My Husband My Pilot: Tragedi Pesawat Jatuh

My Husband My Pilot: Tragedi Pesawat Jatuh
Bab 97.


__ADS_3

Kansha naik tangga menuju rumah pohon. Dia berjalan pelan agar tidak menimbulkan suara. Setelah berada di dekat Alan, Kansha langsung duduk di sampingnya.


Alan tak terusik maupun tersentak kaget ketika ada seseorang yang duduk disampingnya. Dia sudah tahu bahwa itu adalah Kansha. Mereka saling terdiam selama beberapa menit.


Hujan mulai turun. Rintik-rintik itu bagai lukisan perasaan Alan saat ini.


"Langit ikut sedih melihatmu sedih." celetuk Kansha memecah suara gerimis hujan.


"Aku tidak sespesial itu untuk ditangisi." balas Alan.


"Kalau begitu berhenti sedih. Masalah hanya hal biasa di dalam kehidupan. Tidak ada yang spesial selain dampaknya." timpal Kansha.


"Kenapa kamu bisa tahu aku kesini?" tanya Alan menatap Kansha.


Kansha hanya mengendikkan bahunya, "Insting." jawabnya pendek.


Alan tersenyum tipis.


"Rumah pohon ini satu-satunya tempat yang kufikirkan untuk menenangkan diri. Maaf, aku tidak meminta izin mu." ucap Alan.


Kansha mengangguk pelan, "Justru aku bahagia bahwa kamu tidak pergi jauh. Kamu masih bisa ditemukan." ucapnya dengan nada sumbang.


Alan menghela nafas, "Yah, aku tidak punya tempat favorit untuk menenangkan diri. Kecuali rumah pohon ini. Aku langsung jatuh cinta padanya." jawab Alan.


Kansha menyunggingkan senyumnya.


"Kalau dirasa-rasa, anak lelaki yang menyelamatkanku dulu itu mirip denganmu." ujar Kansha menoleh.


"Benarkah?"


"Aku memang sudah tidak terlalu ingat figurnya. Tapi aku paling ingat dengan matanya. Matanya amat jernih sepertimu." Kansha menatap manik mata Alan.


"Akan sangat luar biasa kalau itu benar aku. Tapi sayangnya, aku tidak punya ingatan seperti yang kamu ceritakan. Jadi sudah dipastikan, aku bukanlah dia."


"Aku kan hanya bilang mirip." tukas Kansha.


Mereka kembali diam hingga Alan kembali bersuara.


"Maafkan aku." lirihnya.


Kansha menoleh, "Untuk?"


"Untuk semuanya. Aku tanpa sadar sudah menuduhmu berkali-kali. Aku bahkan tidak memberimu kesempatan menjelaskan. Aku sudah terlalu sering menyakitimu." ucapnya merasa bersalah.


Kansha menghela nafas berat.


"Aku yang seharusnya minta maaf. Pembatalan pernikahanmu secara tidak langsung disebabkan olehku."


"Kenapa kamu bisa berfikir begitu?"


"Bagaimanapun Aisyah tidak akan berbuat seperti itu kalau bukan karena dia cemburu padaku. Aku terlalu dekat denganmu hingga membuat Aisyah merasa terancam. Aku yakin dia melakukan itu karena aku alasannya."


"Terlepas dari apapun penyebabnya, tindakan Aisyah tidak bisa dibenarkan. Dia melukai bunda dan bahkan berbohong soal penyakitnya."


Kansha tersentak kaget, "Dia berbohong?" serunya tak percaya.


Alan mengangguk, "Dia dibantu oleh sepupunya. Sepupunya mengancam dokter yang menangani Aisyah untuk memanipulasi hasil pemeriksaan. Aisyah sebenarnya tidak menderita sakit apapun."


"Darimana kamu tahu itu semua?"


"Dokter Nadine sendiri yang mengatakannya. Dia mengungkapkan sejujur-jujurnya. Aku juga sudah menyelidikinya lebih lanjut."


"Dan yang paling membuatku terkejut adalah Aisyah selama ini tidak sendirian."


Kansha menampilkan raut tanda tanya, "Maksudmu, ada seseorang di belakang Aisyah?"


Alan mengangguk mantap. "Aisyah adalah perempuan yang bersifat dewasa. Aku tahu, dia tidak mungkin melakukan hal ini kalau bukan ada orang yang memprovokasinya. Dan orang itu juga pastilah memiliki maksud tersembunyi dan menggunakan Aisyah sebagai senjatanya."


Kansha makin bingung.


