
Kansha sampai di kantornya. Dan ketika masuk, semua staf inti tengah berkumpul. Seli yang menyadari bahwa bos nya sudah sampai segera menghampiri Kansha dengan raut panik.
“Apa yang terjadi sebenarnya? Mengapa pihak investor ingin membatalkan kesepakatan ini?” todong langsung Kansha.
“Ada oknum yang mengaku sebagai pihak ARC dan menipu mereka dalam jumlah besar. Itu sebabnya mereka ingin membatalkan kesepakatan bisnis ini. Bahkan mereka ingin menuntut kita atas penipuan dan pemerasan. ” kata Seli.
Kansha ternganga kaget. Dia berkacak pinggang dengan kesal berkata, “Siapa yang berani melakukan itu?” tanyanya.
“Kami sudah menyelidikinya dan ternyata,” Seli berhenti sejenak, memeriksa raut Kansha, “Pak Benny.” Lanjutnya.
“Pak Benny? Dia pelakunya?” seru Kansha kesal. Seli mengangguk.
“Dimana sekarang dia?” tanya Kansha.
“Pak Benny menghilang setelah membawa uang mereka. Kami sudah melaporkannya ke polisi dan sedang dalam pencarian.” Jawab Seli.
Kansha mendesah kasar. Dia mengacak rambutnya kasar.
“Kita terbang ke Korea malam ini. kita harus jelaskan bahwa lelaki tua itu bukan lagi bagian kita.” Kata Kansha tegas.
***
Sebelum berangkat, Kansha menghubungi Kevin, sekretaris Andrian. Dia menitip pesan pada kedua orang tuanya bahwa dirinya akan terbang ke Korea malam ini.
“Aku sudah duduk di pesawat dan sebentar lagi akan berangkat.” Kata Kansha pada Kevin.
“Apa ada masalah hingga nona mendadak pergi malam ini juga?” tanya Kevin diseberang telfon.
Kansha mendesah pelan, “Pihak investor dari Korea ingin membatalkan perjanjian dan bahkan menuntut kami. Jadi aku ingin menjelaskannya pada mereka. Lusa adalah acara peresmian pembangunan kantor baru, akan sangat menjadi masalah bila tidak segera tertangani.” Balas Kansha.
“Menuntut? Apa yang terjadi?”
“Pak Benny, direktur ARC sebelumnya, dia mengaku masih jadi bagian ARC dan memeras mereka bahkan menipu mereka. Dia mengaku bahwa uang itu adalah uang perintah dariku untuk mendanai kegiatan lusa nanti.” Balas Kansha emosi.
“Saya mengerti. Saya akan sampaikan pada tuan bahwa nona pergi ke Korea Selatan.” Kata Kevin.
Kansha tersenyum kecil, “Terima kasih, om. Kalau begitu aku tutup.”
“Hati-hati, Nona. Safe flight.”
Kansha menutup panggilannya. Dia merebahkan diri di kursi tepat ketika pilot mengumumkan keberangkatan mereka.
***
Nana duduk menunduk di sofa. Didepannya ada Alfin yang melipat tangannya. Suasananya sangat dingin dan mencekam. Hingga tak ada yang berani bersuara.
Tadi ketika Nana hendak menyentuh bunga ungu itu, teriakan Alfin menghentikannya. Alfin terlihat oleh Nana sangat marah. Alfin pun menyuruh Nana pergi ke ruang tamu untuk diinterogasi.
“Jadi ada yang ingin kamu jelaskan?” tanya Alfin sarat akan emosi dingin tak kentara.
__ADS_1
Nana merengek kecil kemudian menatap Alfin memelas, “Aku tahu aku salah. Aku minta maaf. Aku lupa pesanmu untuk tidak menyentuh apapun. Maafkan aku.” Kata Nana dengan menangkupkan kedua tangannya.
“Kamu tahu apa yang kamu lakukan tadi sangat fatal?” Nana menggeleng pelan.
