My Husband My Pilot: Tragedi Pesawat Jatuh

My Husband My Pilot: Tragedi Pesawat Jatuh
Bab 125.


__ADS_3

"Halo, Nona. Malaikat Mautmu sudah datang." ucap Aura dengan senyum menyeramkan.


"Apa yang sebenarnya kamu lakukan?" tanya Kansha masih tenang.


Ceklek


Tiba-tiba pistol yang sudah siap diletuskan itu menekan paha dalam Kansha dengan keras. Kansha seketika membeku. Rasa takut langsung menghinggapi sekujur tubuhnya.


"Jangan berbicara apapun dan ikutlah denganku dengan tenang." desis Aura.


Kansha tak menjawab. Dia malah langsung dibawa oleh Aura. Mereka berjalan keluar gedung apartement dengan pistol yang masih ditodongkan ke tubuh Kansha. Kansha juga tak berani berteriak karena pelatuk itu bisa ditarik oleh Aura kapanpun.


Sesampainya keluar gedung, Kansha langsung dibawa ke mobil Aura. Setelah Kansha masuk, giliran Aura. Aura melajukan mobilnya keluar gedung.


"Kamu ingin membawaku kemana?" tanya Kansha tetap tenang. Tapi jemarinya tak berhenti bergerak. Dia menggerakkan jemarinya bergerilya mencari ponsel di saku belakangnya.


"Nanti kamu juga akan tahu." jawab Aura dingin. Pandangan perempuan itu tetap kedepan. Dan Kansha memanfaatkannya untuk mencari ponselnya.


"Apa ini ada hubungannya dengan pemberitaan kemarin?" tanya Kansha lagi. Dia berusaha mengalihkan perhatian Aura.


Aura tersenyum sinis, "Berani sekali kamu mengungkit itu? Dasar tidak tahu malu." hinanya.


"Kenapa? Apa itu salah bagimu? Aku hanya berusaha mengatakan kebenaran." tukas Kansha. Tangannya kemudian berhasil mengambil ponselnya. Dia langsung memiringkan badannya sedikit dan berusaha mencari bantuan dengan gerakan yang seminimal mungkin.


Aura terkekeh sinis, dan itu semua mengandung kemarahan.


"Aku memberimu kesempatan untuk menebus rasa bersalahmu pada Kania. Tapi kamu tidak mengindahkannya. Mengatakan kebenaran, katamu? Cih, dasar sok suci!"


"Sungguh, kamu sudah salah paham selama ini soal kematian Kania." tukas Kansha lelah.


"Jadi maksudmu selama ini aku salah paham, begitu?!" seru Aura emosi.


Tolong lacak plat nomor B 3203 WJF


Send


"Apa yang kamu lakukan?" tegur Aura melirik pada Kansha.


Kansha gelagapan. Dia langsung menghapus pesan itu agar tidak ketahuan. Untung saja itu sudah terkirim. Meskipun sudah dihapus, tapi itu hanya dihapus dari room chat-nya saja. Sedangkan si penerima pasti masih mendapat pesannya.


Di sisi lain, Aura menyadari bahwa Kansha sedang berusaha mencari bantuan. Aura langsung menghentikan mobilnya mendadak. Kansha yang tak siap, terdorong ke depan hampir membentur kaca mobil.


"Kenapa tiba-tiba berhenti?!" seru Kansha setengah kesal. Dia belum siap sama sekali dan perempuan gila itu mengerem mendadak.


"Kemarikan ponselmu!" titah Aura tak mengindahkan protesan Kansha.


"Untuk apa? Ini ponselku. Kamu tidak berhak mengambilnya." ucap Kansha gugup.


"Kamu fikir aku tidak tahu? Kamu pasti meminta bantuan, iya kan? Jangan harap, kamu mendapatkannya!" ucap Aura sinis. Dia langsung merampas ponsel Kansha dengan kasar. Kansha tak sempat mempertahankannya.


Brak


Ponsel Kansha dilempar keras ke jalan oleh Aura. Kansha menganga. Dia langsung mengangkat wajahnya lebih tinggi untuk melihat kemana ponselnya dibuang.


"Sudah selesai." ucap Aura enteng. Dia menaikkan kembali kaca mobilnya.


"Kamu gila?! Kenapa malah membuang ponsel orang lain begitu saja?!" seru Kansha marah.


"Untuk apa? Malam ini aku akan mengantarmu ke alam baka. Disana tidak perlu ponsel, bukan?" ujar Aura enteng. Tapi Kansha langsung terdiam. Sekujur tubuhnya langsung menggigil.