"Kamu tahu siapa orang itu?" tanya Alan. Kansha menggeleng.


"Dia Aura. Aura yang sama yang pernah merundungmu saat pesta reuni." jawab Alan.


Kansha terdiam. Tubuhnya seketika kaku.


"Itu sebabnya kamu bertanya padaku apakah sepupu Aura bekerja di rumah sakit?" Alan mengangguk.


Kansha menghela nafas dengan berat, "Aku tidak menduga bahwa Aura adalah sepupu Aisyah. Pantas Aisyah nampak sangat benci padaku. Pasti Aura menambah-nambahkan ceritanya."


"Kurasa, Aura setuju membantu Aisyah karena dia memang ingin menghancurkanku. Aisyah kebetulan juga mengenalku dan memiliki masalah denganku. Aura tidak mau mengotori tangannya ketika ada kambing hitam yang bisa dijadikan tameng." lanjut Kansha.

__ADS_1


"Kansha, kalau boleh kutahu, kenapa Aura bisa sangat membencimu?" tanya Alan.


Kansha mendesah, "Aku juga tidak tahu. Dia selalu merundungku ketika kami SMA. Mungkin pada dasarnya dia memang tidak menyukaiku karena aku dianggap parasit yang tinggal di rumah orang asing. Dan ketika pesta reuni itu, aku tidak sengaja mengorek luka masa lalunya. Ibunya bunuh diri karena depresi ketika dia duduk di sekolah menengah."


"Kemudian..karena papaku tahu bahwa aku dianiayaya oleh Aura, aku mendengar bahwa papa ingin menuntut Aura ke jenjang hukum. Papa juga memutus kerja samanya dengan perusahaan milik papa Aura. Kudengar dari Alvaro, papa Aura sangat jahat. Dia tidak segan main tangan dengan Aura. Terlebih lagi, menurut rumor, ibunya bunuh diri karena ayahnya. Sejak saat itu hubungan mereka merenggang. Kurasa sejak kerja sama itu diputuskan, Aura dan ayahnya mungkin bertengkar hebat. Ayahnya mungkin menyalahkan Aura dan hal itulah yang membuat Aura semakin membenciku." tutur Kansha panjang lebar.


Alan terdiam, mencoba mencerna semuanya.


"Kalau memang benar, Aura melakukan itu semua karena membenciku, aku tidak bisa diam saja. Sejujurnya, aku juga tidak mengerti apakah kesalahanku sebesar itu hingga Aura rela melakukan apapun. Padahal, dia lebih banyak melukaiku baik fisik maupun psikisku. Aku menjalani tiga tahun masa neraka gara-garanya."


"Jadi apa yang kamu rencanakan?" tanya Alan.


"Pertama, aku harus mencoba mengorek lebih banyak lagi soal Aura. Dan orang yang tepat yang bisa dijadikan sumber informasiku, adalah Alvaro."


"Alvaro?" tanya Alan tidak menduga nama itu akan disebut.


Kansha mengangguk, "Alvaro dan Aura pernah berpacaran."


"Benarkah?" seru Alan terkejut.


"Iya. Mereka berpacaran ketika kami di tingkat akhir."


"Dunia sempit sekali ternyata." komentar Alan.


"Oh ya, apakah kamu sudah tahu soal Azzahra?" lanjut Alan seakan tersadar sesuatu.


Kansha terdiam sebentar lalu mengangguk kaku.


"Alfin..pernah memberitahuku."


"Benarkah?" Kansha kembali mengangguk.


"Ada apa?" tanya Kansha.


"Kurasa Aura yang membantu Aisyah mengumpulkan informasi soal Azzahra." balas Alan merenung.


Kansha tersentak kaget. Kalau Aura yang mencari informasi soal Azzahra, mungkinkah Aura sudah tahu bahwa itu dirinya? Semua bukti yang dia lihat di ponsel Alfin pasti berasal dari Aura. Dan mungkinkah Aura juga berfikir bahwa semua bukti itu mengarah padanya? Kalau itu benar, Aura berarti mencoba mengadu domba antara dirinya dan Aisyah.


Dalam artian, bila benar dirinya dan Aisyah bersaudari, maka semakin besar peluang Aura untuk membalaskan dendam padanya. Tapi apakah Aisyah juga sudah tahu siapa sebenarnya Azzahra?


"Kansha?" tegur Alan ketika Kansha malah melamun.


Kansha terkesiap, "Iya?"