“Tahu bunga apa tadi yang hampir kamu sentuh?” tanya Alfin lagi. Lagi-lagi Nana menggeleng pelan.
Alfin menghela nafas, “Nama bunga itu adalah Lycotonum acontum. Atau yang bisa kita sebut bunga Alpine Wolfsbane.” Jelas Alfin.
“Serigala?” tanya Nana mengiterupsi.
“Iya, bunga itu dinamakan wolfsbane karena zaman dulu racunnya dipakai untuk mendekteksi manusia serigala. Tapi yang paling penting dan harus kamu ingat, bunga itu sangat beracun apalagi di bagian akarnya dan tadi kamu menyentuhnya dengan tangan kosong.” Kata Alfin. “Kamu tahu bahayanya apa?”
Nana menggeleng.
“Racun dari daunnya akan dengan cepat meresap melalui pori-pori dan merusak jaringan kulit hingga kamu mati rasa. Racunnya sulit dideteksi dan tidak meninggalkan jejak. Efek samping dari racun ini adalah kematian dengan gejala, arithmia jantung dan kelumpuhan saluran pernafasan. Racun wolfsbane sangat coock untuk membunuh manusia tanpa jejak.” Jelas Alfin.
Nana mendongak kaget. Penjelasan Alfin membuat bulu kuduknya berdiri. Dia tadi baru saja akan memegang bunga beracun?
“Kamu tidak berbohong kan? Kamu menakutiku hanya karena aku menyentuh barang-barangmu bukan?” sangkal Nana. Dia menolak percaya saking takutnya.
“Aku serius. Kamu mungkin sudah membaca beberapa berkasku, disana tertulis soal bunga ini.” kata Alfin sedikit menyindir.
“Lalu mengapa kamu menyimpan bunga berbahaya seperti itu? Kamu tidak menyimpannya untuk membuat racun bukan?” tuduh Nana.
“Sudah kubilang itu untuk penelitianku. Itu sebabnya aku membangun ruang rahasia. Bayangkan kalau aku menaruh bunga itu sembarangan misal di kamar atau di ruang tamu? Aku tidak akan menjamin bahwa anggota keluargaku ada yang selamat.” Tukas Alfin.
Alfin mendesah lega, “Itu yang memang harus kamu lakukan. Kalau kataku jangan menyentuh apapun ya jangan. Larangan itu untuk kebaikanmu sendiri.”
Nana mengangguk mengerti, “Yes, sir!”
Alfin tertawa kecil membuat Nana juga ikut tersenyum.
***
Alan berguling-guling di kasurnya. Malam sudah tiba dan dia malah seperti cacing kepanasan. Alan memikirkan soal perkataan Alfin kemarin.
Masa sih dia menyukai Kansha? Kok bisa?
Pertanyaan itu terus berputar di kepalanya. Alan bingung pada dirinya sendiri. Dia lalu menelungkup dan mulai merenung lagi.
Asli, dia menyukainya?
Masa sih?
Tidak mungkin.
Alan kembali telentang. Dia menghadap langit-langit dan bayangan Kansha dilamar malah terputar ulang. Alan seketika merinding.
“Sepertinya aku harus menemui Kansha.” Putusnya.
__ADS_1
***
“I want an explanation why you cancel our agreement. And on what basis you demand us? Please answer.” Kata Kansaha dihadapan mr. Lee Han Seong, perwakilan investor Korea Selatan. (Saya ingin penjelasan mengapa anda membatalkan kesepakatan kita)
“I think I made it clear. Your side is blackmailing us and deceiving us. Is that a good cooperative act? obviously I refuse, I don't want to continue this cooperation."
Jawab Lee Han Seong. (Saya rasa saya sudah menjelaskannya dengan jelas. Pihak anda memeras kami dan menipu kami. Apakah itu tindakan yang baik dalam bekerja sama? jelas saya menolak, saya tidak ingin melanjutkan kerja sama ini)
“If you mean Mr. Benny, he is no longer the ARC section. So this problem has nothing to do with us.” Balas Kansha. Lee Han Seong terlihat sedikit terkejut sebelum kembali mendatarkan wajahnya. (Bila yang anda maksud Benny, dia bukan lagi bagian ARC. Jadi masalah ini tidak ada sangkut pautnya dengan kami.)
