My Husband My Pilot: Tragedi Pesawat Jatuh

My Husband My Pilot: Tragedi Pesawat Jatuh
Bab 136.


__ADS_3

"Nama kakaknya Abi atau paman kita yaitu Rudi. Aku tidak tahu pasti bagaimana kedekatan antara beliau dengan Mbak Aura. Hanya saja, di keluarga kami, Mbak Aura memang paling dekat dengan Om Rudi. Bahkan saat Om Rudi dipenjara karena kasus pelecehan seksual, Mbak Aura mengerahkan semuanya untuk membebaskan Om Rudi. Tapi setelah itu, kabar Om Rudi tidak diketahui lagi. Ada yang mengatakan bahwa Mbak Aura mengasingkan Om Rudi jauh dari keluarga."


Perkataan Aisyah bergaung di benaknya. Dan oranh yang disebut Aisyah ada dihadapannya kini.


"Katakan. Ada apa kemari?" tanya Aura tak basa-basi.


Kansha terdiam sebentar lalu menatap Aura lurus-lurus, "Kudengar Om Rudi terakhir kali bersamamu. Ada dimana dia sekarang?" tanya Kansha langsung pada intinya.


"Om Rudi? Maksudmu--" Aura nampak cukup terkejut. Dia mungkin tidak menyangka Kansha akan mengenal Om Rudi.


"Aku tahu soal dia. Dan menurut Aisyah, orang yang bersama Om Rudi terakhir adalah kamu."


"Kenapa kamu mencarinya?" tanya Aura.


"Untuk menikah." jawab Kansha singkat.


Aura mengerutkan keningnya, "Menikah?"


Kansha mengangguk, "Aku sudah masuk islam. Dan aku butuh wali nikah pada akadku. Dan satu-satunya di keluarga Aisyah yang diketahui adalah Om Rudi."


"Aku tidak tahu ada dimana dia sekarang." tandas Aura.


"Benarkah?"


Aura mengangguk angkuh, "Dia hanyalah orang tak berguna. Tidak penting dia ada dimana sekarang." jawabnya santai.


"Tapi dia tetap keluarga kita. Meski aku tidak pernah melihatnya dan mungkin akan sedikit canggung, tapi dia satu-satunya keluarga yang bisa menikahkanku." tukas Kansha.


Aura mencondongkan tubuhnya ke depan Kansha, "Kamu lakukan saja dengan wali hakim. Jangan membuang tenagamu mencarinya. Dia pun belum tentu akan setuju karena baginya kamu tetaplah orang asing."


"Terserah apa katamu. Sekarang katakan dimana Om Rudi sekarang?"


"Aku tidak tahu!"


"Jangan berbohong. Aku tahu kamu tahu." tukas Kansha.


"Kalaupun aku tahu, aku tidak akan memberitahukan padamu." balas Aura.


Kansha mendesah kasar. Dia menahan emosi yang hampir meledak karena ulah menyebalkan Aura.


"Bisakah kamu lebih kooperatif? Kufikir dengan kamu berada disini, kamu bisa intropeksi diri. Bisa lebih dewasa." ucap Kansha.


"Tidak usah mengeluh dengan sikapku. Bagaimanapun ini adalah ulahmu juga. Yang harus disalahkan, ya kamu." balas Aura santai.


Kansha menghembuskan nafasnya pelan, "Ternyata kamu masih belum berubah."


"Kalau kuberi tahu, apa yang akan kudapat?" celetuk Aura.


"Tinggal mengatakan saja, apa susahnya sih? Kenapa pakai segala harus ada imbalan." gerutu Kansha pelan.


"Aku mendengarnya." sela Aura. "Tidak ada yang gratis didunia ini. Seperti halnya hukuman penjara ini." sindirnya


"Aku memasukkanmu ke penjara agar kamu berkaca dari sifat ketidakdewasaanmu. Aku ingin kamu sadar bahwa akibat dari perbuatanmu, ada banyak orang yang terluka. Akibat perbuatanmu juga, yang awalnya mengharapkan pembalasan atas kehilangan malah bertambah kehilangan." jelas Kansha.


"Itu semua akibat perbuatanmu. Jangan sok suci." decih Aura.