"Ah tidak, aku hanya sedang berfikir tentang itu semua. Tapi itu membuat kepalaku pusing. Lebih baik kita berhenti membicarakannya." ucap Kansha mencoba menghentikan topik bahasan mereka.


"Yasudah. Aku juga sama pusingnya denganmu. Tapi setidaknya kepalaku jauh lebih ringan karena sudah berbicara denganmu."


Kansha menyunggingkan senyumnya.


"Kamu masih punya waktu atau mau pulang?" tanya Kansha.


"Kenapa?" tanya balik Alan.


"Kalau kamu masih punya waktu, ayo makan bersama." ajak Kansha. Kansha kemudian berdiri. Dia masuk ke rumah pohon dan menuju dapur kecil yang berada di sudut paling dalam.


Alan menanggapinya dengan melihat arloji di tangannya.


Alan berjalan menghampiri Kansha yang sedang menggeledah laci. "Ini masih pukul tiga siang." jawab Alan. Agak tidak lazim untuk makan di waktu tanggung seperti ini.


"Bukan makanan berat kok. Hanya kudapan." jawab Kansha. Perempuan itu sedang sibuk mengeluarkan panci dan alat masak lainnya.


"Tapi kamu memang punya bahan makanan disini?" tanya Alan sangsi.


"Tentu saja, jreng jreng!" Kansha mengeluarkan mie instan dengan riang.


"Mie instan?"


"Tentu saja. Kudapan terbaik, di suasana setelah hujan itu adalah makanan berkuah. Kamu menyeruput mie dengan kuah mengepul di tengah suhu dingin. Hidungmu akan menghirup aroma campuran bumbu dan bau tanah basah. Beuh, nikmat hqq." ucap Kansha dengan ekspresi penuh kenikmatan karena membayangkannya.


Alan terkekeh kecil, "Baiklah." angguknya.


"Kamu mau mie seperti apa?" tanya Kansha sambil menuang air mineral ke dalam panci.


"Apa maksudmu?" tanya Alan bingung.


"Maksudku, mienya pakai telur, bawang daun, atau apa gitu." jelas Kansha.


"Emm, dengan telur lebih baik." jawab Alan.


Kansha mengacungkan jempolnya, "Sipdeh."

__ADS_1


"Oh ya, kamu tidak perlu menungguiku." lanjut Kansha.


"Kalau begitu, aku ingin melihat-lihat rumah pohon ini boleh?" tanya Alan meminta izin.


Kansha mengangguk, "Silakan tapi tidak ada apa-apa disini." balas Kansha terkekeh.


"Tidak apa-apa. Aku hanya ingin melihat arsitekturnya saja." tukas Alan.


Kansha mengangguk dengan masih fokus pada mienya, "Oke."


Alan tersenyum berterimakasih. Dia lalu mulai berjalan menuju ruangan lain. Ruangan ini cukup sempit dibandingkan dengan ruang utama tadi. Disini hanya ada lemari kayu dan meja pendek yang tingginya seukuran orang duduk. Di atas meja, tergeletak beberapa lembar kertas. Alan mendekat.


Alan melihat-lihat satu persatu isi kertas itu. Dan betapa takjubnya bahwa kertas itu adalah gambar-gambar yang dibuat oleh Kansha. Perempuan itu ternyata jago menggambar. Gambar-gambarnya rata-rata tentang figur seorang laki-laki. Mungkin ini figur yang Kansha sebutkan soal anak lelaki yang menyelamatkannya dulu. Alan menatap gambar itu satu persatu. Ada gambar kedua mata di kertas nomor satu. Kemudian ada gambar tampak punggung anak lelaki itu. Ada juga gambar rambutnya yang digambarkan secara realistis oleh Kansha. Alan berdecak kagum. Alan rasa, semua ini berasal dari ingatan Kansha yang dituangkan secara akurat pada kertas gambar.


Alan lalu sampai ke gambar terakhir. Dia membuka kertas itu dan menatapnya cukup lama. Gambar yang dia buka adalah tampak sedikit pakaian yang dipakai anak lelaki itu, dimana di sebelah kirinya ada tulisan Al dengan huruf sambung.


Alan menatapnya dan seperti tersadar akan sesuatu.


Flashback On


"Alan, tebak ayah bahwa hadiah apa?" tanya bunda.


Alan kecil itu menggeleng namun nampak penuh semangat.


"Coba ayah, tunjukkan sama Alan. Ayah bawa apa." kata bundanya tersenyum.


Ayah tersenyum, dia ikut mensejajarkan diri dengan anaknya itu. Ayah lalu mengeluarkan sesuatu dari dalam tasnya.