“ I don't care whether he is your part or not but what is clear is that I will still cancel this cooperation and sue you for extortion and fraud." Tandas Lee Han Seong. (Saya tidak peduli apakah dia bagian kalian atau bukan tapi yang jelas saya akan tetap membatalkan kerja sama ini dan menuntut kalian atas tindakan pemerasan dan penipuan.)
“Please think, Mr. Lee.” Bujuk Kansha frustasi. (Tolong fikirkan kembali.)
“I remained on my decision. You have a small company, it’s brave enough to squeeze big companies like us. A very dirty and cheap way like your company.” Hina Lee Han Seong dengan senyum meremehkan. (Saya tetap pada keputusan saya. Kalian perusahaan kecil sudah berani sekali memeras perusahaan besar seperti kami. Cara yang sangat kotor dan murahan seperti perusahaan kalian.)
Kansha mengetatkan rahangnya. Kalau lelaki ini ingin menmpuh jalur hukum, maka dia juga bisa.
“Oke, if it your desire. But I’ll also sue you for defamition.” Kata Kansha. Semua orang yang medengarnya terkejut. Tak terkecuali, Lee Han Seong. Seli bahkan sudah menyikut tangan atasannya ini. (Baik, jika itu keinginan anda. maka saya juga akan menuntut anda atas pencemaran nama baik.)
Lee Han Seong mengendikkan bahu acuh, “No problem. I’s sure I won." katanya santai. (Tidak masalah. Saya yakin saya menang.)
“Then see you in court.” Kata Kansha segera bangkit dan pergi diikuti Seli dan beberapa timnya. (Kalau begitu, sampai jumpa di pengadilan.)
Di lobi, Seli menghentikan tangan Kansha yang terus berjalan tanpa menoleh. Seli berhasil mengejar dan langsung mencecar bosnya ini.
“Bu, ibu tadi apa-apaan? Kenapa ibu malah balik menuntut mereka? Kita kesini datang untuk menyelesaikan permasalahan ini agar kerja sama tetap lancar. Tapi kenapa ibu—“ Seli kehabisan kata-kata. Dia tidak bisa menebak jalan fikiran Kansha.
“Dia menghina kita! Mana bisa saya diam saja. Dan lagi, siapa yang takut kalau mau lewat hukum silakan, kita juga bisa.” Kata Kansha emosi.
“Saya tahu bu. Saya juga merasa terhina, tapi perusahaan Mr. Lee itu sangat besar dan berpengaruh di Korea Selatan. Kita akan sangat terbantu bila ingin mendirikan cabang kantor disini. Jadi tenangkan emosi ibu dan kita kembali lagi kesana, kita minta maaf dn bujuk mereka kembali.” Kata Seli.
“Saya tidak sudi. Salah siapa mereka dengan mudahnya memberi uang pada Benny. Daj lagi masih banyak investor lainnya yang lebih terhormat kata-katanya dibanding mereka.” Kata Kansha. Dia pun kembali pergi diikuti Seli dan lainnya.
***
Alan sampai di kantor Kansha. Dia langsung masuk ke lobi dan seorang resepsionis dengan ramah menanyakan keperluannya.
“Saya ingin bertemu Kansha.”
“Kansha ada?”
Suara lain berbicara bersamaan dengannya. Alan menoleh ke sumber suara dan terkejut ketika suara itu adalah seorang pria yang pernah ia lihat sebelumnya. Lelaki itu juga tak kalah terkejut dan menatap Alan tanpa kata.
Mereka saling berpandangan. Tujuan mereka sama ingin bertemu Kansha.
Sesaat kemudian, suara sang resepsionis menginterupsi mereka.
"Maaf, Ibu Kansha sedang dalam perjalanan bisnis."
__ADS_1