.
Kansha mengangguk, “Yep, terutama lagu-lagu BTS dan Dean. For your information, saking bucinnya aku sempat ingin kuliah di Korea.” Kata Kansha.
Alan mengangkat alisnya, “Lalu sekarang kenapa masih disini?” tanya Alan.
“Tidak jadi. Biayanya mahal dan aku gagal dapat beasiswa. Tapi aku sudah mengambil S2 di salah satu kampus, tahun kedua.” Sahut Kansha sembari membuat angka dua.
“Jurusan apa?” tanya Alan.
“Jurusan Bisnis.” Jawab Kansha singkat.
“Bisnis? Kufikir kamu akan mengambil ilmu komunikasi atau sejenisnya yang sesuai dengan profesimu, tapi bisnis?” ujar Alan mengernyit bingung.
__ADS_1
“Awalnya kufikir begitu tapi setelah difikirkan kembali aku ingin membantu usaha Bu Sari dan bila aku mendapatkan pelajaran secara profesional aku akan jauh lebih ahli. Dan siapa yang tahu kalau ternyata aku tidak salah jurusan? Sekarang aku bukan hanya seorang reporter tapi juga pemimpin ARC dimana aku juga harus memikirkan soal bisnis dan untung rugi.” Kata Kansha panjang lebar.
Alan mengangguk puas, “Aku bangga padamu, Nona.” Pujinya.
“Kamu sendiri? Sedang berkuliah?” tanya balik Kansha.
Alan mengangguk, “Iya, aku mengambil jurusan Ilmu Hukum. Saat ini sedang menulis tesis.” Katanya.
“Wah, kamu ternyata calon ahli hukum. Tidak bisa dipercaya.” Ucap Kansha takjub.
Alan tersenyum bangga, “Jadi kalau kamu ada permasalahan apapun yang perlu dibawa ke ranah hukum, hubungi saja Pengacara Alan, diskon 50 persen untuk teman terdekat.” Candanya.
Kansha mendengus, “Aku orang baik, mana mungkin sampai ke meja hijau.”
***
Di lain tempat, Ruben dan Nana masih membereskan rumah. Ruben menyapu seluruh ruang tamu dengan bersih kemudian mengepelnya. Dia juga membuang sampah yang sudah seabad itu dengan hidung terjepit jepitan baju. Nana yang sudah membereskan dapur kini tengah menjemur pakaian yang baru dicucinya.
Mereka terus bersih-bersih hingga jam demi jam berlalu. Tak terasa ini sudah masuk pukul dua siang. Tenggorokan Ruben terasa sangat sekat begitupun Nana. Mereka pun duduk dengan bahu letih di sofa ruang tamu.
“Na, di dekat apartement mu ada kafe kan?” tanya Ruben letih. Nana mengangguk.
“Aku akan membeli latte dingin dahulu. Kamu mau apa?”
Nana lekas berdiri, “Aku saja yang beli kak. Kita masih punya banyak pekerjaan dan lebih baik sambil menunggu, kakak memasukkan pakaian kakak ke dalam lemari.” Tawar Nana.
Ruben mengangguk setuju, “Oke deh. Maaf merepotkanmu ya.”
***
Nana sampai di kafe Garbin, dia langsung menuju counter dan memesan minuman.
“Latte dingin satu dan es americanonya satu. Oh ya sama kue red velvet juga.” Pesan Nana.
Pesanan Nana langsung diproses. Nana menunggu dengan tenang sembari menikmati hawa dingin AC kafe.
“Ini mbak.” Kata pelayan itu menyerahkan pesanan Nana.
Nana tersenyum menerimanya, “Terima kasih.” Ucapnya sambil minum es americano miliknya.
“Mbak, capuccino ice satu.” Kata sebuah suara di belakang Nana. Nana terdiam ketika menyadari suara itu pernah dia dengar di suatu tempat. Nana lalu berbalik dan matanya membulat.
Byur
__ADS_1
Tiba-tiba, tidak ada hujan, tidak ada angin, bak gerakan slow motion, Nana menyemburkan minumannya ke wajah orang itu. Dan orang itu membeku saking terkejutnya.