
Halo semuanya, semoga kalian tetap suka ya dengan kisah ini. Jangan lupa like, vote dan komentnya. Aku juga sangat mengharapkan banget kalau mau ada yang share cerita ini. The power of promosi masih jadi jurus jitu đź¤
Enjoy ya, dan selamat membacađź’™
^^^Salam,^^^
^^^KyGe^^^
...-------...
Alan sedang bercatut diri didepan cermin, ketika Alfin menerobos masuk kamar. Dia mengernyit bingung ketika sang kakak tak biasanya berdandan seperti itu.
“Mau kemana mas?” tanya Alfin.
“Ada undangan reuni.” Jawab Alan singkat.
“Reuni? Reuni apa?”
“Reuni pilot angkatan mas.” Jawab Alan asal. Alfin mengangguk ria.
“Fin, bagaimana? Mas tampan kan?” tanya Alan narsis.
“Tampan tapi masih tampan aku.” Jawab Alfin tak kalah narsis.
***
“Kamu ingin tahu rasanya neraka bukan? Akan kutunjukkan.” Ucap Aura dengan seringai jahat. Dia bersiap melemparkan botol kaca itu pada Kansha yang kini sudah tak berdaya. Semua orang yang melihatnya berseru panik.
“KANSHA!”
Prang
Seseorang menghentikannya dan botol itu terlempar ke sisi kosong dan langsung pecah.
Semua orang menarik nafas. Hening seketika. Sedangkan Aura menatap marah pada pelakunya.
“Apa yang kamu lakukan, Alvaro?!” sentak Aura. Dia gagal membunuh Kansha.
Alvaro tak menanggapinya, hanya menatap datar.
Dia malah berjongkok dan membangunkan Kansha. Kansha merasa tubunya remuk.
“Kamu baik-baik saja?” tanya Alvaro. Kansha mengangguk pelan.
Setelah Kansha berdiri, Alvaro menyampirkan jasnya ke tubuh Kansha menyelimutinya. Dia lalu menatap kecewa.
“Jangan jadi kriminal, Aura.” Kata Alvaro pada Aura.
“Ini bukan urusanmu! Berani-beraninya ikut campur! Yang lain saja tidak berani.” Sengit Aura.
Alvaro menghela nafas mendengarnya. “Kalian benar-benar tidak punya empati. Teman kalian bertengkar bahkan hampir membunuh, kalian hanya menonton? Kalian fikir ini drama? Apa harus ada yang meninggal dulu baru kalian sadar? Kalian tidak punya hati? Atau jangan-jangan kalian sebenarnya bukan manusia?” amuk Alvaro kecewa pada teman-temannya. Semua orang menunduk.
“Dan kamu Aura, sudah cukup. Jangan sia-siakan hidupmu untuk mendekam di penjara. Dan berhentilah menindas orang. Kalau kamu ada di posisinya, kamu akan merasakannya.” Kata Alvaro dengan nada kecewa yang kentara.
“Dia memancingku duluan. Dia mengatai ibuku, kamu fikir aku akan diam saja?” desis Aura menatap tajam pada Kansha yang menunduk.
“Aku hanya mengatakan satu kalimat dan membuatmu hilang kendali?” celetuk Kansha lemah. Dia mendongak dan menatap datar pada Aura. “Lalu bagaimana denganku yang kamu tindas dan kamu katai selama tiga tahun? Aku tahu kamu terluka karena kehilangan keluarga, tapi apakah kamu harus mencela orang lain? apakah ini caramu berduka?” ujar Kansha tajam.
“Tutup mulutmu.” Desis Aura.
Kansha berdecih, “Aku memiliki mulut, makanya aku berbicara.”
Brak
Tiba-tiba pintu aula terbuka. Semua orang sontak menoleh. Ternyata Alan yang membuka pintu dengan keras, matanya membola ketika melihat Kansha terluka. Alan seketika berlari menghampiri.
__ADS_1
“Kansha! Kamu tidak apa-apa? Kenapa ini bisa terjadi? Maaf aku datang terlambat. Semua ini karena kemacetan sialan.” Kata Alan bertubi-tubi.
Kansha memegang pipi Alan agar berhenti panik, “Aku tidak apa-apa. Jangan panik. Hanya luka kecil.” Kata Kansha tersenyum.
Alan tetap beraut khawatir. Sial, andai dirinya tadi tidak datang terlambat atau menulis surat penyemangat untuk Kansha, maka Kansha tidak perlu datang dan tidak akan babak belur seperti ini.
“Maaf, aku yang membuatmu seperti ini.” ucap Alan merasa bersalah.
Kansha menggeleng sembari tersneyum lemah, “Tidak, ini bukan salahmu. Lagipula aku yang memutuskan datang. Aku mendapat kekuatan darimu. Aku sama sekali tidak menyesal.”
Alan menghembuskan nafas, dia lalu menatap tajam pada semua orang. “Siapa yang melakukannya?” tanyanya dingin.
Semua orang menatap Aura sedangkan Aura mengangkat kepalanya tinggi-tinggi, tidak merasa bersalah. Tahu siapa pelakunya, Alan maju mendekat.