"Kamu akan membunuhku?" tanya Kansha serius.


Aura menoleh begitu mendengar pertanyaan Kansha. Ekspresinya tetap acuh dan datar.


"Tidak ada gunanya lagi, seorang sampah tetap hidup kan?"


"Apa?" Kansha tak percaya mendengar ucapan sekasar itu dari Aura.

__ADS_1


"Aku harus turun." ucap Kansha. Dia berusaha membuka pintu mobil tapi dikunci oleh Aura.


Bug


Bug


Kansha memukul-mukul kaca mobil.


"Itu terkunci, dasar bodoh!" ejek Aura tertawa.


Kansha mengabaikannya. Dia masih memukul-mukul kaca mobil dan berteriak meminta pertolongan.


"Tolong! Tolong!"


"Ini sudah masuk hutan. Tidak ada gunanya berteriak." ujar Aura acuh.


Kansha tak menanggapinya sama sekali. Dia terus saja berteriak meminta tolong. Dan itu membuat Aura kesal.


"BERHENTILAH BERTERIAK ATAU KUPENGGAL KEPALAMU SAAT INI JUGA!" teriak Aura penuh amarah.


Kansha seketika langsung terdiam. Ketakutan langsung merayapi tubuhnya.


Melihat Kansha yang sudah tak berteriak membuat Aura senang. Dia pun tanpa kata langsung melajukan kembali mobilnya dengan tenang melewati pepohonan di sekeliling jalan yang makin jauh semakin rapat.


***


Alan melajukan mobilnya menuju apartement Kansha. Setelah sampai, lelaki berjaket navy itu langsung mengeluarkan bahan makanan yang sempat dia beli. Setelah itu dia menuju unit Kansha dengan senyum terkembang.


Setelah sampai di depan pintu apartement Kansha, Alan terlebih dahulu merapikan rambutnya. Dia mengembuskan nafasnya, mengecek apakah nafasnya bau atau tidak. Setelah dirasa tidak ada yang salah, Alan langsung menekan bel pintu.


Ting Tong


Alan menunggu dengan semangat tapi Kansha tak muncul sama sekali. Alan kemudian menekan bel lagi. Tapi Kansha tak juga muncul. Alan menjadi bingung. Mungkinkah Kansha sedang mandi jadi tidak terdengar? Alan pun memutuskan menelfonnya saja.


Maaf Nomor yang Anda Tuju Sedang Tidak Aktif atau Berada di Luar Jangkauan. Cobalah Beberapa Saat Lagi


Berusaha tenang, Alan pun memilih menghubungi Seli. sekretaris Kansha.


"Maaf pak, tapi Bu Kansha sudah pulang dari kantor pukul lima sore tadi. Apa beliau sekarang belum di rumah?"


Alan terdiam mendengar pernyataan Seli. Kansha sudah pulang tapi kemana dia?


"Kansha tidak ada di rumahnya, makanya saya menanyakan pada kamu. Kalau kamu tahu dimana keberadaan Kansha, segera kabari saya."


"Baik, pak."


Seusai menghubungi Kansha, Alan pun menghubungi seseorang lagi yang mungkin saja tahu keberadaan Kansha. Dia menelfon Nana.


"Aku sudah jadi wanita bersuami untuk apa aku masih bermain dengan Kansha sampai semalan ini?" itulah jawaban yang dia dengar dari Nana.


"Tapi Kansha tidak ada di rumahnya. Ponselnya bahkan tidak aktif!" ucap Alan risau.


"Benarkah? Bisa saja dia sedang mandi jadi tidak mendengar belnya." ucap Nana.


"Tapi entah kenapa perasaanku tidak enak. Aku seperti yakin bahwa dia tidak ada di rumah saat ini."


"Kalau begitu coba masuk saja kedalam. Kalau terkunci, tekan saja sandinya. Sandinya adalah tunggu sebentar, aku tiba-tiba lupa."


"Cepatlah!" pinta Alan makin resah.


"Ah! Sandinya adalah 0-5-1-4-6-2." ucap Nana.


"Tunggu sebentar." Alan menekan sejumlah angka yang tadi diucapkan Nana.


Suara kunci terbuka terdengar. Alan menekan gagang pintu dan pintu itu terbuka.


"Terbuka! Terimakasih, Na." ucap Alan.

__ADS_1


"Sekarang cari dia. Dia pasti sedang mandi." ucap Nana masih santai.