"Lalu apa yang kamu inginkan? Ingin waktu diulang agar Kania tetap ada dan aku tidak ada? Kami fikir ini drama?"


"Apa ini sikap seseorang yang berdosa pada kakaknya?"sindir Aura.

__ADS_1


"Aku akui, aku ingin meminta maaf pada Kania atas semua yang terjadi. Tapi waktu tidak pernah bisa diulang. Hal yang kamu harapkan dan yang tidak pernah kamu terima lapang dada pada akhirnya hanya menjadi bumerang untukmu. Waktu terus maju, roda kehidupan terus berputar, dan apakah kamu mau terus tertinggal karena dicekik masa lalu?"


Aura terdiam.


"Kania, mamamu, dan papamu, apa kamu ingjn mengecewakan mereka? Kamu menganggap dirimu korban yang perbuatannya harus selalu diterima benar oleh siapapun. Tapi apakah kamu pernah memikirkan perasaan mereka? Pernahkah kamu berfikir sedikitpun rasa sedih mereka melihat orang tercintanya jatuh terpuruk?"


"Mereka memang tidak pernah mengucapkan kata cinta dan sayang padamu. Tapi bukan berarti tidak pernah mengekspresikan, mereka tak cinta. Kamu paling berharga. Itu sebabnya papamu meminta bantuan orang tuaku untuk mengelola perusahaan sekaligus mendidikmu. Itu karena beliau ingin kamu berubah lebih dewasa. Jadi ubah cara berfikirmu, jangan terus melihat ke belakang. Tapi lihatlah kedepan, lihatlah masa depanmu yang cemerlang di ujung terowongan."


Aura tak bisa berkata-kata. Semua kalimat Kansha menghantamnya telak.


Kansha sudah kehabisan waktu. Dia pun menyerah membujuk Aura.


"Kalau kamu tidak ingin mengatakannya, ya sudah. Aku bisa mencari cara lain." pungkas Kansha hendak berdiri dari kursinya.


"Tunggu ." sela Aura. Kansha seketika tidak jadi beranjak.


"Punya pulpen?" tanya Aura.


Kansha menggeledah tasnya dan msnemukan sebuah pulpen setelah itu menyerahkannya pada Aura.


"Kertas kosong." ucap Aura lagi.


Kansha pun menyerahkan sebuah notebook ke tangan perempuan dihadapannya itu.


Setelah menerima keduanya, Aura langsung menuliskan sesuatu tanpa kata. Kansha yang penasaran dengan isinya langsung duduk kembali.


Panti Jompo Sereh. Jl.Margaretha No. 45 Jakarta Barat


"Alamat On Rudi. Aku mendaftarkannya disana karena dia mulai menjadi pikun." jelas Aura.


Kansha menerima kertas berisi alamat itu dengan tersenyum, "Terima kasih." ucapnya.


"Jadi apa jaminannya?" tanya Kansha.


Aura tak menjawab, dia hanya memalingkan muka.


Kansha pun memilih tak menambahi lagi. Dia menaruh kertas alamat itu ke tas nya dan setelah itu beranjak berdiri.


"Aku pergi." pamitnya pada Aura. Aura hanya diam saja.


Tapi Kansha tak langsung membuka pintu. Dia terdiam sebentar dengan tangan berada di daun pintu setelah itu dirinya tiba-tiba berbalik.


"Kamu tunggulah sebentar lagi. Aku akan membebaskanmu." pungkas Kansha.


Aura yang awalnya memalingkan muka seketika menoleh, "Apa?" serunya terkejut.


"Mungkin akan sedikit lama. Tapi sembari menunggu surat pembebasanmu, kuharap kamu bisa berintropeksi diri disini." lanjut Kansha.


"Kamu akan membebaskanku?" tanya Aura masih tak percaya.


"Hanya dari kurungan ini tapi setelah kamu keluar, kamu akan bekerja di yayasan Cendikia."


"Kenapa?"


"Untuk mendapatkan uang, apa lagi?" balas Kansha.


Setelah mengatakan itu, Kansha langsung membalikkan tubuhnya dan pergi begitu saja dari ruangan meninggalkan Aura yang terdiam membeku.