“Kamu yang melakukannya?” desis Alan menahan amarah.
“Kenapa? Mau balas memukulku?” tantang Aura.
Alan berdecak, “Percuma memukulmu, hanya akan mengotori tanganku saja. Biarkan hukum yang berbicara terhadap kriminal sepertimu.” Kata Alan dingin.
Aura memalingkan wajahnya. Dia merasa sangat marah, ketika semua orang membela Kansha. Dan memperlakukan dirinya seperti tersangka.
Alan mengambil alih Kansha dan melepas jas hitam yang tersampir di tubuh Kansha kemudian menyerahkannya pada Alvaro dengan sopan. Kemudian dia balik membuka jasnya dan menyelimuti Kansha. Lalu Alan memapah Kansha keluar aula.
“Kenapa semua orang membelanya? Kenapa semua orang melindunginya? Apa keistimewaannya hingga semua orang mau berkorban untukknya?” teriakan Aura menghentikan langkah Alan dan Kansha.
Kansha hendak menoleh pada Aura namun dihentikan oleh Alan. Kemudian Alan yang menatap Kansha yang balas menatapnya.
“Karena dia berharga. Dia tidak pernah memiliki niatan membalas dendam meski selalu diinjak. Perbedaannya denganmu, dia memiliki hati seorang malaikat.” Kata Alan lantang. Kansha membeku mendengar pernyataan Alan.
Tak ada tanggapan lagi dari Aura. Alan pun kembali memapah Kansha keluar disaksikan semua orang.
Kansha dan Alan sampai di luar. Alan mendudukan Kansha di sebuah sofa. Kansha mendesah pelan.
“Bagaimana keadaanmu? Masih sakit kan? Bagaimana kalau kita ke rumah sakit?” tawar Alan cemas.
Kemudian Alvaro datang sembari membawa sebotol air minum. Dia menyerahkannya pada Kansha. Kansha mengucap terima kasih.
“Aku minta maaf atas kejadian ini.” kata Alvaro setelah Kansha meneguk air.
“Minta maaf soal apa? Ini tidak ada hubungannya denganmu.” Kata Kansha.
“Aku adalah Ketua OSIS dan tadi baru saja diberi penghargaan. Banyak yang memuji kinerjaku tapi ternyata aku tidak sebaik itu. Aku menutup mata atas tindakan perundungan yang kamu alami semasa sekolah dan membiarkanmu menganggung sendirian.”
“Aku sudah melupakan itu. Itu bukan kejadian yang patut diingat. Lagipula saat itu aku saja yang lemah dan mau-maunya ditindas hanya karena Aura lebih berkuasa.”
“Sekali lagi aku meminta maaf. Dan bolehkah aku meminta satu permintaan padamu?” tanya Alvaro. Kansha mengangguk.
“Tolong jangan laporkan Aura pada pihak berwajib. Jangan masukkan dia ke penjara.” Pinta Alvaro.
“Tidak bisa begitu. Dia hampir melakukan percobaan pembunuhan. Kalaupun bukan kasus percobaan pembunuhan, dia harus didakwa atas tindak penganiyayaan. Bagaimana bisa kamu meminta hal seperti itu? Kamu bilang tidak akan menutup mata lagi atas kejahatan ini, tapi sekarang?” seru Alan sengit.
Kansha memegang bahu Alan agar menahan emosinya. Dia lalu menatap Alvaro yang terlihat pasrah. “Aku tidak akan melaporkannya. Aku juga tidak mau berurusan dengan pihak berwajib.” Kata Kansha.
Alan melotot, “Kansha apa yang kamu katakan? Mana bisa seperti itu. Wanita itu harus mendapat balasannya. Kalau tidak, dia tak akan jera!”
“Tapi Alan, a—“
“Benar kata Alan. Perempuan gila itu harus dipenjara!”
Sebuah perkataan menyela Kansha. Kansha, Alan dan Alvaro sontak menoleh. Kansha terkejut ketika kedua orang tuanya datang.
“Mama, papa?” seru Kansha.
Grace mendekati Kansha dan mengelus lebam di pipi Kansha, “Ya ampun, sayang! Bagaimana ini bisa terjadi? Apa sakit? Dasar perempuan ibls. Dia harus diberi pelajaran!” ucap Grace berapi-api.
__ADS_1
“Mama, bagaimana bisa kalian ada disini?” tanya Kansha bingung.
“Mama dan papa ada peninjauan di hotel ini. lalu mama lihat salah satu ballroom disewa untuk pesta reuni, dan ketika mama lihat itu nama sekolah kamu. Mama memutuskan ingin melihatnya. Dan siapa sangka ketika kamu tidak ada dan mama mendapat jawaban kamu habis saja disakiti?”
“Pokoknya siapapun yang sudah menyakimu, harus diberi pembalasan setimpal!” lanjut Grace emosi.
“Papa sudah mengurusnya dengan pengacara, besok surat tuntutan akan sampai pada mereka.” Timpal Andrian tenang namun dingin.
“Pa, aku tidak apa-apa. Tolong jangan jebloskan mereka ke penjara.” Pinta Kansha.