"Jreng jreng! Hadiah ulang tahun kamu dari ayah sama bunda." ucap ayah tersenyum.


Alan menerimanya dengan senang. Dia menatap kaus rajut itu dengan bibirnya yang tersungging senyum.


"Ayah sengaja pesan ini langsung dari Inggris dan ketika ayah terbang ke Inggris kemarin, ayah sekalian ambil kaus kamu. Lihat, ada insial Al di dada kirinya." tunjuk Ayah pada borderan Al itu.


Dia menatap borderan inisial namanya itu. "Ini bagus sekali, terima kasih yah." Alan langsung memeluk ayahnya dengan bahagia.


Ayah membalasnya tak kalah erat, "Sama-sama. Jadilah putra berbakti ya, nak." do'anya.


"Bundanya tidak dipeluk?" tanya bunda merajuk.


Alan tersenyum. Dia melepaskan pelukan pada ayahnya dan beralih memeluk bundanya.


"Terimakasih bunda. Alan sayang dengan kalian." ujar Alan memeluk bundanya dengan erat.


"Bunda juga sayang kamu. Selamat ulang tahun ya, nak." balas bunda tersenyum.


Flashback Off


Alan menyunggingkan senyumnya. Dunia memang sempit rupanya. Dia meletakkan kertas gambar itu dan keluar ruangan. Dia menghampiri Kansha yang masih berkutat di dapur.


"Eh, Lan. Kebetulan kamu disini. Makanannya sudah jadi nih, tolong bantu aku membawanya ke balkon." kata Kansha. Dia sedang membersihkan pinggiran mangkuk dengan tisu.


Alan hanya tersenyum membuat Kansha menatap bingung.


"Ayo Lan, kenapa diam saja?" tanya Kansha.


Alan masih tersenyum ketika mendekati Kansha. Alan tanpa kata membawa dua mangkuk mie di tangannya. Sedangkan Kansha membawa dua botol air mineral dan beberapa snack sebagai pelengkap.


Mereka berjalan menuju balkon rumah pohon dengan perasaan yang berbeda. Alan dengan ekspresi senangnya. Dan Kansha dengan ekspesi anehnya.


***


"Ini semua gara-gara mbak! Bagaimana bisa mbak memberiku serbuk kacang!" pekik Aisyah marah.


Aura yang duduk tenang di depannya menjawab, "Aku tidak tahu bahwa calon mertuamu yang malah memakannya. Lagipula siapa yang tahu akan seperti ini. Aku bahkan tidak tahu bahwa calon mertuamu juga alergi kacang."


"Jadi bagaimana mbak? Mas Alan membatalkan pernikahan kami. Apa yang harus kulakukan?" tanya Aisyah kalut.


"Itu karena kamu yang teledor. Bagaimana bisa kamu tidak tahu ada CCTV di rumahnya. Itu sama saja dengan kamu melakukan bom bunuh diri." omel Aura.


"Aku tidak tahu bahwa ada CCTV disana. Aku baru tahu ketika Mas Alan menunjukkan rekaman CCTV itu." tukas Aisyah.


"Aku sudah membantumu sebisaku. Kamu sendiri yang mengacaukannya. Jadi jangan salahkan aku. Dan soal Alan yang membatalkan pernikahan kalian, itu karena kesalahanmu sendiri." balas Aura.


"Mbak, aku tahu. Tapi aku benar-benar tidak terima. Kalau aku batal menikah dengan Mas Alan, maka Mbak Kansha yang menang. Dia bisa memiliki Mas Alan dan aku tidak mau itu terjadi!"


"Lagipula, mbak juga membenci Mbak Kansha kan? Mbak tidak mau kalau perempuan yang menyakiti mbak itu bahagia dengan lelaki yang dia sukai?" lanjut Aisyah.


Aura terdiam. Tentu saja tidak. Sampai kapanpun, selama dia masih hidup, Kansha tidak boleh bahagia. Kebenciannya pada gadis parasit itu sudah seperti mengakar kuat. Aura yang selama ini hancur juga harus membuat Kansha ikutan hancur.


"Kamu tenang saja. Mbak akan memikirkan rencananya." tandas Aura.

__ADS_1


"Pokoknya, buat Mbak Kansha menjauh selama-lamanya dari hidup Mas Alan." pungkas Aisyah.


"Jangankan dari hidup Alan, akan aku buat dia menghilang dari kehidupan ini selama-lamanya." desis Aura dingin.


__ADS_2