***

__ADS_1


Alan menghentikan mobilnya setelah berkendara cukup lama. Mereka keluar dari mobil dan terdiam di depan sebuah bangunan bercat kusam berwarna putih tulang yang menjulang tinggi. Kansha menoleh ke arah plang yang tertancap. Nama Panti Jompo Asih tercetak tebal dan jelas.


Hanya saja, pemandangannya cukup aneh dan miris. Rumput-rumput liar menghiasi pelataran gedung.


"Ayo, masuk." ajak Alan.


"Kamu yakin ini tempatnya?" tanya Kansha ragu-ragu. Dia menatap kertas yang berisi alamat pemberian Aura.


"Tidak ada panti jompo lain di daerah ini. Jadi pastilah ini."


"Tapi kenapa suasananya suram sekali?" gumam Kansha.


"Kita tidak akan tahu sebelum masuk. Ayo." ajak Alan lagi.


Kini Alan dan Kansha mulai berjalan masuk ke dalam gedung. Di lobi, ada seseorang yang berdiri di meja resepsionis. Dia berpakaian seragam biru tua. Lalu banyak orang berpakaian seragam biru muda layaknya pasien berlalu lalang. Ada yang duduk di kursi roda, berdiri maupun mengobrol dengan sesama temannya.


Kansha dan Alan pun langsung saja ke temlat resepsionis.


"Selamat datang, ada yang bisa dibantu?" sambut perempuan itu ramah.


"Kami ingin bertemu dengan lelaki bernama Pak Rudi. Apakah dia ada?" tanya Kansha.


"Tunggu sebentar." Perempuan itu mengcek komputernya lalu tak lama menelfon seseorang.


Setelah selesai menelfon, dia langsung menghadap Kansha lagi.


"Tolong tunggu sebentar. Nanti ada perawat yang datang kesini untuk memandu kalian." ucap resepsionis itu.


Dan tak berapa lama, seperti apa kata resepsionis itu, datanglah seorang perawat lain mendekati Kansha dan Alan. Dia mengenalkan diri sebagai Ajeng.


"Mbak dan Mas ingin bertemu Pak Rudi, kan?" Kansha mengangguk.


"Silakan ikuti saya." ucap Ajeng.


Ajeng pun langsung berjalan mendahului diikuti Kansha dan Alan. Ajeng membawa mereka menuju sebuah lorong panjang dimana tiap sisinya ada kamar-kamar untuk para penghuni panti. Setelah lorong itu habis, mereka tiba di sebuah halaman luas seperti lapangan. Banyak para penghuni panti sedang berolahraga. Setelah melewati lapangan, mereka masuk ke sebuah lorong lagi, kali ini terlihat sedikit gelap karena tidak ada lampu sama sekali. Hanya mengandalkan cahaya matahari saja. Dan tak lama, di ujung lorong itu, ada sebuah halaman luas. Tapi kali ini bukan lapangan olahraga, melainkan pemakaman.


"Kenapa Anda membawa kami kesini?" tanya Kansha bingung.


"Pak Rudi yang kaliam cari, sudah meninggal dunia." jawab Ajeng.


"Apa?" seru Kansha dan Alan terkejut. Mereka saling berpandangan.


"Tepatnya mendiang meninggal tahun lalu. Akibat penyakit skizofrenia kronis. Mendiang tiba-tiba saja menutupi wajahnya sendiri dengan bantal hingga meninggal." jelas Ajeng.


"Kenapa Aura tidak memberitahuku soal ini." gumam Kansha tidak mengerti.


"Lalu apakah pihak keluarga sudah tahu soal ini?" tanya Kansha.


"Kami sudah memberitahukan hal ini pada walinya tapi walinya tidak mau membawa Pak Rudi hingga akhirnya kami menguburkannya di pemakaman panti."


Kansha terdiam syok. Ada hal lain yang tak dia ketahui. Tapi pada dasarnya, Aura menyembunyikan masalah sepenting ini membuatnya merasa telah dibohongi.


"Ada apa?" tanya Alan menyadari raut wajah Kansha yang tak biasa.


"Aura tidak memberitahukan hal ini padaku." jawab Kansha.


"Kalau begitu, boleh kami berziarah ke makamnya?" tanyanya pada Ajeng.


"Silakan. Ikuti saya."

__ADS_1


__ADS_2