“Apanya yang tidak apa-apa? Kamu babak belur seperti ini! Mereka benar-benar biadab. Dan untuk urusan ini biarkan mama sama papa yang mengurusnya, kamu diam saja.” Kata Grace penuh amarah. Siapa yang tak sakit hatinya ketika putrinya disakiti sedemikian parahnya?
“Ma.” Rengek Kansha.
“Kamu jangan ikut campur!” kata Grace marah. Kansha hanya memberengut.
Sedangkan Alvaro yang sedari tadi diam, menghembuskan nafas pasrah. Dia tidak berani melawan Williams untuk membela Aura.
***
Plak
“Dasar anak tidak tahu diuntung! Bagaimana bisa kamu mencelakai putri pasangan Williams? Kamu mau bikin perusahaan papa makin bangkrut?!” teriak Hans, ayah Aura dengan emosi.
Aura hanya diam dengan memegangi pipinya membuat Hans makin murka.
“Kamu harus minta maaf padanya sekarang juga!” titah Hans.
“Aku tidak mau minta maaf! Kenapa aku harus minta maaf pada wanita sialan itu?” sentak Aura menolak keras.
Plak
Aura kembali ditampar oleh Hans. Air matanya mengalir.
“Kenapa kamu tidak mau minta maaf? Apakah kamu mau menjadi kriminal dan dijebloskan ke penjara?”
“Dia menghina ibuku dan sampai mati pun aku tak akan pernah meminta maaf. Aku lebih rela mendekam dipenjara daripada harus meminta maaf padanya.” Desis Aura penuh kebencian.
“Kenapa kamu marah hanya karena dia mengina ibumu? Ibumu pantas mendapatkannya. Dia perempuan yang hanya bisa memanfaatkan harta ayah.” Tukas Hans dengan ekspresi meremehkan.
Aura menatap nyalang pada sang ayah, “Aku masih baik-baik saja ketika orang lain menghina ibu, tapi ayah yang notabenenya suaminya juga ikut menghina? Aku tidak bisa diam saja. Harusnya ayah yang mati waktu itu bukan ibu. Ayah yang brengsek selalu membuat ibu bersedih dengan berselingkuh dan membawa para perempuan! Siapa yang lebih hina? AYAH!” teriak Aura penuh amarah.
Plak
Plak
Hans kembali menampar Aura bolak-balik. Setelah ditampar lagi, Hans menjambak rambut Aura membuat Aura meringis kesakitan.
“Perusahaan kita hampir bangkrut dan hanya Williams yang bisa menolong kita. Dan kamu malah membuat kekacauan. Kalau sampai kerja sama ini batal, pergi kamu dari rumah. Aku tak sudi menganggapmu sebagai anak lagi.” Desis Hans penuh amarah. Dia lalu menyentak rambut Aura dengan kasar. Kemudian keluar ruangan dengan membanting pintu.
Aura melemas. Air matanya mengalir deras. Keluarganya yang harmonis kini tinggal kenangan. Dirinya sudah kehilangan sang ibu dan kini hampir ditendang oleh sang ayah. Hatinya terlampau sakit dengan perkataan sang ayah. Semua ini gara-gara Kansha dan dia tak akan tenang sebelum Kansha menderita. Dan bertekad membalas dendam.
***
Setelah pertengkarannya dengan sang ayah, Aura mabuk-mabukkan di apartementnya. Dia meneguk botol demi botol alkohol sembari satu tangannya *******-***** foto Kansha. Kemudian terdengar pintu terbuka, ada seorang wanita berhijab yang terpekik kecil ketika melihat kamar Aura yang berantakan dengan bau minuman keras dimana-mana.
“Mbak Aura! Kenapa mbak bisa mabuk seperti ini! mbak sadar!” kata wanita itu yang tak lain adalah Aiyah. Dia merebut botol alkhol yang tengah ditenggak Aura.
“Jangan pedulikan aku. Dia harus mati! Dia harus mati! Dia menghancurkan keluargaku. Dia harus mati.” Racau Aura mulai kehilangan kesadaran.
“Siapa yang mbak maksud? Mbak, ada apa dengan wajah mbak? Mbak harus diobati.” Kata Aisyah cemas. Aura tak menanggapinya malah pingsan.
Aisyah lalu memapah Aura yang tak sadarkan diri ke ranjang. Kemudian mengelap luka Aura dengan lap basah. Setelah itu, Aisyah membereskan kekacauan yang dibuat Aura.
“Kenapa dengan mbak Aura sebenarnya? Dia tak pernah mabuk-mabukkan seperti ini.” gumam Aisyah sembari memungut botol-botol alkohol yang sudah kosong. Kemudian matanya menatap pada sebuah foto yang tadi diremas-remas oleh Aura. Aisyah kemudian memungutnya.
__ADS_1
Aisyah terkejut tatkala itu adalah foto Kansha. Namun apa hubungannya Aura dengan Kansha? Dan apakah Kansha ada hubungannya dengan mabuk-mabukkan Aura? Ataukah, jangan-jangan...
“Apa Mbak Kansha yang dimaksud Mbak Aura yang menghancurkan keluarganya?” gumam Aisyah menatap potret Kansha.