Alan kemudian langsung berjalan menuju ruang tengah. Bau harum masakan langsumg tercium. Di atas meja ada banyak makanan yang tersaji dengan cantik. Ini pasti buatan Kansha. Berarti Kansha memang ada di dalam. Alan mendesah lega.


Alan kemudian berjalan menuju pintu kamar Kansha, mengetuknya dua kali lalu memanggil nama Kansha.


Tapi tidak ada jawaban apapun dari dalam.


Alan langsung membuka pintu kamar yang ternyata tidak terkunci itu. Tidak ada siapapun disana. Tidak ada Kansha bahkan di dalam kamar mandi. Alan kemudian langsumg berjalan menuju ruangan wardrobe. Dan Kansha tidak ada disana.


Satu-satunya ruangan yang tersisa, adalah ruang kerja. Alan membukanya dan ruangan itu kosong. Tidak ada Kansha.


"Bagaimana, ada tidak?" tanya Nana yang telfonnya masih tersambung.


"Aku sudah mencarinya dan dia tidak ada dimanapun." balas Alan.


"Kalau begitu kemana perempuan gila itu pergi? Mungkinkah dia sedang ke minimarket di depan?"


"Kalau dia sedang disana, aku pasti tahu. Aku sempat kesana sebelum datang kesini." tukas Alan.


"Ah benarkah."


"Aku akan menanyakan ke bagian keamanan. Barangkali mereka melihat Kansha." ucap Alan.


"Baiklah, aku juga coba menelfonnya saja. Barangkali nomornya sudah aktif." ucap Nana.


Alan mematikan sambungan telfonnya. Lelaki itu langsung keluar apartement Kansha dan berlari menuju lobi. Dia hendak menanyakan pada pihak keamanan.


Sesampainya di ruang keamanan, Alan langsung mengatakan tujuannya.


"Mbak Kansha memang pulang ke apartement jam lima sore mas. Tapi setelah itu dia tidak terlihat pergi lagi." ucap Pak Rijal, salah satu keamanan yang sedang bertugas.


"Kalau begitu bisa tolong cek CCTV-nya? Saya datang ke apartementnya tapi Kansha tidak ada dimanapun. Saya takut terjadi sesuatu." pinta Alan.


"Baik, mas. Sebentar." ucap Pak Rijal.


Pak Rijal langsung mengecek semua CCTV yang terpasang. Dia terlebih dahulu mengecek CCTV lobi pada pukul lima sore. Dan benar saja, Kansha memang pulang ke apartementnya pukul lima sore.


"Kapan mas tahu mbak Kansha tidak ada?" tanya Pak Rijal.


"Saat ini. Saya baru saja datang." jawab Alan cepat.


Pak Rijal pun langsung mengecek CCTV pada waktu saat ini. Terlihat tidak ada hal yang mencurigakan apapun.


Aku sampai sepuluh menit lagi


Tiba-tiba Alan teringat dengan pesannya pada Kansha.


"Tolong mundurkan waktunya dua belas menit lalu." pinta Alan.


Pak Rijal langsung mengeceknya. Di lantai Kansha tidak ada apapun atau siapapun.


Drrt


Sedang fokus memerhatikan monitor, Alan mendapat telfon dari Nana. Alan langsung menerimanya tanpa mengalihkan pandangan dari monitor.


"Halo." sapa Alan.


"Kansha...Dia diculik, Lan!" seru Nana panik.


"Apa?" Alan tak mempercayai pendengarannya.


"Aku serius. Alvaro baru saja menghubungiku, katanya Kansha mengirim pesan bahwa dia dibawa menggunakan mobil dengan pelat nomor asing. Alvaro disuruh untuk melacaknya. Dan begitu dilacak, itu adalah pelat palsu."


Alan terdiam. Dia membeku mendengar pernyataan Nana. Dan begitu Nana selesai bicara, di layar monitor, seseorang misterius datang menekan bel Kansha. Kansha membuka pintu dan terlihat langsung membeku. Alan menyipitkan mata kala menangkap gerakan aneh dari seseorang itu pada Kansha. Dia menodongkan pistol pada paha Kansha. Dan tak berapa lama, Kansha langsung berjalan mengikuti orang itu.


"Halo, Lan?" tegur Nana kala tak mendengar tanggapan apapun darinya.

__ADS_1


"Kita bertemu di rumahmu saja. Sekalian bawa Alvaro." tandas Alan dengan nada dingin.


__ADS_2